Kedatangan Islam Dan Penyebarannya Di Indonesia

Suatu Kajian Lewat Naskah Melayu
Kedatangan Islam Dan Penyebarannya Di Indonesia

 

Oleh: Siti Baroroh Baried

1. Pendahuluan

Berbagai teori telah muncul mengenai kedatangan Islam di Indonesia, kapan datangnya, siapa pembawanya, dari manakah asalnya? Pertama-tama dikemukakan oleh Snouck Hurgronje (1883: 8-9), bahwa yang meng-Islamkan orang Nusantara adalah pedagang Islam dari India. Pendapat ini didasarkan atas kesamaan mazhab yang dianut oleh orang-orang Nusantara dan orang-orang India adalah mazhab Syafi‘i. Meskipun teori ini kurang kuat, tetapi segera diterima para ahli lainnya (Harrison, 1957: 43, Gonda, 1952: 22; Marrison, 1953: 28). Teori ini diperkuat oleh penemuan Moquette berupa batu nisan di makam Sultan Pasai pertama, Malikussalih, berangka tahun 1297. Sultan ini yang dipandang Sultan yang pertama-tama memeluk agama Islam, dan kerajaannya, Samudra Pasai, dipandang kerajaan Islam yang pertama di Nusantara. Seterusnya dikatakan oleh Moquette, bahwa makam Sultan ini sama dengan makam-makam yang ada di Gujarat, bahkan mungkin menggunakan batu yang sama, didatangkan dari Gujarat (Moquette, 1913). Maka teori itu mengatakan bahwa Islam datang di Nusantara pada abad ke-13, sekitar 30 tahun sebelum wafatnya Sultan Malikussalih (Moquette, 1913: 29), dan dibawa oleh pedagang Islam dari India. Pendapat ini segera diikuti oleh Kern (1938), Winstedt (1935), Bousquet (1938), Vlekke (1943), dan sarjana lainnya.

Di Indonesia, akhir-akhir ini ada kecenderungan untuk mencari data atau argumentasi bahwa Islam datang ke Indonesia lebih awal dan abad itu (Arnold, Syed Naguib Al Allatas, Hamka, Uka Tjandrasasmita, 1981: 357 dst.). Dengan menggunakan catatan para musafir Cina dan lainnya, mereka berusaha menampilkan teori bahwa sejak abad ke-7 sudah ada kelompok pedagang Arab di kawasan Nusantara. Pemukiman itu terdapat antara lain di pantai Sumatra sebelah barat (Hill, 1963: 6). Pada hemat penulis makalah ini, untuk menentukan Islamisasi Nusantara perlu dipertegas lebih dahulu, apakah yang dimaksud dengan Islamisasi, apakah cukup kalau sudah terdapat suatu pemukiman orang-orang Islam di sini, ataukah harus sesudah terdapat suatu kerajaan Islam, dengan raja yang sudah memeluk agama Islam. Yang jelas sebuah kerajaan Islam yang pertama-tama di Nusantara adalah kerajaan Pasai. Maka kalau akan ditentukan bahwa sebelum abad ke-13 sudah terjadi Islamisasi, tentu harus juga ditemukan suatu kerajaan lain yang penduduknya sudah menjadi penganut agama Islam dengan raja yang Islam, sebagaimana yang ditemukan di kerajaan Samudra Pasai.

Islam menyebar di kepulauan Indonesia secara damai, dari kerajaan Pasai, setapak demi setapak, hingga dalam tujuh abad Islam telah menyebar ke seluruh pelosok Nusantara. Dewasa ini Indonesia termasuk negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Menurut sensus 1980, penduduk Indonesia berjumlah 147.331.823 jiwa, 87,5% beragama Islam. Dewasa ini penduduk Indonesia sekitar 165 juta, umat Islam menempati 89%. Islam sebagai suatu peradaban telah berasimilasi dengan kebudayaan setempat, bercampur dengan budaya asli dan dengan unsur budaya Hindu dan Buddha. Berbagai aspek budaya Islam telah mewarnai kebudayaan Indonesia dan budaya kelompok etnis Indonesia.

Pada masa-masa lampau, kelompok etnis yang dipandang kuat sambutannya pada Islam adalah bangsa Melayu. Peninggalan mereka yang berupa naskah-naskah Melayu dapat dimanfaatkan untuk mengungkap Islamisasi Nusantara dan persebaran Islam di kawasan ini. Di samping itu terdapat juga catatan para musafir pada abad-abad yang lampau yang dapat melengkapi data-data mengenai kedatangan Islam dan persebarannya di Indonesia.

2. Catatan Para Musafir dan Islamisasi Nusantara

Lama sebelum rnunculnya kerajaan Majapahit telah terdapat sekelompok kecil orang-orang Arab, mereka pedagang yang mendiami Asia Tenggara. Diperkirakan pada abad ke-7, di pantai Sumatra sebelah barat telah dijumpai bangsa Arab yang bermukim di situ (Groeneveldt, 1880 14-15). Salah satu sumber sejarah yang sampai saat ini seringkali dihubungkan dengan kedatangan pertama-tama orang-orang Muslim di Indonesia adalah berita Cina yang berasal dari dinasti T‘ang yang antara lain menceritakan tentang orang Ta Shih yang mengurungkan niatnya untuk menyerang kerajaan Ho Ling, di bawah Ratu Sima yang memerintah pada abad ke-7 (Uka Tjandrasasmita, 1981: 357). Berita mengenai orang-orang Ta Shih juga terdapat dalam sumber dan Jepang berasal dari abad ke-8, mengatakan bahwa kapal-kapal orang Ta Shih berlabuh di Kanton. Ta Shih ada yang mengidentifikasikan dengan orang-orang Arab dan letak perkampungannya terdapat di pesisir Sumatra Barat (Uka Tjandrasasrnita, 1981: 357), atau di Sumatra Selatan.

