Azab dan Sengsara: Waktu Senja

SenjaBAB I: Waktu Senja

Hari yang panas itu berangsur-angsur menjadi dingin, karena matahari, raja siang itu, akan masuk ke dalam peraduannya, ke balik Gunung Sibualbuali, yang menjadi watas dataran tinggi Sipirok yang bagus itu. Langit di sebelah barat pun merah kuning rupanya, dan sinar matahari yang turun itu nampaklah di atas puncak kayu yang tinggi-tinggi, indah rupanya, sebagai disepuh dengan emas juwita. Angin gunung yang lemah-lembut itu pun berembuslah, sedap dan nyaman rasanya bagi orang-orang kampung yang sedang di perjalanan kembali dari kebun kopi, yang terletak di lereng gunung dan bukit-bukit yang subur itu. Maka angin itu pun bertambahlah sedikit kerasnya, sehingga daun dan cabang-cabang kayu itu bergoyang-goyang perlahan-lahan sebagai menunjukkan kegirangannya, karena cahaya yang panas itu sudah bertukar dengan hawa yang sejuk dan nyaman rasanya. Batang padi yang tumbuh di sawah yang luas itu pun dibuai-buaikan angin, sebagai ombak yang berpalu-paluan di atas laut yang lebar; sawah yang seluas itu pun tiadalah ubahnya dengan lautan, sedang daun padi itu sebagai air yang hijau rupanya.

Burung-burung pun beterbanganlah dari sana-sini, seraya berkumpul- kumpul di atas cabang beringin-beringin yang berdaun rimbun; masing-masing menyanyi memuji Tuhan dan memberi hormat kepada raja siang yang sedang turun ke balik gunung yang tinggi itu. Dari jauh terdengarlah bunyi kelintung kerbau berderang-derang, diiringi suara dendang anak gembala yang membawa binatangnya itu ke kandangnya. Di sana-sini nampaklah asap dari bubungan rumah orang desa, sedang azan orang di menara mesjid besar yang ada di Sipirok itu pun memperingatkan hamba Allah akan menyembah Dia dan mengucapkan syukur sebab rahmatnya yang besar itu.

Jalan dan lorong makin sunyi, laki-laki sedang sembahyang magrib dalam mesjid besar dan perempuan tengah bertanak hendak menyediakan makanan untuknya anak-beranak. Akan tetapi siapakah yang duduk di sana, di sebelah rusuk rumah yang beratap ijuk dekat sungai yang mengalir di tengah-tengah kota Sipirok itu?

Perempuan itu sedang muda remaja. Ia duduk memandang ke pohon beringin yang di tepi sungai itu. Akan tetapi pandangnya itu lain, yakni matanya saja yang menatap ke sana, tetapi daun beringin yang bergoyang-goyang itu tak nampak pada matanya, karena ada sesuatu yang dipikirkannya. Suara air yang mengalir di sungai yang berbelokbelok itu pun tak kedengaran di telinganya, karena angan-angannya sedang sibuk berkisar-kisar. “Belumkah ia datang? Sakitkah dia? Apakah sebabnya ia sekian lama tak kulihat?” tanya perempuan itu berulang- ulang dalam hatinya.

Siapakah perempuan itu? Sabarlah dahulu, nanti akan kita kenal juga dia, meskipun ia tak mengenal kita.

Kota Sipirok kataku… akan tetapi janganlah pembaca membandingkan negeri itu dengan Sibolga atau Padang. Tiadalah sampai sedemikian besar dan ramainya Sipirok itu; sungguhpun begitu adalah ia lebih besar daripada kampung atau dusun. Oleh sebab itu saya menyebutkan “kota Sipirok”; tambahan pula itulah negeri atau kampung yang terbesar di dataran tinggi yang luas itu. Kalau tuan sebutkan juga, bahwa tiadalah pada tempatnya saya meletakkan perkataan “kota” itu, biarkan sajalah begitu, dan bacalah kota itu kampung atau dusun. Kalau kutulis dalam buku ini negeri Sipirok, bacalah “kampung Sipirok”, supaya jangan menjadi percedaraan antara kita.

