Azab Dan Sengsara: Di Tanah Asing

Bab 8: Di Tanah Asing

Azab dan SengsaraBukit-bukit yang berbaris-baris di Pulau Samosir itu sebagai tertutup dengan beledu nampaknya dari jauh; langit yang tak berawan itu adalah seperti payung ubur-ubur, yang diperbuat daripada sutera hijau, masing-masing melihat bayang-bayangnya ke muka air Danau Toba yang jernih itu, seolah-olah dua orang bidadari yang berdiri di muka kaca besar, akan mempersaksikan parasnya yang elok. Bunga-bunga yang berkembangan di pantai Laut Tawar*), serta cahaya embun yang berhamburan pada daun rumput-rumput, adalah pada mata kita sebagai halaman yang permai, penuh dengan intan permata. Pemandangan yang permai itu ditambahi suara alam yang merdu, sehingga telinga kita pun merasai kenikmatan dunia ini. Pada segenap padang rumput yang terletak di lereng-lereng bukitbukit berkeliling danau itu, kelihatan hewan beratus-ratus banyaknya. Padang- itu ingar oleh suara kerbau yang menguak, lembu yang mengeluh, dan kuda Batak yang termasyhur itu pun tiada kurang bilangannya, karena di sinilah tempatnya, dan dari negeri itulah orang menjual binatang-binatang itu pada segala penjuru Tapanuli, seperti ke Medan, pun juga sampai ke Jawa. Siapakah yang tak suka melihat jalannya kuda Batak yang kencang itu, siapakah yang tak ingin menungganginya, karena meskipun ia berpacu atau mendua, pandailah ia menjaga, supaya tuannya yang mendudukinya itu diam dan tiada terlonjak-lonjak. Tengoklah perahu yang di atas muka air itu! Haluannya terhadap ke utara, dan ia baru meninggalkan Balige, ibu negeri daerah Toba. Angin sedang berembus dari belakang, sehingga perahu itu berlayar dengan lajunya; layar pun terkembang semua, sebagai sayap burung yang sedang melayang di udara. Kalau dihampiri perahu itu tentu kedengaranlah suara orang menumpang yang bercakap-cakap dengan riangnya; ada yang tertawa gelakgelak, ada yang bernyanyi, ada pula yang bersiul.

Siapakah yang tiada bergirang hati melihat pemandangan yang seindah itu? Tetapi di antara orang banyak itu ada juga seorang perempuan yang duduk bermuram durja. Meskipun ia mencoba-coba menghilangkan dukacitanya, tak juga dapat olehnya. Kadang-kadang ia memaksa dirinya akan tertawa menyertai orang yang terbahakbahak sekelilingnya itu, akan tetapi ia tertawa itu sekedar akan menyama-nyamai orang itu saja. *) Danau Toba dinamai orang juga Laut Tawar, artinya laut yang airnya tawar. Siapakah perempuan muda itu? Tak lain ialah Mariamin, dan perahu itulah yang membawa mereka dengan kawannya seperjalanan ke Tiga- Ras. Dari situ berjalan darat ke Pematangsiantar, dan kemudian terus ke Medan. Pada waktu itu adalah susah berlayar dari Balige ke Tiga-Ras, karena kapal api kecil belum ada. Sudah tiga hari lamanya Mariamin bersama-sama dengan suaminya, tetapi sampai waktu itu belum dapat olehnya hati suaminya itu, sedang tabiatnya pun belum diketahuinya. Akan mengambil hati orang, haruslah lebih dahulu kita kenal adat dan tabiatnya. Makin lama mereka itu bersama-sama, sebenarnya, makin dekat mereka itu ke Medan, tujuan perjalanan mereka itu,, makin besar waswas yang timbul dalam hatinya. Oleh sebab itu’ sudah tentu ia tiada beriang hati, setelah mereka itu sampai di Medan. “Mustahil aku selamat di tangannya. Inilah rupanya sebabnya aku selama ini berhati syak melihat dia. Tetapi tak mengerti aku, ya, tak kusangka-sangka, ia ada dalam hal yang demikian itu,” kata Mariamin dalam hatinya. Waktu itu suaminya pun sudah pergi kerja; ia sendirilah yang tinggal di rumah. Semua pekerjaannya telah habis: makanan tengah hari telah sedia, rumah dan pekarangan pun telah bersih disapunya. la duduk sekarang menantikan suaminya pulang dari kerja. Pada ketika itu ia mengenangngenangkan perjalanan kehidupannya sejak dari kecil, sebagaimana kebiasaan perempuan yang baru kawin.

