Konflik Israel–Gaza 2014

Kubah Besi menembak jatuh roket dari Gaza

Kubah Besi menembak jatuh roket dari Gaza

Eskalasi konflik Israel–Palestina dimulai pada tahun 2014 setelah terjadi serangkaian peristiwa. Peristiwa-peristiwa ini mencakup berlanjutnya pemblokiran Jalur Gaza oleh pemerintah Mesir dan Israel, berlanjutnya serangan roket dari Gaza, gagalnya diskusi perdamaian yang disponsori Amerika Serikat, upaya pembentukan pemerintahan koalisi oleh faksi-faksi bersaing di Palestina, penculikan dan pembunuhan tiga remaja Israel, penculikan dan pembunuhan seorang remaja Palestina, penangkapan hampir seluruh pemimpin Hamas di Tepi Barat oleh Israel, dan meningkatnya serangan roket ke Israel setelah perjanjian pencabutan blokade Gaza secara bertahap tidak dipenuhi karena Hamas melanggar kesepakatan gencatan senjata sebelumnya. Pada malam tanggal 6 Juli, serangan udara Israel di Gaza menewaskan tujuh mlitan Hamas, sementara Hamas meningkatkan serangan roketnya ke Israel dan menyatakan bahwa “seluruh warga Israel” merupakan “target yang sah” Pada tanggal 8 Juli 2014, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melancarkan Operasi Perlindungan Tepi (bahasa Inggris: Operation Protective Edge) di Jalur Gaza.

Rumah Palestina yang dibom Israel

Rumah Palestina yang dibom Israel

Tanggal 13 Juli, militer Israel melaporkan bahwa lebih dari 1.300 serangan udara Israel telah dilancarkan ke Gaza, sementara lebih dari 800 roket telah ditembakkan dari Gaza ke Israel. Keesokan harinya, tanggal 14 Juli, Mesir mengumumkan inisiatif gencatan senjata. Pemerintah Israel menerima usulan ini dan menghentikan serangan untuk sementara pada pagi 15 Juli. Akan tetapi, semua faksi Palestina, termasuk Presiden Palestina Abbas, mengumumkan bahwa mereka tidak diberitahu soal inisiatif Mesir ini dan baru mengetahuinya lewat media. Hamas beserta faksi Palestina lainnya menolak “versi [perjanjian] yang sekarang.” Pada tanggal 16 Juli, Hamas dan Jihad Islam menawarkan gencatan senjata selama 10 tahun kepada Israel dengan sepuluh syarat, sebagian besar menyinggung soal diakhirinya pemblokiran Jalur Gaza.

Konflik ini merupakan operasi militer paling mematikan yang pernah terjadi di Gaza sejak Intifada Kedua, meskipun jumlah korban tewas dan persentase militan yang tewas masih belum jelas. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, 1.880 warga Palestina tewas and dan 10.000 lainnya cedera. Dari jumlah tersebut, 398 di antaranya adalah anak-anak, 207 wanita, dan 74 manula. Laporan awal untuk United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) dari Protection Cluster memperkirakan bahwa 1.176 (68%) dari 1.717 korban tewas yang identitasnya sejauh ini sudah dikenali merupakan warga sipil; 573 di antaranya (33% dari total korban tewas) adalah wanita atau anak-anak. Israel bersikukuh bahwa sedikitnya 47% korban tewas di Gaza adalah kombatan. Di sisi lain, 64 tentara IDF, dua warga sipil Israel, dan seorang pekerja Thai tewas. Pasukan Pertahanan Israel menyatakan bahwa Hamas menggunakan warga sipil sebagai “perisai hidup”, dan pada tanggal 17 Juli UNRWA mengutuk keras kelompok yang menyimpan senjata di salah satu sekolahnya. Pada 22 Juli, Uni Eropa mengutuk semua “seruan kepada penduduk sipil Gaza untuk merelakan dirinya sebagai perisai hidup.” Hamas membantah kabar bahwa pihaknya menggunakan perisai hidup. 44% teritori Jalur Gaza ditetapkan sebagai zona kosong (no-go zone) oleh militer Israel.

