Oentoeng itoe bahagian orang jang gagah berani adanja.

Bab Jang Ketiga BelasPeri meriwajatkan Passepartout memboektikan sekali lagi, bahwa oentoeng itoe bahagian orang jang gagah berani adanja.

Niat akan menolong perempoean itoe dari pada bahaja mati, seper­ti dimaksoed oléh Fogg itoe, sesoenggoehnja amat mengoeatirkan kepada si penolong sendiri dan banjaklah hal-hal jang akan mengalanginja ; barangkali maksoed jang sematjam itoe ta’ akan boléh dilakoekannja. Akan tetapi Phileas Fogg berniat hendak memeliharakan njawa orang lain itoe dengan tiada mengingat akan bahaja jang boléh menéwaskan djiwanja; apabila malang nasibnja, tentoelah ia akan djadi orang tawanan, dan ta’ boléh melakoekan maksoednja jang pertama dan kalahlah pertaroehannja. Tetapi bagaimana djoega matjam rintangan jang akan didapatnja, tiada ia merasa koeatir. Lain dari pada itoe Fogg boléh harap dapat pertolongan dari teman perdjalanannja, jaïtoe dari pada Francis Cromarty, karena soenggoehlah djenderal itoe boekan seorang penakoet, sedang Passepartoutpoen senantiasa boléh diharapnja akan membantoenja dengan sempoerna. Maka maksoed toeannja itoe disamboet oléh Passepartout dengan ‘adjaib bertjampoer dengan kegirangan. Setelah Passepartout mendengar maksoed toeannja itoe, maka pertjajalah ia bahwa toeannja itoelah hanja orang jang ta’ soeka pedoelikan barang apapoen diloear keperloean dirinja, akan tetapi sesoenggoehnja ia itoelah seorang jang berhati moelia. Maka dari sebab itoe Passepartout moelaïlah merasa tjinta kepada toeannja itoe. Akan tetapi betapa orang Parsi pawang gadjah itoe akan menjamboet maksoed Phileas Fogg, itoelah beloem dapat dipikirkan oléh Phileas Fogg; itoepoen ingin djoega ia hendak mengetahoeinja. Apabila ia ta’ soeka membantoe ta’ akan menolong bangsa sendirilah ia, sama-sama bangsa Hindoe ? Djenderal Francis laloe bertanjakan hal itoe kepada Parsi dengan seterang-terangnja.

Djawab pawang gadjah: „Toean djenderal, hamba ini seorang Parsi, perempoean jang hendak ditolongpoen bangsa Parsi djoega. Djadi toean-toean boléh pertjaja sadja, bahwa hambapoen akan toeroet membantoe djoega seboléh-boléhnja.

Phileas Fogg menjamboeng, oedjarnja: „Baiklah, djikalau demikian.”

Orang Parsi itoe berkata poela, oedjarnja: tetapi hamba harap toean-toean tahoe, bahwa ichtiar jang akan kita lakoekan itoe tiada hanja membahajakan njawa kita sahadja, tetapi sebagaimana toean-toean ma`loem, kita boléh mendapat siksaan jang amat sangat dari pada meréka sampai maoet kita, jaïtoe apabila oentoeng kita sial hingga kita tertangkap oléh meréka itoe. Maka dari sebab itoe hamba mohon kepada toean-toean, soekalah kiranja menimbang, benar dahoeloe, sebeloem kita lakoekan maksoed kita itoe.”

Djawab Phileas Fogg: „Kamipoen telah memikirkan habis-habis akan hal itoe. Pada pikirankoe haroeslah kita nantikan sampai hari djaoeh malam dahoeloe, baroe kita lakoekan apa-apa moeslihat dan daja oepaja kita akan menjampaikan maksoed kita itoe.”

Kata pawang gadjah: „Demikian djoega pikiran hamba.”

