Azab Dan Sengsara: Banjir

Bab 3: Banjir

novel merari siregar azab-dan sengsara

novel merari siregar azab-dan sengsara

Aminu’ddin mengetahui, bahwa Mariamin dalam ketakutan yang tiada tentu, barangkali disebabkan hujan yang amat lebat itu serta melihat kilat dan mendengar guruh yang tiada berhentinya. Lalu ia pun menghiburkan hati Mariamin, supaya sahabatnya itu melupakan barang yang ditakutinya itu.

“Riam,” katanya dengan muka yang riang, “saya ada mem punyai cerita yang bagus, yang baru diceritakan guru kami di sekolah; sukakah engkau mendengarnya?”

Perkataannya yang dua tiga patah itu menggembirakan hati Mariamin. Anak perempuan itu pun lupalah akan hal keadaan hari yang buruk itu. Dengan tersenyum serta matanya bercahaya, ia pun berkata, “Cobalah angkang ceritakan, betapakah sedapnya mendengarkan dia itu, apalagi pada waktu yang serupa ini. Mulailah!” kata Mariamin, seraya ia mendekat duduk kepada Aminu’ddin, supaya suara sahabatnya bercerita itu jangan dibawa oleh angin yang kencang itu.

“Bukankah engkau bersungut-sungut tadi?” tanya Aminu’ddin.

“Waktu itu kau berkata: amatlah sakitnya jadi perempuan.”

“Pabila?”

“Waktu kita menyiangi sawah tadi.”

“Ya, apa sebabnya angkang menanyakan itu?”

“O, bukan; saya hanya hendak memberi nasihat saja, yakni, haruslah kita sabar menerima pemberian Allah,” ujar Aminu’ddin. “Dengarlah cerita seorang yang tiada bersenang hati kepada untungnya. Ia mengumpat-umpat nasib dirinya, karena berlain dengan orang-orang yang di atasnya dan dikatakannya Allah taala itu tak adil.” “Bagaimanakah cerita itu?” tanya Mariamin dengan inginnya. “Dalam sebuah kampung, dekat hutan yang besar, tinggal Seorang perempuan yang sudah tua.” Aminu’ddin memulai ceritanya. “Pekerjaan perempuan itu mencari kayu api. Kayu itu dijualnya ke pasar; uang yang sedikit yang diperolehnya dari harga kayu itu dibelikannya kepada beras dan garam serta apa yang berguna untuk hidupnya. Dengan bersenang hati serta memuji nama Tuhan, ia pulang ke rumahnya. Demikianlah kehidupan perempuan itu; siang mengambil kayu dan malam tidur dalam rumahnya dengan nyenyaknya.

Dekat rumahnya itu diam pula seorang laki-laki tua, pekerjaannya mengambil kayu juga. Di hutan dan di pasar acap kali kedua orang itu berjumpa. Dilihat oleh perempuan itu pendapatan orang tua laki-laki itu lebih banyak mendapat uang dari dia. Kalau ia menerima lima puluh sen, laki-laki itu menerima delapan puluh sen, kadang-kadang serupiah. Perempuan itu pun tiada bersenang hati, karena hati yang cemburu sudah acap kali timbul dalam pikirannya.-Akan tetapi kalau dipikirkannya lebih panjang, tentu ia tiada bersungut-sungut dalam hatinya. Orang tua laki-laki itu bekerja tiada akan mencari nafkahnya sendiri, tetapi anak dan bininya harus pula diberinya makan. Oleh sebab itu terpaksalah ia memikul beban yang lebih berat, supaya ia lebih banyak beroleh uang, dan kalau ia tiada kuat, apakah jadinya anak bininya? Meskipun ia beroleh uang serupiah dalam dua had, jauhlah lebih senang kehidupan perempuan tua tadi. Akan tetapi hal itu tiada dipikirkan oleh perempuan tua itu; itulah sebab ia bersungutsungut. Sekali waktu ia pulang membawa kayu ke rumahnya, ia pun duduklah berhenti, akan melepaskan lelahnya. Dari jauh ia melihat laki-laki tua itu memikul kayu juga, sedang berjalan pulang ke kampung. “Wah, besarnya beban orang itu, tetapi ia tiada keberatan memikulnya,” kata perempuan itu. “Saya hampir setengah mati dan bebanku hanya laku sepuluh sen. Benarlah Tuhan tidak adil; apakah sebabnya perempuan kurang kekuatannya daripada laki-laki?”