Per 5 Agustus 2014, laporan OCHA menyatakan bahwa di Jalur Gaza, 520.000 warga Palestina (kurang lebih 30% populasi Gaza) menjadi pengungsi, 273.000 di antaranya mengungsi di 90 sekolah. UNRWA telah mengerahkan segala kemampuannya untuk memfasilitasi para pengungsi, dan kepadatan pengungsi meningkatkan risiko terjadinya wabah. 1,5 juta penduduk Gaza terkena dampak terbatasnya dan/atau berkurangnya persediaan air. 26 fasilitas kesehatan rusak, 968 rumah (64.650 orang) hancur total atau rusak parah, dan rumah milik 33.100 orang rusak namun masih bisa ditinggali.. Di seluruh Jalur Gaza, penduduknya hanya mendapat pasokan listrik selama tiga jam per hari. Penghancuran satu-satunya pembangkit listrik di Gaza sangat memengaruhi keadaan kesehatan masyarakat dan mengurangi layanan air dan sanitasi; rumah sakit semakin bergantung pada generator listrik. Lebih dari 485.000 pengungsi dalam negeri membutuhkan bantuan pangan darurat. Menanggapi krisis ini, OCHA meminta dana kemanusiaan darurat sebesar $390.338.824 untuk Palestina; 43% di antaranya sudah terpenuhi pada 3 Agustus

Latar belakang

Pabrik terbakar pasca serangan roket di Sderot, Israel, 28 Juni 2014

Pabrik terbakar pasca serangan roket di Sderot, Israel, 28 Juni 2014

Pelanggaran gencatan senjata

2011 (rekonsiliasi Hamas–Fatah pertama)

Dipengaruhi Musim Semi Arab (Arab Spring), keretakan antara Hamas dan Fatah berhasil dihapus pada tahun 2011. Pembicaraan rekonsiliasi didorong oleh unjuk rasa di Ramallah dan Gaza. Dua aktivis Hamas di Gaza tewas akibat serangan IDF setelah Mahmoud Abbas menyatakan ingin bepergian ke Gaza dan menandatangani sebuah perjanjian, meskipun katanya serangan ini merupakan tanggapan atas peluncuran satu roket Qassam yang tidak menewaskan siapapun. Dalam wawancara dengan CNN, Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa pembicaraan rekonsiliasi tersebut merupakan ancaman penghancuran Israel. Ia sangat menentang adanya pemerintahan yang bersatu.

2012–2013

Kedua sisi mengaku bahwa pihak lawan melanggar perjanjian gencatan senjata November 2012. Menurut Ben White, dua peluru mortar menghantam wilayah Israel dalam tiga bulan pertama pasca Operasi Pillar of Defense, sedangkan empat warga Gaza tewas dan 91 lainnya cedera akibat serangan pasukan Israel. Pasukan Israel melepaskan tembakan ke teritori Gaza sebanyak 63 kali dan masuk ke Jalur Gaza 13 kali, serta menyerang armada nelayan Gaza 30 kali.

Dalam tulsiannya di The National Interest, David C. Hendrickson menulis bahwa setelah gencatan senjata 2012, meski ada tembakan roket sekali-kali dari beberapa kelompok kecil di Gaza, Netanyahu mengakui pada Maret 2014 jumlah serangan roket dari Gaza tahun lalu merupakan “yang terendah dalam satu dasawarsa terakhir.” J.J. Goldberg menulis bahwa pada saat Operasi Pillar of Defense berlangsung bulan November 2012, “Hamas belum menembakkan satu roket pun sejak” gencatan senjata 2012 “dan membatalkan serangan oleh kelompok-kelompok jihad kecil.”

Israel terus melanjutkan pemblokirannya. “erlintasan berulang kali ditutup, zona penyangga ditetapkan kembali. Impor menurun, ekspor diblokir, dan semakin sedikit warga Gaza yang diperbolehkan masuk Israel dan Tepi Barat.”

Menurut Kementerian Luar Negeri Israel, terjadi 36 serangan roket pada tahun 2013 dan 85 serangan pada lima bulan pertama tahun 2014. Sebagian besar dari 85 roket tersebut ditembakkan pada bulan Maret setelah IDF melancarkan operasi yang menewaskan 3 anggota Jihad Islam.[55]