Apabila ia memikirkan kan hal suaminya itu, berdebarlah hatinya sebab ketakutan. “Patutlah ia pucat dan kurus,” kata Mariamin pula dalam hatinya. “Seharusnyalah saya menjaga diriku supaya jangan menjangkit penyakitnya itu kepadaku. Kalau aku beroleh dia, sudah tentu badanku binasa.” Ia gemetar, karena takutnya memikirkan penyakit yang serupa itu. “Akan tetapi kalau ia memaksaku, apakah jawabku? Karena kewajibanlah bagi perempuan menyerahkan dirinya, bila suaminya meminta yang demikian. Itu tak boleh ditolak, karena atas itu ada hak suami kepada perempuan. Kalau aku tak memenuhi hasratnya, tentu aku dimarahinya, lamakelamaan dibencinya. Kesudahannya percederaanlah yang timbul antara kami. Apakah jadinya pengakuanku, tatkala aku dengan ibuku bersama-sama di kuburan ayahku itu? Kalau diturut keinginan suamiku itu, tentu binasalah badanku. Sebab itu baiklah aku menjaga diriku, itulah yang terutama aku lakukan. Mula-mula aku akan berlaku halus kepadanya, kubujuk dan kusuruhkan dia rajin berobat. Kalau dia sudah sembuh, barulah ia menguasai tubuhku. Sebelum itu belum boleh.” Demikianlah keputusan pikiran Mariamin perempuan yang berhati keras itu. Pada malam itu datanglah apa yang disangka-sangka perempuan itu. Akan tetapi ia menjawab dengan muka yang jernih serta suara yang lemah-lembut, “Sabarlah Kakanda, apakah gunanya berdua sama-sama susah di belakang hari. Kalau kakanda sudah baik masakan itu tak kuturut. Oleh sebab itu haruslah dahulu kakanda kuat-kuat berobat.” Si laki meminta berulang-ulang, dengan bujuk, dengan perkataan keras, tetapi perempuan itu menyahut, bahwa tak mungkin ia dapat memenuhi kehendak itu. Meskipun bahasanya lemah-lembut, akan tetapi Kasibun merasa juga bahwa istrinya itu tak dapat dibujuk atau dipaksa. Oleh sebab itu diamlah ia. Oleh karena perantaraan mereka berlaki-istri sudah kurang baik, karena si laki itu pun kecil hatinya dan malu akan dirinya sendiri. Dari kejadian itu dapat dimaklumi, apa sebab Mariamin menolak kehendak suaminya. Memang Kasibun mengandung penyakit yang berbahaya, yang mudah menular kepada istrinya. Maklumlah kehidupan orang di negeri yang besar-besar itu. Kuranglah orang mengindahkan hukum syarak dan larangan kitab. Godaan pun amat banyaknya.