Pada waktu itu datanglah seorang malaikat ke tempat perempuan itu. Ia terkejut, karena tiada dikenalnya malaikat itu. Mukanya berseriseri amat elok parasnya. Malaikat itu menghampiri perempuan tua itu, seraya berkata, “Janganlah ketakutan; saya ini Jibrail; saya datang ke mari membawa firman Tuhan. Tadi engkau menyebut Allah taala tak adil, sebab Ia menjadikan laki-laki lebih kuat daripada perempuan. Itu pun kalau engkau suka menjadi laki-laki, katakanlah, supaya jangan bersungut-sungut juga di belakang hari, mengatakan Allah taala tidak adil.”

Perempuan itu berlutut hendak menyembah malaikat itu. Tetapi malaikat itu menangkap tangannya, seraya berkata, “Janganlah engkau menyembah aku, Allah saja yang wajib disembah. Katakanlah, sukakah engkau menjadi laki-laki?”

“Sudah tentu, lamun Allah taala yang akbar tiada murka akan hamba,” sahut perempuan itu.

“Permintaanmu itu kabul dan menjadilah engkau seorang lakilaki,” kata malaikat itu. Setelah itu maka Jibrail itu pun gaiblah. Perempuan itu berdiri seraya melompat-lompat karena suka-citanya. Ia sudah menjadi laki-laki dan kekuatannya pun sudah jauh bertambah. “Mulai dari sekarang ini barulah aku amat beruntung, tak ada yang kususahkan lagi. Sedikit hari lagi tentu aku mempunyai uang yang banyak,” katanya, sambil ia menjinjing bebannya, lalu berlari pulang ke rumahnya.

Berbulan-bulan sudah itu, ia pun belum juga menjadi orang kaya. Hidup sendiri kuranglah sedapnya dipandang mata, karena menurut sepanjang adat, adalah keaiban bagi laki-laki yang tiada beristri itu. Oleh karena itu ia pun kawinlah. Dua tahun di belakang, lahirlah seorang anaknya. Sekarang barulah ia tahu, betapa beratnya tanggungan bapak yang harus memeliharakan anak dan istri serta keperluan rumah tangganya. Pendapatannya yang sekarang—pada persangkaannya dulu—dulu telah banyak hampir-hampir tak cukup akan dimakan anakberanak. Meskipun ia mempergunakan sehabis-habis tenaganya, tetapi amat susah jugalah rasanya akan mencari yang sesuap pagi dan sesuap petang. Kesudahannya ia tiada bersenang hati lagi. Pada suatu hari pekan, sedang ia menjual kayu di pasar, ia pun terpikir, betapa senangnya kehidupan saudagar-saudagar. Mereka itu menjual kain yang mahal-mahal dan permata yang indah-indah, sedang kerjanya tiada berapa. Di tengah jalan, waktu hendak pulang ke rumah, ia pun berkata sendirinya, “Apakah sebabnya nasib manusia itu beruparupa? Karena apa maka sedemikian ini untungku ditakdirkan Allah? Sehari aku tak pergi ke hutan mencari kayu, sudah tentu kami anak-beranak mati kelaparan. Pendapatanku amat sedikit; hendak menyimpan uang tak mungkin. Lain benar halnya dengan saudagar-saudagar yang kaya itu. Mereka itu duduk saja sehari-hari, uang datang sendiri; sedikit pun tak ke luar keringatnya. Aku ini tiada lepas dari panas dan dingin, hujan dan angin, akan tetapi tiada lebih kuperoleh daripada yang cukup dimakan. Kalau aku jadi saudagar yang serupa itu, betapakah senangnya kehidupanku.”

Pada sekejap itu berdirilah Jibrail di hadapannya, seraya berkata, “Tak usah engkau bersungut-sungut; kesukaanmu itu diperkenankan Tuhan sarwa sekalian alam.”