Akan sekedar menjelaskan bagi pembaca letaknya Sipirok, baiklah saya terangkan dia.

Kira-kira pada pertengahan Keresidenan Tapanuli (sebenarnya Tapian na Uli artinya “Tepian yang elok”. Tepian yang indah itu didapati orang dulunya dekat Sibolga; itulah sebabnya negeri atau keresidenan itu disebutkan Tapanuli; nama itu asalnya dari tatkala pemerintahan kompeni), di situlah terletaknya dataran tinggi atau luhak Sipirok, yakni pada Bukit Barisan yang membujur sepanjang Pulau Sumatera. Adapun bentuknya dataran tinggi itu kira-kira empat persegi. Di sebelah timur diwatasi dolok (gunung) Sipipisan, di sebelah barat Sibualbuali, gunung yang selalu memuntahkan asap karena berapi. Simagomago berdiri agak di sebelah selatan, yang menjadi watas dengan tanah Angkola. Simole-ole menceraikan dataran tinggi itu pada sebelah utara dengan dataran tinggi Pangaribuan (Toba).

“Masih di sini kau rupanya, Riam,” tanya seorang muda yang menghampiri batu tempat duduk gadis itu.

Yang ditanya itu terkejut, seraya memandang kepada orang yang datang itu. Ia terkejut, bukan karena suara itu tak dikenalnya, hanya disebabkan ia tadi duduk termenung-menung dan pikirannya kepada masa yang lampau, tatkala ia masih kanak-kanak.

“Ah, rupanya hari sudah malam. Dari tadi saya menunggu-nunggu angkang,”[1] sahut gadis itu seraya berdiri dari batu besar itu, yang biasa tempat dia duduk pada waktu petang. “Marilah kita naik, Angkang!”

“Tak usah, Riam,” jawab orang muda itu. “Saya datang ini hanya hendak bersua dengan kau sebentar saja. Malam ini saya hendak pergi ke rumah seorang sahabatku yang baru datang dari Deli.”

“Apalah salahnya Aminuddin, naik sebentar, karena mak kita pun sudah lama hendak bersua dengan kakak.”

“Tak usah, saya sebentar saja di sini, kalau Riam suka, duduklah sebentar, ada yang hendak saya cakapkan.”

Kedua orang itu pun duduklah di atas batu yang besar itu. Sejurus panjang lamanya tiada seorang yang berkata; anak muda itu memandang ke tanah dan pada mukanya terbayang dukacita yang memenuhi hatinya. Mariamin, begitulah nama gadis itu dan ia dipanggilkan orang Riam, mengamat-amati muka orang muda itu, akan tetapi sebab hari yang gelap itu, tak dapat ia melihat air mata yang mengalir di pipi orang muda itu. Cuma ia mengerti, ada yang disusahkan orang itu. Dengan suara yang lemah-lembut ia pun berkata, “Katakanlah, apa yang hendak angkang katakan itu.”

“Riam, jangan terkejut, cinta sayangku kepadamu bukan berkurang, bahkan makin bertambah dari hari ke hari. Percayalah kau akan perkataanku itu?”

“Mengapa angkang bertanya lagi?” jawab Mariamin, perempuan muda itu dengan suara yang lembut, karena itulah kebiasaannya; jarang atau belumlah pernah ia berkata marah-marah atau merengut, selamanya dengan ramah-tamah, lebih-lebih di hadapan anak muda, sahabatnya yang karib itu.