Rekonsiliasi Hamas–Fatah kedua

Pada tanggal 23 April 2014, Hamas menyetujui kesepakatan rekonsiliasi dengan faksi utama Palestian lainnya, Fatah setelah tujuh tahun terpecah. Pemerintahan bersatu Palestina diambil sumpahnya pada 2 Juni 2014, dan Israel mengumumkan bahwa pemerintahnya tidak akan menegosiasikan perdamaian apapun dengan peemrintahan baru ini dan akan mengambil tindakan hukuman (punitif). Selain menyatakan bahwa persatuan ini akan “memperkuat terorisme” satu hari sebelum kesepakatan ditandatangani, Benjamin Netanyahu mengatakan: “Komunitas internasional tidak boleh mengakui mereka.” Uni Eropa, PBB, Amerika Serikat, Cina, India, Rusia, dan Turki sepakat untuk bekerja sama dengan pemerintah bersatu Palestina. Perjanjian ini memiliki dampak besar bagi putaran negosiasi perdamaian saat ini antara Otoritas Palestina yang dipimpin Mahmoud Abbas dan Israel. Sesaat setelah pengumuman perjanjian ini, Israel melancarkan serangan udara ke Jalur Gaza utara yang melukai empat orang. Netanyahu memperingatkan sebelumnya bahwa perjanjian ini tidak sesuai dengan perdamaian Israel–Palestina dan Abbas harus memilih antara perdamaian dengan Hamas dan perdamaian dengan Israel. Saat kesepakatan rekonsiliasi ditandatangani sehingga membuka jalan bagi pembentukan pemerintahan baru, Netanyahu memimpin rapat kabinet keamanan yang akhirnya memutuskan untuk mengizinkan Netanyahu menjatuhkan sanksi kepada Otoritas Palestina. Menurut Marwan Bishara, pengamat politik senior di Al Jazeera, Israel berharap mampu menggoyang pemerintah nasional bersatu Palestina antara Fatah dan Hamas melalui operasi ini.

Peristiwa susulan

Jangkauan rudal dari Jalur Gaza

Jangkauan rudal dari Jalur Gaza

Pada tanggal 12 Juni 2014, tiga remaja Israel diculik dari Tepi Barat: Naftali Fraenkel, Gilad Shaer, dan Eyal Yifrah. Israel menyalahkan Hamas, dan IDF menyatakan bahwa dua pria yang diduga Israel menculik ketiga remaja tersebut diketahui sebagai anggota Hamas. Tidak ada bukti keterlibatan Hamas yang diberikan pemerintah Israel dan para petinggi Hamas membantah kelompoknya terlibat dalam insiden ini. Otoritas Palestina di Tepi Barat menyalahkan penculikan ini pada klan Qawasameh yang dikenal suka melawan kebijakan Hamas dan melawan upaya apapun demi mencapai entente dengan Israel. Pemimpin politik Hamas Khaled Meshal mengatakan bahwa ia tidak bisa membenarkan atau membantah penculikan ketiga remaja Israel ini, tetapi ia mengucapkan selamat atas aksi para penculik tersebut. Tanggal 5 Agustus, Israel menyatakan bahwa pihaknya telah menahan Hossam Kawasmeh pada 11 Juli yang diduga merencanakan pembunuhan tiga remaja Israel. Menurut dokumen pengadilan, Kawasmeh mengaku bahwa anggota Hamas di Gaza mendanai perekrutan dan persenjataan para penculik. Israel melancarkan Operasi Brother’s Keeper, serbuan berskala besar terhadap infrastruktur teroris dan personel Hamas di Tepi Barat yang awalnya bertujuan membebaskan remaja yang diculik tersebut. 10 warga Palestina tewas dalam beberapa serbuan, dan antara 350 sampai 600 warga Palestina, termasuk hampir seluruh pemimpin Hamas di Tepi Barat, ditangkap. Di antara mereka yang ditangkap adalah orang-orang yang baru saja dibebaskan melalui proses pertukaran tahanan Gilad Shalit.

Tanggal 30 Juni, tim pencari menemukan jasad ketiga remaja yang hilang di dekat Hebron. Pemerintah Israel tampaknya sudah mengetahui dengan pasti bahwa ketiga remaja ini langsung ditembak sesaat setelah diculik, dan wartawan BBC Jon Donnison mengatakan bahwa juru bicara Micky Rosenfeld memberitahunya bahwa para penculik merupakan sel terpisah yang berafiliasi dengan Hamas namun tidak beroperasi atas perintah Hamas.[92] Al-Monitor melaporkan bahwa para penculik adalah cabang yang terkait dengan Hamas yang mulai liar sendiri.[93] Sehari setelah jenazah tiga remaja Israel dikuburkan, seorang remaja Palestina diculik dan dibunuh.