Karena itu banyaklah orang yang kurang hati-hati akan memeliharakan dirinya, lebih-lebih orang-orang muda. Mereka itu terlampau asyik akan permainan dunia, amat suka menyenang-nyenangkan diri, melakukan kepelesiran, … akan tetapi tiadalah dipikirkannya terlebih dahulu, mana yang salah, mana yang dilarang kitab. Sekaliannya itu tak diindahkannya, asal hati dan nafsunya puas, ia sudah mengerjakannya, sehingga lama-kelamaan ia menjadi budak nafsunya, bukanlah ia lagi yang memerintahkan dirinya. Orang yang serupa itu tentu akan binasa di belakang hari. Kasibun, suami Mariamin yang suci itu, masuk golongan orang yang serupa itu. Akan tetapi apa boleh buat; siapakah orang mengetahui dia itu? Sipirok bukan kota besar, di Sipirok tak adalah orang yang berkeliaran pada waktu malam hari. Kesudahannya Mariamin anak yang bersih itu menjadi kurbannya, karena ia tiada sempat, sebenarnya tak mendapat paksa akan memeriksa itu. Mereka itu pun kawin dengan tiada kenalmengenal. Pada waktu itu amatlah ramai kota Medan, lebih daripada yang biasa. Jalan-jalan besar penuh dengan kereta yang hilir mudik, sehingga amatlah susahnya bagi orang yang berjalan kaki melalui jalan itu, debu pun bangkit ke udara, karena air yang disiramkan itu kering dengan sebentar itu juga. Keramaian yang serupa itu terjadi dua kali sebulan, yaitu tanggal satu dan tanggal enam belas hari bulan. Di situlah waktunya orang-orang bekerja di kebun datang ke Medan, beribu-ribu banyaknya, Belanda, Cina dan Bumiputra. “Siapakah orang muda yang datang itu? Jalannya dan lenggangnya masih kuingat-ingat,” tanya Mariamin dalam hatinya. Ia amat heran, karena tiadalah biasa ia dikunjungi jamu, lebih-lebih laki-laki, karena seorang pun tak ada kenalannya dalam kota Medan yang besar itu. Orang itu makin dekat, dan nyatalah pada Mariamin, dia itu datang menuju rumahnya. Akan tetapi rupa muka orang itu belum terang dilihatnya; jalannya sudah dikenalnya benar-benar. Berulang-ulang ia bertanya kepada dirinya, siapa gerangan orang itu. Dia itu mesti dikenalnya, akan tetapi pada waktu itu belum terang dalam hatinya. “Astaga!” mengucap Mariamin dengan muka pucat. “Aminu’ddinlah rupanya orang itu,” katanya terburu-buru, serta dadanya berdebardebar. Sebelum orang itu melihat dia, ia pun berlarilah masuk ke dalam. Ia duduk di atas sebuah kursi di kamar muka, akan menahan hatinya yang berdebar-debar itu.