Berita Cina dan Jepang itu diperkuat dengan berita dari pelayar-pelayar ahli geologi dari bangsa Arab sendiri yang berasal dan abad-abad sebelum ke-13. Ibn Khurdadhbih mencatat mengenai jalan pelayaran dan perdagangan ke Cina pada sekitar abad ke-9, olehnya dicatat pula tentang Bares dan Jabah. Nahkoda Buzurg Ibn Shahyar mencatat tentang Sribizah (Sriwijaya) dan menyebut juga Lamuri (abad ke-10). Alberuni dalam Qanun Al-Mas‘udi yang ditulis abad ke-11 menempatkan Lamuri di bagian utara Ekuator dan Sribizah di bagian ujung selatan Sumatra. Ibn Rustam pada awal abad ke-10 mencatat tentang penyabungan ayam yang terjadi di kepulauan ini, dan Mas‘udi memberitakan bahwa emas berasal dari Sumatra, kamper berasal dari Fansur, dan tentang gunung-gunung api yang terletak di pulau itu (Uka Tjandrasasmita, 1981: 359). Memang sejak abad ke-10 pedagang Cina telah menemukan jalan pelayaran dari India sampai ke Kra (Isthmus of Kra). Baru pada sekitar tahun 1300, Islam menampakkan diri sebagai suatu kekuatan di sebelah selatan dan mampu mengalahkan Majapahit dua abad kemudian (Hill, 1963: 6).

Dari catatan musafir Cina ada yang mengatakan bahwa Sarbaza (Palembang) dan delapan kerajaan lainnya telah menyatakan takluk kepada Peking dan Champa. Akan tetapi belum dapat dipastikan apakah dari delapan kerajaan itu ada yang terdapat di Sumatra. Yang pasti berita itu menunjukkan bahwa kehadiran dan kemandirian kerajaan itu diperhitungkan oleh Peking. Yuan-Shih mencatat bahwa saat itu sudah ada utusan Cina yang singgah di Samutula dalam perjalanan kembali dari Ma‘bar, yang mungkin terletak di Koromandel. Samutula mengirimkan dua menterinya ke kaisar Cina, mereka bernama Hussain dan Ismail. Dan nama ini jelas bahwa mereka adalah orang Islam (Hill, 1963: 6). Samutula itu dapat diidentifikasikan dengan Samudra dari Negarakertagama (Kern, 1903: 532). Pada tahun 1284, gubernur dari Fukien mengirim utusan ke Nan-Wu-Li (Lambri) dan tiga kerajaan untuk mengundang mereka ke Cina dan supaya mereka menyatakan takluk kerajaan itu (Hill, 1963: 7). Maka pada tahun 1286, datanglah utusan dad Lambri dan Samudra ke Peking. Tahun 1309 datanglah utusan dari Cina ke Puh-Li-Pa (Palembang) dan Pah-Si (Pasai), dan ini merupakan catatan pertama dari Cina yang menyebut Pasai sebagai suatu kerajaan di Sumatra sebelah utara. Marco Polo mencatat nama-nama Samar, Ferlec (Perlak), Basma, Dagroian, Lambri dan Fansur, dan yang dinyatakan sudah Islam hanya Perlak pada saat itu (tahun 1292). Padahal menurut batu nisan Sultan Malikussalih, tahun 1297 Pasai sudah memeluk agama Islam. Ibn Batuta waktu singgah di Sumatra pada tahun 1345 mencatat, bahwa ketika mengunjungi Samudra Pasai dia mengagumi kehidupan beragama di tempat itu; di istana diadakan perdebatan antara ulama yang bermazhab Syafi‘i, Sultan yang bersifat dermawan, dan selalu memerangi orang-orang yang belum masuk Islam (Hill, 1963: 15). Catatan ulama Katolik dan Italia, Odoric, mengatakan di Lamori dan Sumoltra terdapat penduduknya yang memelihara babi. Ini berarti bahwa pada tahun 1321, ketika dia tinggal beberapa waktu di 2 tempat itu masih ada penduduk yang belum Islam. meskipun jarak waktu dengan tahun batu nisan Malikussalih sudah sekitar 25 tahun.

Dari beberapa catatan para musafir itu dapat ditarik kesimpulan, bahwa kapan terjadi Islamisasi di kawasan Nusantara itu masih kabur. Maka perlu dicari petunjuk yang dapat memberi gambaran yang lebih pasti. Ada beberapa data arkeologis, yang mungkin dapat membantu menemukan petunjuk yang lebih mendekati kebenarannya, selain batu nisan Malikussalih. Batu nisan Fatimah binti Maimun dari Leran (Gresik) mencatat tahun 1102 (menurut Moquette) atau 1082 (menurut Ravaisse). Di Samudra Pasai di Teungku lboih, Blang Me, terdapat nisan marmar yang memuat nama Al-Malik Maulana ‘Abd Ar-Rahman Taj Ad-Daulah Quth Al-Ma‘Afial-Fa-Si, wafat pada hari Rabu, Dzhulqaidah tahun 610 H (1214 M). Di Barus, Sumatra, di kompleks makam Tuan Makhdum, terdapat sebagian atas dari nisan yang memuat nama Siti Tuhar Amisuri yang wafat pada tahun 622 H, itu jelas lebih tua dari makam Malikussalih (Uka Tjandrasasmita, 1981: 360). Identitas nama-nama yang dimakamkan di makam tersebut belum jelas, demikian pula mengenai kedudukannya. Maka data itu masih juga sulit untuk dihubungkan dengan Islamisasi Nusantara. Dalam hal ini, batu nisan Sultan Malikussalih dapat diperjeias dengan data yang berasal dari naskah Melayu yang berbicara mengenai kerajaan Samudra Pasai.