“Saya bertanya, bukan sebab saya menaruh bimbang akan hatimu.” Ia terdiam pula. Perkataan yang akan dikatakannya seolah-olah menahan napasnya dan kelulah rasa lidahnya akan bercakap. Kemudian ia pun mengeraskan hatinya, sambil ia menyapukan setangannya yang basah oleh air matanya itu, ia pun berkata perlahan-lahan, “Anggi[2] Riam! Beratlah rasanya hatiku akan berkata ini. Akan tetapi apa boleh buat, lambat laun akan kauketahui juga, apalah gunanya kelengahlengahkan. Saya bermaksud hendak pergi ke Deli mencari pekerjaan. Itulah sebabnya saya datang malam-malam ini ke mari, yakni hendak pergi ke rumah seorang sahabatku, yang baru datang dari Medan. Saya hendak menanyakan hal pencaharian orang di Deli, karena saya sudah merasa, lambat launnya saya akan pergi juga dari sini; saya pergi bukanlah meninggalkan engkau Mariamin. Percayalah engkau akan saya. Ah, kalau sekiranya Riam tahu, betapa isi hatiku, adalah senang sedikit perasaanku. Berapa tahun, berapa bulanlah saya sudah mengandung kenang-kenangan akan bersama-sama dengan engkau, akan tetapi barulah kuketahui, mustahillah rupanya saya mencapai maksudku, kalau tiada dengan jalan yang lain, yakni saya harus pergi ke tanah lain akan mencari pekerjaan. Janganlah terkejut, jangan berdukacita engkau Riam; ingatlah saya pergi bukan meninggalkan kau, tetapi mendapatkan kau.”

Perkataan yang penghabisan itu dituturkan orang muda itu dengan suara putus-putus; beratlah baginya melawan hatinya yang pilu itu, apalagi sesudah kedengaran pada telinganya, orang yang dilawannya bercakap itu menangis tersedu-sedu.

Kedua orang itu duduk berhadap-hadapan di tempat yang sunyi itu. Seorang pun tiada yang bercakap, masing-masing tepekur memikirkan nasib persahabatan mereka itu.

Hari makin gelap, cahaya bulan tak nampak, hanyalah bintang- bintang yang mengilap itu mencoba-coba mengurangkan kegelapan, yang menyelimuti bumi ini. Kelam rupanya langit itu, muram nampaknya muka orang muda itu. la duduk tiada bergerak, tetapi pikirannya tiada berhenti, berkisar-kisar sebagai roda yang digulingkan. Adalah ia sebagai orang yang hanyut di lautan kesusahan, sebentar-sebentar hendak tenggelam, karena kekuatannya hampir-hampir habis, sedang ombak gelombang amatlah hebatnya. Dengan pandang yang sedih, ia melihat ke kanan dan ke kiri, kalau-kalau ada kapal yang dekat, tempat meminta pertolongan, akan membawa dia ke negeri yang ditujunya itu.

Suara orang bang kedengaran pula dari menara mesjid besar, karena sudah waktunya akan sembahyang isya. Kedua orang itu terkejut dan barulah mereka ingat akan dirinya.

“Wah, sudah pukul setengah delapan rupanya,” kata orang muda itu, “bagaimanakah penyakit ibu kita?” tanyanya, sambil ia berdiri.

“Mudah-mudahan sudah berkurang,” sahut Mariamin, “cuma tinggal batuk saja yang menyusahkan dia.”

“Ah, tak sempat lagi saya akan bersua dengan beliau. Nanti saya datang, kalau dapat. Selamat tinggal Anggi! Jangan kau bersusah hati, mudah-mudahan baik juga kelak kesudahannya. Marilah kita menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Esa,” ujar orang muda itu, seraya menjabat tangan anak dara kecintaannya itu.

Mariamin memandang anak muda itu, sampai lenyap dari penglihatannya. Dengan langkah yang berat naiklah ia ke rumah, terus masuk ke bilik tempat ibunya, yang sedang terletak di atas tempat tidurnya.

“Sudahkah berkurang sesaknya dada Ibuku itu?” tanyanya sambil dirabanya muka ibunya yang sakit itu. “Syukurlah, badan Ibu tiada berapa hangat lagi. Mudah-mudahan dua tiga hari lagi dapatlah Ibu turun barang sedikit-sedikit.”

