Titanic

Poster TitanicTitanic adalah sebuah film epik, roman, dan bencana Amerika Serikat produksi tahun 1997 yang diskenarioi sekaligus disutradarai oleh James Cameron. Film ini bercerita tentang kisah cinta antara Jack dan Rose (diperankan oleh Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet) yang berasal dari status sosial berbeda di atas kapal RMS Titanic yang tenggelam dalam pelayaran perdananya pada tanggal 15 April 1912.

Inspirasi Cameron dalam membuat film ini didasarkan pada daya tariknya terhadap bangkai kapal RMS Titanic, ia ingin menyampaikan pesan emosional dari tragedi itu dan berpikir bahwa kisah cinta yang diselingi dengan tragedi kematian penting untuk menciptakan pesan tersebut. Produksi film ini dimulai pada tahun 1995. Sebuah rekonstruksi kapal Titanic dibangun di Playas de Rosarito, Baja California. Model skala dan teknik Computer-Generated Imagery (CGI) juga digunakan untuk menggambarkan detik-detik tenggelamnya kapal tersebut.[7] Film ini didanai oleh Paramount Pictures dan 20th Century Fox dan pada saat itu merupakan film termahal yang pernah dibuat, dengan anggaran diperkirakan sekitar $200 juta.

Titanic meraih 14 nominasi dalam ajang Academy Awards tahun 1998 dan berhasil memenangkan 11 di antaranya, termasuk Film Terbaik dan Sutradara Terbaik.[9] Film ini juga dinobatkan sebagai film terlaris sepanjang masa selama 12 tahun dan baru pada awal 2010 film ini tumbang oleh film James Cameron lainnya yang berjudul Avatar.[10] Kata mutiara terkenal yang disebarkan oleh film ini adalah “nothing on earth could come between them” atau dalam bahasa Indonesia berarti “tiada sesuatu pun di bumi yang sanggup memisahkan mereka“. Pada tanggal 4 April 2012, sebuah versi 3 dimensi dari film ini kembali dirilis di bioskop (sering disebut sebagai Titanic 3D) dalam rangka memperingati seratus tahun tenggelamnya kapal RMS Titanic.

Sinopsis

Pada tahun 1996, seorang pemburu harta karun bernama Brock Lovett beserta timnya menjelajahi bangkai kapal RMS Titanic untuk mencari sebuah kalung berlian berharga yang diyakini terkubur di dasar laut bersama bangkai kapal tersebut. Sebuah peti ditemukan dan dibawa segera ke permukaan untuk dibuka. Sayangnya, peti itu tidak berisi harta karun berharga tetapi hanya beberapa lembaran kertas yang sudah hancur karena air laut. Salah satunya adalah sebuah lukisan seorang wanita telanjang bertanggal 14 April 1912 dan bertandatangan “JD”. Lukisan itu menggambarkan seorang perempuan telanjang yang bersandar di sebuah kursi. Di lehernya terdapat sebuah kalung berlian yang mereka cari: “Heart of the Ocean — Jantung Samudera”.

Kalung berlian Heart of the Ocean yang asli. Kalung inilah yang dikenakan oleh Rose DeWitt Bukater dalam film Titanic.

Rose Dawson Calvert, seorang perempuan tua berusia 101 tahun menonton berita di CNN tentang penemuan lukisan tersebut. Dia menghubungi Brock Lovett, menanyakan soal Heart of the Ocean dan meyakinkan Lovett kalau perempuan yang ada dalam lukisan itu adalah dirinya. Lovett tertarik dan selanjutnya, Rose ditemani cucunya, Lizzy Calvert, terbang ke lokasi penemuan lukisan tersebut lalu menceritakan lebih lanjut tentang pengalamannya di atas kapal Titanic.

Pada bulan April 1912, Rose (saat itu bernama Rose DeWitt Bukater) yang masih berusia 17 tahun menaiki RMS Titanic sebagai penumpang kelas satu bersama ibunya, Ruth DeWitt Bukater, dan tunangannya, Caledon Nathan Hockley (Cal), seorang pengusaha sukses di bidang industri. Rose tidak mencintai Cal, tetapi ibunya memaksanya untuk menikahinya karena masalah keuangan dan kehormatan keluarga. Di saat yang sama, seorang laki-laki bernama Jack Dawson memenangkan tiket kelas tiga dalam permainan poker dan ikut serta dalam pelayaran perdana Titanic dari Southampton menuju New York.

Di atas kapal, Rose yang tidak bahagia atas pertunangannya dan juga kehidupannya yang terkekang memutuskan untuk bunuh diri dengan cara terjun dari buritan kapal. Jack melihat peristiwa itu dan berhasil menghalanginya. Atas hal ini, dengan keberatan Cal mengundang Jack makan malam bersama mereka untuk keesokan harinya pada acara jamuan di kelas satu untuk membalas jasanya. Singkat cerita, Rose dan Jack menjalin persahabatan dan saling berbagi pengalaman serta kisah hidup mereka. Jack menceritakan petualangannya sebagai seorang pelukis sementara Rose berbagi kisah soal keputusasaan dan penderitaannya. Ikatan mereka semakin kuat saat mereka melarikan diri dari jamuan makan malam di kelas satu dan ikut serta dalam pesta para penumpang di kelas tiga. Lambat laun, benih-benih cinta mulai tumbuh di antara mereka. Jack kini telah jatuh cinta pada Rose, namun Rose cenderung tidak mempedulikan perasaan antara mereka yang semakin menebal karena pertunangannya dan juga status sosialnya. Tetapi, Rose akhirnya memutuskan untuk melepaskan semua itu dan menyerahkan cintanya kepada Jack. Pada suatu malam, Rose meminta Jack melukis dirinya dengan hanya memakai kalung berlian Heart of the Ocean, lukisan yang sama yang ditemukan oleh para pemburu harta karun 84 tahun kemudian.

Di saat yang sama, Kapten Edward J. Smith dan krunya seolah-olah tidak menghiraukan peringatan tentang gunung es yang berada dalam jalur yang dilalui oleh Titanic. Malahan, atas perintah Joseph Bruce Ismay, direktur perusahaan White Star Line, Titanic semakin mempercepat lajunya meskipun pada saat itu malam hari. Pada malam 14 April 1912, dua orang pengawas kapal melihat bongkahan gunung es besar persis di depan jalur Titanic dan memberitahu anjungan. First Officer William Murdoch memerintahkan kapal dibelokkan dan mesin dimundurkan, tetapi sudah terlambat; sisi kanan Titanic menabrak gunung es, sehingga menciptakan serangkaian lubang di bawah garis air. Lima kompartemen kedap air kapal bocor. Semakin jelas bahwa kapal ini terancam, karena kapal ini tidak bisa selamat jika lebih dari empat kompartemen bocor.

Patung lilin Jack dan Rose dalam salah satu adegan paling terkenal dari film Titanic: Flying scene.

Sementara itu, Cal telah mengetahui hubungan antara Jack dan Rose. Cal yang sangat marah lalu merancang jebakan untuk memfitnah Jack seolah-olah mencuri berliannya. Walaupun Rose berpeluang untuk menyelamatkan diri lebih awal dari bencana kapal dengan menaiki sekoci bersama ibunya, dia memilih untuk kabur dari Cal — dan juga peluangnya untuk menyelamatkan diri ke dalam sekoci — untuk mencari dan menyelamatkan Jack yang diborgol ke tiang di dek bawah oleh Lovejoy, kaki tangan Cal. Jack berhasil dilepaskan dan kini mereka harus keluar dari sana dengan cepat. Mereka berhadapan dengan banyak halangan termasuk pintu yang terkunci dan kemarahan Cal yang memaksa mereka kembali ke dek bawah. Mereka berdua berhasil naik ke dek atas tetapi sekoci sudah tidak ada, memaksa mereka bersama ratusan penumpang lain yang ketakutan mencari ruang untuk bertahan sebelum Titanic tenggelam sepenuhnya ke dasar Samudera Atlantik. Buritan kapal tegak dan menjulang tinggi sehingga ketidak seimbangan berat membuat kapal patah dua dan pada pukul 2.20 pagi tanggal 15 April 1912, bagian haluan kapal tenggelam sepenuhnya ke dasar laut dan diikuti oleh bagian buritan.

Rose dan Jack menceburkan diri ke dalam laut yang sangat dingin itu bersama dengan banyak penumpang lainnya. Hanya ada satu lembar papan yang cukup besar untuk seorang, mengambang tidak jauh dari mereka. Jack menaikkan Rose ke papan itu, menyelamatkan jiwa kekasihnya itu dari suhu dingin yang mematikan, sementara ia berpegangan di sisi papan itu memegangi tangan Rose untuk menenangkannya. Rose dan Jack bersama dengan ratusan penumpang yang lain menunggu bantuan dari sekoci yang tak kunjung datang di permukaan air. Ketika petugas di sekoci memutuskan untuk datang membantu, hampir semua penumpang telah tewas akibat hipotermia. Rose kecewa karena Jack tidak mampu bertahan dan meninggalkannya. Dia mengucapkan selamat tinggal lalu melepaskan jasad Jack yang telah membeku ke dalam lautan, kemudian Rose memanggil sekoci yang selanjutnya datang menyelamatkannya. Penumpang yang selamat di atas perahu penyelamat menunggu selama empat jam sampai RMS Carpathia, kapal terdekat yang berhasil menjawab dan membalas isyarat radio Titanic, datang menyelamatkan mereka. Ketika tiba di New York, Rose mengganti namanya menjadi Rose Dawson dan mendapati ia masih memiliki Heart of the Ocean yang tersimpan di dalam saku jas milik Cal yang dipakainya.