3. Naskah Melayu sebagai Sumber Data Islamisasi Nusantara

Dalam khazanah kesusasteraan Melayu terdapat sejumlah naskah yang memuat data yang berhubungan dengan peristiwa sejarah. Oleh Fock Fang jenis sastra ini disebut sebagai nama Sastra Sejarah (1982: 203) dan oleh Winstedt digolongkan Malay Histories (1940: 105). Sartono Kartodirdjo menggolongkannya sebagai Historiografi Tradisional (Ibrahim Alfian, 1973: 28). Yang tergolong Sastra Sejarah, antara lain: Hikayat Raja Pasai (Russel Jones, 1989: V) atau Hikayat Raja-Raja Pasai (Hill, 1960) yang oleh Ibrahim Alfian dinamakan Konika Pasai (1973), Sejarah Melayu (Teeuw, 1952, dan Winstedt, 1938), Bustanussalatin (Winstedt, 1940: 109), Misa Melayu, Hikayat Negeri Kedah atau Hikayat Marong Mahawangsa (Siti Hawa Saleh, 1970), Hikayat Negeri Johor, Sejarah Raja-raja Riau, Silsilah Melayu dan Bugis, Tuhfah An-Nafis, dan Hikayat Petani (Teeuw dan Wyatt, 1970). Teks seperti tersebut di atas perlu diteliti untuk mendapatkan fakta-fakta sejarah, kemudian diberi interpretasi dengan menggunakan daya analisis yang tajam, akhirnya disajikan kesimpulannya (Ibrahim Alfian, 1973: 2). Fakta itu dipilih dari statements yang terdapat dalam teks, yang mungkin berupa fakta, atau mungkin bukan fakta, atau mungkin fakta yang dikaburkan dengan sengaja oleh penulis untuk suatu tujuan, atau mungkin karena ketidaktahuan penulis. Tampaknya jenis Sastra Sejarah ini pada awalnya tidak mendapat perhatian dari para peneliti sejarah, akan tetapi akhirnya diisyaratkan oleh Sartono bahwa peneliti sejarah perlu juga memanfaatkan bahan tersebut untuk mencari fakta yang terdapat di dalamnya.

“…telah dirasakan sebagai suatu ketidakadilan dalam historiografi Indonesia, bahwa syair-syair, hikayat-hikayat, babad-babad, dan sejarah-sejarah tidak diselidiki, setengahnya karena tidak paham bahasanya, setengahnya karena tidak tahu akan adanya, atau memandang rendah terhadap sumber-sumber itu” (Ibrahim Alfian, 1973: 28).

Dalam hubungannya dengan mencari kapan terjadi Islamisasi Nusantara, ada dua teks yang memuat datanya, adalah teks Hikayat Raja-raja Pasai dan teks Sejarah Melayu (HRRP dan SM). Teks HRRP dewasa ini hanya terdapat dalam satu-satunya naskah, yaitu Raffles Malay no. 67 yang tersimpan di The Royal Asiatic Society di London. Sebenarnya ada sebuah lagi, tetapi itu merupakan salinan naskah no. 67 yang dilakukan oleh Edouard Dulaurier pada tahun 1538 dan sekarang disimpan di Bibliotheque Nationale di Paris no. Mal-Pol. 50. Bentuk naskah yang tersimpan di London itu tidaklah mencerminkan isinya yang unik lagi penting. Bentuknya agak kecil, dijilid dengan kain hitam, tidak ada keterangan yang nyata bagaimana naskah itu sampai kepada Raffles. Pada halaman 140 naskah itu, tercatat bahwa karya itu diambil dan bupati Demak pada tahun Jawa 1742 (=1814-15 M.). Hill menduga bahwa kata-kata itu ditambah oleh penyalin atas perintah Raffles, yang saat itu memerintah Jawa. Yang agak membingungkan bagaimanakah HRRP muncul di Demak. Masalah ini dapat dihubungkan dengan nama seorang bangsawan bernama Kyai Sura Adi Manggala, yang menjabat sebagai Bupati Demak. Setelah Raffles dilantik sebagai Letnan Gubernur di Jawa pada tahun 1811, bangsawan ini dikenal sebagai orang yang banyak pengetahuannya mengenai sastra Jawa, dia banyak membantu Raffles dalam penyelidikan ilmiahnya. Pada tahun 1814 Sura Adi Manggala dilantik sebagai penerjemah Melayu dan Jawa di Kantor Penerjemah Jawa yang didirikan oleh Raffles di Bogor. Dalam koleksi naskah Raffles tercatat 15 naskah yang merujuk kepada Sura Manggala sebagai penulisnya. HRRP telah diselesaikannya pada tahun 1815 (Russel Jones, 1989: vi-vii). Dan manakah asal naskah yang disalin oleh Sura Adi TsAenggala, dapat dijelaskan kalau dihubungkan dengan peristiwa serangan Raffles ke Palembang pada tahun 1812. Sultan Palembang yang waktu itu melarikan diri ke hulu sungai telah meninggalkan beberapa naskah yang ditemukan oleh tentara Raffles. Kemungkinan di antara naskah itu adalah HRRP, yang kemudian menjadi milik Bupati Demak, dan Raffles hanya memiliki salinannya (Russel Jones, 1989: vii). Pada kolofon ditemukan kata-kata “Tamat Hikayat Raja Pasai…”, berarti judul itu pada aslinya adalah Hikayat Raja Pasai. Sejak edisi Dulaurier, berhuruf Jawa, pada tahun 1849, judul itu ditulis dengan Hikayat Raja-raja Pasai, dan ini diikuti oleh edisi-edisi berikutnya, hanya Ibrahim Alfian yang memberi judul Kronika Pasai (1973).