Orang itu hendak memegang dan memeluk kaki Jibrail itu, akan tetapi malaikat itu sudah gaib entah ke mana. Dengan bergirang hati orang itu pun pulanglah ke rumahnya. Sejak daripada hari itu tak perlu lagi ia pergi mengambil kayu ke hutan. Setiap hari dapat ia tinggal bersama- sama dengan anak-istrinya dan uang pun tiada kekurangan lagi akan pembeli apa yang dikehendakinya. Tambahan lagi ia pun menjadi orang kaya, mempunyai toko yang besar-besar, penuh dengan barang dagangan, yang memberi laba yang besar. Demikianlah orang itu hidup senang dan beruntung. Akan tetapi itu pun tiada kekal, karena penyakit yang lama sudah datang pula menggoda pikirannya.

Pada suatu hari orang pun beramai-ramai dalam negeri itu mengeluelukan seorang panglima perang yang pulang dari medari peperangan membawa kemenangan yang besar, karena musuh raja negeri itu sudah dikalahkannya. Segala bunyi-bunyian serta alat kehormatan kerajaan pun dikeluarkan oranglah, dan baginda sendiri turut juga menyongsong panglima besar yang gagah berani itu. Baru panglima perang itu masuk ke dalam kota, orang pun bertampik dan bersorak, karena semuanya bersuka-cita, sebab mereku itu telah lepas daripada mara bahaya. Dengan kehormatan dan kemuliaan yang besar, panglima besar itu diarak orang sampai ke istana raja.

Melihat hal yang demikian itu saudagar tadi bersungut-sungut pula, “Hartaku sudah banyak, tapi tak mungkin aku bersenang hati selamalamanya. Kalau harta orang banyak dan namanya masyhur dan harum, barulah ia boleh dikatakan beruntung. Kekayaan dan kemasyhuran, barang yang dua itulah yang menyenangkan manusia di dalam dunia ini. Ah, apakah sebabnya aku tiada menjadi panglima besar, supaya kuperoleh keinginanku itu? “

“Tak usah bersusah hati, keinginanmu itu diperlakukan Tuhan khalikul alam,” kata Malaikat Jibrail, yang membawa firman Allah. Sebelum saudagar itu sekarang telah menjadi panglima besar menyahut suatu apa, malaikat itu telah aib.

Sekarang tak usah lagi ia bersusah hati. Rumahnya besar dan bagus, anak dan istrinya dilayani dayang-dayang yang elok-elok rupanya. Pendeknya amatlah senang kehidupannya, harta dan kemuliaan sudah diperolehnya, siapa lagi yang di atasnya dalam kerajaan baginda yang luas itu, kecuali raja yang empunya kerajaan itu? Semuanya di bawah perintahnya, akan tetapi ada kecualinya. Pikiran yang demikian inilah yang menjadikan sebab bagi orang itu, maka ia tiada bersenang hati. “Kalau aku menjadi raja, barulah sempurna hidupku di dunia ini, karena seorang pun tiada yang jadi rintangan bagi mataku,” kata orang itu pula pada sendirinya.

“Rintangan yang menyusahkan matamu itu kuambil, supaya kesenanganmu sempurna dalam dunia ini,” sahut Jibrail pula. “Besarlah terima kasih aku kepada tuan, dan sebagai tanda syukur, aku akan memberi peringatan, yaitu suatu benda yang mahal. Haraplah tuan sudi menanti dia dalam istanaku ini,” titah raja baru itu.

“Emas dan intan tiada berguna untuk kami,” sahut Jibrail itu “penduduk surga lebih menghargakan ibadat serta perbuatan yang baik daripada harta dunia, dan lagi kepada aku tak boleh engkau mengucap syukur, karena aku hanya si pembawa firman Allah, Tuhan sekalian yang ada. Ingat-ingatlah akan perkataanku itu. Allah yang pengasih, Tuhan sekalian alam, memenuhi apa-apa yang engkau cintakan, kamu pun harus menyayangi segala umatnya, karena seharusnyalah raja itu memikirkan kesentosaan rakyatnya, bukanlah raja itu memuaskan hawa nafsunya saja dan orang banyak menanggungkan kemelaratannya. Sekali lagi aku ulangi: Kasihanilah makhluk Allah, sebagai Tuhan menyayangi engkau!”