Kembali sebagai perempuan tua pada tahun 1996, Rose menuju ke dek kapal ekspedisi dan membuang Heart of the Ocean ke dalam lautan, tempat Jack tewas 84 tahun yang lalu. Beralih ke kamar Rose, di sana terlihat foto-foto perjalanan hidupnya, termasuk foto dia sedang menunggang kuda di Santa Monica Pier, seperti yang dulu pernah direncanakannya bersama Jack. Rose berbaring dan bermimpi dalam tidurnya. Dalam mimpinya, ia kembali ke dasar laut, Titanic muncul di dalam kegelapan dan segalanya berubah menjadi baru. Seorang pelayan membukakan pintu ke tangga utama dan di sana terlihat semua penumpang Titanic yang tewas pada malam kecelakaan tersenyum pada Rose. Persis di atas tangga berdiri Jack, menghadap jam besar tempat mereka berdua juga pernah berjanji bertemu sebelumnya. Jack berpaling dan tersenyum ke arah Rose yang kembali berusia 17 tahun dan Rose membalas senyumannya. Mereka berciuman di hadapan khalayak yang bertepuk tangan mengelukan.

Pemeran

Karakter fiksi

  • Leonardo DiCaprio sebagai Jack Dawson: Cameron mengatakan dia membutuhkan pemain yang akan membuat penonton merasa seolah-olah mereka benar-benar berada di Titanic dan untuk mewujudkan hal itu, dia (Cameron) menciptakan Jack.[13] Jack digambarkan sebagai orang miskin dari Chippewa Falls, Wisconsin yang telah melakukan perjalanan ke berbagai belahan dunia, terutama Paris. Dia memenangkan dua tiket RMS Titanic dalam permainan poker dan menaiki Titanic sebagai penumpang kelas tiga bersama temannya, Fabrizio. Jack telah tertarik pada Rose pada pandangan pertama dan berinteraksi pertama kali saat menyelamatkan Rose yang mencoba bunuh diri dengan cara melompat dari buritan kapal. Atas hal ini, Jack diizinkan berbaur dengan penumpang kelas satu selama satu malam sebagai balasan atas jasanya. Saat pemilihan pemeran, beberapa aktor sempat dicalonkan untuk memerankan Jack, di antaranya Matthew McConaughey, Chris O’Donnell, Billy Crudup dan Stephen Dorff. Tapi, Cameron merasa kalau aktor-aktor tersebut agak terlalu tua untuk memerankan seorang laki-laki berusia 20 tahunan.[12][7][14][15] Tom Cruise juga sempat menyatakan ketertarikannya pada peran Jack, namun tidak pernah ditanggapi serius.[7] Cameron mempertimbangkan aktor Jared Leto untuk memerankan Jack, namun ia (Leto) menolak untuk diaudisi.[16] Kemudian, casting director, Mali Finn merekomendasikan DiCaprio, yang pada saat itu berusia 22 tahun untuk memerankan Jack dan Cameron menyetujuinya.[12] Pada awalnya, DiCaprio tidak mau dan menolak membaca adegan romantis pertamanya di set. Cameron mengatakan, “Dia membacanya sekali, kemudian mulai bermain-main di sekitar lokasi dan aku tak pernah bisa membuatnya fokus lagi. Tapi selama sedetik, ‘seberkas cahaya turun dari langit dan menerangi lokasi'”. Cameron sangat percaya pada kemampuan akting DiCaprio dan berkata kepadanya, “Dengar, aku tidak akan mengubah karakter ini menjadi perenung dan neurotik. Aku tidak akan memberinya omong kosong dan kelemahan dan semua hal yang kau inginkan”. Cameron membayangkan karakter Jack ini seperti tipe aktor James Stewart.
  • Kate Winslet sebagai Rose DeWitt Bukater: Cameron berkata bahwa Winslet “memiliki apa yang aku cari dan ada kualitas yang tergambar di wajah dan di matanya”.[13] Rose adalah seorang gadis berusia 17 tahun yang berasal dari Philadelphia, yang dipaksa oleh ibunya bertunangan dengan seorang pria berusia 30 tahun bernama Caledon Nathan Hockley untuk mempertahankan status sosial mereka dan hutang keluarga yang diwariskan oleh almarhum ayahnya. Rose menaiki Titanic bersama Cal dan Ruth sebagai penumpang kelas satu dan kemudian berjumpa dengan Jack. Winslet menggambarkan soal karakternya: “Dia sudah memberikan terlalu banyak. Dia mempunyai hati yang terbuka. Dia ingin menjelajahi dunia tapi dia [merasa] kalau hal itu tidak akan terjadi”. Aktris Gwyneth Paltrow, Claire Danes dan Gabrielle Anwar juga sempat ditawari untuk memerankan Rose. Namun mereka menolaknya. Saat itulah Winslet mengajukan dirinya untuk peran tersebut. Dia mengirimkan catatan hariannya kepada Cameron dari Inggris, lalu Cameron mengundangnya ke Hollywood untuk di audisi. Seperti halnya DiCaprio, Winslet juga di pilih oleh casting director, Mali Finn. Ketika mencari pemeran Rose, Cameron menggambarkan karakternya sebagai “tipe aktris Audrey Hepburn” dan pada awalnya Cameron sama sekali tidak terkesan dengan akting Winslet.[12] Setelah sesi screen test bersama DiCaprio, Cameron melihat kalau akting Winslet begitu menyeluruh. Winslet berkata pada Cameron, “Dia (DiCaprio) hebat. Kalaupun Anda tidak memilihku. Pilihlah dia”. Hari berikutnya, Cameron mengirimi Winslet setangkai mawar (rose) beserta kartu yang bertuliskan “Dari Rose-mu”.
  • Billy Zane sebagai Caledon Nathan “Cal” Hockley: Cal adalah tunangan Rose yang berusia 30 tahun. Dia arogan dan sombong dan merupakan pewaris perusahaan baja di Pittsburgh. Cal sangat marah dan cemburu atas hubungan Rose dengan Jack. Menjelang akhir film, dikisahkan kalau ia bunuh diri setelah kehilangan kekayaannya akibat Great Depression pada tahun 1929. Peran Cal ini awalnya sempat ditawarkan pada aktor Matthew McConaughey.
  • Frances Fisher sebagai Ruth DeWitt Bukater: Ibu Rose yang seorang janda. Dia mengatur pertunangan putrinya dengan Cal untuk mempertahankan status sosial keluarganya. Dia mencintai putrinya namun percaya bahwa status sosial itu lebih lebih penting. Dia menghina Jack, meskipun Jack telah menyelamatkan nyawa putrinya.
  • Gloria Stuart sebagai Rose Dawson Calvert: Rose tua sekaligus narator dalam film. Cameron menyatakan, “Dalam rangka untuk melihat masa kini dan masa lalu, aku memutuskan untuk membuat sebuah karakter fiksi yang selamat dan akan menghubungkan kita lewat sejarah”.[13] Rose Dawson Calvert merupakan Rose saat berusia 100 tahun yang memberikan informasi pada Lovett mengenai “Heart of the Ocean” setelah ia menemukan lukisan telanjangnya di bangkai kapal. Dia berkisah saat dia naik kapal, menceritakan tentang Jack untuk pertama kalinya sejak tenggelamnya kapal tersebut. Stuart berusia 87 tahun saat memerankan peran ini, sehingga dia harus “dibuat” tampak lebih tua untuk peran tersebut. Tentang pemilihan Stuart, Cameron berkata: “casting director ku yang menemukannya. Dia dikirim dalam misi untuk menemukan aktris-aktris dari Era Klasik Hollywood.[8] Cameron pada awalnya bahkan tidak mengetahui siapa itu Stuart dan mempertimbangkan aktris senior Fay Wray untuk memerankan Rose. “Tapi Stuart tertarik pada peran ini dan dia memiliki semangat yang besar. Aku melihat hubungannya dengan jiwa dan semangat Winslet. Aku melihat adanya kecocokan pada mereka berdua dan kurasa penonton akan mampu membuat pandangan kognitif bahwa mereka berdua adalah orang yang sama.[8] Winslet dan Stuart menyatakan keyakinan mereka bahwa karakter Rose meninggal pada akhir film,[19][20] namun Cameron menyatakan dalam komentarnya di DVD bahwa ia lebih memilih membiarkan penonton untuk membentuk interpretasi mereka sendiri mengenai akhir cerita.[21] Stuart meninggal pada tanggal 26 September 2010 pada usia 100 tahun, usia yang hampir sama dengan usia Rose tua dalam film.
  • Bill Paxton sebagai Brock Lovett: Seorang pemburu harta karun yang mencari “Heart of the Ocean” di bangkai kapal Titanic. Waktu dan dana untuk ekspedisi sudah banyak ia habiskan namun tak juga berhasil menemukan kalung tersebut. Dia menyatakan di akhir film bahwa meskipun telah berpikir tentang Titanic selama tiga tahun, dia tidak pernah memahaminya sampai ia mendengar cerita Rose.
  • Suzy Amis sebagai Lizzy Calvert: Cucu perempuan Rose yang ikut serta ketika dia menemui Lovett di kapalnya.
  • Danny Nucci sebagai Fabrizio De Rossi: Teman Jack yang merupakan orang Italia. Dia menaiki Titanic setelah berhasil memenangkan tiket lewat permainan poker bersama Jack. Fabrizio tidak naik sekoci ketika Titanic tenggelam dan tewas tertimpa salah satu cerobong asap kapal yang roboh.
  • David Warner sebagai Spicer Lovejoy: Seorang mantan polisi Pinkerton sekaligus pengawal dan kaki tangan Cal yang terus mengawasi Rose dan mencurigai situasi saat Rose diselamatkan oleh Jack. Dia meninggal ketika Titanic terbelah dua, yang menyebabkan dia jatuh ke dalam belahan besar tersebut.
  • Jason Barry sebagai Thomas “Tommy” Ryan: Seorang penumpang kelas tiga berkebangsaan Irlandia yang berteman dengan Jack dan Fabrizio. Tommy tewas ditembak oleh First Officer Murdoch saat terjadinya kepanikan sebelum kapal tenggelam.
  • Kate Winslet sebagai Rose DeWitt Bukater