“Ya Anakku! Sudah jauhlah berkurang rasanya penyakitku, kekuatanku pun sudah bertambah,” jawab si ibu dengan suara yang menghiburkan hati anaknya. “Riam di manakah adikmu? Suruhlah dia ke mari, janganlah dibiarkan ia tinggal di luar, hari sudah malam, nanti ia kemasukan angin.”

“Tidak, Mak; ia ada di dapur, nanti kusuruh dia ke mari, supaya ada kawan Mak di sini.”

Setelah Mariamin menuangkan obat maknya ke dalam cangkir dan cangkir itu diletakkannya dekat si sakit, ia pun pergilah ke dapur akan bertanak. “Tinggallah dahulu Ibu sebentar, saya hendak bertanak. Tadi saya ada membawa sawi dan ko1 dari kebun kopi, barangkali sudah ada nafsu Ibu akan makan. Ah, sudah berapa hari Mak tidak makan!” kata Mariamin.

Si ibu yang sakit itu tiada menjawab perkataan anaknya itu. la memandang muka Mariamin dengan mata yang menunjukkan, betapa besar cintanya dan kasih sayangnya kepada anaknya itu. “Ya Allah, ya Tuhanku, kasihanilah hamba-Mu yang miskin ini,” mengucap ia di dalam hatinya, setelah anaknya itu pergi ke dapur. Ia berbaring di atas tikarnya dan matanya ditutupkannya, tetapi mata hatinya melihat hal ihwal rumah tangganya, pada waktu beberapa tahun yang lewat, tatkala suaminya masih hidup dan ketika harta mereka itu masih cukup; pendeknya pada masa kesukaan yang sudah lewat itu, karena pada waktu itu bolehlah mereka itu dikatakan masuk bagian orang yang kaya dan yang ternama di negeri Sipirok. Akan tetapi sebagaimana kerap kali kejadian di dunia ini, adalah kekayaan itu tiada kekal dan kesenangan itu fana jua adanya, karena nasib manusia itu sebagai roda, kadang-kadang ke atas, kadang-kadang ke bawah, hujan dan panas silih berganti menimpa bumi, dan burni itu harus sabar menerima apa yang datang. Si ibu itu pun adalah juga orang yang sabar, tiadalah pernah ia bersungut-sungut, karena ia dan anaknya hidup sekarang dalam kemiskinan. “Allah adil dan pengiba,” katanya selamanya dalam hatinya, bila ia, didaya iblis yang selalu hendak membinasakan orang yang dalam percobaan, supaya orang itu sesat dari jalan kebenaran, mengatakan Tuhan tak adil, kesudahannya orang itu menyangkal Allah taala. Itulah kesukaan setan dan iblis, musuh manusia yang jahat itu.

Pada malam itu amatlah susahnya hati perempuan itu. Ia amat mencintai anaknya yang dua orang itu, Mariamin yang tua dan seorang budak laki-laki, umur empat tahun, sebagaimana ibu yang lain-lain.