Orang Parsipoen bertjeriteralah pandjang lébar akan hal ihwalnja perempoean jang akan dikoerbankan dalam api itoe. Perempoean itoe ialah bangsa Parsi jang telah masjhoer amat tjantik parasnja. Bapa perempoean itoe seorang saudagar Parsi di Bombay dan ia dididik tjara Éropah oléh seorang-orang Inggeris. Apabila hanja ditilik pengetahoeannja dan ‘adat isti’adatnja, maka sesoenggoehnja banjaklah orang menjangka, babwa perempoean itoe perempoean Éropah. Namanja Aouda dan orang toeanja telah meninggal tatkala ia lagi kanak-kanak; kemoedian ia didjadikan isteri oléh radja di Bundelkund jang soedah toea. Maka tiga boelan sesoedah kawin, radjapoen poelang kerahmatoellah. Sebab ia tahoe apa jang akan terdjadi atas dirinja menoeroet `adat dan isti`adat di Bundelkund, Aoudapoen melarikan dirinja; akan tetapi malang padanja ia segera dapat ditangkap, kemoedian oléh ahli waris radja jang meninggal itoe, Aoudapoen ditentoekan hoekoemannja, jaïtoe dikoerbankan dalam api bersama-sama dengan majat soeaminja.

Tjeritera orang Parsi itoe sangat menjedihkan dan memberi hati kasihan kepada si pendengar; akan tetapi perasaan itoe mengoeatkan dan menetapkan maksoed Fogg dengan teman-temannja akan meloepoetkan perempoean itoe dari pada bahaja mati itoe. Meréka keempat itoe laloe bermoepakat, maka kesoedahan permoesjawaratan orang Parsi itoelah jang akan menoendjoekkan djalan menoedjoe keroemah berhala di Pillaji, dan Fogg dengan teman-temannja menghampiri roemah berhala itoe sedekat-dekatnja. Setelah berdjalan setengah djam lamanja, maka meréka keempat itoe sampailah kedalam seboeah rimba jang lebat, jang kira-kira lima ratoes langkah djaoehnja dari roemah berhala jang ditoedjoei itoe. Roemah berhala itoe ta’ tampak dari tempat itoe, akan tetapi soeara orang-orang ‘alim bangsa Hindoe jang ramai-ramai berzikir itoe terdengarlah seterang-terangnja.

Kemoedian keempat orang itoepoen bermoesjawaratlah, betapa `akal hendak mendekati perempoean jang hendak ditolong itoe. Pawang gadjah telah mengetahoei akan keadaan roemah berhala di Pillaji itoe, pada sangkanja disitoelah perempoean itoe akan ditoetoep. Tetapi ia ta’ tahoe, boléhkah dimasoeki salah seboeah dari pada pintoe jang didjaga oléh sekalian pengiring jang telah setengah maboek tidoer itoe. Mana jang baik: berdjalan dari pintoe atau dengan memetjahkan dinding roemah berhala itoekah; itoepoen meréka beloem dapat mempersaksikan dengan tetap. Segala pertanjaan-pertanjaan itoe hanjalah boléh didjawab dengan sempoerna, apabila orang soedah sampai keroemah tempat berhala itoe. Tetapi bagaimana djoega kesoesahan jang akan didapat meréka itoe, Fogg dengan teman-temannja tetap djoega maksoednja akan menolong perempoean itoe pada malam itoe djoega.

Kemoedian keempat meréka itoe bernantilah sampai hari malam. Setelah matahari terbenam, jaïtoe kira-kira djam poekoel enam, maka keempat orang itoe berdjalan mengawasi tempat kiri kanan roemah berhala itoe, hendak mengetahoei dimana djalan jang moedah. Lama kelamaan soeara fakir jang berzikir itoe berhéntilah. Seperti kebiasaannja, maka meréka itoe maboeklah karena asap tjandoe dan asap gandja, maka keempat meréka itoe berpikirlah kalau-kalau boléh berdjalan dengan hati-hati seolah-olah pentjoeri diantara meréka jang maboek itoe, sehingga dapat masoek kedalam roemah berhala itoe.

Maka orang Parsi pawang gadjah itoepoen berdjalanlah didalam hoetan diikoet oléh Fogg dengan teman-temannja. Setelah sepoeloeh menit lamanja meréka merangkak diantara dahan-dahan kajoe, maka sampailah ketepi sebatang soengai ketjil; dari sana oléh tjahaja soeloeh jang dipasang diatas sebatang kaki besi, tampaklah kepada meréka itoe satoe tamboenan tinggi kajoe api. Disitoelah tempat pembakar májat; maka kajoe api pembakarnja ialah kajoe tjendana, jang disiram dengan bermatjam-matjam minjak wangi jang terlampau haroem baoenja. Diatas pantjaka (tamboenan kajoe tjendana) itoe diletakkan majat, radja jang hendak dibakar bersama-sama dengan isterinja itoe. Maka seratoes langkah dari tempat pembakaran itoe adalah roemah berhala dengan beberapa menaranja jang tinggi melebihi poentjak pohon-pohon kajoe kiri kanannja.