  • Leonardo DiCaprio sebagai Jack Dawson

  • Billy Zane sebagai Caledon Nathan Hockley

  • Frances Fisher sebagai Ruth DeWitt Bukater

  • Bill Paxton sebagai Brock Lovett

Karakter sejarah

Meskipun tidak dimaksudkan untuk menjadi penggambaran kejadian sejarah yang akurat, film ini secara tidak langsung telah menghadirkan beberapa karakter yang benar-benar ada dalam sejarah:

  • Kathy Bates sebagai Margaret “Molly” Brown: Brown dipandang rendah oleh wanita kelas atas yang lainnya, termasuk Ruth. Dia dicap sebagai orang yang “vulgar” dan disebut “uang baru” karena kekayaan yang diwariskan oleh almarhum suaminya. Dia ramah terhadap Jack dan meminjamkan jas putranya saat Jack menghadiri acara jamuan makan malam di kelas satu. Meskipun Brown adalah salah satu karakter yang benar-benar ada, Cameron memilih untuk tidak terlalu menggambarkan kehidupannya yang sebenarnya. Molly Brown dijuluki “The Unsinkable Molly Brown (Molly Brown yang tidak tertenggelamkan)” oleh para sejarawan karena dialah yang bersikeras agar sekoci nomor 6 kembali untuk menyelamatkan para penumpang yang ada di dalam laut.[24] Kejadian ini digambarkan dalam film oleh Cameron.
  • Victor Garber sebagai Thomas Andrews: Pembangun kapal Titanic. Dalam film, Andrews digambarkan sebagai orang yang sangat baik, menyenangkan dan rendah hati atas prestasi besarnya. Setelah tabrakan dengan gunung es, ia mencoba untuk meyakinkan orang lain, terutama Ismay, bahwa menurut perhitungan matematis, Titanic akan tenggelam. Saat-saat kepanikan sebelum tenggelamnya kapal, dia berdiri di sebelah jam di ruang merokok kelas satu, menyesali kegagalannya dan berjanji pada Rose bahwa lain kali dia akan membuatkannya sebuah kapal yang lebih kuat dan aman.
  • Bernard Hill sebagai Captain Edward John Smith: Smith berencana untuk menjadikan pelayaran Titanic sebagai perjalanan terakhirnya sebelum pensiun. Dia masuk ke anjungan kapal sebelum Titanic tenggelam dan tewas saat semburan air menerjang melalui jendela sementara dia memegang kemudi. Adegan ini sering diperdebatkan apakah ia tewas dengan cara ini atau karena membeku kedinginan- penyebab kematiannya yang dikemukakan oleh para sejarawan sebelum film dirilis.
  • Jonathan Hyde sebagai Joseph Bruce Ismay: Ismay digambarkan sebagai seorang pria kaya dari kelas satu. Dalam film, ia menggunakan posisinya sebagai Direktur White Star Line untuk mempengaruhi Kapten Smith agar mempercepat laju kapal dengan tujuan supaya Titanic bisa lebih cepat tiba di New York dan menarik perhatian media. Adegan ini selanjutnya terbukti cuma fiksi karangan Cameron belaka.[26][27] Setelah tabrakan dengan gunung es, Ismay menyelinap masuk ke atas sekoci untuk menyelamatkan diri.
  • Eric Braeden sebagai Colonel John Jacob Astor IV: Seperti yang dinyatakan oleh Rose, Astor adalah orang terkaya di Titanic. Dalam film, Astor bersama istrinya, Madeleine, diperkenalkan oleh Rose kepada Jack dalam acara jamuan makan malam di kelas satu. Selama jamuan makan malam, Astor bertanya kepada Jack apakah ia memiliki hubungan dengan ‘Boston Dawsons’. Saat kapal tenggelam, Astor terakhir kali terlihat duduk di “kursi kebesarannya” saat air menerjang memasuki kubah kaca yang pecah. Dalam kehidupan nyata, Astor meninggal akibat tertimpa salah satu cerobong kapal yang roboh.
  • Bernard Fox sebagai Colonel Archibald Gracie IV: Dalam film, Gracie muncul saat berkomentar pada Cal bahwa “wanita dan mesin itu tidak cocok” dan memberi selamat pada Jack karena berhasil menyelamatkan Rose, meskipun ia tidak menyadari bahwa itu merupakan usaha bunuh diri. Fox juga ikut berperan dalam film tahun 1958 yang juga bercerita mengenai kecelakaan Titanic: A Night to Remember.
  • Michael Ensign sebagai Benjamin Guggenheim: Seorang pengusaha pertambangan terkemuka yang menaiki Titanic sebagai penumpang kelas satu. Menurut Rose, dia bepergian bersama Madame Aubert sementara istri dan anaknya berada di rumah. Ketika Jack bergabung dalam acara makan malam di kelas satu, Guggenheim menyebut Jack sebagai seorang “bohemian”.
  • Jonathan Evans-Jones sebagai Wallace Hartley: Anggota grup musik pemain biola di kapal Titanic yang tetap memainkan musik pada detik-detik sebelum tenggelamnya Titanic. Seperti yang digambarkan dalam film, adegan ini merupakan kisah nyata. Dia memainkan “Nearer My God to Thee” sebagai penampilan terakhirnya sebelum kapal tenggelam.[29] Hartley tewas saat Titanic tenggelam.
  • Ewan Stewart sebagai First Officer William Murdoch: Murdoch merupakan seorang perwira yang bertugas di Titanic saat kapal itu tenggelam. Saat terjadinya kehebohan penumpang yang berebut ingin menaiki sekoci, Murdoch menembak Tommy Ryan kemudian melakukan bunuh diri karena rasa bersalahnya. Uang sogok fiktif yang diberikan oleh Cal kepadanya menuai banyak kritik. Saat keponakan Murdoch menonton film ini, ia keberatan atas penggambaran Murdoch yang menurutnya merusak reputasi heroik pamannya.[30] Beberapa bulan kemudian, Wakil Presiden Fox, Scott Neeson pergi ke Dalbeattie, Skotlandia, tempat kelahiran Murdoch untuk menyampaikan permintaan maaf pribadi dan juga memberikan sumbangan sebesar 5000 Poundsterling pada Dalbeattie High School untuk mendirikan William Murdoch Memorial Prize.[31] Dalam DVD Titanic, Cameron mengungkapkan permintaan maafnya tapi mengatakan bahwa memang ada petugas yang melepaskan tembakan untuk menegakkan kebijakan “wanita dan anak-anak lebih dulu”.
  • Jonathan Phillips sebagai Second Officer Charles Lightoller: Dalam film digambarkan saat Lightoller menjelaskan pada Kapten Smith bahwa akan sulit untuk melihat gunung es karena kondisi lautan yang sangat tenang. Saat kepanikan melanda, dia terlihat mengacungkan pistol dan mengancam akan menggunakannya untuk menjaga ketertiban. Lightoller merupakan petugas paling senior yang selamat dari bencana Titanic.
  • Mark Lindsay Chapman sebagai Chief Officer Henry Wilde: Kepala Perwira Titanic yang mengizinkan Cal menaiki sekoci karena ia membawa anak kecil dalam pangkuannya. Sebelum tewas kedinginan, ia mencoba untuk mengarahkan penumpang agar kembali ke kapal dengan cara meniup peluitnya. Setelah tewas, Rose menggunakan peluitnya untuk memanggil sekoci penolong yang kemudian berbalik untuk menyelamatkannya.
  • Ioan Gruffudd sebagai Fifth Officer Harold Lowe: Lowe merupakan satu-satunya perwira kapal yang memimpin sekoci untuk kembali dan mengambil korban yang selamat setelah Titanic tenggelam. Dalam film, juga digambarkan kalau Lowe-lah yang menyelamatkan Rose.
  • Edward Fletcher sebagai Sixth Officer James Moody: Fletcher merupakan satu-satunya perwira junior yang meninggal dalam kecelakaan Titanic. Dalam film, digambarkan bahwa Moody lah yang mengizinkan Jack dan Fabrizio untuk memasuki kapal hanya beberapa saat sebelum kapal berangkat dari Southampton. Moody kemudian ditampilkan saat mengikuti instruksi Murdoch untuk menambah kecepatan kapal dan juga menginformasikan pada Murdoch tentang adanya bahaya gunung es.
  • James Lancaster sebagai Father Thomas Byles: Byles merupakan seorang imam Katolik dari Inggris yang berdoa dan menghibur para penumpang di saat-saat terakhir Titanic sebelum tenggelam.
  • Lew Palter dan Elsa Raven sebagai Isidor Straus dan Ida Straus: Isidor adalah pemilik RH Macy and Company, anggota kongres dari New York dan anggota New York and New Jersey Bridge Commission. Sebelum Titanic tenggelam, istrinya, Ida ditawari tempat di sekoci, namun dia menolak, mengatakan bahwa ia akan menghormati janji pernikahannya dengan tetap bersama Isidor. Mereka berdua terakhir terlihat sedang berbaring di tempat tidur sambil merangkul satu sama lain sebelum air membanjiri kamar mereka.
  • Martin Jarvis sebagai Sir Cosmo Duff-Gordon: Seorang “baronet” asal Skotlandia yang selamat di sekoci nomor 1. Dia dan istrinya merupakan dua dari dua belas penumpang di sekoci nomor 1 yang seharusnya berkapasitas 40 orang. Dia dituduh menyuap awak sekoci agar tidak kembali untuk menyelamatkan para penumpang yang menunggu di dalam laut. Tapi hal ini tidak terbukti.
  • Rosalind Ayres sebagai Lady Duff-Gordon: Seorang perancang busana terkenal dan istri dari Sir Cosmo. Ia dan suaminya merupakan penumpang yang selamat dalam sekoci nomor 1. Mereka berdua juga dirumorkan melarang awak sekoci untuk kembali menyelamatkan penumpang lainnya dengan alasan sekoci mereka akan kebanjiran.
  • Rochelle Rose sebagai Noël Leslie, Countess of Rothes: Noël Leslie digambarkan sebagai penumpang kelas satu yang ramah pada Cal dan Rose. Walaupun berasal dari kelas yang lebih tinggi, dia dengan baik hati bersedia mendayung sekoci dan bahkan terlihat membantu penumpang kelas tiga.
  • Paul Brightwell sebagai Quartermaster Robert Hichens: Hichens merupakan salah satu awak yang berada di belakang kemudi pada saat kapal menabrak gunung es. Selanjutnya, dia mengawal sekoci nomor 6 dan menolak untuk kembali menyelamatkan penumpang lainnya walaupun telah diperintahkan oleh Molly Brown.
  • Simon Crane sebagai Fourth Officer Joseph Boxhall: Boxhall merupakan perwira kapal yang bertugas menembakkan suar ke udara. Dalam film, dia ditampilkan di anjungan saat membantu awak menembakkan suar.
  • Gregory Cooke sebagai Jack Phillips: Seorang Operator nirkabel senior yang diperintahkan oleh Kapten Smith untuk mengirim tanda bahaya ke kapal terdekat.
  • Craig Kelly sebagai Harold Bride: Seorang operator nirkabel junior yang bertugas saat Titanic tenggelam.
  • Liam Tuohy sebagai Chief Baker Charles Joughin: Joughin merupakan juru masak di Titanic yang muncul saat buritan kapal menegak. Dia berdiri di atas pagar bersama Rose dan Jack sambil minum brendi dari botol airnya. Dalam kisah yang sebenarnya, Joughin adalah salah satu penumpang yang berhasil diselamatkan oleh sekoci. Menurut kesaksiannya, saat buritan kapal amblas ke dalam laut, dia berenang bahkan tanpa menyebabkan rambutnya basah. Dia juga mengaku tidak merasakan dinginnya air laut, kemungkinan besar karena alkohol yang diminumnya.
  • Terry Forrestal sebagai Chief Engineer Joseph G. Bell: Bell muncul saat berusaha mempertahankan listrik di kapal tetap hidup beberapa saat sebelum kapal terbelah. Bell dan anak buahnya bekerja sampai menit terakhir untuk menjaga lampu dan listrik di kapal tetap menyala. Dia tewas di dalam perut Titanic saat kapal terbelah menjadi dua bagian.
  • Kevin De La Noy sebagai Third Officer Herbert Pitman: Petugas di sekoci nomor 5.
  • Kathy Bates sebagai Margaret Brown

