Azab Dan Sengsara: Dalam Rumah Bambu Mariamin

Azab dan sengsara rumah bambuBab 7: Dalam Rumah Bambu Mariamin

“Kak Riam! Ini surat, yang diberikan seorang tukang pos,” kata seorang budak, yang berlari-lari dari halaman rumah mereka itu masuk ke dalam. Mariamin menerima surat itu dengan gemetar tangannya, karena tulisan surat itu dikenalnya. “Surat ini dari Medan, dari Aminu’ddin, Mak!” katanya, sambil membuka surat itu. $elum habis Mariamin membaca surat itu, maka pucatlah mukanya, peluhnya mengalir pada seluruh badannya. Pemandangannya pun sudah salah, suatu pun tak ada yang terang dilihatnya, semua berpusingpusing di matanya. Kalau si ibu tiada menangkap dia, sudah tentu ia jatuh terbalik karena … ia sudah pingsan. “Astagfirullah!” mengucap mak Mariamin, sambil meletakkan anaknya itu ke atas tikar yang terkembang. Yang pingsan itu terletak tiada bergerak, dan surat yang menghancurkan jiwanya itu dipegangnya kuat-kuat dengan tangan kirinya. Pipi, bibir serta kelopak mata yang halus itu amat pucat, tiada ubahnya dengan mayat, hanya dada yang turun naik sekali-kali itulah yang membe:i tanda, bahwa ia masih bernyawa. “Bukankah bunda sudah berkata, kita orang yang hina? Anakku bercintakan orang yang kaya juga. Beginilah kesudahannya,” kata ibunya sambil menangis, dan air matanya bercucuran ke atas pipi anaknya yang malang itu. Beberapa lamanya barulah Mariamin sadar akan dirinya, karena ibu yang sudah bingung itu tiada berbuat suatu apa akan menyadarkan anaknya, umpama menyapukan air dingin ke muka si sakit. Bagaimanakah ia mengingat itu, karena ia pun sudah kehilangan akal pula. Anak gadis itu membuka kelopak matanya yang pucat itu. Ia melihat ibunya menangis, dan surat di tangan kirinya. Sekarang tahulah ia apa yang terjadi di atas dirinya. Maka bertangis-tangisanlah keduanya. Bukankah hati manusia yang acap kali mendapat azab pada kehidupan ini, amat halus perasaannya? Jikalau ia luka, maka luka yang sudah bertahun-tahun itu pun, menambahi sakit dan pedihnya luka yang baru itu. “Janganlah anakku membaca surat itu juga, karena hati anakku masih dalam masygul!” ujar ibunya, sambil surat itu dihelakannya perlahan-lahan dari tangan Mariamin. “Ya, Mak, simpanlah dahulu surat itu,” sahut Mariamin dengan keluh yang panjang. Entah berapa hari, entah berapa Jumat, entah berapa bulan anak gadis itu tiada lagi meninggalkan tempat tidurnya. Tetapi lama, lebih lama daripada dugaan orang, karena suatu pun tak ada obat yang menyembuhkan penanggungannya itu. Benarlah seperti bunyi peribahasa ini: “Luka di tangan dapat ditahan, luka hati apa obatnya?” Akan tetapi sungguhpun demikian, penanggungannya itu adalah makin berkurang, sehingga setelah beberapa lamanya, dapat ia serta bekerja menolong ibunya. Mukanya yang penuh dahulunya, sekarang sudah kurus dan pucat dan mata yang hitam jernih itu sudah kurang cahayanya, amat kasihanlah kita melihatnya. Seharusnya tubuhnya yang lemah itu jangan dahulu dibawanya kerja; tetapi apa boleh buat, orang yang miskin itu harus minum keringatnya dan makan dagingnya. Tepat pada hari yang pertama, setelah Mariamin sembuh, maka datanglah Baginda Diatas dengan istrinya membawa nasi bungkus ke rumah ibu Mariamin. Waktu itu si ibu tak ada di rumah, hanya Mariamin sajalah yang tinggal di rumah. Setelah dilihatnya orang tua Aminu’ddin datang itu maka ia pun berlari ke luar mengajak mereka masuk. Dengan muka yang ramah ia mempersilakan jamu itu duduk di atas … tikar, yaitu tikar yang dianyamnya sendiri itu, untuk tempat duduk ayah Aminu’ddin dua laki-istri. Serbuk kopi, juadah yang tersimpan itu pun dikeluarkannyalah, lalu diletakkannya ke hadapan tamu yang berdua itu. Dengan hormatnya ia berkata, “Ayah dan Bunda, minumlah air