Tiada berapa lama ia pun berpikir, “Boleh jadi orang itu orang lain, manusia banyak yang serupa dari jauh. Aku bodoh sekali, tiada kuperiksa benar-benar.” Adapun orang itu tiadalah lain memang Aminu’ddin. Waktu itu tanggal enam belas yakni waktu istirahat bagi orang kebun. Ia sudah mendengar kabar perkawinan Mariamin itu, itulah sebabnya ia datang ke Medan, dengan maksud hendak bersua dengan Mariamin, sahabatnya yang tak dilupakannya itu. Sedang Mariamin berpikir-pikir demikian, maka ia pun berdirilah hendak melihat dari pintu itu ke luar. Inginlah ia hendak mengetahui yang sebenarnya. Lagi pula ia berlari ke dalam- itu bukan disebabkan jaiznya, hanya hendak meneduhkan ombak gelora yang hebat dalam dadanya jua. Akan tetapi baru ia hampir ke pintu, maka kedengaranlah olehnya suara orang itu bertanya, “Inikah rumah kerani Kasibun, adakah ia di rumah?” “Ya, itulah dia. Orangnya tentu ada di dalam, karena pintunya terbuka,” jawab seorang anak yang ditanyai Aminu’ddin. Mariamin makin pucat, karena suara orang itu telah dikenalnya, sehingga tak tahulah ia apa yang akan diperbuatnya. Sementara itu masuklah Aminu’ddin ke dalam dengan langkah perlahan-lahan. Baru ia naik dan berdiri di pintu, mukanya pun pucat menentang Mariamin. Persuaan itu amat menyedihkan hati. “Mariamin,” kata Aminu’ddin, bibirnya gemetar, dan suaranya putus-putus, seraya memberikan tangannya. Mariamin menerima tangan Aminu’ddin. Ia berdiri itu termangumangu. Amatlah belas dan sedih perasaan hatinya, sehingga ia tak dapat mengeluarkan sepatah kata jua pun akan mengajak Aminu’ddin duduk. Kakinya gemetar, peluhnya mengalir pada muka yang makin pucat itu, sehingga pipi yang halus itu putih sebagai kapas. Maka lemahlah segala tulang anggotanya dan pikirannya seakan-akan hilang. “Aminu’ddin!” katanya sambil ia jatuh terbalik. Suaranya hampir tiada kedengaran. “Mengapakah Mariamin …?” kata Aminu’ddin, seraya menangkap tubuh perempuan itu. Akan tetapi yang ditanya itu tak mendengar dan melihat suatu apalagi, karena ia telah pingsan. Hati siapakah yang takkan remuk redam, siapakah yang dapat menahan persuaan yang sesedih itu? Mungkin ada yang kuat imannya, tetapi Mariamin tidak. Bagi dia yang melarat itu, sedikit saja duri yang menyentuh hatinya adalah sebagai membelah dadanya, apalagi kedatangan Aminu’ddin yang tak disangkasangkanya itu. Aminu’ddin menyandarkan Mariamin ke atas kursi yang panjang, dan anak itu disuruhnya mengambil air dingin ke dapur. Perlahan-lahan ia membasahi muka yang pucat itu. Sapu tangannya yang dibasahinya diletakkannya pada ubun-ubun yang pingsan itu. Sedang ia memandang air muka yang pucat itu, teringatlah ia kepada cita-citanya yang sudah-sudah. Mimpinya itu pun diingatnya dan suara Mariamin yang hanyut itu didengarnya. “Aminu’ddin! Sampai hatilah kamu membiarkan aku dihanyutkan banjir keazaban!” bunyi suara yang didengarnya berulangulang dalam telinganya. la pun tiadalah dapat menahani air matanya, lalu ia menangis dengan tiada bersuara. Mariamin pun sadarlah akan dirinya. Matanya itrr dibukanya perlahanlahan. Maka sesudah ia melihat air mata Arninu’ddin yang bercucuran itu, ia pun menangislah tersedu-sedu. “Diamlah Riam, janganlah menangis lagi, sudahlah untung kita demikian,” kata Aminu’ddin seraya mengeringkan air matanya. “Ya, apa boleh buat,” sahut Mariamin, “tetapi kedatanganmu itulah, Aminu’ddin, yang menyentuh luka hatiku yang dalam itu. Bagi angkang tiada seberapa, tetapi bagi saya tak dapatlah diduga dalamnya luka yang kutanggungkan ini.” Sejurus lamanya kedua mereka itu duduk berhadap-hadapan dan seorang pun tak ada yang berkata, masing-masing termenung, karena terkenang akan pergaulan mereka yang sudah bertahun-tahun dahulu. Maka amatlah sunyinya dalam rumah itu, suatu pun tak ada yang kedengaran, hanya suara kereta dan kaki kuda, yang lalu-lalang di jalan besar kota Medan yang indah itu. Kemudian Mariamin berkata, “Aminu’ddin, tentangan yang sudahsudah, biarlah tinggal begitu, jangan kita pikir-pikirkan lagi.” “Maafkanlah kesalahanku itu,” kata Aminu’ddin. “Semuanya itu sudah lama kulupakan,” sahut Mariamin. “Ya, kesalahanku ini, karena saya datang seolah-olah menyakitkan hatimu pula.” “O, itu tak mengapa, karena saya tahu yang engkau datang mengunjungiku, sebab ramahmu dan tali perkauman kita. Seharusnyalah saya mengucap terima kasih akan kebaikan budimu itu. Maaf Aminu’ddin, saya hendak pergi sebentar ke dapur hendak mengambil air panas. Dan saya harap Aminu’ddin sudi makan tengah hari di sini.” “Terima kasih, Riam, sebab dengan kereta pukul 12 saya mesti balik.” “Kalau demikian air panas sajalah!” “Baik,” kata Aminu’ddin. Mariamin pun pergilah ke dapur. Maka ia pun membawa kopi tiga cangkir serta kue-kue sedikit, lalu diletakkannya ke hadapan Aminu’ddin.