  • Victor Garber sebagai Thomas Andrews

  • Bernard Hill sebagai Captain Edward John Smith

  • Eric Braeden sebagai Colonel John Jacob Astor IV

  • Ioan Gruffudd sebagai Fifth Officer Harold Lowe

Pra-produksi

Penulisan dan inspirasi

Inspirasi James Cameron dalam membuat film Titanic berawal dari ketertarikannya pada bangkai kapal RMS Titanic. Baginya, Titanic adalah “Mount Everest-nya bangkai kapal.”[40][41][42] Cameron juga hobi melakukan ekspedisi laut. Bahkan hal ini juga menjadi inspirasinya dalam membuat Titanic. Dia menyelami Samudra Atlantik untuk melihat bangkai asli Titanic, kehidupan di film Avatar juga terinspirasi dari apa yang ia lihat di dalam laut.[43] Cameron mengatakan bahwa: “Ini bukan karena aku sangat ingin membuat film, ini lebih karena aku ingin menyelam ke bangkai kapal yang tenggelam.” [40]

Cameron juga ikut serta menulis skenario untuk Titanic.[44] Saat mengajukannya pada para eksekutif di studio 20th Century Fox, Cameron menyebutkannya sebagai “kisah Romeo dan Juliet di atas Titanic“.[41][42] Namun mereka berkata: “Sebuah film epik romantis berdurasi tiga jam? Tentu, itulah yang kita inginkan. Apa ini seperti Terminator dan ada Harrier Jump Jet di dalamnya? Apa akan ada tembak-tembakan dan kecelakaan mobil?” Cameron berkata: “Tidak, ini tidak seperti itu.”[12] Pada awalnya studio meragukan ide Cameron, tetapi karena percaya padanya, mereka memberi Cameron lampu hijau untuk melanjutkannya.

Cameron meyakinkan Fox untuk mempromosikan film berdasarkan adegan nyata saat dia mengambil gambar bangkai kapal, beserta beberapa gambar yang diambilnya dalam misi penyelamannya selama dua tahun.[39] “Penonton harus mengetahui pengambilan gambar disana secara rinci, jadi kita akan membuka filmnya saat mereka menjelajahi bangkai Titanic dan menemukan berlian, lalu setelah itu kita bisa mengambil gambar dari kapal,” kata Cameron.[41] Pengambilan gambar bangkai Titanic pada tahun 1995 sama sekali bukan tanpa resiko. Pengambilan gambar ini menghabiskan lebih banyak waktu dibanding dengan pengambilan gambar di atas kapal itu sendiri. Di kedalaman sedalam itu, tekanan air 6000 pon per inci, satu kesalahan kecil di superstruktur kapal penyelam akan menyebabkan kematian instan bagi semua yang ada di dalam kapal penyelam. Selain itu, Cameron mengatakan kalau kondisi dasar laut yang buruk juga menghalanginya untuk mendapatkan rekaman berkualitas tinggi yang ia inginkan. Dalam salah satu penyelaman, submersibles kapal penyelam bertabrakan dengan lambung Titanic, merusak beberapa bagian kapal penyelam dan meruntuhkan sekat eksternal di ruangan Kapten Smith. Daerah disekitar pintu masuk di tangga utama juga rusak karena kondisinya yang rapuh.

James Cameron, sutradara sekaligus penulis skenario Titanic pada tahun 2008.

Cameron dan kru nya ingin “menghidupkan” bangkai kapal seolah-olah terlihat nyata karena menurut Cameron: “Ini bukan sekedar cerita drama. Ini merupakan peristiwa yang benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata, pada orang-orang yang nyata dan kematian mereka juga nyata. Bekerja disekitar bangkai kapal untuk waktu yang lama membuatku bisa merasakan kesedihan mereka secara emosional dan menjadi tanggung jawabku untuk menyampaikan pesan emosional itu pada penonton”.