Teks SM termuat dalam banyak naskah, dan telah berkali-kali diterbitkan (antara lain Teeuw, 1952; Winstedt, 1938). Teks HRRP dan SM memuat cerita mengenai pengislaman kerajaan Pasai secara mendetil, keduanya menunjukkan kesamaan yang menarik (Teeuw, 1964: 222). Teeuw telah membuat kajian yang mendalam mengenai kesamaan keduanya, termasuk bagian yang memuat cerita Islamisasi Nusantara, sebagai yang termuat dalam HRRP edisi Hill (1960) halaman 55-59 dan SM edisi Teeuw (1952) halaman 59-61.

Pertama dikisahkan asal mula terjadi pengislaman itu sebagai berikut:

“Maka di-cheterakan oleh orang yang empunya cetera. Sakali persetua pada zaman Nabi Muhammad rasulu ‘ilahi sall ‘Ilahu wa‘sallam hayat hadzrat yang maha mulia itu, maka bersabda ia kepada sahabat baginda di makah, demikian sabda baginda, ‘Bahwa ada sapenigal-ku wafat itu, ada sa-buah negeri di bawah angin, Samudera nama-nya, apabila ada di-dengar khabar negeri itu, maka bawa‘i orang suroh sa-buah kapal membawa perkakas alat kerajaan dan kamu bawa‘i orang dalam negeri itu ia masok agama Islam serta menguchap du‘a kalimah al-shahada. Shahada akan di-jadikan Allahu Subhanahu wa ta‘ala dalam negeri itu terbanyak dari pada wali Allah jadi dalam negeri itu. Adapun pertama ada sa-orang faquir di-negeri Ma‘abri namanya ia-itu-lah kamu bawa serta kamu ka-negeri Samudera itu” (Hill, 1960: 55).

Kisahan ini di dalam SM adalah sebagai berikut:

“Sebermula maka tersebutlah firman rasul Allah slla ‘Llahu ‘alaihi wasallam, bersabda kepada sahabat: “Pada akhir zaman kelak ada sebuah negeri di bawah angin, Samudra namanya: maka apabila kamu dengan chabarnya negeri itu, maka segeralah kamu pergi ke negeri itu, bawa ia sekalian di dalam negeri itu masuk Islam, karena di dalam negeri itu banjak wali Allah akan djadi tetapi ada pula seorang radja-Mu‘tabar nama negerinja, ialah kamu bawa beserta. Dan berapa lamanja kemudian daripada sabda nabi itu, maka terdengarlah kepada segala negeri, datang ke Mekkah kedengaran nama negeri Samudra itu. Maka sjarif Mekkah menjuruhkan sebuah kapal membawa segala perkakas keradjaan, serta disuruhnja singgah ke negeri Mu‘tabar. Adapun nama nachkoda itu sjaich Is‘il”.

Data di atas mengatakan bahwa pengislaman negeri Samudra itu atas perintah Nabi Muhammad, karena telah ditakdirkan akan lahir banyak kekasih Tuhan (para wali) dari negeri itu. Maka dibawa pula regalia untuk melengkapi alat kerajaan negeri Samudra setelah rajanya dinobatkan. Kapal yang membawa keperluan tersebut dari Mekkah dan dinakhodai oleh nakhoda Ismail. Apakah fungsi raja Ma‘tabar akan menjadi jelas dalam bagian selanjutnya. Dalam HRRP telah dikemukakan bahwa raja dari Mu‘tabar adalah hanya disebut sebagai fakir. HRRP telah identitas kepadanya sebagai seorang ahli tasawuf. Sebutan fakir berasal dari kata Arab yang berarti orang yang kekurangan atau orang yang sengaja membuat dirinya kekurangan untuk menjaga kesucian batin supaya tidak tergoda oleh keduniaan. Kata fakir dalam arti ini disamakan dengan kata derwish. Mengenai hal lain tidak ada perbedaan yang berarti antara kisab dari HRRP dan SM, bahwa kapal itu berasal dari Mekkah (dari Arab) tidak dapat diambil kesimpulan bahwa Islamisasi itu dari tanah Arab, karena fungsi kapal itu semata-mata sebagai yang membawa rombongan, semata-mata alat transportasi saja. Peranan penting dalam Islamisasi itu bukan pada nakhoda Ismail, akan tetapi pada raja Ma‘tabar.

Seterusnya data mengemukakan, bahwa kapal betul singgah ke Mu‘tabar (SM) atau Ma‘abri (HRRP). Fakir dari Ma‘abri itu kemudian disebut namanya dengan Sultan Muhammad (Hill, 1960: 56). Di India, di manakah letak Ma‘abri, asal fakir Muhammad? Umumnya Ma‘abri ditempatkan di Gujarat, yang ibukotanya Cambay, tempat makam-makam sultan yang mirip dengan makam Malikussalih. Hanya Marrison yang menempatkan Ma‘abri di India bagian selatan, di daerah Koromandel, dengan alasan bahwa tahun 1297, angka tahun pada batu nisan Malikussalih, daerah Gujarat belum masuk dalam kawasan kerajaan Islam, masih taklukan dalam kerajaan Hindu. Beberapa data dari India bagian selatan, dan berdasarkan catatan musafir Cina, maka dapat dibuktikan, bahwa Ma‘abri tepatnya ada di India Selatan, di Malabar atau kawasan Koromandel (Marrison, 1951).