Sejak 1 Mei sampai 11 Juni, 6 roket dan 3 peluru mortar diluncurkan dari Gaza ke Israel. Tanggal 29 Juni, serangan udara Israel ke awak roket menewaskan seorang militan Hamas. Keesokan harinya, Hamas menanggapi serangan Israel dengan serangkaian roket; ini adalah pertama kalinya Hamas meluncurkan roket sejak konflik tahun 2012. Sejak hari penculikan tanggal 12 Juni sampai 5 Juli, 117 roket diluncurkan dari Gaza[94] dan 80 serangan udara Israel dilancarkan ke Gaza. Pada malam 6 Juli, serangan Israel menewaskan tujuh militan Hamas. Sebagai tanggapan, militan Hamas meningkatkan jumlah serangan roket ke Israel. Pada 7 Juli, militan Hamas telah menembakkan 100 roket dari Gaza ke wilayah Israel dan Angkatan Udara Israel telah mengebom beberapa target di Gaza. Pada 8 Juli, IAF mengebom 50 target di Jalur Gaza. Militer Israel juga menggagalkan infiltrasi militan dari laut.[102] Brigadir Jenderal Moti Almoz, kepala juru bicara militer Israel, mengatakan “Kami diperintahkan oleh para eselon politik untuk menyerang Hamas dengan keras.” Pada hari yang sama, Hamas menyatakan bahwa “semua warga Israel” adalah “target yang sah” dan memaksa Israel mengakhiri semua serangannya ke Gaza, membebaskan orang-orang yang kembali ditangkap saat serbuan di Tepi Barat, mengakhiri pemblokiran Gaza dan kembali ke kondisi gencatan senjata 2012 sebagai syarat gencatan senjata.

Garis waktu

Rumah di Beersheba, Israel, setelah dihantam roket pada konflik hari keempat, 11 Juli 2014

Rumah di Beersheba, Israel, setelah dihantam roket pada konflik hari keempat, 11 Juli 2014

  • 8—16 Juli – IDF mengebom target di Jalur Gaza dengan artileri dan serangan udara. Sementara itu, Hamas terus menembakkan roket dan peluru mortar ke Israel, banyak di antaranya dihancurkan oleh sistem pertahanan udara Kubah Besi Israel. Per 16 Juli, jumlah korban tewas di Gaza mencapai 200 jiwa.
  • 17 Juli – Gencatan senjata kemanusiaan selama lima jam dilaksanakan sesuai usulan PBB. Pasca gencatan senjata, IDF memulai serangan darat ke Jalur Gaza. Awalnya, fokus operasi darat Israel adalah menghancurkan terowongan di dekat Jalur Gaza. Terowongan tersebut digunakan oleh militan untuk memindahkan orang dan barang.
  • 20 Juli – Militer Israel memasuki Shuja’iyya, sebuah permukiman di Kota Gaza, dan diikuti oleh pertempuran besar di kawasan itu.
  • 24 Juli – Lebih dari 10.000 warga Palestina di Tepi Barat berunjuk rasa menentang operasi ini. 2 orang tewas dalam unjuk rasa tersebut.
  • 25 Juli – Serangan udara Israel menewaskan Salah Abu Hassanein, pemimpin sayap militer Jihad Islam.
  • 26 Juli – Gencatan senjata kemanusiaan dilaksanakan selama dua belas jam, kemudian diperpanjang secara unilateral oleh Israel selama 24 jam. Jumlah korban tewas asal Palestina di Jalur Gaza mencapai 1.000 jiwa.
  • A.S. dan PBB mengumumkan bahwa Israel dan Palestina menyetujui gencatan senjata 72 jam terhitung sejak 8:00 pagi waktu setempat tanggal 1 Agustus. Muncul beberapa permasalahan soal syarat gencatan senjata. Israel dan A.S. menyatakan bahwa perjanjiannya adalah “[Israel] tetap melanjutkan operasi penghancuran terowongan yang mengancam wilayah Israel yang membentang dari Jalur Gaza ke Israel selama terowongan tersebut berakhir di sisi Israel.” Hamas mengatakan bahwa mereka tidak menyetujui syarat tersebut. Gencatan senjata gagal tidak lama setelah dimulai. Israel dan A.S. menyalahkan Hamas karena melanggarnya, namun dibantah Hamas. Menurut Israel, beberapa tentara Israel diserang oleh militan Palestina yang keluar dari sebuah terowongan.[113] Menurut Palestina, IDF adalah pihak pertama yang melanggar gencatan senjata pada pukul 8:30 pagi dengan meratakan 19 bangunan saat operasi penghancuran terowongan sedang berlangsung. Menurut PLO, Otoritas Palestina, dan sumber-sumber di Gaza, Hamas menyerang satu unit pasukan Israel dan menewaskan seorang perwira Israel (Hadar Goldin, awalnya diduga diculik) saat pasukan Israel masih terlibat aktivitas militer di Rafah sebelum gencatan senjata diberlakukan. Beberapa twit melaporkan adanya pertempuran di Rafah menjelang gencatan senjata. Hamas juga menewaskan dua tentara dalam serangan pengeboman bunuh diri. Pemimpin senior Hamas, Moussa Abu Marzouk, menuduh Israel mencari gara-gara untuk menggagalkan gencatan senjata Gaza. Ia juga mengatakan bahwa para pejuang Palestina menculik perwira tersebut dan membunuh dua tentara sebelum gencatan senjata dimulai, sedangkan Israel mengaku serangan terjadi pada pukul 9:20 pagi, tidak lama setelah gencatan senjata dimulai pukul 8:00.
  • 3 Agustus – IDF menarik sebagian besar pasukan daratnya dari Jalur Gaza setelah menyelesaikan penghancuran 32 terowongan yang diketahui dipakai oleh Hamas dan militan lain.
  • 5 Agustus – Gencatan senjata 72 jam dimulai setelah seluruh tentara Israel ditarik dari Jalur Gaza.