Sambil berbisik-bisik pawang gadjah itoe berkata kepada ketiga orang temannja, katanja „Itoelah sahadja.”

Maka dengan sangat berhati-hati; pawang gadjahpoen berdjalan diroempoet-roempoetan jang tinggi menoeroet sisi soengai diikoet oléh ketiga temannja. Lain dari pada boenji angin jang menggerakkan daoen-daoenan, ta’ ada jang lain kedengaran. Sekonjong-konjong pawang gadjah berhentilah pada soeatoe tempat dalam hoetan jang ta’ ada bertoemboeh-toemboehan dan terang karena dahan-dahan jang dibakar itoe. Maka kelihatan oléh keempat meréka itoe beberapa orang tidoer telentang ditanah sebab maboek. Dari banjaknja orang tidoer, adalah tempat itoe seolah-olah médan peperangan bertaboerkan bangkai orang-orang jang mati dalam perang. Laki-laki, perempoean dan kanak-kanak tidoerlah bertjampoer gaoel, sedang ta’ berapa djaoeh dari sitoe terdengarlah béberapa orang maboek mendengkoer.

Ta’ djaoeh dari sitoe kelihatanlah roemah berhala tersemboenji diantara pohon-pohonan. Tetapi merasa sajanglah meréka keempat itoe dengan tiada hingganja, karena dilihatnja dalam tjahaja api itoe adalah beberapa orang pendjaga majat radja berdiri didepan roemah berhala itoe sembil memegang pedang. Kalau begitoe tentoelah ‘oelama-‘oelama dalam roemah berhala itoe beloem tidoer lagi.

Maka pawang gadjah ta’ berani teroes mendekati roemah berhala itoe.

Ia mengerti bahasa ta’ tjakap lagi akan mendekati pintoe roemah berhala itoe, sebab itoe ia kembali bersama-sama temannja kedalam hoetan. Phileas Fogg dan Francis Cromartypoen mengiralah bahasa dari sebelah pihak meréka itoe ta’ boléh melakoekan oesaha apa-apa djoeapoen. Akan tetapi meréka keempat itoe sedikitpoen ta’ poetoes pengharapannja, kemoedian bermoesjawaratlah meréka poela sambil berbisik-bisik.

Kata djenderal Francis : „Marilah kita bernanti sadja dahoeloe, sekarang baroe poekoel delapan, barangkali pendjaga-pendjaga itoe akan tertidoer djoega nanti.”

Kata pawang gadjah poela: „Ja benar, toean, lebih baiklah begitoe.”

Habis itoe Phileas Fogg dengan teman-temannja bernantilah, menantikan waktoe jang baik, sambil berbaring dibawah sebatang pohon kajoe. Maka lamalah rasanja ia menantikan waktoe itoe. Sebentar-sebentar pawang gadjah meninggalkan teman-temannja akan melihat keadaan dekat roemah berhala itoe. Akan tetapi pendjaga-pendjaga majat radja itoepoen kelihatan beloem djoega tidoer, maka dari dalam roemah berhala itoe kelihatanlah tjahaja api keloear dari loebang-loebang dinding. Maka hingga tengah malamlah meréka keempat itoe bernanti.

Didepan roemah berhala itoe pendjaga-pendjaga itoe masih djoega ada. Fogg dengan teman-temannja mengira, bahwa, pendjaga-pendjaga itoe ta’ akan tidoer. Barangkali meréka dilarang mengisap madat. Sebab itoe ditjarinjalah daja oepaja lain akan masoek kedalam roemah berhala itoe dengan memboeat loebang pada dinding sebelah belakang. Tetapi takoet kalau-kalau ‘oelama-‘oelama dalam roemah berhala itoe beloem tidoer djoega seperti pendjaganja.