Seterusnya HRRP mengisahkan bahwa Sultan Muhammad itu masih keturunan Abu Bakar Assiddiq (Hill, 1960: 56). Hal ini juga dapat dikatakan oleh SM (Teeuw, 1952: 59). Eulogy untuk Abu Bakar dalam HRRP adalah hayyahu ‘ilahu ‘anhu sedang dalam SM radhi Allahu ‘anhu (Teeuw 1952:59) dan Russel Jones juga radiallahu anhu (1989:14). Lazimnya sesudah menyebut nama seorang sahabat memang diberi eulogy radhia ‘llahu ‘anhu; eulogy hayyahu ‘llah tidak pernah dipergunakan. Di sini tampak bahwa Hill kurang cermat bacaannya. Penyebutan nama Sultan Muhammad masih keturunan seorang sahabat dipandang sebagai suatu penghormatan pada pengislaman Samudra Pasai, bukan orang sembarangan yang membawa Islam ke negeri itu, akan tetapi dia masih ada hubungan kekerabatan dengan seorang sahabat yang sangat dekat bahkan masih mertua Nabi Muhammad.

Perjalanan rombongan dari Mekkah dan Ma‘abri kemudian sampai ke pantai daerah Aceh Untuk menemukan Samudra mereka tidak menemui kesulitan, langsung ke pantainya.

“Hatta beberapa lamanya maka kapal syaikh Ismail itu pun sampailah ka-Telok Teria, maka kapal itu pun bertemu dengan seorang-orang menjala ikan ini Samudera. Maka kata faqir itu ‘apa nama negeri ini?‘. Maka sahutnya orang itu ‘Ada pun nama negeri ini Samudera.‘ Maka kata faqir itu ‘Siapa nama penghulu-nva?‘ Maka sahutnya orang itu ‘Nama raja dalam negeri ini Merah Silu dan bergelar Sultan Maliku‘l-Saleh.‘ Satelah sudah berkata-kata, maka orang menjala itu pun kembalilah ia, maka faqir itu pun naiklah ia ka-kapal-nya.” (Hill. 1960: 57).

Kisahan ini berbeda dengan kisahan dalam SM, yang menceritakan bahwa kapal itu tidak segera menemukan negara Samudra, akan tetapi pertama sampai ke negeri Fansuri, kemudian diislamkanlah penduduk negeri itu oleh fakir Muhammad dengan menyuruh mereka membaca Alquran. Karena seorang pun tidak ada yang dapat membacanya, maka fakir Muhammad berpikir bahwa itu bukan negeri Samudra. Maka dia lalu meneruskan perjalanannya, hingga sampai ke negeri Lamiri, dan diislamkannya negeri itu dengan cara yang sama, dan akhirnya sampailah ke Haru dan Perlak dan diislamkan pula rakyatnya (Teeuw, 1952: 60). Setelah meneruskan pelayarannya maka baharu sampailah ke negeri Samudra. Kisahan dapat ditafsirkan, bahwa menurut SM, bukanlah Samudra yang pertama-tama masuk Islam, tetapi Fansuri, kemudian Lamiri, seterusnya Haru dan Perlak akhirnya Samudra. Kisahan ini mengurangi penghormatan terhadap Pasai, seperti yang telah dikisahkan dalam HRRP.

Penghormatan lain terhadap Islamisasi Pasai ditampilkan pula dalam HRRP, bahwa sebelum kedatangan iringan kapal dari Mekkah, Merah Silu (Raja Samudra sebelum Masehi) bermimpi kedatangan Nabi Muhammad. Nabi menyuruhnya membaca dua kalimah syahada kemudian meludahi mulutnya dan menetapkan bahwa dia adalah Sultan Malikussalih dan telah diislamkannya.

“Hai Merah Silu, engkaulah Sultan Mali al-Salleh namamu sekarang Islmlah engkau dengan mengucapkan dua kalimah al-shahada dan segala binatang yang hidup lagi halal engkau sembeleh ‘kau makan‘ dan yang tidak disembeleh jangan engkau makan. Sabermula dalam empat puluh hari lagi ada sabuah kapal datang dari Makah, barang segala katanya dan barang segala perbuatannya yang berpatutan dengan segala pekerjaan agama Islam orang yang dalam kapal itu janganlah engkau lalui, dan bendaklah engkau turut barang pengajarnya”.

Dalam mimpi itu Merah Suli menanyakan siapa orang itu, maka dijawabnya bahwa dia Nabi Muhammad Rasulullah. Setelah dia bangun dari tidurnya maka tampaklah bahwa dia telah dikhitan. Setelah mengucap dua kalimah syahadat, dia membaca Alquran tiga puluh juz tanpa ada yang mengajarinya hingga para hamba sahayanya heran apa yang diucapkan oleh rajanya (Hill, 1960:57).

Dalam SM lain lagi pengisahannya. Setelah Merah Silu diislamkan, dia tidur. Dalam tidur itulah dia mimpi bertemu dengan Nabi Muhammad, kemudian disuruhnya membuka mulutnya, lalu diludahi, dan seterusnya dia bangun. Pada hari itulah Merah Silu dirajakan oleh nakhoda Ismail dan diberinya alat kerajaan yang dibawa dari Mekkah, dan diberi nama Malikussalih (Teeuw, 1952:61).

Dari penstiwa di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa penulis HRRP sengaja mengagungkan rajanya dan peristiwa pengislaman Samudra Pasai dengan membumbui cerita itu dengan menampilkan tokoh Nabi Muhammad untuk membuat cerita itu menjadi luhur, sebaliknya penulis SM dipandang lebih polos pengisahannya. Episode mengenai pengislaman Pasai dalam dua teks ini dapat mengungkap fakta bahwa pada zaman Malikussalihlah telah terjadi Islamisasi itu. Peristiwa itu terjadi pada abad ke-13, mengikuti angka tahun batu nisan Sultan ini. Yang membawa masuk Islam ke Nusantara adalah mubalig dari India, bukan pedagang, dan dia dapat diidentifikasikan sebagai seorang sufi, karena memakai gelar fakir setelah dia menanggalkan pangkat dan kedudukannya sebagai raja, demi panggilannya untuk hidup suci, menjauhi keduniaan. Episode ini mirip episode Buddha, sebagai seorang putra raja yang telah dijaga jangan sampaikan menyaksikan kesulitan dalam kehidupan, tetapi akhirnya melihat juga peristiwa yang mengguncangkan, sehingga membuatnya sadar bahwa manusia harus selalu mendekatkan diri kepada Yang Berkuasa, dengan jalan menjauhkan diri dari kesenangan dunia. Kehidupan demikianlah yang dipilih oleh penganut aliran tasawuf atau para sufi (Goldziher, 1925: 152).