Dampak

Penduduk Palestina

Peta yang menampilkan lokasi kerusakan akibat rudal di Gaza Utara

Peta yang menampilkan lokasi kerusakan akibat rudal di Gaza Utara

Pada 20 Juli 2014, rumah sakit di Gaza tidak memadai dan menghadapi kelangkaan beberapa jenis obat-obatan, suplai medis, dan bahan bakar. Mesir untuk sementara membuka kembali perlintasan Rafah agar persediaan obat-obatan bisa diangkut ke Gaza dan korban cedera bisa dirawat di Mesir. Harga makanan, termasuk ikan dan hasil tani, naik drastis akibat operasi ini. Laporan berita tanggal 21 Juli menyatakan bahwa lebih dari 83.000 warga Palestina berlindung di fasilitas milik PBB.

Menurut United Nations’ Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA), pada 31 Juli 2014 di Jalur Gaza, lebih dari 250.000 warga Palestina kehilangan tempat tinggal, 236.375 di antaranya berlindung di 88 sekolah UNRWA (lebih dari 11 persen populasi Gaza). UNRWA telah mengerahkan segala kemampuannya untuk memfasilitasi para pengungsi, dan kepadatan pengungsi meningkatkan risiko terjadinya wabah. Seluruh penduduk Gaza sebanyak 1,8 juta jiwa terkena dampak pembatasan dan/atau berkurangnya persediaan air. 137 sekolah dan 24 fasilitas kesehatan rusak, 945 rumah (10.690 keluarga) hancur total atau rusak parah, dan rumah milik 5.435 keluarga rusak namun masih bisa ditinggali. Di seluruh Jalur Gaza, penduduknya hanya mendapat pasokan listrik selama tiga jam per hari. Penghancuran satu-satunya pembangkit listrik di Gaza sangat memengaruhi keadaan kesehatan masyarakat dan mengurangi layanan air dan sanitasi; rumah sakit semakin bergantung pada generator listrik.

OCHA memperkirakan bahwa sedikitnya 373.000 anak membutuhkan bantuan psikososial. “Kepadatan yang berlebihan, ditambah terbatasnya akses staf kemanusiaan ke tempat-tempat tertentu, terus mengurangi kualitas hidup di beberapa pengungsian dan meningkatkan kekhawatiran soal perlindungan. Suplai air belakangan ini lumayan menantang…” Lebih dari 485.000 pengungsi dalam negeri membutuhkan bantuan pangan darurat.