“Bertahun-tahun lamanya raja itu duduk di atas takhta kerajaannya. Akan tetapi penyakitnya yang lama itu tiadalah sembuhsembuhnya, karena sekalipun tidak pernah diobatinya. Seorang yang demam kura, selalu minum air kelapa muda, sebab ia kehausan, tentu tiada menjadi baik; sebaliknya, kura itu bertambah-tambah besar dan demamnya semangkin jadi, akhirnya ia rusak binasa. Demikianlah halnya raja itu. Nafsunya hendak beroleh yang lebih, selalu diturutinya. Sudah tentu nafsu itu tiada mati atau puas, jika sudah diturutkan sekali. Kebalikannya dia menjadi besar, sebagai api yang selalu beroleh kayu akan menjadi makanannya.

“Manusia yang mendiami bumi ini amat banyaknya. Alangkah baiknya aku sendiri yang memerintahkan bumi ini. Tuhan hanya satu, raja pun haruslah satu pula.” Pikiran yang demikian itulah yang merusakkan hati raja itu; siang-malam ia mencari akal akan mencapai maksudnya itu. Lupalah sudah ia akan perkataan malaikat itu.

“Satu Tuhan satu raja,” Begitulah beraninya manusia yang loba dan tamak itu. Ia mencari kesenangan dalam kekayaan dan kemuliaan: Orang yang serupa itu tiada pernah akan beroleh kesenangan, karena ia tiada pernah sabar. Siapa yang sabar dan mempersenang hatinya dengan pemberian Allah, itulah yang beruntung. Benarkah itu Mariamin?” tanya Aminu’ddin kepada sahabatnya itu.

Yang ditanya itu menundukkan kepalanya, seraya bertanya, “Bagaimanakah kesudahannya raja itu, beruntungkah ia di belakang hari? Dapatkah ia mencapai maksudnya itu?” tanya Mariamin.

“Tentu tidak, bukankah sudah kukatakan, orang tiada pernah beruntung, kalau ia mencari kesenangan yang sempurna dalam kekayaan dan kemuliaan dunia,” sahut Aminu’ddin, “tetapi sebelum aku menyudahkan kisah raja itu, baiklah aku menceritakan cerita yang lain, yang menjadi pelajaran untuk kita. Dalam sebuah negeri adalah seorang raja. Adapun raja itu amat disayangi rakyatnya, karena ia terlalu cinta akan anak buahnya. Tetapi adalah suatu tabiat raja itu yang kurang baik, yakni ia selalu berkehendak supaya ia raja yang lebih besar dan kuat daripada raja-raja yang lain. Pada suatu hari sedang ia berburu dengan menteri-menterinya, ia pun sesat dan sampai ke dalam sebuah lembah yang lebar. Dalam lembah itu diafn seorang gembala. Dari jauh raja itu mendengar suara gembala itu, menyanyikan lagu yang riangriang; kadang-kadang berganti dengan suara suling yang merdu. Raja itu pun berjalanlah menuju tempat pondok gembala itu; amatlah suka citanya, karena ia telah bersua dengan manusia. Gembala itu mempersilakan raja itu masuk ke pondoknya meskipun tiada dikenalnya. Kemudian diajaknya makan bersama-sama. Makanan yang sederhana, yang diberikan gembala itu, amatlah lezatnya pada perasaan baginda itu, dan air minum yang diambil dari sungai, dekat pondok orang itu, lebih enak daripada minum-minuman yang disediakan dayang-dayang yang ternama dalam istananya. Selama gembala itu tinggal dalain pondok yang sunyi itu amatlah senang perasaannya, air mukanya pun selamanya berseri-seri, sehat dan riang nampaknya. Belum berapa lamanya raja dalam pondok itu, tahulah baginda bahwa gembala itu hidup beruntung dan berbahagia, lebih daripada dia, raja yang empunya tanah itu, yang tiada mengenal kekurangan dan kemiskinan. Setelah sudah makan, gembala itu pun mengantarkan jamunya itu ke jalan yang benar, yakni jalan pulang ke istana. Waktu mereka itu hendak bercerai, raja itu berkata, “Belum lama aku tinggal bersama-sama dengan engkau, tapi sudah terang kuketahui, bahwa engkau merasa dirimu beruntung. Cobalah katakan apa yang menyenangkan hatimu dalam hutan yang sunyi ini, jauh dari negeri yang ramai-ramai, tempat orang berkumpul dan bersenang-senang diri?”