“Pada waktu dahulu sudah tentu saya mendapat pemeliharaan yang senang, kalau saya sakit,” kata perempuan itu dalam hatinya. “Akan tetapi sekarang, aduh, siapakah yang kuharapkan lagi? Seorang pun tak ada yang melihat saya, demikianlah rupanya manusia itu di dunia ini. Kalau kita dalam kekayaan, banyaklah kaum dan sahabat; bila kita jatuh miskin, seorang pun tak ada lagi yang rapat, sedang kaum yang karib itu menjauhkan dirinya. Akan tetapi Allah pengiba, anakku sudah besar dan cakap memelihara saya pada waktu sakit. Cinta orang tua yang kusimpan baginya, dibalasnya dengan kasih sayang anak kepada orang tuanya. Demikianlah cinta Riam kepada saya. Kalau ia pergi ke ladang atau ke sawah, selamanya ia mencari pembawaan akan menyenangkan hatiku, meskipun yang dibawanya itu tiada seberapa harganya; seperti tadi cuma kol dan sayur-sayuran yang dibawa untuk saya, karena telah lama tak ada nafsuku makan. Sayur yang direbus anakku itu, tentu lebih sedap nanti kumakan, lebih sedap dari sup daging atau ayam waktu hari kesukaanku, sungguhpun tak enak dirasa lidahku nanti, akan tetapi lezat juga pada perasaan hatiku. Mariamin, Mariamin, doakanlah kepada Allah, biar saya lekas sembuh dan lama hidup, supaya saya dapat menyenangkan hidupmu dengan adikmu. Kalau tiada demikian, siapakah yang akan mencarikan nafkah untukmu berdua? Kalau induk ayam itu mati, siapakah lagi yang mengaiskan makanan untuk anaknya yang kecil-kecil itu? Bila hari hujan, sayap siapakah lagi tempat mereka berlindung, supaya jangan mati kedinginan?”

“Allah melindungi makhluknya,” sahut suara, yang lain dalam hatinya.

Perempuan itu pun membukakan matanya, karena ia mendengar suara anaknya yang kecil itu memanggil ibu.

“Belumkah ibu lapar?” tanya anak itu, seraya duduk dekat bantal emaknya.

“Anakku sudah makan?” tanya si ibu seraya menarik tangan budak itu, lalu dipeluknya dan diciumnya berulang-ulang.

“Sudah Mak; Kak Riam memberi saya sayur… kol direbus. Enak Mak, enak. Makanlah Mak! Kak Riam bawa nasi untuk Mak, itu dia sudah datang,” kata budak itu, sambil berbaring dekat ibunya.

“Makanlah Mak dahulu, nasi sudah masak,” kata Mariamin, seraya mengatur makanan dan sayur yang dibawanya sendiri dari gunung untuk ibunya yang sakit itu.

Ia pun duduklah bersama-sama makan dengan ibu yang sakit itu, sedang adiknya yang kecil itu sudah tertidur di belakang ibunya. Tengah makan itu kelihatanlah oleh ibu Mariamin, muka anaknya lain daripada yang sudah-sudah, adaiah suatu kedukaan yang tersembunyi dalam hatinya; kedukaan itu terang dilihat si ibu, meskipun Mariamin menyembunyikannya. Akan tetapi apa sebabnya anak itu bersusah hati, kuranglah diketahuinya.

“Susahkah hati anakku, karena saya belum sembuh?” tanyanya seraya mengawasi muka Mariamin. Yang ditanya tiada menjawab, hanya ia mencoba-coba tersenyum, akan tetapi mukanya merah padam sedikit.

“Janganlah Riam bersusah hati, dua tiga hari lagi dapatlah ibu turun sedikit-sedikit. Wah, enak benar sayur yang Riam bawa tadi, anakanda pun pandai benar merebusnya; nasi yang sepiring itu sudah habis olehku,” kata si ibu dengan suara yang lembut dan riang akan menghiburkan hati anaknya itu. Karena bagaimana sekalipun besarnya dukacitanya, tiadalah ia suka menunjukkan kepada anaknya, karena ia tahu, anaknya itu masih muda akan, memikul dan menanggung kesusahan dunia.

“Ya, Ibu! Moga-moga ibuku lekas baik, kalau ibu selalu sakitsakit, apalah jadinya kami berdua ini,” sahut Mariamin.

Si ibu terdiam mendengar perkataan anaknya itu. “Sebenarnyalah perkataan anakku itu,” pikirnya. “Jika sekiranya saya mati, apatah jadinya biji mataku kedua ini? Benar ada lagi saudara mendiang bapaknya, tetapi tahulah saya, bagaimana kebiasaan manusia di dunia ini. Sedang pada masa hidupku tiadalah mereka yang mengindahkanku, apalagi kalau saya tak ada lagi.”