Setelah pengambilan gambar di dasar laut, Cameron mulai menulis skenario filmnya.[44] Dia ingin menghormati orang-orang yang meninggal saat Titanic tenggelam dengan cara mengikutsertakan mereka dalam filmnya, jadi ia menghabiskan waktu enam bulan untuk meneliti para awak dan penumpang Titanic.[39] “Aku membaca kisah hidup mereka, dari mulai keberangkatan Titanic hingga malam terakhir hidup mereka, aku juga berkonsultasi dengan beberapa sejarawan mengenai apa yang kutulis [di skenario], kata Cameron.[41][41] Cameron sangat memperhatikan tiap detil yang baru diketahuinya, termasuk mengenai keterlibatan kapal SS Californian dalam kecelakaan Titanic, meskipun pada akhirnya adegan ini harus dipotong (lihat di bawah).[41] “Dari awal pengambilan gambar, mereka (kru) sudah menggambarkan dengan jelas mengenai apa yang terjadi pada malam itu. Aku memiliki perpustakaan yang memenuhi salah satu dinding di kantorku yang berisi barang-barang peninggalan Titanic, karena aku ingin melakukannya dengan benar, terutama setelah kita menyelam langsung meneliti bangkai kapalnya”, kata Cameron.

Cameron beranggapan kecelakaan Titanic “seperti sebuah novel hebat yang benar-benar terjadi”, bukan sekedar kisah moralitas belaka, namun film ini akan menyuguhkan pada penonton mengenai sejarah.[39] Pemburu harta karun, Brock Lovett akan mewakilinya lewat hubungannya dengan saksi mata dari tragedi itu, sedangkan mengenai kisah asmara Jack dan Rose, Cameron yakin kalau ini akan menjadi bagian yang paling menarik dari cerita film ini: “Saat cinta mereka kandas, penonton akan ikut terhanyut. Semua film-filmku ada kisah cintanya, tapi baru di Titanic aku benar-benar menemukan keseimbangan. Ini bukan film bencana, ini adalah film roman yang berdasarkan sejarah,” ujar Cameron.[39][8] Cameron kemudian membingkai asmara tersebut lewat kesaksian Rose tua dengan cerita mengenai tahun-tahun kehilangannya yang pedih.[39] Nasib Rose tua di akhir film juga membuka pertanyaan baru bagi penonton, apakah dia cuma bermimpi tentang Jack atau meninggal dalam tidurnya kemudian bertemu Jack di “dunia yang lain”.

Rekonstruksi

.

Playas de Rosarito, Baja California, Meksiko. Lokasi pembuatan rekonstruksi RMS Titanic

Harland and Wolff, perusahaan galangan pembuat RMS Titanic bersedia membagi arsip lama mereka untuk para kru film, termasuk cetak biru pembuatan kapal yang selama ini dianggap telah hilang. Untuk interior kapal, tim produksi desainer yang diketuai oleh Peter Lamont berhasil mengumpulkan artefak-artefak dari era awal 1900-an. Karena Titanic digambarkan sebagai kapal yang baru berlayar, maka Titanic yang baru ini berarti setiap bagian kapal harus dibuat dari awal.[46] Fox mengakuisisi 40 hektar bagian pantai di Baja California dan mulai membangun studio baru pada tanggal 31 Mei 1996. Sekitar tujuh belas juta tangki air di habiskan untuk menggambarkan kondisi di Samudera Atlantik.

Rekonstruksi kapal dibuat dalam skala penuh menggunakan foto-foto dan rencana dari galangan asli Titanic. Seperti kapal aslinya, replika ini berukuran setinggi 60 kaki dari dek kapal ke air. Beberapa bagian panjang di kapal diabaikan, sehingga replika ini lebih pendek daripada kapal asli yang sepanjang 882.5 kaki. Kapal dalam film ini hanya selesai di satu sisi. Cuma sedikit interior kapal yang dibangun sesuai kerangka replika. Kebanyakan dibangun di panggung suara di sampingnya. Desain set, kostum dan kapal itu sendiri dibuat ulang secara teliti. Dalam beberapa hal, Cameron menyewa pembuat aslinya untuk mereproduksi karpet, barang pecah belah berlambang White Star Line, furniture dan sekocinya. Tangga utama di kelas satu yang merupakan bagian yang paling menonjol dalam film benar-benar dibuat dari kayu asli dan hancur saat adegan Titanic tenggelam, begitu pula set film secara keseluruhan. Set ini sudah tidak ada lagi. Replika Titanic berskala hampir asli yang dibangun untuk film ini rusak parah ketika Titanic ditenggelamkan ke bawah air untuk menggambarkan ulang peristiwa tenggelamnya kapal.[48] Cameron juga mempekerjakan dua sejarawan Titanic, Don Lynch dan Marschall Ken untuk mengotentikasi detil sejarah dalam film tersebut.

Produksi

Akademik Mstislaw Keldysch di Kiel, tempat pengambilan gambar film Titanic setelah Heart of the Ocean ditemukan.

Adegan modern saat ekspedisi ke bangkai Titanic dilakukan di atas kapal Akademik Mstislav Keldysh pada bulan Juli 1996. Pengambilan gambar untuk Titanic sendiri baru dilakukan pada bulan September 1996 di studio Fox yang baru dibangun di Baja California, Meksiko. Untuk menjaga keselamatan pemeran pengganti, alat peraga banyak yang terbuat dari karet busa.[49] Tanggal 15 November 2012, pengambilan gambar adegan kapal saat berangkat dari Southampton, Inggris mulai dilakukan. Cameron memilih untuk membangun replika kapal hanya pada sisi kanannya karena studinya mengenai cuaca menunjukkan bahwa saat itu asap dari cerobong kapal bertiup dari utara ke selatan. Hal ini menimbulkan masalah saat pengambilan adegan keberangkatan kapal yang merapat disisi kiri pelabuhan. Selain itu, setiap tulisan di properti dan di kostum harus dibalik dan jika pemain berjalan di sebelah kanan dalam skenario, maka mereka harus berjalan di sebelah kiri pada saat pengambilan gambar. Beberapa adegan film juga mengharuskan kapal dimundurkan, seperti dalam adegan “I’m the king of the world!”.

Seorang pelatih etiket dipekerjakan untuk memberi instruksi pada para pemain mengenai sikap dan perilaku orang-orang pada tahun 1912.[7] Meskipun demikian, para kritikus menyoroti hal ini dan menyebut hal itu agak anakronisme karena tidak melibatkan dua pemeran utama.

Sketsa buatan Cameron untuk adegan saat Jack melukis Rose dalam kondisi telanjang merupakan adegan yang menurut Cameron adalah adegan yang agak “menindas” para pemain.[12] Winslet diharuskan beradegan telanjang di depan Dicaprio, padahal ia baru berkenalan dengannya beberapa bulan sebelumnya.[8] Adegan tersebut juga merupakan adegan pertama yang mereka lakukan bersama-sama. “Ada kegelisahan dan keragu-raguan pada mereka. Mereka telah berlatih bersama, tapi mereka belum pernah melakukan pengambilan gambar bersama-sama. Jika aku punya pilihan, aku akan lebih suka untuk melakukan hal itu belakangan. Tapi aku tak punya pilihan, set besar belum siap, jadi kami berusaha mengisi waktu luang dengan mengambil adegan apapun yang bisa di lakukan,” kata Cameron. Setelah melihat adegan pada film, Cameron menganggap kalau adegan itu berhasil mereka lakukan cukup baik.

A pencil-drawing sketch depicting a woman with a somewhat stern face lying on a chair and pillow naked, only wearing a diamond necklace. From the breast down the picture is cut off.

Close-up dari sketsa lukisan telanjang Rose mengenakan Heart of the Ocean yang dibuat oleh Cameron. Adegan pembuatan sketsa ini adalah salah satu adegan pertama yang diambil.

Pengambilan gambar di set sayangnya tidak berjalan lancar. Terutama karena reputasi Cameron yang dikenal sebagai “orang yang paling menakutkan di Hollywood”. Dia dikenal sebagai sutradara yang keras, perfeksionis dan tanpa kompromi. Cameron digambarkan sebagai versi modern Kapten Bligh yang memegang megafon dan walkie talkie.[55] Winslet juga tidak membantah hal ini namun juga mengungkapkan pembelaannya: “Jika ada seseorang yang tak melakukan tugasnya atau mereka terlambat menumpahkan airnya 10 detik saja, maka kita akan melakukannya dari awal kembali. Syutingnya memang berat, tapi tak ada satu pun yang menjanjikan bahwa syutingnya bakal mudah bukan. Jadi ketika syuting dimulai dengan berat dan Cameron berlaku kejam kepada setiap orang di set, aku lantas berpikir, tunggu dulu, apa orang-orang ini berspekulasi bahwa semuanya bakal mudah?”, kata Winslet.[56][55] Sedangkan Cameron menanggapinya dengan mengatakan bahwa: “Pembuatan film adalah perang, sebuah pertempuran besar antara bisnis dan estetika.