panas yang dengan tiada sepertinya ini! Hamba hendak pergi sebentar memberitahukan mak akan kedatangan ayah dan bunda; dia sekarang ada menjemur padi.” “Pergilah Anakku!” sahut Baginda Diatas. Ia menyesal akan perbuatannya yang sudah-sudah itu, karena terkena hatinya oleh budi bahasa anak gadis miskin itu; sikap dan tertibnya pun adalah menarik hatinya. Muka yang pucat itu pun menerbitkan belas kasihan dalam hatinya. Bukan belas dan kasihan saja, tetapi dengan sesalnya. Sekarang ia amatlah menyesal sebab melalui keinginan anak muda yang berdua itu. “Siapa tahu, karena perbuatanku itu aku memusnahkan untung dan mujur Aminu’ddin dan Riam?” pikirnya dalam hatinya. Pikir istrinya, “Sebenarnyalah pendapatku itu yang lebih baik, tetapi apa boleh buat, perkataan datulah yang lebih berat di hatimu.” Setelah itu Mariamin pun datanglah dengan ibunya. Orang itu pun makanlah bersama-sama. Sesudah makan dan minum, Baginda Diatas pun membuka tutur, yakni mengatakan maksud kedatangan mereka itu. Semua pesan Aminu’ddin itu disampaikannya. Sesudah mereka itu meminta maaf atas kesalahannya itu, Baginda Diatas pun berjanji, bahwa sejak daripada itu mereka itu akan mengubah kelakuan yang selama ini, yakni tali perkauman itu takkan putus, melainkan bertambah kukuh dalam hati mereka itu. Jamu itu pun pergilah; ibu Mariamin bersenang hati, bukan karena pembawaan kerbau dan lembu itu, akan tetapi disebabkan janji yang mulia itu. Mariamin, meskipun ia beroleh emas dan perak atau apa pun yang lain, akan tetapi barang yang amat diinginnya itu tetap juga hilang, hilang selama hidupnya. Tetapi sungguhpun demikian ia memuji budi Aminu’ddin yang baik itu. Sementara itu ia mengambil surat Aminu’ddin dari bawah bantalnya, lalu dibacanya perlahan-lahan. Air mukanya tak berubah lagi, tinggal tenang saja. Kemudian ia pun mencabik kertas kitab tulisnya yang sudah lama, lalu ia menulis surat akan memenuhi permintaan Aminu’ddin itu dengan seikhlas-ikhlas hatinya. Yang terhormat Kakanda Aminu’ddin! Surat kakanda itu sudah adinda terima. Ya, apa boleh buat, sudahlah demikian takdir Tuhan berlaku atas hambanya. Semuanya itu takkan kusesalkan kepada kakanda. Ya, apa disesal kepada puan, puan suasa tempaan Bantan. Apa disesal kepada tuan, nasibku itu pendapatan badan. Dan tentang angan-angan dan cita-cita kita yang dahulu itu, sebenarnyalah perkataan kakanda itu, lebih eloklah kita melupakan dia daripada hati kita. Oleh sebab itu baiklah kita buat sementara jangan berkirim-kiriman surat, agar supaya luka hati kita jangan terantuk-antuk. Maklumlah kakanda Aminu’ddin, bagaimana penderitaan adinda ini. Ya, perempuan itu mempunyai perasaan yang lebih halus, dan luka hatinya itu tiada mudah sembuh, sebagai laki-laki. Oleh sebab itu baiklah kita membiarkan, yang sudah tinggal sudah, janganlah kita mengulang-ulangi dia. Permintaanmu itu, Aminu’ddin, kukabulkan dengan segala suci hati. Lagi pula seharusnyalah kita bermaaf-maafan. Tetapi sungguhpun perhubungan kita sudah putus, adinda ini harap juga, supaya kita sebagai orang yang bersaudara. Ya … lebih dari itu tak mungkin lagi. Sehingga ini dahulu suratku ini, surat yang terbit daripada hati yang putih. Salam waltakrim daripada adikmu, MARIAMIN Habis siang berganti malam, habis minggu berganti bulan, demikianlah adanya sehingga setahun, akan tetapi suatu pun tak ada perubahan dalam rumah bambu tempat ibu dan anak yang miskin itu …. Memang suatu pun tak ada perubahan selama tahun yang pertama, akan tetapi pada tahun yang kedua telah ada lainnya. Lebih-lebih pada waktu yang kemudian ini. Mariamin, anak gadis yang … di dalam duka nestapa itu, sekarang lebih sibuk bekerja daripada yang biasa, seolah-olah melakukan persediaan untuk