Mengenai peranan golongan sufi dalam penyebaran agama Islam pernah dikemukakan oleh Gibb, bahwa setelah jatuhnya dinasti Abbasiyah oleh tentara Mongol, kesatuan berdasarkan kekuasaan politik umat Islam tidak muncul lagi. Sebaliknya pada saat itu muncullah kesatuan golongan sufi, dalam bentuk tarikat-tarikat, yang semakin kuat dan mantap, hingga mereka mampu mengadakan persatuan antar mereka (1955: 130). Pada abad ke-18 kekuatan ini mampu menyebarkan Islam ke berbagai bagian dunia (Gibb dan Bowen, 1957: 72-9). Data dalam HRRP dan SM menunjukkan bahwa dalam pengislaman kerajaan Pasai yang tampak bertindak sebagai pelakunya adalah fakir Muhammad, dan bahwa seterusnya dialah yang tetap tinggal di kerajaan itu, sebaliknya nakhoda Ismail beserta pengiringnya lalu kembali ke Mekkah.

“Setelah berapa lamanya Shaikh Ismail di-Samudera daru ‘I-Islam, maka ia pun berdatang sembah kepada Sultan Maliku ‘I-Saleh mohon kembali, maka Sultan pun menghimpunkan hadiah akan Khalifah Shard… Setelah sudah, maka Shaikh Ismail pun naiklah ka-kapal lalu berlayarlah. Maka fakir itu pun tinggal-lah di Samudera akan menetapkan ugama Islam dalam negeri Samudera” (Hill, 1962: 59).

Bahwa yang berperan adalah fakir Muhammad, dapat diketahui dalam kedua teks itu, setiap berhenti di sebuah negeri, maka fakir Muhammad yang turun, membawa Alquran dan mengajarkannya kepada penduduknya (Hill, 1963: 58; Teeuw, 1952: 60+61). Di dalam teks itu tampak bahwa fakir Muhammadlah yang aktif dalam langkah-langkah pengislaman Samudra Pasai.

Pendapat Gibb di atas dapat dibuktikan oleh Prof. Johns, dengan adanya teks data di teks HRRP dan SM, bahwa Islamisasi Nusantara juga atas jasa golongan tarikat, yang diwakili oleh pemimpinnya dalam menyertai para pedagang yang mengadakan perjalanan dagangnya sampai ke pantai kepulauan Nusantara (1961: 146-7). Bahkan justru karena beraliran tasawuf itulah Islam mudah diterima oleh penduduk Indonesia yang sebelumnya telah mengenal ajaran Buddha Mahayana dan aliran Syiwaisme, keduanya mengajarkan yang sifatnya esoteris (Johns, 1961: 147 dan Drewes, 1955: 267).

Kalau berdasarkan data dari HRRP dan SM dapat dikatakan bahwa kerajaan Pasailah yang mula-mula diislamkan, maka Prof A. Hasjmy dapat memunculkan pendapat lain. Berdasarkan penelitiannya, atas Kitab Idharul Haqq, karangan Abu Ishak Makarani Al Fasy dan Kitab Tazkirah Thabaqat Jumu Sultan As Salathin  karangan Syekh Syamsul Bahri Abdullah Al Asyi, serta Silsilah Raja-raja Perlak dan Pasai, maka dapat dikemukakan bahwa kerajaan yang pertama-tama memeluk agama Islam adalah kerajaan Perlak, ialah pada abad ke-9 M. Berhubung pendapat ini belum dianggap tuntas, maka penelitian Prof A Hasjmy perlu dilanjutkan untuk mendapatkan kemantapannya, sebagai mantapnya data dalam HRRP dan SM (Hasjmy, 1981: 1441).

4. Naskah Melayu sebagai Sumber Data Penyebaran Islam di Kawasan Nusantara

Naskah-naskah Melayu yang diperkirakan ditulis sesudah abad ke-14, ialah sesudah HRRP ditulis, belum terdapat naskah yang berisi suatu ajaran, yang dapat diidentifikasikan dari suatu aliran. Baru pada abad ke-16 muncul naskah yang menunjukkan suatu ajaran beraliran tasawuf, ialah naskah yang berasal dari daerah Aceh, karangan ulama sufi Hamzah Fansuri, Syamsuddin dari Pasai, Nuruddin Arraniri, dan Abdulrauf dari aliran tasawuf yang dikemukakan di bagian depan dari tulisan ini.

Akan tetapi dengan ditemukannya sebuah naskah ajaran akidah (bukan ajaran tasawuf) oleh Prof. Naguib Al-Attas, berupa terjemahan dari sebuah kitab dalam bahasa Arab, karangan Al-Nasafi, berasal dari abad ke-16, menjadi agak sulit untuk menerima bahwa aliran Islam yang pertama-tama masuk Islam adalah aliran tasawuf. Naskah itu oleh Al-Attas dipandang sebagai naskah dalam bahasa Melayu yang paling tua hingga dia memberi judul karangannya dengan “The Oldest Malay Mainuscript: A 16th Century Malay Translation of The ‘Aqa‘id of Al-Nasafi‘, Nasafi sendiri dikenal sebagai penulis beraliran Sufi dan madzhab Hanafi. Hal ini mungkin dapat diterima karena naskah itu hanya berupa suatu terjemahan, bukan tulisan asli dari penulis Indonesia (Nusantara).