Selama prosesi syuting di Akademik Mstislav Keldysh, seseorang membubuhi makanan untuk para kru dan pemeran dengan obat PCP. Akibatnya, lebih dari 60 orang harus dilarikan ke rumah sakit dan ada pula yang mengalami halusinasi.[12] Untungnya, Cameron berhasil memuntahkan makanan itu bahkan sebelum ia sempat menelannya. Namun, atas kejadian ini Cameron sangat murka, “Dia mengerikan. Salah satu matanya memerah seperti mata Terminator, sementara mata lainnya tampak seperti dia telah menghisap lem sejak berusia empat tahun”, kata Lewis Abernathy; salah satu aktor yang terlibat dalam produksi Titanic.[12][55] Orang dibalik peristiwa keracunan itu tidak pernah tertangkap.

Jadwal syuting direncanakan akan berlangsung selama 138 hari, namun membengkak menjadi 160 hari. Banyak pemeran yang terserang flu, pilek atau infeksi ginjal akibat menghabiskan waktu berjam-jam dalam air dingin, termasuk Winslet. Pada akhir syuting, Winslet memutuskan untuk tidak akan bekerja dengan Cameron lagi kecuali ia bersedia “membayar lebih”.[57] Tiga orang pemeran pengganti juga mengalami patah tulang. Namun, setelah diadakan penyelidikan oleh Screen Actors Guild, terbukti bahwa tidak ada yang salah dengan set film.[57] di samping itu, DiCaprio juga mengatakan bahwa ia merasa dalam bahaya selama pembuatan film.[58] Cameron percaya pada etos kerja yang penuh semangat akan menghasilkan karya yang hebat dan tidak pernah meminta maaf atas sikapnya selama prosesi pembuatan film. Namun ia mengakui: “Aku bergantung pada semua pekerja. Aku cuma berusaha menjaga agar mereka tetap bergairah. Kupikir aku harus memiliki metode yang keras dalam menangani sejumlah besar orang yang bekerja secara bersama-sama.

Dari hari kehari, biaya pembuatan film terus meningkat dan akhirnya mencapai $200 juta.[2][3][4] Para eksekutif di Fox mulai panik dan menyarankan supaya durasi film yang awalnya 3 jam dipotong menjadi 1 jam. Mereka berargumen bahwa durasi yang panjang justru membuat penonton malas untuk menyaksikan. Namun Cameron menolak, “Kalian mau memotong [durasi] film saya? Kalian harus memecat saya dulu! Kalian mau memecat saya? Kalian harus membunuh saya dulu!” kata Cameron. Para eksekutif tidak ingin mulai dari awal, karena itu berarti hilangnya seluruh investasi mereka, tetapi mereka juga menolak tawaran Cameron untuk memotong bagiannya dari keuntungan film itu nanti, karena mereka juga tidak yakin kalau film itu akan sukses.[12] Cameron menjelaskan: “Secara sederhana, biaya pembuatan Titanic lebih besar dari pembuatan T2 dan True Lies. Film-film tersebut juga mengalami kenaikan biaya produksi sekitar 7-8 %. Titanic memiliki anggaran yang lebih besar untuk memulai dan kenaikan biaya produksinya juga lebih banyak. Sebagai produser, saya bertanggung jawab pada studio yang membiayai film ini, jadi saya menawarkan pilihan tersebut dan saya senang mereka tidak memaksa saya untuk melakukannya”.

Pasca-produksi

Efek

Cameron ingin menggunakan efek khusus dengan memanfaatkan perusahaan efek visual miliknya; Digital Domain, yang sebelumnya juga sudah pernah diterapkannya dalam film The Abyss dan Terminator 2: Judgment Day. Menurut Cameron, kebanyakan film-film mengenai kecelakaan Titanic sebelumnya cuma mengambil gambar kecelakaan dalam gerakan lambat, sehingga terlihat kurang meyakinkan. Cameron mengarahkan kru untuk mengambil gambar miniatur kapal sepanjang 45 kaki (14 meter) seolah-olah mereka sedang membuat sebuah iklan untuk White Star Line. Setelah itu, air digital dan asap ditambahkan dengan metode motion capture. Ahli efek visual, Rob Legato memindai wajah-wajah para pemeran, termasuk dirinya dan putranya untuk kemudian digabungkan secara komputerisasi. Ada juga model buritan kapal sepanjang 65 kaki (20 meter) yang bisa dirusakkan berkali-kali, miniatur ini merupakan satu-satunya miniatur yang akan digunakan di dalam air.[59] Untuk pengambilan gambar adegan mesin kapal digunakan mesin kapal SS Jeremiah O’Brien yang kemudian digabungkan dengan model miniatur tadi menggunakan teknik kunci kroma.[61] Untuk menghemat biaya, ruangan kelas satu yang sangat mewah adalah salah satu set miniatur yang penggambarannya juga menggunakan teknik kunci kroma.

The Titanic about to sink into the ocean, with the ship breaking into two parts and with smoke still coming out of the funnels.

Tidak seperti film-film tentang Titanic sebelumnya, Cameron menggambarkan kapal terbelah dua sebelum tenggelam. Titanic adalah film kedua yang menggambarkan kejadian ini, setelah film televisi tahun 1996 yang juga berjudul Titanic.

Sekitar 19.000.000 liter air digunakan untuk menggambarkan adegan tenggelamnya kapal, dimana saat pengambilan adegan itu keseluruhan set dapat dimiringkan ke dalam air. Untuk adegan tenggelam di tangga utama kelas satu, sebanyak 340.000 liter air ditumpahkan dari tangki. Tanpa diduga, kekuatan air yang tercurah malah menghancurkan tangga besi yang digunakan sebagai alat bantu syuting, namun tidak ada yang terluka. Eksterior Titanic sepanjang 744 kaki (227 meter) hanya diturunkan setengahnya ke dalam air, namun bagian terberatnya adalah saat kapal diturunkan dan ternyata malah menjadi peredam kejut (shock absorber) terhadap air. Untuk menempatkan eksterior ke dalam air, Cameron harus mengosongkan banyak tempat di set, bahkan dia menghancurkan beberapa jendela balkon untuk memperluas set. Setelah menenggelamkan ruang makan, tiga hari berikutnya dihabiskan dengan mengambil gambar perabotan serta interior kapal yang hancur akibat kapal yang oleng. Adegan penumpang setelah kapal tenggelam diambil di dalam sebuah kolam yang bersikan sekitar 1.300.000 liter air. Adegan rambut, kulit serta mayat yang membeku diciptakan dengan menggunakan bubuk yang akan mengkristal bila terkena air serta melapisi rambut dan pakaian para pemeran dengan lilin.

Adegan klimaks yang menggambarkan terbelahnya kapal sebelum amblas ke dasar Samudera Atlantik dilakukan di set besar yang posisinya sengaja dimiringkan dan melibatkan sekitar 250 pemeran. Cameron mengkritik film Titanic sebelumnya yang menggambarkan adegan tersebut seolah-olah “Titanic cuma meluncur dengan anggun kebawah air”. Dia (Cameron) ingin menggambarkan kalau saat itu kondisinya benar-benar kacau dan mengerikan.[7] Pada awalnya, pemeran pengganti dimaksudkan untuk di terjunkan dari atas kapal ke baling-baling, yang berakibat beberapa dari mereka mengalami cedera ringan. Cameron kemudian menghentikan aksi ini karena dianggap terlalu berbahaya. Risiko tersebut akhirnya bisa diminimalkan dengan menggunakan teknik pencitraan komputer.

Penyuntingan

Ada satu fakta sejarah penting yang sengaja dihilangkan Cameron dari film, yaitu mengenai keterlibatan kapal SS Californian dalam kecelakaan Titanic yang pada saat itu terletak beberapa mil saja dari Titanic tetapi tidak menanggapi panggilan daruratnya. Cameron memotong adegan ini karena menurutnya adegan ini tidak terlalu penting dan penonton akan kehilangan fokus pada Titanic itu sendiri jika adegan ini tetap dimasukkan.

Di samping itu, terdapat lebih kurang 45 adegan yang dibuang dari versi aslinya dengan alasan durasi, gagal waktu proses test screening ataupun karena kritik dari penonton. Beberapa dari adegan itu ada yang dimasukkan kembali ke dalam DVD Special Collector’s Edition pada tahun 2005. Walaupun kemudian Cameron setuju untuk memasukkan adegan-adegan tersebut ke dalam DVD, dia tidak berniat untuk memasukkannya ke dalam cerita utama seperti yang dilakukannya di film Terminator 2: Judgment Day dan Aliens, dimana semua adegan yang dipotong pada akhirnya dimasukkan kembali ke dalam film sebagai cerita utama.

Musik dan jalur suara

{{{box_caption}}}
{{{box_caption}}}
Sissel Kyrkjebø dan Céline Dion, dua penyanyi yang ikut berkontribusi dalam album jalur suara Titanic.

Album jalur suara untuk film Titanic dikomposeri oleh James Horner dan dirilis oleh Sony Classical pada tanggal 18 November 1997. Untuk lagu latar berupa suara vokal yang terdengar di sepanjang film dibawakan oleh penyanyi soprano asal Norwegia, Sissel Kyrkjebø. Horner mengetahui Sissel sejak mendengar lagu-lagu di albumnya yang berjudul “Innerst I Sjelen”. Setelah itu, Horner langsung menyukai suara Sissel dan mengajaknya untuk bergabung dalam pembuatan album jalur suara Titanic.[66] Setelah film Titanic sukses, album ini juga mengikuti kesuksesan film tersebut. Album ini berhasil merajai tangga lagu di dua belas negara, terjual lebih dari 30 juta kopi dan menjadi salah satu album jalur suara dengan penjualan terbaik sepanjang masa.