Pikiran yang serupa itulah yang acap kali timbul, dan itulah yang menyusahkan hatinya. Bila dikenangkannya yang demikian itu, perasaannya penyakitnya bertambah berat dan kemiskinan mereka itu berlipat ganda. Kalau ia sekiranya tiada menaruh kepercayaan yang kuat kepada Allah, tentulah ia akan melarat dan tentu iblis dapat mendayanya. Tetapi ia seorang yang taat dan yakin kepada agama. Maka keyakinannya kepada Tuhan Yang Pengasih dan Penyayang itulah yang memberi kekuatan baginya akan menerima nasibnya yang baik dan buruk; sekaliannya ditanggungnya dengan sabar. Dari kecil ia pun mengukirkan sifat dan tabiat yang demikian itu dalam hati anaknya. Siang-malam ia mendidik anaknya, supaya di belakang hari menjadi seorang yang rendah hati, berkelakuan yang baik dan percaya kepada Tuhan.

“Pergilah anakku tidur! Riam sudah payah sehari ini bekerja; tak usahlah ibu anakku tunggui,” kata mak Mariamin.

Setelah anak gadis itu menyelimuti ibunya dan mengatur apa yang perlu baginya, ia pun berdirilah. “Kalau Mak mau apa-apa, panggillah anakanda, nanti anakanda lekas datang. Jangan Mak bangkit-bangkit dari tempat tidur, seperti yang dulu-dulu, supaya badan Mak jangan lelah; kalau Mak bersusah-susah, tentu penyakit maka bertambah, akhirnya anakanda pun susah juga.”

“Ya, Riam! Pergilah kau tidur,” kata si ibu menyenangkan hati anaknya itu. Pada waktu itu pun pergilah Mariamin ke bilik tempat tidurnya.

Sekarang ia sudah jauh dari mata ibunya yang sakit itu. Baru ia masuk, tiadalah diingatnya lagi memalang pintu bilik itu dari dalam, ia menghempaskan dirinya ke atas tempat tidurnya. Sekuat-kuat tenaga ia tadi menahan dukacitanya, sejak bercerai dengan anak muda itu sampai ia meninggalkan ibunya. Sebagaimana sudah dimaklumi, amatlah susah baginya menyembunyikan dukanya itu. Pada waktu makan tadi, ibunya melihat awan yang menutup dahi anaknya itu. Sekarang tak tertahan lagi olehnya, sudah habis kekuatannya, ibarat mata air yang ditutup, demikianlah kemasygulannya itu; sekarang sudah datang waktunya hendak meletus.

“Wahai malangnya aku ini! Sampailah hatimu meninggalkan daku, Udin?” tangis Mariamin dengan sedihnya. Tak dapatlah ia lagi berkatakata, karena tangisnya menyumbat tenggorokan, dan air matanya bercucuran pada pipinya yang halus itu, jatuh ke bantal-gulingnya.

Sejurus lamanya dapatlah ditahannya sedikit tangisnya itu; mata air yang telah tersumbat itu, mendapat jalan ke luar; dengan memancarmancar keluarlah dari dalam tanah, dan lama-kelamaan berkuranglah kuatnya air yang memancar itu. Demikianlah halnya Mariamin. Meskipun air matanya berlinang-linang, ia pun duduklah, karena bantalnya sudah basah. Kedua belah tangannya ditongkatkannya ke dagunya dan matanya memandang ke lampu kecil yang terpasang di hadapannya. Tetapi tiadalah ia melihat nyala lampu itu, melainkan seolah-olah barang lainlah yang nampak olehnya, karena duduknya itu sudah dipenuhi kenang-kenangan. Semua halnya selagi ia anak-anak datanglah kembali ke hadapannya.