Setelah bermoesjawarat sebentar, maka pawang gadjah pergi poela. Fogg, djenderal Francis dan Passepartout mengikoet akan dia. Meréka itoe berdjalanlah keliling, ta’ kelihatan oléh pendjaga-pendjaga, akan mendekati roemah berhala dari belakang. Djam poekoel setengah satoe sampailah meréka ketempat jang ditoedjoe dengan tiada diketahoei seorang pendjaga djoeapoen. Dibelakang roemah berhala itoe seorangpoen tiada ada kelihatan ; sesoenggoehnja mémang ta’ perloe, karena disitoe ta’ ada pintoe atau djendélanja. Waktoe itoe malampoen amat gelapnja. Pohon kajoe, jang besar-besar menambah gelap goelita djoega.

Tetapi sesoenggoehnja sampai dibelakang roemah berhala itoe sekalipoen beloem dapat akan menjampaikan maksoed itoe; pada dinding roemah jang didjaga itoe hendaklah diboeat loebang. Akan tetapi Fogg dengan teman-temannja hanja ada membawa pisau ketjil dalam kotjék meréka itoe. Oentoenglah dinding roemah berhala itoe hanja batoe dengan kajoe sahadja, djadi ta’ soesah memboeat loebang dengan pisau itoe. Setelah seboeah batoe terbongkar, maka moedahlah mengangkat batoe-batoe jang lain. Dalam pekerdjaan itoe sedikitpoen ta’ kedengaran soeara meréka. Pawang gadjah membongkar batoe dari sebelah dan Passepartout dari pihak jang lain ; tiada berapa lamanja djadilah loebang ketjil jang lébarnja doea kaki. Tatkala pekerdjaan keempat orang itoe hampir selesai, sekonjong-konjong terdengarlah seorang moelaï berzikir lagi, laloe jang lain toeroet berzikir poela, ramai-ramai.

Passepartout dan Parsipoen berhentilah membongkar batoe itoe. Tahoekah orang perboeatan Fogg dengan teman-temannja itoe? Apakah maksoed orang berteriak zikir itoe? Meréka keempat itoepoen pergilah dengan perlahan-lahan dari tempat itoe, karena takoet kalau-kalan ketahoean, keempatnja menjemboenjikan diri poela dalam hoetan, sambil menoenggoe hingga orang-orang itoe berhenti zikir, soepaja Fogg dengan teman-temannja boléh meneroeskan pekerdjaan itoe lagi. Tetapi apa tjelaka sebahagian dari pendjaga-pendjaga itoe berdjalan keliling roemah berhala itoe dan berdiri mendjaga dibelakang roemah berhala itoe. Akan kembali poela meneroeskan pekerdjaan itoe Fogg dan teman-temannja ta’ boléh lagi.

Sajang betoel segala ichtiar dan oesaha keempat meréka akan menolong djiwa perempoean itoe sia-sia belaka. Fogg dan teman, temannja ta’ dapat lagi mendekati perempoean jang hendak ditolong itoe. Djenderal Francis amat marah dalam hatinja demikian djoega Passepartout. Maka dengan soesahlah pawang gadjah menjabarkan hati kedoea orang itoe dari pada amarahnja, Fogglah jang tetap sabar dan tiada sedikitpoen memperlihatkan perasaan hatinja.

Djenderal berkata: „Djikalau demikian sia-sialah oesaha kita ini akan menolong perempoean itoe.”

Pawang gadjah menjamboeng, oedjarnja: „Ja toean djenderal’ bagaimana lagi, segala ichtiarpoen telah kita lakoekan.”

Kata Phileas Fogg: „Baiklah kita nantikan lagi, sajapoen masih ada témpoh asal boléh sampai ésok hari poekoel doea belas di Allahabad.”

Djenderal Francis mendjawab: ,,Toean Fogg ada pengharapan apa lagi ? Beberapa djam lagi matahari terbitlah, kemoedian . . . .”

Kata Fogg : „Benar sekarang kita sial belaka, tetapi boléh djadi pada waktoe jang achir oesaha kita akan berhasil.”