Horner menulis lagu “My Heart Will Go On” secara sembunyi-sembunyi bersama Will Jennings karena pada awalnya Cameron tidak menginginkan adanya lagu di dalam film tersebut.[68] Selanjutnya, Horner meminta penyanyi asal Kanada, Céline Dion untuk membawakan lagu tersebut dan ia menyetujuinya. Di luar dugaan, Cameron berubah pikiran ketika Horner menunjukan lagu tersebut padanya.[68][7] Lagu “My Heart Will Go On” menjadi lagu terpopuler di seluruh dunia pada saat itu. Lagu ini juga berhasil meraih 4 Grammy Awards dan penghargaan Lagu Orisinil Terbaik dalam ajang Academy Awards pada tahun 1998.

Selain Dion, musisi lainnya yang juga turut diajak dalam produksi album jalur suara Titanic yang bertajuk: “Titanic: Music from the Motion Picture” antara lain Michael W. Smith. Dalam catatannya di sampul kaset, Smith menyebutkan bahwa dia sebenarnya ingin menyanyikan lagu berjudul “In My Arms Again” dari albumnya tahun 1998: “Live the Life”. Namun tidak diperbolehkan.[71] Sedangkan untuk suara latar, Horner lebih memilih untuk memanfaatkan paduan suara digital, bukannya yang asli. Hal ini dilakukan oleh Horner karena dia tak ingin nantinya suara latar film ini terdengar seperti paduan suara di gereja.

Kesuksesan album ini mendorong dirilisnya album jalur suara jilid kedua pada bulan Agustus 1998 yang bertajuk “Back to Titanic”. Album ini berisi lagu-lagu yang tidak dimuat dalam album sebelumnya termasuk beberapa lagu baru yang ditampilkan dalam film, salah satunya yaitu lagu yang dibawakan oleh Máire Brennan dari band asal Irlandia, Clannad. Turut dimuat juga lagu “Nearer my God to Thee”, lagu yang dibawakan oleh kelompok pemusik sebelum Titanic tenggelam.

Perilisan

Rilis bioskop

20th Century Fox dan Paramount Pictures adalah dua distributor yang bertugas mengedarkan film Titanic. Paramount menangani pendistribusian di Amerika Utara dan Fox menangani pendistribusian di seluruh dunia. Fox dan Paramount meminta pada Cameron agar menyelesaikan Titanic pada bulan Juli 1997 dengan tujuan supaya film ini sudah bisa dirilis pada saat liburan musim panas.[7] Namun Cameron tidak menyanggupinya, dia mengatakan efek khusus untuk film ini terlalu rumit dan merilis film untuk musim panas tidak akan mungkin terwujud.[7] Hal ini membuat Paramount harus menunda perilisan Titanic di Amerika Serikat. Pembukaan penayangan film ini dilaksanakan pada tanggal 1 November 1997 di Tokyo International Film Festival. Di Amerika Serikat, film ini secara resmi dirilis pada hari Jumat tanggal 19 Desember 1997, kemudian menyusul negara-negara lainnya di seluruh dunia, termasuk Indonesia (5 Januari 1998).

Pendapatan

Pada hari pertama pemutarannya di Amerika Serikat, Titanic berhasil meraup $8.658.814 dan berselang seminggu setelahnya, terhitung $28.638.131 berhasil di kumpulkan oleh Titanic dengan penayangan di 2.674 bioskop di seluruh Amerika Serikat, yang berarti satu bioskop rata-rata berhasil meraup $10.710 dari hasil penjualan tiket. Titanic langsung bertengger di posisi puncak box office pada minggu perdana penayangannya, menyingkirkan film seri James Bond ke delapan belas: Tomorrow Never Dies dari posisi pertama. Ketika Tahun Baru, Titanic telah meraup lebih dari $120 juta dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengalami penurunan. Pemasukan terbesar Titanic terjadi pada hari Valentine tahun 1998, dimana sekitar $13.048.711 berhasil dikumpulkan. Titanic bertengger di posisi pertama tangga box office selama lima belas minggu berturut-turut di Amerika Utara, membuat rekor baru pada masa itu.[80] Titanic tetap bertahan di bioskop-bioskop di Amerika Utara selama 10 bulan dan akhirnya ditarik pada hari Kamis, tanggal 1 Oktober 1998 dengan mengumpulkan total pendapatan kotor sebesar $600.788.188. Di luar Amerika Utara, film ini berhasil menggandakan pendapatan kotornya, menghasilkan $1.242.413.080 di luar Amerika Utara dan total $1.843.201.268 di seluruh dunia sejak hari pertama pemutarannya di bioskop.

Atas pencapaian ini, Titanic menjadi film paling sukses sepanjang masa di seluruh dunia pada tahun 1998, demikian juga selama 12 tahun berikutnya, sampai Avatar, yang juga ditulis dan disutradarai oleh Cameron menggeser posisi Titanic pada tahun 2010.[84] Pada tanggal 1 Maret 1998, [85] Titanic menjadi film pertama yang sukses meraup lebih dari $1 miliar di seluruh dunia,[86] dan pada bulan April 2012, lebih satu dekade sejak Titanic dirilis, film ini menggenapkan total pendapatan kotornya menjadi $2.000.000.000 seiring dengan dirilisnya versi 3D dari film ini (lihat di bawah).[87] Box Office Mojo menobatkan Titanic sebagai film terlaris kedua sepanjang sejarah, membawahi seri-seri Harry Potter dan The Lord of the Rings.

Rilis Home Media

DVD Titanic pertama kali dirilis pada 31 Agustus 1999 dalam format widescreen dan edisi cakram-tunggal (single-disc) tanpa adanya adegan ataupun fitur tambahan.[90] Cameron mengatakan bahwa pada edisi selanjutnya dia akan merilis edisi khusus. Enam tahun kemudian, pada 25 Oktober 2005, edisi khusus dirilis dengan 3 set DVD di Amerika Utara, berisikan film yang terbagi ke dalam 2 cakram, 45 menit adegan yang dipotong disertakan dalam DVD tersebut.[91] Edisi 2 dan 4 cakram serta edisi Deluxe Collector dirilis secara internasional pada tanggal 7 November 2005. Sedangkan edisi 2D dan Blu-ray dijadwalkan akan dirilis pada tanggal 14 September 2012.

Kritik dan penghargaan

Kritik

Titanic mendapat banyak kritikan positif dari para kritikus film. Situs kritik film Rotten Tomatoes melaporkan Titanic memperoleh 88% “Certified Fresh” dari total 161 ulasan dengan rating rata-rata 7.8/10. Situs ini menyebut Titanic sebagai “Karya terhebat Cameron yang memadukan efek visual yang spektakuler dengan kisah melodrama kuno”.[96] Di situs Metacritic, Titanic memperoleh skor 74 dengan 34 ulasan, secara umum diklasifikasikan sebagai film yang bagus untuk disaksikan.[97] Sementara itu, di situs Internet Movie Database, Titanic memperoleh rating 7.4/10 dari 386.214 pengguna dan sebanyak 265 ulasan.

Roger Ebert, seorang kritikus film mengatakan, “Titanic dibuat dengan sangat sempurna, dibangun dengan sangat cerdas dan memukau. Film seperti ini tidak hanya sulit dibuat, tapi hampir tidak mungkin.” Ebert memuji para pembuat film yang mampu menghadirkan drama dan sejarah secara seimbang kehadapan penonton,[99] serta menyebut kalau film ini adalah film terbaik kesembilan pada tahun 1997.[100] Dalam acara televisi Siskel & Ebert, Titanic memperoleh “dua acungan jempol” dan dipuji karena keakuratannya dalam menggambarkan tenggelamnya kapal. Ebert menggambarkan film ini sebagai “sebuah epik Hollywood yang menakjubkan yang dibuat dengan hebat dan layak untuk ditunggu. James Berardinelli berpendapat bahwa “Titanic adalah film yang sangat teliti dan rinci, mempunyai lingkup dan makna yang luas. Titanic adalah sebuah film epik yang langka, Anda tidak hanya menonton Titanic. Anda turut serta mengalaminya,” kata Berardinelli. Dia menyebut Titanic sebagai film terbaik nomor dua pada tahun 1997. Almar Haflidason dari BBC menulis bahwa Cameron mampu menghadirkan hiburan dalam sebuah film berdurasi tiga jam yang seharusnya membosankan. Sedangkan Joseph McBride dari Boxoffice Magazine berpandangan bahwa Titanic adalah film bencana terbesar dan termegah yang pernah dibuat dan sebuah hiburan paling populer yang berasal dari Hollywood.