perjalanan, serupa tahun yang dahulu. Tetapi sekali ini ia bekerja itu tiada dengan girang hati, tangannya yang bekerja itu bergerak dengan tak tetap dan muka yang halus itu kurang cahayanya, karena dimuramkan hati yang bimbang itu. Hari waktu berangkat tak lama lagi, hanya menunggu seorang muda yang datang dari Padangsidempuan. Dengan orang itulah ia akan kawin. Maksud orang itu yakni hendak beroleh untung, karena sebagai kepercayaannya, perkawinan itu membawa untung kepada laki-laki dan perempuan. Akan tetapi bagi anak gadis itu, tiadalah perkawinan itu membawa untung dan mujur bagi dia, ia perempuan, yang telah kenyang oleh kesedihan, meskipun umurnya belum seberapa. Perkawinan itu tiada akan memutuskan azab dan sengsara yang bertali- tali itu, tetapi akan menambah kemelaratan lagi bagi dia, anak gadis yang malang itu. Semuanya itu dilihatnya, dirasanya, bukan dengan urat sarafnya, tetapi hatinya mengatakan padanya. Akan tetapi apa boleh buat, tiadalah dapat ia menolak beban yang akan dipikulnya itu. la telah mengerti, bahwa hidupnya di dunia ini tiada lain daripada menanggung dan menderita bermacam-macam sengsara. Bagaimanakah dapat ia menolak perkawinan itu, karena ibunya berkehendak demikian. Menerangkan keberatannya serta perasaan kemauannya, tetapi membantah perkataan ibunya tak sampai hatinya; karena belum pernah diperbuatnya. Betul ibunya tak memaksa dia, hanya sekadar menyuruh dia. Karena bolehlah nanti di belakang hari mendatangkan malu, apabila anaknya itu tiada dipersuamikan. Orang yang tinggal gadis itu menjadi gamit-gamitan dan kata-kataan orang. Itulah yang ditakutkan ibunya. Itulah yang menyebabkan si ibu menyuruh anaknya menerima pinangan orang itu. “Bukan mudah menjadi perempuan,” kata ibunya, “laki-laki itu lain. Meskipun ia melambat-lambatkan perkawinan, tak seberapa menyusahkan dia. Bila hatinya nanti tergerak hendak beristri, dapatlah ia dengan segera mencari perempuan. Akan tetapi perempuan itu, kalau ia hendak bersuami, bolehkah ia nanti masuk ke luar negeri orang akan mencari jodohnya? Oleh sebab itu baiklah anakku jangan melalui permintaan bunda ini; lagi pula manusia itu harus jua diperjodohkan, jadi tiadalah faedahnya kita, segan-seganan karenanya.” Kebenaran dan pertimbangan yang dituturkan ibunya itu, benar pula dalam pikiran Mariamin. Tetapi terasa dalam hatinya bahwa perkawinan itu, yang akan dilakukannya akan membawa dia ke jalan kemelaratan. Akan tetapi ia merasa demikian dalam hatinya, jadi tiadalah dapat diberinya keterangan. Itulah sebabnya ia terpaksa juga akhirakhirnya menurut kesukaan ibunya itu. Kesudahannya ia kawin dengan orang muda dari Padangsidempuan, orang muda yang tiada dikenalnya, orang muda yang tiada dicintainya, jodoh yang tak disukainya. Orang muda? Sebenarnya tiada demikian, hanya katanya ia orang muda. Di Medan, tempat ia makan gaji, ada lagi bininya. Ia pulang ke Tapanuli hanya mengunjungi negerinya saja. Dalam pada waktu itu dilihatnya ada seorang gadis anak orang miskin. “Itu tentu dapat diperoleh, karena aku kaya, makan gaji, kerani di Medan, sedang anak itu orang kebanyakan,” begitulah pikir orang itu. Istrinya yang di Medan itu tiada susah menguruskannya, jatuhkan saja talak tiga, habis perkara; gantinya telah ada, lebih muda lagi. Kelakuan yang serupa itu sudah banyak sekali dilakukan orang muda itu. Ya, kalau dikatakan laki-laki itu buas dan ganas tabiatnya, kasar didengar telinga, tetapi tiada salahnya lagi. Bukankah banyak perempuan yang melarat karena perbuatan laki-laki yang semacam itu? Sungguh amat keji perbuatan itu. Orang yang jadi suami Mariamin itu pekerjaannya kerani. Tentang bentuk dan rupanya begini: dia tak dapat dikatakan muda lagi; raut mukanya panjang, kurus