Penduduk Israel

Hamas dan kelompok Islamis lainnya di Gaza telah menembakkan roket dan mortar ke kota dan desa di Israel. Meski Israel menggunakan sistem pertahanan rudal Kubah Besi, sedikitnya 3 warga sipil tewas (satu warga Yahudi Israel, satu warga Arab Israel, dan satu pekerja Thai). Seorang remaja Israel cedera parah setelah roket menghantam kota Ashkelon. Para pekerja medis mengatakan bahwa remaja Israel yang rawan terkena gangguan jiwa terus menderita saat konflik jangka pendek maupun jangka panjang. Sejumlah pakar mengidentifikasi sejumlah gejala kesehatan jiwa yang muncul sepanjang konflik seperti kegelisahan, depresi, gangguan obsesif-kompulsif, sensitivitas interpersonal, fobia, dan paranoia. Banyak yang meragukan gejala kesehatan ini akan berkurang setelah konflik berakhir.

Mayoritas penduduk Arab Israel, sekitar dua puluh persen populasi Israel, berada di dalam jangkauan roket Hamas. Hal ini memicu kekhawatiran di kalangan warga Arab Israel setelah seorang Arab Israel tewas akibat serangan roket. Opini warga Arab Israel dalam konflik ini bercampur, ada yang menolak perang dan ada yang mendukung posisi Israel.

Saat operasi dimulai, pemerintah Israel membatalkan semua program 40 km (24 mil) dari Gaza, dan meminta agar semua orang tetap di dalam rumah atau dekat tempat berlindung. Seluruh kamp musim panas ditutup dan universitas membatalkan ujian akhirnya. Selain itu, penduduk dilarang membuat kerumunan sebanyak 300 orang atau lebih. Karena lintasan roket dari Gaza, banyak penerbangan ke dan dari Bandar Udara Ben-Gurion yang ditunda atau dialihkan.

Korban

Palestina

Jumlah korban tewas asal Palestina di Gaza dari berbagai sumber:

Sumber Total tewas Warga sipil tewas Kombatan tewas Tidak diketahui Data diperbarui
Kementerian Kesehatan Gaza 1.880 ~1.500 ~380 5 Agustus
Pusat Hak Asasi Manusia Palestina 1.938 1.626 312 5 Agustus
United Nations OCHA 1.717 1.176 198 343 3 Agustus
Intelligence and Terrorism Information Center 1.498 466 453 579 4 Agustus
Pasukan Pertahanan Israel 1.768 868 900 5 Agustus

 

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sejauh ini 1.880 warga Palestina tewas dan 9.400 lainnya luka-luka, 80% di antaranya adalah warga sipil. Menurut United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs, 1.717 warga Palestina tewas, 85% di antaranya adalah warga sipil.[13] Menurut data dari Kementerian Kesehatan Gaza, 79,7% warga Palestina yang tewas di Gaza berjenis kelamin pria, kebanyakan di antaranya berusia antara 16 dan 35 tahun.

Lebih dari 269.800 orang yang kehilangan tempat tinggal mengungsi di sekolah-sekolah UNRWA. 138 sekolah dan 26 fasilitas medis rusak. Selain itu, lebih dari 14.130 rumah hancur atau rusak akibat serangan udara.[13][137] IDF memperkirakan bahwa sekitar 30–40% roket yang disiimpan Hamas dan kelompok militan Palestina lainnya berhasil dimusnahkan.

Menurut Meir Amit Intelligence and Terrorism Center, per 4 Agustus 2014, 453 teroris, 466 warga sipil, dan 579 warga Palestina yang tak dikenal tewas di Gaza. Ketika pertempuran Israel–Gaza berlangsung, unjuk rasa solidaritas terjadi secara sporadis di Tepi Barat. Kekerasan selama unjuk rasa menewaskan 11 warga Palestina pada 22–26 Juli.

Pada tanggal 30 Juli, media Israel dan Palestina melaporkan bahwa 30 warga sipil dari berbagai daerah di Gaza dituduh bekerja sama dengan Israel dan langsung dieksekusi. Selain itu, sekitar 20 warga sipil dari Shejaia dikabarkan tewas saat unjuk rasa politik melawan Hamas; mereka menyalahkan Hamas atas kehancuran masif di permukiman mereka. Beberapa hari kemudian, Hamas kabarnya membunuh 2 warga Gaza dan melukai 10 lainnya setelah terjadi bentrokan gara-gara pembagian makanan.

Menurut sumber-sumber Israel dan Palestina, sebgian roket yang gagal luncur melukai dan menewaskan warga Palestina. Hamas membantah bahwa roketnya ada yang jatuh di Jalur Gaza.

