Miskin dan Kaya Sama-Sama Bisa Punya Mental Pengemis

Sebanyak 16 gepeng diberi uang sangu oleh Satpol PP untuk bekal diatas kapal, saat akan dipulangkan Dinas Sosial Pemkot Menggunakan Kapal Motor Pelni Binaiya,

Sebanyak 16 gepeng diberi uang sangu oleh Satpol PP untuk bekal diatas kapal, saat akan dipulangkan Dinas Sosial Pemkot Menggunakan Kapal Motor Pelni Binaiya,

Fenomena pengemis di negeri ini mengingatkan pada lagu yang dinyanyikan Iwan Fals tahun 1989–an atau 15 tahun silam.

Judulnya Potret. Mungkin maksudnya adalah potret buram pengemis. Tepatnya pengemis yang meminta belas kasihan, bukan karena terancam mati kelaparan, melainkan pengemis yang muncul karena mental.

Tepatnya, mental yang selalu resah harta, selalu merasa kurang, dan selalu khawatir dengan masa depan.

“Orang-orang resah… berlomba kejar nafkah…Demi anak bini…Demi sesuap nasi…Kuno-kuno memang…Memang-menang kuno” begitu Iwan Fals mengawali lagunya.

Kata “resah” menjadi kunci di sini. Warna jiwa inilah yang diyakini telah menjadikan banyak orang memiliki mental pengemis. Mental ini tidak bergantung pada harta, kelas, atau jabatan.

Artinya, miskin dan kaya sama-sama bisa memiliki mental pengemis, jika jiwanya resah dan selalu merasa kurang. Begitupun kawula alit, pejabat elit, politisi, dan penguasa.

Membahagiakan anak istri menjadi alasan paling umum untuk membenarkan tindakan mengemis.

Maka, masalah pun bertambah ketika anak bini yang ingin dibahagiakan itu, ternyata juga bermental pengemis plus selalu merasa kekurangan.

Maka, muncullah mental pengemis yang dalam bahasa pesantren disebut pengemis murokkab, mental pengemis bertumpuk-tumpuk.

Beda kelas tentu beda pula cara mengemis. Kaum miskin mengemis dengan mengiba.

Sedang kaum kaya dan pengusaha mengemis dengan iming-iming sogokan.

Kaum tidak terdidik mengemis dengan mengatungkan (menengadahkan) tangan, sedangkan kaum terpelajar mengemis dengan mengajukan proposal dan membuat panggung-panggung seremoni.

Kawula alit mengemis  dengan terang-terangan, sedang kaum elit mengemis terselubung di balik baju dan lencana kebesaran.

Mental pengemis menjadi kata kunci kedua di sini. Mental yang menggiring pribadi-pribadi merasa selalu terjepit dalam pilihan sulit.

Kaum miskin merasa terjepit di tengah dua pilihan, mengemis atau mencuri. Sedangkan kaum perempuan merasa hanya punya pilihan, mengemis atau menjadi PSK.

Begitu pun kaum kaya dan pengusaha bermental pengemis, juga merasa hanya punya dua pilihan, kerja curang penuh riba atau menyuap untuk memperbesar usaha.

Bagi pejabat, mental pengemis akan membawanya pada pilihan,  korupsi atau melakukan pungutan liar (pungli).

Penegak hukum bermental pengemis juga tidak resah, karena merasa di depan mata hanya dua pilihan, menjual keadilan atau memeras pencari keadilan.

Semua pilihan berujung merugikan, bukan hanya bagi orang lain, melainkan juga diri sendiri.

Kerugian mulai bisa dirasakan ketika mental pengemis pelan-pelan membuat orang lupa potensi diri.

Juga lupa, bahwa sebenarnya masih banyak jalan normal dan mulia yang bisa dilalui.

Kalaupun tahu ada jalan normal, mental pengemis mengajak orang ogah untuk memilihnya.

Sebab, jalan normal butuh kerja keras, ketekunan, kesabaran, dan butuh waktu lama, baru kemudian bisa menangguk hasil.

Ibarat mau menikmati buah, pakai menabur benih, memupuk, menyiram, dan menyiangi. Terlalu lama.

Kalah cepat dengan cara mencangkok, apalagi meminta atau memindahkan batang yang sudah berbuah dari lahan orang lain.

Mental pengemis juga kerap mengesampingkan pikiran normal. Lihat saja pembagian zakat yang cuma Rp 35.000 selalu diburu beribu orang.

Harus antre berjam-jam, bahkan hampir seharian. Itupun harus adu kuat desak-desakan, bahkan sampai ada yang meninggal segala.

Padahal, kalau berpikir normal, waktu yang digunakan antre seharian, bila dimanfaatkan kerja, hasilnya bisa lebih dari Rp 35.000.

Repotnya lagi bagi pemilik mental pengemis. Sangat susah diajak berdiskusi, apalagi dinasihati.

Nyanyian Iwan Fals menyitir, “..Pergi kau..jangan nasihati aku..pergi kau..aku  mau uangmu..pergi kau jangan menggurui aku…oya…pergi kau..aku mau nasimu….

Uang dan nasi menjadi kata kunci berikut.  Bagi mental pengemis, dua kata itu sudah menjadi way of life atau semacam ideologi. Soal harga diri dan moralitas, tidak perlu terlalu dimasukkan hati.

Lagu Potret menggambarkan itu dengan, “Orang-orang resah berlomba kerja nafkah….demi anak bini…demi sesuap nasi…Soal harga diri sudah tak berarti…uang dimana uang..nasi dimana nasi..”

Nyanyian itu hanya tembang pepeling atau pengingat. Tidak ada solusi kongkret yang ditawarkan.

Lagi pula, kalau ada konsep dan solusi disana, bisa-bisa malah mirip skripsi atau disertasi. Jadinya malah hanya orang pinter yang bisa menikmati.

Tentang solusi terhadap mental pengemis, ada baiknya saran guru kampung dalam kultum Ramadan kita lakukan.

Ia bilang, ahli psikologi punya segudang cara untuk menyembuhkan atau membentengi diri.

Para pejabat dan pemimpin negeri, kalau mau serius menangani, perlu mendengar  konsep dari mereka. Tentu saja ahli-ahli pembangunan lainnya tidak boleh ditinggalkan.

Lalu bagi pribadi-pribadi, ada baiknya membaca, belajar dan konsultasi pada ahli psikologi. Gunanya untuk menata hati agar bisa menjadi pribadi yang mandiri.

Pribadi yang kaffah (merdeka). Inilah pribadi yang tidak akan menjadi pengemis, meski dalam kondisi miskin dan susah sekalipun.

Inilah pribadi yang tidak akan mau ikut berebut zakat, meski ia termasuk delapan ashnaf kaum yang berhak menerima zakat.

Di akhir kultum, guru kampung itu memberikan sepotong doa, penuntun jiwa agar terbebas dari mental pengemis.

Allahumma aghnina bi halalika. Wa tho’atika an maksiatika. Wa bifadlika an man siwaka.

Maknanya kira-kira begini. Ya Tuhan perkayalah aku dengan kehalalanMu. Thoatkanlah aku kepadaMu dari kemaksiatan, tempatkan aku dalam keagunganMu, dan jangan biarkan aku tenggelam pada selainMU.

Tapi jangan salah memperlakukan doa. Sebab sesungguhnya, tidak ada lafal atau mantra doa yang benar-benar mujarab. Kehebatan doa bergantung pada kesungguhan dan sikap pelafal doa. (ribunnews.com – 04072014)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s