Seorang pun tak ada yang melihat Mariamin duduk termenung itu. Amatlah kasihan kita melihat gadis yang semuda itu digoda kesusahan. Hati siapa takkan iba melihat muka yang manis itu menjadi muram dan bibir yang merah dan tipis itu tiada menunjukkan senyum lagi, sebagaimana biasanya. Siapa pun yang melihat anak dara itu duduk sedemikian, tentu tiada sampai hatinya, ia pun akan turut bersedih hati. Ia akan berbuat sepandai-pandainya untuk menghiburkan hatinya. Akan tetapi apa boleh buat, tak ada seorang pun yang dapat berbuat begitu karena gadis itu hanya seorang diri dalam biliknya. Jadi tiadalah heran, jikalau ia terus juga memikirkan nasibnya itu. Betul, ya, lampu kecil yang menyala di hadapan dara muda itu, melihat kawan sekamarnya bersusah hati. Ia seolah-olah berkata, “Janganlah tuan menangis, wahai gadis yang cantik, tiadakah sayang tuan melihat air mata tuan yang mahal itu terbuang-buang? Diamlah Tuan, janganlah tuan terlampau amat bercintakan hal yang belum kejadian. Siapa tahu malang yang tuan sangkakan itu menjadi mujur kesudahannya.” Banyak lagi ucapan hiburan lampu itu, tetapi Mariamin tiada mendengarnya. Telinganya sudah tertutup dan matanya pun tak melihat lagi, karena diserang angan-angan itu. Hidupnya yang dahulu sajalah yang nampak tergambar di mukanya. Kasihan, gadis yang semuda itu memikul penanggungan yang sesedih itu!

“Ia akan pergi juga merantau ke Deli yang jauh itu; aku tinggal seorang diri. Aduhai Angkang Din, sampai hati rupanya tuan membiarkan aku dalam untungku. Lupakah tuan akan pergaulan kita sejak dari kecil, yang sudah bertahun-tahun itu? Kasih sayangku amat besar kepada tuan, dari dahulu sampai sekarang, tetapi rupanya kecintaan tuan kepadaku tiada cukup kukuhnya akan mempersatukan kita. Bukanlah aku yang kurang ramah, bukan aku yang kurang menyayangi angkang, tetapi tuanlah yang lebih dulu meninggalkan aku.”

Perkataan itu dikatakan Mariamin dalam hatinya, tetapi tak tahu rupanya ia lagi, apa yang ke luar dari mulutnya itu.

“Aku pergi bukan hendak meninggalkan adinda, tetapi mendapatkan kau. Aku terpaksa, karena suatu hal,” terdengar dalam telinga anak dara itu perkataan kekasihnya, waktu mereka itu bercakap-cakap tadi, di atas batu besar, di rusuk rumah.

“Apakah makna perkataannya itu?” tanya Mariamin. “Ia merantau ke Deli, negeri yang sejauh itu. Tetapi ia berkata juga, “Aku tak akan meninggalkan adinda.”

“Itu tak benar. Aku tinggal, hidup dengan untungku, Aminu’ddin tak melihatku, tiada mendengar suaraku lagi, sebab tuan sudah jauh, tentu tuan melupakan aku lambat launnya. Hilang dari mata, lenyap dari pikiran. Hal yang serupa ini telah beratus kali kulihat di dunia ini. Akan tetapi aku tiada lupa kepadamu, biarpun tuan tak mengingat aku. Sudah kukatakan, bahwa engkau kucintai, diriku pun sudah kuserahkan kepadamu, sebab aku berhutang budi dan nyawa kepadamu dan lagi aku sudah percaya akan kemuliaan hatimu, cuma aku kadang-kadang bimbang, bila engkau jauh dari anggimu…”

Di luar hari amat dingin. Langit yang lebar itu ditutupi awan yang gelap, sebutir bintang pun tak nampak. Angin pun berembuslah dengan kencangnya, sehingga berdengung pada pohon-pohon yang tinggitinggi yang menghambat perjalanannya itu. Angin yang hebat itu bercampur pula dengan hujan rintik-rintik. Akan tetapi itu hanya sebagai tanda, bahwa sebentar lagi awan yang gelap yang menutup langit itu, akan bertukar menjadi hujan yang lebat. Sunyi-senyap rupanya di jalan dan lorong-lorong, karena tiada suatu apa yang kedengaran, hanya bunyi angin yang dahsyat itu; sunyi dan sedih juga pemandangan mata kita dalam kamar anak dara yang gundah-gulana itu.