sedikit, hidungnya pendek dan bibirnya tebal. Cahaya matanya tajam dan berkilat-kilat, menyatakan ia pintar dan cerdik, tetapi pintar dalam tipu daya. Begitulah rupa si Kasibun, yaitu nama orang itu, yang akan jadi suami anak gadis yang molek itu. Sekalipun rupanya tak dapat dikatakan elok, akan tetapi karena pandainya memakai dan memelihara dirinya, kelihatanlah badannya yang agak tua itu lebih muda dipandang daripada yang sebenarnya. Kasibun pun datanglah ke rumah orang tua Mariamin. Mariamin telah sedia akan meninggalkan Sipirok, menuju ke Medan tempat yang ramai itu. Waktunya berangkat pun sudah dekat, yakni besok hari Jumat, karena kawan di jalan telah dapat. Malam itu yakni malam Jumat, pergilah si ibu dengan Mariamin memliawa cambung yang berisi air dengan limau purut serta bunga-bungaan, pergi mengunjungi kuburan mendiang Sutan Baringin. Setelah mereka itu sampai, maka Mariamin pun menyiramkan air yang dicambung itu ke atas kuburan bapaknya, dan ibunya berdiri memandang ke tanah, suatu pun tak ada ia berkatakata, karena terkenang olehnya kejadian yang sudah-sudah, tatkala Sutan Baringin masih hidup. Mariamin meletakkan cambung itu, lalu mereka itu duduk bersamasama di sisi kubur itu. Sunyi serta lengang rupanya tanah ,oekuburan itu, karena seorang manusia yang lain tak ada di situ; matahari pun telah terbenam, hanyalah cahaya senja saja yang kelihatan di langit. Burung-burung pun telah bersembunyi dalam sarangnya, juga udara yang memenuhi muka bumi ini diam, seolah-olah orang musafir yang telah payah rupanya. Tempat pekuburan yang sunyi itu menambah kesedihan hati si ibu; karena waktu kegirangan yang sudah-sudah tergambar dalam hatinya, dan gambar itu amat menyedihkan hatinya, karena sekaliannya itu telah hilang terkubur, sebagai suami yang terkubur di tempat itu. Kini tinggallah ia anak-beranak dalam kemiskinan, apalagi sekarang anak yang sulung hendak bercerai pula dengan dia. Tetapi apa hendak dikata, sudahlah demikian janjinya. Lagi pula perceraian dengan anaknya itu barangkali adalah akan membawa perubahan bagi mereka itu. Banyaklah yang diharapkannya, karena itu ia berkata kepada anaknya, “Mariamin, sekaranglah kuluaskan cita-cita yang terkandung dalam dada bunda ini. Anakku telah maklum akan kemiskinan kita sejak dari matinya ayahmu. Bukanlah bunda yang salah, dialah yang menyebabkan kita demikian. Tapi itu tiada boleh kita sesalkan kepadanya, karena bukan dengan sengajanya, lagi pula ia telah meninggal. Karena itu haruslah kita melupakan yang sudah-sudah itu. Tetapi sebagai keinginan ibu, ibu berusaha akan memperbaiki keadaan kita, tapi sampai kini suatu pun tak ada yang kuperoleh. Itulah sebabnya, maka ibu ingin mempersuamikan anakku, karena si Kasibun itu tiada berorang tua lagi, hanyalah saudaranya yang ada. Jika anakku pandai mengambil hatinya, sampai ia sayang akan anakku, tentu ia memandang bunda sebagai ibunya sendiri, dan adikmu itu pun diperbuatnya sebagai saudara kandungnya pula. Kalau demikian dapatlah kita kelak diam bersama-sama, karena gajinya pun besar, kata orang. Bukankah lebih bnik kita meninggalkan luhak Sipirok ini, sawah setelempap atau lembu sebulu kepunyaan kita tak ada di sini. Itulah harapan bunda. Dengan sepandai-pandaimulah membawakan dirimu kepada si Kasibun. Dan anakku ingatlah perkawinan ini sajalah yang dapat menyudahkan sengsara kita yang bertimbun-timbun ini.” “Sedapat-dapatnya anakanda akan menurut perkataan bunda itu,” sahut Mariamin, akan tetapi dalam hatinya ia merasa bala yang akan menimpa dirinya.

Oleh Merari Siregar

←Bab 6                                                                                                Bab 8→

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s