Data yang memuat persebaran Islam setelah masuk di Samudra, terdapat antara lain dalam Sejarah Melayu, teks SM mengatakan bahwa Islam masuk ke Malaka pada zaman Raja Kecil dan Besar dengan kisah sebagai berikut:

 “Telah berapa lamanja Ketjil Besar diatas keradjaan, maka baginda bermimpi pada suatu malam, berpandangan dengan keelokan rasul Allah salla ‘Llahu ‘alaihi wasallama. Maka sabda rasul Allah pada radja ketjil Besar; ‘Utjap olehmu: asjhadu an la ilaha illa ‘Llah wassjhadu an Muhammada rasulu ‘Llh‘. Maka diturut oleh radja Kecil Besar seperti sabda rasul Allah salla ‘Llahu ‘alaihi wasallama itu. (Maka sabda rasul Allah): Adapun namamu Sultan Muhammad; esok hari waktu ‘asar matahari datang sebuah kapal dari Djuddah, turun orangnya sembahjang di lantai Malaka ini; hendaklah engkau turut barang katanja‘. Maka sembah radja Kecil Besar: Baiklah, tuanku; jang mana sabda djundjungan itu tiada hamba lalui‘. Matra nabi salla ‘Llahu ‘alaihi wasallama pun ghaiblah”.

Episode pengislaman Malaka ini mirip dengan pengislaman Samudra Pasai, ialah yang mengislamkan adalah Nabi Muhammad sendiri di dalam mimpi. Bahkan baginda pun setelah bangun juga melihat dirinya telah dikhitan (Teeuw, 1952: 81). Ketika radja Kecil Besar berulang menyebut dua kalimah syahadat, para hamba sahaya menjadi heran. Ketika mimpinya itu diceritakan kepada Bendahara, maka Bendahara dan hamba sahayanya menjadi heran, karena melihat bahwa raja sudah dikhitan, dan sore hari itu tiba kapal dari Jidah. Yang datang seorang makhdum lalu disambut oleh raja dengan segala kebesaran. Maka semua hamba sahayanya pun masuk Islam. Oleh makhdum raja dinamai Sultan Muhammad Syah (Teeuw, 1952: 83).

Kesamaan kisahan ini bukanlah sesuatu yang secara kebetulan, tetapi sangat mungkin bahwa penulis SM meniru kisahan dalam HRRP, demi penghormatan kepada rajanya Setelah itu tetaplah kerajaan Malaka sebagai kerajaan Islam.

Islam yang masuk ke Malaka pun rupanya juga cenderung ke aliran tasawuf. Hal ini dapat dibuktikan dengan kisahan sultan Mansyur Syah ketika kedatangan utusan Abu Ishak dari Mekkah yang bernama Abu Bakar untuk memberikan kitab bernama Darrul-manzum kepada Sultan. Kitab itu berisi ajaran mengenai dhat, sifat, dan af‘al. Sultan menerima banyak ilmu dari Maulana Abu Bakar, dan sangat dipuji oleh Maulana karena kecerdasannya. Oleh Sultan, kitab itu disuruh memintakan maknanya ke Pasai. Setelah utusan datang dari Pasai, maka makna kitab itu ditunjukkan kepada Maulana Abu Bakar, dan olehnya makna itu disetujuinya (Teeuw, 1952: 168-169). Kisahan ini memperkuat bahwa aliran yang disambut dengan baik oleh kebanyakan rakyat adalah aliran tasawuf. Seterusnya diceritakan pula, bahwa pernah Sultan Mansyur mengirim utusan ke Pasai untuk menanyakan suatu masalah yang esoteris sifatnya,

“Tuanku, akan titah paduka kakanda, menjuruh tanjakan masalah: segala isi syurga dan isi naraka itu kekalkah ia didalam syurga dan di dalam naraka atau tidakkah?… Maka kata sultan Pasai pasai pada machdum Muda: “Tuan, radja besar menitahkan tun Bidja Wangsa kemari bertanjakan segala isi sjurga dan isi naraka itu kekalkah didalam keduanja atau tiada; hendaklah tuan beri kehendaknja; supaja djangan kemaluan kita”. Maka kata machdum: “Adapun isi sjurga itu kekallah didalamnya, demikian lagi segala isi neraka itu pun kekal djua didalam naraka”.

Rupanya sultan Pasai tidak setuju dengan jawaban itu, karena kalau demikian itu jawabannya, orang Malaka sudah tahu jawabannya, dan tentu tidak ditanyakan ke Pasai. Maka Makhdum dimintanya menjawab bahwa isi surga dan isi neraka akan mendapat kebahagiaan yang sama. Maka gembiralah utusan Malaka membawa jawaban demikian itu (Teeuw, 1982:172).

Penyebaran Islam ke Patani, melalui kisahan raja Patani yang bernama Paya Tu Nawna yang sedang menderita sakit, tubuhnya bengkak-bengkak. Raja itu berjanji, barang siapa yang mengobati penyakitnya itu akan diambil menantu. Di antara orang Pasai yang tinggal di Patani berjanji dapat menyembuhkan baginda, asal baginda mau masuk Islam. Setelah tiga kali ingkar janji, akhirnya raja memenuhi janjinya, dan masuk Islam dengan seluruh hamba sahayanya (Teeuw & Wyatt, 1970: 71-2). Dan kisahan itu tampak, bahwa Pasai masih dihubungkan dengan Islamisasi Patani.