Gembala itu tersenyum seraya berkata, “Bagaimanakah aku tiada akan bersenang hati, suatu pun tiada yang kususahkan. Makanan untukku pagi dan petang cukup, sayur dan ulam pun tiada pernah kekurangan. Sedang burung-burung yang di bawah langit ini, yang tiada mempunyai lumbung tempat mengumpulkan makanan, tiada mati kelaparan, sebab Allah memeliharakan makhluknya, apalagi aku. Dan air gunung yang kuminum setiap hari itu, adakah dapat diperoleh dalam negeri yang ramai, tempat penyakit bersarang? Tuan berkata: hutan ini sunyi; akan tetapi pada perasaanku tiadalah demikian. Kalau matahari menunjukkan cahayanya di sebelah timur, keluarlah aku dari pondokku. Di sana-sini kedengaranlah suara unggas yang menyanyi pada puncak kayu yang tinggi-tinggi, mengucap syukur kepada Tuhan khalikulalam, yang menjadikan semesta alam ini. Saya pun tak lupa menyembah dia. Dalam hawa pagi yang semerbak dan segarnya itu saya halaukan biri-biriku ke padang rumput yang ada di lerenglereng bukit itu. Kalau hari malam saya tidur dengan nyenyaknya dan segala keletihanku siangnya itu telah lenyap dan badanku kembali pula.segar dan kuat serta nafsu bekerja bertambah besar.

Cobalah tuan katakan: Apakah jalan yang membawa saya ke dalam lautan dukacita, sebagai orang kota? Kalau matahari hendak masuk ke perhentiannya, ia memancarkan sinar yang seperti emas disepuh ke puncak gunung dan pokok-pokok kayu yang tinggi-tinggi itu, dan lagi pelangi yang berwarna-warna, melengkung di sebelah timur, adakah tontonan yang seindah itu dalam kota yang ramai? Itu kuperoleh dengan tiada membayar sepeser jua pun. Emas dan perak tak berguna bagiku, meskipun rumahku emas dan halamanku bertabur intan, takkan berbahagia saya oleh karena itu. Lagi pula istana raja kita dan kerajaannya yang besar itu takkan sama harganya dengan tangan dan mataku. Ah, tak dapatlah saya menceritakan segala barang yang menyenangkan hatiku di dunia ini. Akan tetapi itu harus kukatakan: Sekaliannya itu kuperoleh daripada Allah yang rahmat, yang telah menyediakan kesenangan selama-lamanya bagi hambanya yang percaya akan dia, yaitu surga yang kekal, ganti dunia yang fana ini. Itulah sebabnya saya selamanya bernyanyi dengan girang memuji nama Tuhan seru sekalian alam.”

“Engkau orang gunung yang berbahagia,” sahut raja itu, “lebih besarlah tuahmu daripadaku, raja yang memegang kuasa di negeri ini.” Setelah baginda itu mengucapkan terima kasih akan pertolongan gembala itu, ia pun meneruskan perjalanannya menuju istananya, di mana hamba-hambanya berusaha akan menyenangkan dia, tetapi … dengan semuanya itu tiadalah baginda beroleh bahagia, sebagai yang diperoleh gembala yang hina dalam pondoknya yang kecil itu.” Aminu’ddin berdiam sebentar, setelah ceritanya habis, Mariamin pun memegang tangan sahabatnya itu, seraya berkata, “Bagus benar cerita angkang itu.”

“Ya, Anggi,” sahut Aminu’ddin, “nanti di belakang hari apabila engkau besar, barulah kautahu kelezatannya yang sebenarnya, yaitu bila engkau mengerti akan kias cerita itu.”

Anak dara yang kecil itu termenung. Kemudian ia berkata, “Cobalah angkang teruskan cerita orang pengambil kayu yang tak pernah puas kepada untungnya itu.”

“Sebenarnya aku sudah payah berkata-kata ini, tetapi sebab Riam ingin juga mendengarkan kesudahan cerita itu, baiklah aku teruskan,” sahut Aminu’ddin. “Dengarkanlah Anggi!”