Aspek roman dan aspek sejarah yang terkandung dalam film juga dipuji oleh Andrew L. Urban dari Urban Cinefile.[96] Owen Gleiberman dari Entertainment Weekly menggambarkan Titanic sebagai film roman bencana yang paling spektakuler dan telah menghasilkan teknik pembuatan film yang populer. Sementara itu, Janet Maslin dari The New York Times berkomentar bahwa “Titanic merupakan film pertama yang benar-benar berhasil mengimbangi ke-spektakuler-an Gone With The Wind.[105] Disisi lain, Richard Corliss dari majalah Time menulis kritik negatifnya. Menurutnya, Titanic masih kurang emosional sebagai film yang diangkat dari kisah nyata.

Beberapa peninjau juga berpendapat bahwa cerita dan dialog Titanic terlalu lemah, walaupun dengan efek visual yang spektakuler. Kenneth Turan dari Los Angeles Times berkomentar dengan sangat pedas: “Film ini mengabaikan unsur emotif dan hanya menjual air mata. Titanic sesungguhnya berada diluar kemampuan Cameron,” tidak hanya itu, Turan berargumen bahwa satu-satunya alasan film ini bisa memenangkan Oscar adalah karena film ini merajai box office di seluruh dunia.[108] Barbara Shulgasser dari The San Francisco Examiner memberi Titanic satu dari empat bintang, beralasan bahwa film ini sangat buruk, terlalu menonjolkan karakter utama dan skenario serta dialog yang ditulis dengan sangat “berantakan”.[109] Kritikus film Robert Altman menyebut Titanic sebagai “film paling mengerikan yang pernah kulihat sepanjang hidupku”. Pada tahun 2012, Richard Davenport-Hines, seorang sejarawan yang meneliti tentang kehidupan para penumpang di Titanic mengatakan: “Film Cameron mengesampingkan orang-orang kaya Amerika dan orang-orang Inggris yang berpendidikan dengan menciptakan pahlawan romantis yang miskin dan buta huruf dari Irlandia.”

Menanggapi kritik dari Kenneth Turan, Cameron mengatakan bahwa: “Titanic bukanlah film yang menyedot orang-orang karena kisah cinta yang menyedihkan lalu mereka pulang dengan perasaan hancur dan kecewa, mereka akan kembali lagi dan lagi untuk mengulangi pengalaman itu, bersedia menghabiskan waktu 3 jam 14 menit dari hidup mereka dan mengajak orang lain bersama mereka agar mereka bisa berbagi emosi”. Cameron menekankan orang-orang dari segala usia (mulai dari 8-80 tahun) dan dari semua latar belakang turut “merayakan kebebasan emosi mereka” dengan menontonnya. Cameron juga mengatakan kalau proses penulisan skenario itu tidaklah mudah, “Buktinya skenario Titanic sendiri tak mendapat nominasi Oscar“, kata Cameron.

Penghargaan

Dalam ajang Academy Awards ke-70 pada tahun 1998, Titanic sukses memborong 11 penghargaan dari 14 nominasi; menjadi film dengan penghargaan terbanyak sejak Ben-Hur (1959). Rekor ini berhasil diimbangi oleh The Lord of the Rings: The Return of the King pada tahun 2004.

Selain memperoleh banyak pujian dan laris luar biasa, Titanic juga berjaya di berbagai ajang penghargaan film bergengsi, dimulai dari Golden Globe (8 nominasi, 4 menang), BAFTA (10 nominasi),[9] Academy Awards (14 Nominasi, 11 menang), MTV Movie Awards (8 nominasi, 2 menang), ACE “Eddie” Award, ASC Award, Art Directors Guild Award, Cinema Audio Society Awards, Screen Actors Guild Award, The Directors Guild of America Award, Broadcast Film Critics Association Award dan sebagainya.

Berikut ini merupakan beberapa penghargaan dan nominasi yang telah diterima oleh Titanic:

Konversi ke 3D

Pada tahun 2012, dalam rangka memperingati 100 tahun tenggelamnya RMS Titanic, Titanic kembali dirilis ulang dalam versi 3 Dimensi (sering disebut sebagai Titanic 3D). Ide untuk membuat Titanic dalam format 3D sudah dicetuskan sejak tahun 2008. Jon Landau, produser Titanic mengatakan “Empat tahun lalu, kami bahkan sempat menjajal materi satu menit ke 15 perusahaan berbeda. Kami (saat itu) merasa potensinya ada,” kata Landau. Lebih lanjut, Landau menyatakan kalau proses dibalik ‘daur ulang’ film Titanic menjadi versi 3D bukanlah hal mudah dan murah. Apalagi proses itu tidak melulu soal teknis namun juga melibatkan proses kreatif tinggi agar gambar yang disaksikan pas dan tetap memukau untuk ditonton.[123] Untuk menggarap peralihan Titanic 2D menjadi 3D sendiri dibutuhkan waktu sampai 14 bulan. Dengan biaya mencapai $18 juta atau sekitar 165 miliar rupiah. Proyek pengkonversian Titanic dimulai dengan menjadikan materi film awal sebagai format 4K (dikerjakan di Reliance MediaWorks), lalu Stereo 3D membawanya ke format 3 Dimensi dengan melibatkan 450 orang.[124] William Sherak, Direktur Stereo D, yang mengerjakan versi 3D untuk Titanic menggambarkan pendekatan yang mereka lakukan sebagai proses seleksi bingkai per bingkai dimana pembuat film menentukan kedalaman yang ada di setiap bingkainya. Ia bahkan menyebutnya sebagai “pendekatan artistik pertama dari si pembuat film”.[123] Tugas terpenting diemban oleh James Cameron. Menurut Landau lagi, dia (Cameron) bahkan sampai menyeleksi setiap bingkai untuk menghasilkan gambar 3D yang tepat. Ia benar benar mengandalkan ingatan yang dia dapat dari lokasi pengambilan gambar untuk menaruh mana yang bisa ditonjolkan. “Untuk film ini kami menggunakan pengalaman saat mengerjakan Avatar,” kata Landau. “Aksi tidak terlalu penting ketika memberi tekanan pada 3D. Pada akhirnya, film adalah tentang close-up. Penonton kembali karena jalan ceritanya.”

Tampilan akurat posisi bintang di Bima Sakti yang tampak di langit saat Titanic tenggelam. Posisi ini menjadi dasar untuk merevisi adegan di mana Rose mengapung di atas potongan kayu sesaat setelah kapal tenggelam.

Penayangan perdana Titanic 3D dilakukan di Royal Albert Hall, London, Inggris pada tanggal 27 Maret 2012. Sejumlah bintang hadir, termasuk Kate Winslet dan James Cameron. Titanic 3D dirilis secara resmi di seluruh dunia pada tanggal 4 April 2012, 11 hari sebelum RMS Titanic tenggelam 100 tahun yang lalu. Di India, film ini di tayangkan dengan versi utuh, menampilkan sejumlah adegan vulgar yang mengalami sensor pada tahun 1997. Titanic 3D yang mulai tayang di India pada tanggal 5 April 2012 ini memuat adegan utuh ketika Jack membuat sketsa gambar Rose yang berpose tidur miring tanpa penutup tubuh, kecuali kalung berlian di leher.

Setelah perilisannya, seorang astronom bernama Neil deGrasse Tyson protes dan meminta Cameron untuk membetulkan posisi bintang yang tampak di langit saat tragedi tenggelamnya kapal Titanic terjadi. Tyson mengirimi Cameron e-mail dan mengatakan bahwa saat Rose berbaring terapung di atas kayu dan menatap bintang-bintang, itu bukan bintang yang seharusnya terlihat di galaksi Bima Sakti. Selanjutnya, Cameron meminta Tyson untuk mengirim peta bintang yang tepat saat kapal Titanic tenggelam di Samudera Atlantik, pada pukul 04.20, tanggal 15 April 1912. Peta ini menjadi dasar untuk merevisi adegan yang sudah terlanjur muncul di film yang diluncurkan pada 1997. Oleh sebab itu, sebagai seorang yang dikenal perfeksionis, Cameron memutuskan merekam ulang adegan di mana karakter Rose mengapung di atas potongan kayu sesaat setelah kapal tenggelam. “Dengan reputasiku sebagai seorang perfeksionis, aku seharusnya tahu itu dan aku seharusnya menempatkan bintangnya dengan tepat. Jadi aku berkata, baiklah, kirimi aku posisi bintang yang tepat dan aku akan memasukkannya di film versi 3D,” ujar Cameron.

Sejak awal perilisannya, Titanic 3D sudah mengantongi pendapatan kotor $57.8 juta di Amerika Utara, $284.3 juta dari negara-negara lainnya (dengan lebih dari $100 juta berasal dari Cina) dan total $342.1 di seluruh dunia. Jika ditotal dengan penghasilannya pada tahun 1997, total pendapatan yang berhasil didulang oleh Titanic adalah sebesar $2,18 miliar (Rp 19,6 triliun). Atas hal ini, Titanic (2D dan 3D) tercatat sebagai film kedua yang mampu menembus pendapatan $2 miliar, dibawah Avatar ($2,8 milar).

Pranala luar

Sumber: wikipedia

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s