Episode dari dua naskah Melayu tersebut di atas menunjukkan bahwa naskah-naskah Melayu dapat dimanfaatkan untuk menelusuri penyebaran Islam di berbagai kawasan Melayu atau kawasan Nusantara pada umumnya. Penelitian terhadapnya akan membantu pengungkapan sejarah perkembangan Islam di Dunia Melayu secara lebih lengkap. Maka pendekatan filologi diperlukan untuk kajian terhadap historiogafi tradisional di kawasan Nusantara pada umumnya, di dunia Melayu pada khususnya. Untuk memberi rangsangan kepada peneliti sejarah, perlu tersedianya suntingan naskah-naskah Melayu atau naskah dari Nusantara lainnya yang telah melakukan kajian kritis, hingga keotentikan isinya dapat terjamin.

5. Penutup

Kajian terhadap Datangnya Islam dan Penyebarannya di Indonesia Lewat Naskah Melayu ini merupakan kajian yang elementer. Kelanjutannya masih perlu diusahakan secara lebih mendalam dan lebih rinci, mengingat luasnya cakupan naskah-naskah Melayu yang dewasa ini merupakan koleksi beberapa pusat studi kesusastraan Melayu. Kegairahan untuk mengadakan kajian ini masih perlu dipacu, terutama terhadap naskah yang belum pernah diadakan penelitian terhadapnya. Dunia Melayu yang semakin memegang posisi yang kuat dalam kehidupan dan perkembangan ilmu pengetahuan perlu memberi perhatian yang penuh dalam masalah ini. Terutama sebagai pakar Muslim, kita mempunyai tanggung jawab dan kewajiban moral untuk menyambut seruan ini.

Ringkasan

Nusantara atau Indonesia bagian dari Dunia Melayu memiliki arti penting dalam menelusuri Kedatangan Islam dan Penyebarannya di kawasan ini Mulai abad ke-13 hingga sekarang Nusantara berpenduduk paling banyak dari kawasan lainnya di Dunia Melayu, dan merupakan negara yang dipandang Islam dari sudut kehidupan kulturnya.

Kebesaran Islam di masa lampau perlu digali untuk lebih memantapkan kedudukannya sebagai negara Islam. Aspek yang penting untuk digali adalah aspek yang menyangkut kedatangannya dan penyebarannya, lewat warisan budaya Melayu sendiri, ialah naskah-naskah Melayu, mengingat dalam naskah-naskah itu bangsa Melayu merekam kehidupannya.

Perlu dipilih kelompok naskah Melayu yang memuat data-data tersebut, dan pilihan itu tentu pada naskah yang mengandung aspek kesejarahan, ialah Sastra Sejarah, atau Flistoriografi Tradisional. Dua teks yang tersimpan dalam naskah Melayu yang memuat data-data dimaksud adalah Hikayat Raja-Raja Pasai dan Sejarah Melayu. Data-data itu mengungkap bahwa Islam masuk di Dunia Melayu, pertama-tama di Kerajaan Samudra Pasai pada zaman Sultan Malikussalih. Periodenya terdapat pada abad ke-13 karena petunjuk yang berasal dari batu nisan makamnya. Pengisahan dalam HRRP lebih mendetil daripada pengisahan dalam SM. Selain itu data juga mengatakan, Islam yang masuk itu Islam yang beraliran tasawuf. Bahkan Islam itu menyebar dari Pasai, terdapat datanya dalam Hikayat Patani dan Sejarah Melayu. Dalam dua teks itu tampak bahwa Islam yang disebarkan itu juga cenderung untuk dikatakan beraliran tasawuf.

________________________

Tulisan ini telah dimuat dalam buku Pendar Pelangi: Buku Persembahan untuk Prof. Dr. Achadiati Ikram. (Penyunting: Sri Sukesi Adiwimarta dkk.,) diterbitkan oleh Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan Yayasan Obor Indonesia.

Prof. Dra Hj. Siti Baroroh Baried (alm), adalah guru besar Fakultas Sastra UGM.

Daftar Pustaka

  • Goldziher, I., 1925. Vorlesungen über den Islam. Heidelberg, Carl Winter‘s Universitatsbuchhandlung.
  • Hasjmy, Prof. A., 1981. Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia. Bandung, PT Almaarif-Penerbit-percetakan offset.
  • Hill, A.H., 1960. “Hikayat Raja-Raja Pasai”. JMBRAS. Volume XXXIII, Part 2.
  • ——-, 1963. “The Coming of Islam to North Sumatra”. Journal Southeast Asian History. Volume 4 No. 1.
  • Ibrahim Alfian, Teuku, 1973. Kronika Pasai. Yogyakarta Gadjah Mada University Press.
  • Johns, A.H.,. 1961. “The Role of Sufism in the Spread of Islam to Malaya and Indonesia.” Journal of the Pakistan Historical Society. Volume IX, Part I.
  • Johns, A.H., 1974. “Islam di Indonesia,” dalam Taufiq Abdullah (ed.), Islam di Indonesia Sepintas Lalu Tentang Beberapa Segi Jakarta, Tintamas.
  • Jones, Russel, 1987. Hikayat Raja Pasai. Petaling Jaya, Penerbit Fajar Bakti SDN, BHD.
  • Naguib Al-Attas, Syed Muhammad, 1988. The Oldest Known Malay Manuscript: A 16th Century Malay Translation of the ‘Aqa‘id of Al-Naafi. Kuala Lumpur, Departemen of Publications University of Malaya.
  • Sartono Kartodirdjo, dkk., 1975. Sejarah Nasional Indonesia. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Teeuw, A., 1952. Sedjarah Melaju. Djakarta, Djambatan.
  • ——-, D.J. Wyatt. 1970. The Story of Patani. The Hague, Martinus Nijhoff.
  • Winstedt, R.O. 1940. “A History of Malay Literature, With a Chapter on Modern Developments by Zaba”. ZUBRAS 16.3.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s