Raja yang tadi mengumpulkan tenteranya akan memerangi raja-raja yang tiada mau takluk kepadanya; karena maksudnya hendak mendirikan sebuah kerajaan di atas bumi ini dan dialah yang akan memerintahkan segala bangsa manusia, sebagai Allah menguasai alam ini. Sudah tentu kerajaan yang lain-lain itu hendak mempertahankan tanah airnya, dan segala kekuatannya dipakainya untuk melawan, supaya negerinya jangan terampas oleh raja yang ganas itu. Sudah tentu perbuatan raja yang loba itu buas adanya. Ia melebarkan kekuasaannya dengan mengurbankan nyawa rakyatnya; memuaskan cita-citanya dengan darah dan nyawa manusia yang ada di bumi ini. Beberapa negeri yang terbakar, perusahaan rusak binasa, sawah dan ladang menjadi tempat orang berkubur, betapa pula kesusahan dan kesedihan yang ditanggung anak dan ibu oleh karena si bapak telah mati di medan perang, mati disebabkan menurut perintah raja yang ganas, raja yang garang, lebih lagi buasnya dari harimau. Semuanya kecelakaan itu disebabkan nafsu raja itu saja. Lupalah ia akan arti raja kepada rakyatnya. Bukankah raja itu menjadi bapak bagi hambanya! Ialah yang harus mencari keamanan bagi anak buahnya.

Pada suatu petang sedang matahari hendak terbenam, baginda itu pun berdirilah pada sebuah bukit tempatnya bermalam. Maka ia pun melayangkan pemandangannya ke negeri musuh yang sudah ditawan oleh laskarnya pada hari itu. Dengan tersenyum ia pun berkata kepada wazir-wazirnya, “Seorang pun tiada yang dapat menahan perang kita.” Sembah wazir itu, “Ya, Tuanku. Benar banyak tentara kita yang mati, tetapi lebih banyak lagi bangkai musuh yang berserak di tengah padang itu. Lagi pula kemenangan jatuh ke tangan seri paduka tuanku.” Sedang raja itu menunduk-nundukkan kepalanya dan mukanya berseri- seri, karena ia selalu beroleh kemenangan, maka dengan tidak disangka-sangka berdirilah Malaikat Jibrail di hadapannya. “Saya membawa firman Tuhanyang menjadikan alam dan isinya. Segala permintaanmu sudah dikabulkannya, akan tetapi watasnya sudah lewat dan ukurannya telah penuh. Darah orang yang tiada bersalah yang tumpah di tengah padang itu, air mata orang yang kematian, semuanya itu terang di hadapan Tuhan. Dan sebagai yang saya katakan tadi, perbuatanmu telah lewat dari watasnya, oleh sebab itu hukuman yang besarlah yang akan menimpa badan dan jiwamu. Nanti malam engkau masih boleh tidur, tetapi esok engkau tiada akan melihat matahari, terbit lagi.” Setelah itu malaikat itu pun lenyaplah dari mata raja itu. Ia tercengang memikirkan perkataan Jibrail itu, tak mungkin terjadi yang sebagai itu kata hatinya. Pada sangkanya, tiada benar ia bersua dengan malaikat itu, hanya penglihatan dan pendengarannya juga yang salah, karena itu ia bertanya kepada menteri-menterinya, kalau-kalau mereka itu melihat kedatangan seorang malaikat. Dengan tercengang mereka itu menyahut, bahwa tiada suatu pun yang nampak olehnya. Hari pun malamlah dan raja itu pun beradulah dengan senangnya karena esoknya itu ia akan bertentangan lagi dengan musuhnya, yang sudah tentu akan dikalahkannya pula.

Kehendak Allah tentu berlaku. Waktu fajar menyingsing turunlah hujan yang amat lebat disertai kilat dan guruh. Sedang baginda, yang hendak menjadi raja dunia itu, tidur dengan nyenyaknya, maka kemah tempat baginda beradu itu pun ditembak petir dan … sekejap itu juga orang pun mendapati mayat raja itu telah angus terbakar oleh api langit itu. Demikianlah kesudahannya nasib orang yang tiada mengindahkan sesamanya makhluk. Badannya binasa dan jiwanya makanan api neraka yang kekal selama-lamanya.”

“He, amatlah ngeri kesudahan cerita itu,” kata Mariamin setelah Aminu’ddin berhenti. “Tak usah aku senang di dunia ini, asal jiwaku jangan menanggung di akhirat.”

“Tentu,” sahut Aminu’ddin seraya berdiri hendak menoleh ke luar, kalau-kalau hujan yang lebat itu sudah berhenti.