Menurut wakil menteri luar negeri Israel, Tzachi Hanegbi, Israel memiliki bukti bahwa “sedikitnya 47% korban tewas adalah teroris beserta foto dan nama.”

Israel

Sejak konflik domulai, 64 tentara IDF tewas beserta dua warga sipil Israel dan seorang pekerja Thai. Satu orang juga meninggal dunia karena alasan kesehtan akibat konflik ini.

Serangan roket dari Gaza merusak infrastruktur sipil Israel, termasuk pabrik, SPBU, dan rumah. Menurut Magen David Adom, 123 orang luka-luka: 1 serius, 21 sedang sampai ringan, dan 101 akibat gelombang kejut.

Korban tewas pertama dari pihak sipil Israel terjadi di perlintasan perbatasan Erez ketika seorang rabbi Chabad yang sedang mengirimkan makanan dan minuman ke garis depan terkena serangan mortar. Warga sipil Israel kedua yang tewas adalah orang Bedouin berusia 32 tahun, Ouda Lafi al-Waj, yang terkena roket di Gurun Negev. Seorang pekerja migran Thai juga tewas akibat mortar saat bekerja di rumah kaca di Ashkelon Coast Regional Council. Selain itu, seorang manula di Wadi Nisnas jatuh dan meninggal akibat gagal jantung saat sirene serangan udara berlangsung.

IDF menyatakan bahwa per 3 Agustus, sekitar 2.800 roket telah ditembakkan ke Israel sejak operasi dimulai.

Klaim militer Hamas

Meski sejauh ini belum terbukti, Hamas melaporkan telah:

  • Menewaskan 150 tentara IDF
  • Menembak jatuh satu pesawat F16
  • Menangkap seorang tentara
  • Menerbangkan UAV di atas Tel Aviv dan mengambil foto markas IDF
  • Menghancurkan dua tank IDF

Reaksi

  •  PBB – Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-Moon mengutuk serangan roket dari Gaza terhadap Israel dan menghimbau kedua belah pihak yang berkonflik agar menghentikan agresi mereka.
  •  Uni Eropa – Duta besar Uni Eropa untuk Israel, Lars Faaborg-Andersen, mengungkapkan bahwa “penembakan roket terhadap warga sipil bukanlah tindakan yang sah, tak peduli apapun alasannya”.
  •  Liga Arab – Perwakilan Liga Arab mengutuk serangan udara Israel terhadap Gaza dan meminta Dewan Keamanan PBB untuk menggelar pertemuan darurat dalam rangka menanggapi situasi terkini.
  •  Amerika Serikat – Presiden Obama menghimbau kepada kedua belah pihak agar menahan diri. Ia menegaskan bahwa satu-satunya cara untuk mewujudkan perdamaian bukanlah melalui pertempuran, tetapi melalui perundingan dan saling memahami.[160] Juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest, menyatakan “Tidak ada negara yang dapat menerima serangan roket yang ditujukan kepada warga sipil, dan kami mendukung hak Israel untuk mempertahankan diri dari serangan-serangan keji”.
  •  Perancis – Menteri Luar Negeri Perancis menghimbau agar Israel dan Palestina saling menahan diri.

Media sosial

Delapan hari setelah dimulainya Operasi Perlindungan Perbatasan, tagar #GazaUnderAttack telah dikirimkan lebih dari 375.000 kali di Twitter. Seringkali tagar tersebut disertai dengan sebuah foto yang diklaim sebagai korban serangan Israel. Namun, BBC membuktikan bahwa foto-foto tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan konflik yang terjadi. Beberapa foto merupakan foto-foto lama dari tahun 2009, dan yang lainnya berasal dari foto konflik Suriah dan Irak.

Sebuah laporan palsu beredar di media sosial dan SMS, menyatakan bahwa “sebuah roket dari Gaza telah menghantam pabrik petrokimia di Haifa, kebakaran besar, kemungkinan telah terjadi kebocoran bahan kimia, dan pemerintah disarankan untuk mengevakuasi Haifa”. Laporan ini mengutip Haaretz sebagai sumbernya, tetapi ternyata palsu. Tidak ada insiden semacam itu yang terjadi, dan Haaretz menyangkal kabar tersebut.

-wiki-

Iklan

Satu pemikiran pada “Konflik Israel–Gaza 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s