“Riam, apakah sebabnya engkau menangis?” datang suatu suara dari pintu.

Yang ditanya itu terkejut, seraya melihat ke belakang, yakni ke pintu kamarnya. Ia terkejut, bukan sebab tak mengenal suara itu, tetapi ia tiada menyangka, bahwa ibunya yang bertanya itu.

Disapunya matanya dengan lengan bajunya, seraya ia mengawasi orang yang berdiri di pintu kamarnya itu, karena pada sangkanya penglihatannya salah. Ya, benarlah dia. Muka yang pucat dan kurus itu nyata juga kepada matanya, meskipun cahaya lampu yang kecil itu malap adanya.

“Mak, ampun Mak!” kata si anak seraya melompat memeluk ibunya itu. Akan tetapi air matanya makin lebat bercucuran ke pipinya.

“Apakah yang anakku tangiskan, sedang jauh malam begini? Pikirku Riam sudah tertidur,” kata si ibu dengan suara perlahan-lahan.

Si ibu terjaga dari tidurnya dan melihat cahaya lampu yang datang dari pintu bilik Mariamin. Ia mendengar suara yang sayup-sayup, yaitu suara Mariamin yang mengeluh itu. Oleh sebab itu heranlah hati si ibu, dan ia pun pergi ke kamar anaknya itu melihat apa yang terjadi di situ. Oleh karena pintu tiada dikunci, dapatlah ia masuk ke dalam dengan tiada diketahui anaknya itu.

“Katakanlah apa sebabnya anakku menangis?” tanya ibunya lagi seraya menyapu-nyapu pipi anaknya yang basah oleh karena air matanya itu.

Dengan tiada disembunyi-sembunyikan Mariamin menceritakan sekalian perkataan Aminu’ddin itu.

“Kalau anakku takkan menyusahkan bunda yang sakit-sakit ini, diamlah kau, dan senangkanlah pikiranmu, engkau harus sabar dan berserah diri kepada Tuhan,” kata si ibu sesudah ia mendengar cerita anaknya itu.

Mariamin seorang anak perempuan yang penurut; ia membawa ibunya ke kamarnya, seraya katanya, “Janganlah ibuku bersusah hati, masakan mau ananda memberatkan hati ibu. Ananda menangis tadi karena ananda bodoh dan pikiranku muda, sekarang tak mau ananda lagi menangis. Tidurlah Ibuku, hari sudah jauh malam.”

Setelah ibunya pergi, maka pergilah Mariamin merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya itu. la pun mengumpulkan kekuatannya akan mendiamkan pikirannya yang berkisar-kisar itu. Tiada berapa lamanya ia pun tertidurlah.

Hujan rintik-rintik itu sudah bertukar dengan hujan yang amat lebat, sehingga sebagai air dicurahkan dari langit rupanya. Angin yang keras itu makin kencang dan kilat pun berturut-turut diiringi halilintar yang gemuruh, sebagai gunung runtuh lakunya.

Dalam rumah kecil yang tersebut sudah sunyi, karena semua sudah diam, masing-masing tidur dengan nyenyaknya. Hanyalah lampu kecil yang terpasang di tepi dinding itu yang masih menyala dan cahayanya yang suram itu mencoba-coba melawan dan mengusir kekuatan dewi malam yang memerintahkan alam ini.

Catatan

  1. Angkang artinya kakak atau abang.
  2. Anggi artinya adik

Oleh Merari Siregar

Bab 2→

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s