Dengan muka yang ramah ia pun mengajak minum bersama-sama. Sedang minum, Aminu’ddin berkata, “Di manakah tuan kerani?” “Belum pulang dari kantornya,” sahut Mariamin. “Sudah berapa lama Mariamin di sini?” “Belum genap sebulan.” “Tentu Mariamin ada bersenang hati di tangannya, bukan?” Mariamin mengeluh, seraya menjawab, “Apakah gunanya Aminu’ddin bertanyakan hal itu?” “Saya ingin akan mengetahuinya. Bukankah orang yang bersahabat itu harus mengetahui halnya masing-masing? Kalau engkau senang tentu saya pun bersukacita.” “Hidupku takkan lepas dari sengsara,” kata Mariamin. “Mengapa engkau berkata demikian? Tiadakah sayang kerani itu akan dikau?” tanya Aminu’ddin. “Wallahu alam.” “Jangan demikian, Riam. Haruslah kita pandai mengambil hati orang dan memasukkan diri kita.” “Ah, lebih dari itu kuperbuat,” sahut Mariamin dengan suara yang sedih. Air matanya jatuh, waktu ia mengeluarkan perkataan itu. Aminu’ddin melihat air mata Mariamin bercucuran, tak meneruskan percakapan lagi, takutlah ia kalau hati Mariamin bertambah-tambah sedih. Akan tetapi dalam pikirannya tahulah ia hidup Mariamin amat sengsara dan suaminya itu kurang mengasihi dia. Itu benar. Kasih tak ada dalam hatinya, sebaliknya kebencian yang tumbuh, karena Mariamin tak suka menurut kehendaknya, meskipun ia yang salah. Pukul setengah dua belas pulanglah Aminu’ddin meninggalkan rumah itu, meninggalkan Mariamin. Matanya basah oleh air mata, sebab sedihnya mengenangkan perceraian mereka itu, perceraian yang akhir sekali di atas bumi ini, karena sejak itu tak pernah lagi mereka itu bertentangan muka. Kita kembali kepada hidup kedua laki-istri, Kasibun dan Mariamin, sebagai yang sudah dikatakan, kuranglah baiknya percampuran kedua orang itu. Yang laki selalu menaruh cemburu dalam hatinya, dan kadang-kadang ia berpikir, “Barangkali disebabkan ia bagus dan muda, aku lebih tua dan buruk, itulah sebabnya ia tak tertarik hatinya kepadaku, dan selalu menolak kehendakku.”

Maka timbullah dalam hatinya rupa-rupa pikiran yang busuk-busuk tentang Mariamin; ya, pikiran yang tak patut-patut. Maklumlah, siapa yang jahat itu tentu memikirkan orang lain jahat pula sebagai dia. Perkataan dan kelakuannya pun sudah jauh berkurang kepada Mariamin, lebih-lebih setelah ia mendengar, bahwa Aminu’ddin datang ke rumahnya, tatkala ia ada di kantor. Sejak itu amatlah ia membenci Mariamin. “Perempuan yang tak boleh dipercayai,” katanya kepada Mariamin kalau hatinya panas. “Apakah sebabnya saya menerima perkataan yang serupa itu?” sahut Mariamin. Tiadalah dapat ditahaninya, kalau orang menaruh syak akan dia. “Orang lain kauterima. Suamimu tak kauindahkan,” kata suaminya itu. “Tiadalah pernah langkahku salah. Dia itu kaum dan senegeri dengan saya; salahkah, kalau ia mengunjungi saya? Tuan tak kuindahkan, pabilakah itu?” jawab Mariamin. “Selamanya tiadakah engkau tahu, bahwa aku lakimu? Engkau kubeli*), karena itu harus menurut kehendakku!” “Sebenarnyalah yang demikian itu. Saya menolak kehendak tuan, bukan dengan maksud yang salah, hanya menghindarkan celaka.” Pertengkaran yang serupa itu kerap kali kejadian di antara mereka itu, sehingga akhir-akhirnya Kasibun yang bengis itu tak segan menampar muka Mariamin. Bukan ditamparnya saja, kadang-kadang dipukulnya, disiksanya …. Penanggungan Mariamin itu tiadalah ditambah-tambahi. Bahkan ada yang lebih dari itu, banyak lagi yang keji dan ngeri, yang tak patut diceritakan. Meskipun begitu baik juga diceritakan kebengisan yang dilakukan Kasibun itu pada suatu malam atas diri Mariamin yang malang itu, *) Engkau kubeli. Perkataan itu menghinakan perempuan. Si laki yang membayar boli, merasa dirinya berkuasa mengatakan, “Engkau kubeli!” bila ia marah kepada bininya. supaya dapat digambarkan siksaan yang ditanggung seorang perempuan daripada suaminya. Semalam-malaman itu Mariamin diusirnya dari tempat tidur, ke luar dari kamar tiada boleh, pintu sudah dikuncinya. Di atas lantai batu kamar itu tak ada tikar, sepotong pun tiada. Hendak tidur di atasnya, itu pun tak mungkin, karena lantai itu dirusnya dengan air. Kalau ia menangis sehingga suaranya kedengaran, Kasibun pun menyepak atau menempelengnya serta dengan perkataan, “Tutup mulutmu, saya mau tidur!” Kalau matanya berat dan ia malas bangkit dari tempat tidur, tongkatnya sajalah dipukulkannya kepada Mariamin, apanya yang kena tak dipedulikannya. Paginya itu ia pergi bekerja, sesen pun tak ditinggalkannya uang kepada Mariamin. Meskipun api tak menyala di dapur tiada peduli ia, untuk makannya takkan kurang, rumah makan banyak di Medan. Kesudahannya Mariaminlah yang kelaparan. la sudah berapa kali diusir oleh suaminya, akan tetapi ke manakah ia akan pergi? Seorang tak ada kaumnya yang dikenalnya di Medan.