Hujan itu belum berhenti benar-benar, akan tetapi karena hari itu sudah hendak malam, berkemaslah kedua anak itu hendak pulang ke rumahnya. Sebab rumah Mariamin yang lebih dekat dari tempat itu, mereka itu pun bersama-samalah berjalan menuju Sipirok. Biasanya keduanya itu bercerai di tengah jalan, masingmasing pulang ke kampungnya.

Aminu’ddin pun meminta cangkul adiknya itu, diikatnya bersamasama dengan cangkulnya serta diletakkannya di atas bahunya. Demikianlah ia berjalan di muka dan Mariamin tiada membawa suatu apa. Itulah kesukaan Aminu’ddin, supaya sahabatnya itu dapat berjalan dengan senang, karena jalan amat licinnya karena hujan lebat itu. Memang kedua anak itu amat berkasih-kasihan. Lebih-lebih waktu itu Aminu’ddin sangat menjaga dengan hati-hatinya diri sahabatnya itu, sedang pada hari yang biasa, tetaplah Mariamin memikul barangnya, bila. balik dari sawah. Kalau sampai pada jalan yang licin, tiadalah ia lupa membimbing tangan Mariamin, supaya jangan jatuh tergelincir. Sebentar-sebentar ia berkata, “Ingat-ingat, Anggi! Tengok benar-benar jalan itu, jangan engkau tergelincir.”

Sejak dari kecil, keduanya telah diikat tali persahabatan. Sudah besar sedikit, tali itu diperkuat oleh perkauman lagi dan pada waktu muda lebih kukuh lagi perhubungan itu, karena di antara mereka telah timbul percintaan, yang akan mempersatukan mereka di belakang hari, sebagaimana yang telah diceritakan pada permulaan cerita ini. Tabuh berbunyi di mesjid besar akan memberi tahu kepada orang, bahwa waktu magrib sudah ada, yakni waktu akan menyembah Tuhan. Aminu’ddin terkejut mendengar bunyi tabuh itu, karena barulah ia tahu, siang telah bertukar dengan malam.

“Hampir kemalaman kita ini,” katanya kepada Mariamin, “tetapi tak mengapa, kita sudah dekat; kalau sungai itu telah terseberangi, bolehlah dikatakan, kita sudah tiba di rumah.”

“Ah, bukan main besarnya air itu, dari jauh telah kedengaran suaranya,” sahut Mariamin.

“Ya,” ujar Aminu’ddin, “karena hujan pun sebagai dicurahkan lebatnya. Akan tetapi lain benar perasaanku pada ketika ini, dadaku berdebar dan seram-seram bulu badanku, apakah maknanya itu?” Mariamin terdiam mendengar perkataan angkangnya itu karena ia ketakutan. Melihat itu, maka kata Aminu’ddin. “Ah, aku pikir tiada lain sebabnya hanya karena aku kedinginan. Baiklah kita lekas sedikit, supaya kita sampai dengan segera ke rumah. Wah, bukan main sedapnya nanti berdiang, ya, Anggi,” ujar Aminu’ddin pula. Ia berkata-kata demikian hanya dengan maksud, supaya Mariamin jangan ketakutan lagi.

Tiada berapa lama sampailah mereka ke tepi sungai yang akan diseberangi mereka itu. Mariamin terkejut melihat sungai itu banjir. Air, yang penuh dengan buih itu, mengalir dengan derasnya serta menghanyutkan batu dan kayu-kayuan. Akan tetapi sebab hari sudah mulai gelap, tiada nyata kelihatan kehebatan air, sungai itu. Kalau demikian sudah tentu tiada berani mereka itu melalui titian yang kecil, tempat orang menyeberangi sungai itu.

Pada permulaan titi itu Aminu’ddin berdiri termenung memandang sungai yang deras itu. Kemudian ia pun berkata, “Dahululah engkau Anggi.”

Mariamin menjawab, “Angkanglah dahulu. Kalau sudah Angkang sampai ke seberang, barulah aku menyeberang.” “Baik,” sahut Aminu’ddin, “Akan tetapi sebelum aku sampai ke seberang, jangan engkau meniti!” Aminu’ddin berjalanlah melalui titi kayu yang kecil itu. Dengan hati-hati ia menjejakkan kakinya dan matanya tiada lepas dari titi itu. Akan tetapi tiadalah tahu, bahwa setelah ia lewat pertengahan titi itu, Mariamin sudah datang dari belakang.

Sedang ia di tengah-tengah, maka kedengaranlah olehnya suara adiknya itu memekik, “Tolong, ‘Kang!” dengan terkejut ia menoleh ke belakang.

Apakah yang nampak kepadanya?

Dengan sekejap itu dilihatnya Mariamin jatuh ke air. Cangkul yang dibahunya pun dilemparkannya dan setelah bajunya ditanggalinya, ia pun mengucap, “Tolong, Tuhan!” Dengan perkataan yang dua patah itu, Aminu’ddin melompat ke dalam air akan menyusul Mariamin, yang dihanyutkan banjir yang tiada menaruh iba kasihan kepada kurbannya itu. Meskipun semuanya terjadi dengan sekejap saja, sudah jauhlah gadis kecil itu dihanyutkan air. Aminu’ddin berenang dengan sekuatkuatnya, mengejar anak yang malang itu. Dua tiga kali anak itu memekik lagi, “Tolong Angkang!” bila ia timbul ke atas. Keempat kalinya tidak kedengaran lagi; rupanya akalnya sudah hilang. Suara yang penghabisan itu didengar oleh Aminu’ddin dengan kesedihannya, hatinya sebagai diremas dan harapannya pun hampir putus, lebih-lebih setelah Mariamin tiada timbul lagi. Akan tetapi sungguhpun demikian, ia berenang juga secepat-cepatnya, dan matanya tiada berhenti melihat ke kanan dan ke kiri.

Hari sudah hampir gelap, suatu pun tak ada yang tampak, selain dari muka air yang berbuih itu. Maka adalah sungai itu sebagai berhantu pada pemandangan matanya.

“Biar aku mati, tak mau aku ke luar dari sungai ini, sebelum aku mendapat Mariamin, adik kesayanganku itu. Kalau mati, sama-sama berkuburlah kami di sini,” kata anak laki-laki yang gagah berani itu dalam hatinya.

Sik! sik! … sik! Dua tiga kali berturut-turut kilat datang dan cahayanya pun memancar-mancarlah menerangi alam yang kelam, itu. Pada waktu yang sekejap itu nampaklah oleh Aminu’ddin Mariamin terapung sebentar. Dengan secepat-cepatnya ia pun menangkap anak perempuan itu, lalu didakapnya dengan tangan kirinya, dan dengan tangan kanannya ia berenang. Meskipun ia amat payah, kedinginan dan kekuatannya pun hampir-hampir habis, ia pun berenang juga sedapatdapatnya, yaitu sambil berhanyut, ia berenang perlahan-lahan ke tepi. Setelah ia sampai ke pinggir, maka ia pun mengamati Mariamin. Syukurlah, napasnya masih ada sekali-sekali. Ia pun mendukung anak itu menuju sebuah pondok, yang ada dekat pada tempat itu. Dengan tiada pikir panjang, ia pun berlarilah ke rumah memberitahukan kepada tulang dan nantulangnya (mamaknya laki-laki dan istri mamaknya itu, yakni orang tua Mariamin). Rumah mereka itu tiada jauh dari sana, hanya lima menit perjalanan saja.

Sudah tentu semua orang amat terkejut mendengar kabar itu. Mereka pun berlarilah ke pondok yang tersebut. Api dihidupkan dan pakaian yang basah itu diganti dengan kain baju yang kering dan bersih. Dengan usaha serta pertolongan orang-orang sebelahmenyebelah rumah, anak perempuan itu pun sadarlah akan dirinya. Air yang terminum olehnya dimuntahkannya.

Adalah empat belas hari lamanya baru Mariamin sembuh dan dapat kembali bersekolah. Sejak kecelakaan itu sudah tentu persahabatan mereka itu lebih rapat lagi. Mariamin pun selalu merasa, bahwa ia berhutang nyawa kepada angkangnya, yang telah mengurbankan dirinya sendiri untuk keselamatannya itu.

Ya, di belakang hari, bila ia sudah besar, tentu mengertilah ia akan makna: “Utang mas dapat dibayar, utang budi dibawa mati”.

Oleh Merari Siregar

←Bab 2                                                                                                                  Bab 4→

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s