Kepada ibunya di Sipirok telah dua kali ia mengirim surat, akan tetapi siapakah orang yang akan datang mengambil dia? Sebaliknya ia menyusahkan hati ibunya lagi. Bagaimanakah perasaan ibu itu, bila ia menerima kabar kesengsaraan anaknya? Kalau Mariamin perempuan yang dilahirkan di kota besar, atau yang biasa diam di negeri yang ramai … barangkali ia sudah nekat*). Karena bagi dia, seorang perempuan yang muda dan cantik lagi bersih, Mariamin memang cantik, bersih … ya, sampai waktu itu dirinya masih suci, tiadalah susah mencari kehidupan dalam kota yang ramai sebagai Medan, asal ia jangan memandang kehormatannya. Bukankah beratus, ya beribu-ribu perempuan yang berkeliaran pada waktu malam? Kebanyakan itu disebabkan nekatnya, hatinya panas, ia putus asa, karena perbuatan suaminya. Kesudahannya mereka itu tak mau lagi kawin, mereka itu telah menerima kesengsaraan yang cukup daripada laki-laki. Dan akan pengisi perut, ia menjual kehormatannya. Mariamin mengetahui itu sekalian, akan tetapi tak sampai hatinya melakukan yang demikian, meskipun godaan yang terlalu itu selalu dirasanya, dan sangat melarat. Pada suatu pagi sedang jalan-jalan kota Medan belum berapa ramai, keluarlah Mariamin dari rumahnya. Ia berlari ke jalan besar, lalu naik kereta yang ada di situ. “Ke kantor polisi, Bang,” katanya. Sais itu pun membunyikan cambuknya dan kereta yang bagus itu pun berlarilah dengan ken- *) Lari cangnya. Mariamin menutup mukanya yang bengkak-bengkak. Dengan sapu tangannya ia mengeringkan darah yang mengalir dari luka yang pada keningnya. Amat sakit yang ditahannya, tetapi sedikit pun tak mau dia mengerang, air matanya pun tak ke luar. Di hadapan kantor polisi itu berhenti kereta itu. Mariamin turun lalu berjalan ke dalam, sedikit pun tak segan atau takut perempuan yang muda itu. Polisi yang berdiri di pintu itu terkejut melihat orang itu, akan tetapi hatinya belas melihat mukanya yang teraniaya itu. Dari pakaian Mariamin tahulah dia bahwa Mariamin orang Batak*), seorang bangsanya. Polisi itu membawanya ke hadapan mentri polisi. Mariamin pun menceritakan sekalian perbuatan suaminya itu. Perkara diperiksa, si laki yang ganas itu dipanggil. Selama perkara belum putus, Mariamin pun disuruh tinggal di rumah penghulu, karena seorang pun tak ada kenalannya. Akan tetapi apakah hukuman yang diterima laki-laki yang bengis itu? Tiada lain daripada ia didenda dua puluh lima rupiah, dan perkawinan mereka itu diputuskan. Kesudahannya Mariamin terpaksa pulang ke negerinya membawa nama yang kurang baik, membawa malu, menambah azab dan sengsara yang bersarang di rumah kecil yang di pinggir Sungai Sipirok itu.

Demikian perempuan yang malang itu menjadi kurban adat yang sudah kuno itu. Kalau sekiranya persahabatan kedua anak muda itu, persahabatan dari waktu anak-anak sehingga besar, bertambah rapat kalau sekiranya jiwa manusia yang kedua itu dipadu menjadi satu, sudah tentu bertambah dua orang manusia’di atas bumi ini yang hidup beruntung serta bersenang hati. *) Orang “Batak”, penduduk Tapanuli, dikatakan orang di Deli orang “Mandailing” akan membedakan daripada orang “Batak Karo”.

Oleh Merari Siregar

←Bab 7                                                                                      Bab 9→
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s