Djenderal Francis Cromarty memandang moeka Phileas Fogg, seperti hendak mengetahoei apa lagi jang dipikirkannja dalam hatinja. Djenderal itoe sekali-kali ta’ mengerti, apakah jang boléh menjebabkan Phileas Fogg masih djoega pandjang pengharapannja. Barangkali Fogg bermaksoed hendak memerang dan mereboet perempoean itoe dari tangan meréka jang chianat itoe, apabila perempoean itoe telah dibawa ketempat pembakaran? Itoelah matjam pekerti orang gila benar-benar. Tetapi Fogg soenggoeh ta’ berapa bédanja dengan orang gila jang akan berani melakoekan perboeatan jang sedemikian itoe. Akan tetapi bagaimana djoega pikiran Francis Cromarty atas perangai Fogg, ia menoeroet djoega maksoed Phileas Fogg akan menanti waktoe jang penghabisan. Pawang gadjah merasa koeatir, tinggal ditempat meréka bersemboenji itoe, laloe dibawanja Fogg dengan temannja kepada soeatoe tempat dalam hoetan jang ta’ djaoeh dari roemah berhala jang terboeka itoe. Maka tempat jang baharoe itoe tertoetoeplah oléh daoen-daoen pokok kajoe jang besar-besar, dari sitoe tampaklah orang, jang tidoer pada segenap tempat oléh terang tjahaja beberapa soeloeh jang dipasang.

Passepartout doedoeklah diatas tjabang kajoe jang amat rendah sambil berpikir-pikir akan melakoekan soeatoe `akal jang telah timboel dalam hatinja dan selaloe menggoda pikirannja itoe. Moela-moela Passepartout merasa, bahwa maksoed jang hendak dilakoekannja itoe ta’ kan boléh terdjadi; kemoedian ia berpikir: „Mengapatah ta’ kan ditjoba, bagaimana djoega besar alangannja. Siapa tahoe, kalau-kalau itoelah sebab jang boléh menjampaikan maksoed; péndéknja ichtiar lain ta’ ada, lagi poela orang jang hendak membakar majat radja dengan isterinja itoe boekannja bangsa jang tjerdik . . . . .”

Passepartout tiada maoe menerangkan maksoednja itoe kepada teman-temannja, kemoedian toeroenlah ia dari pohon kajoe jang dahan-dahannja mendjoeloer sampai ketanah.

Beberapa djam lamanja tampaklah tanah mendjadi terang, ‘alamat matahari akan terbit. Tetapi sekeliling tempat Fogg bersemboenji dengan teman-temannja itoe masih gelap belaka. Meréka jang tidoer itoe moelaïlah bangoen. Kemoedian kelihatanlah meréka itoe moelaï bergerak kesana kemari. Setelah itoe diboenjikannjalah gendang dan orangpoen moelaïlah zikir. Ta’ lama kemoedian datanglah sa’atnja isteri radja akan dibakar. Pintoe roemah berhala (koeil) itoe diboekakan oranglah. Tjahaja apipoen keloearlah dari pintoe seterang-terangnja. Fogg dengan Cromarty dapat melihat perempoean jang hendak dikoerbankan itoe dengan seterang-terangnja karena tjahaja itoe; doea orang `oelama menarik perempoean itoe keloear. Maka tampaklah kepada kedoea toean itoe, bahasa perempoean itoe telah mendjadi sadar dari pada pingsannja, karena ingat kepada kematiannja jang soedah hampir itoe ; kemoedian perempoean itoe mempergoenakan tangannja saboléh-boléhnja, hendak melepaskan dan melarikan dirinja dari pada bahaja itoe. Maka hati djenderal Cromarty tiadalah tertahan amarahnja, dengan tangan jang amat gementar ditjapai dan dipegangnjalah tangan-Phileas Fogg; maka djenderal itoe merasa bahwa Fogg itoe menggenggam seboeah pisau.

Pada sa’at itoe meréka jang hendak membakar majat radja-poen berdjalanlah bersama-sama ketempat pembakaran. Perempoean jang hendak dikoerbankan itoe djatoehlah pingsan poela, karena asap gandja jang dibakar. Iapoen diangkat oléh beberapa orang melaloei fakir-fakir jang sedang zikir itoe. Phileas Fogg dengan teman-temannja berdjalanlah meneroeskan perdjalanannja.

Setelah doea menit lamanja berdjalan itoe, sampailah meréka disisi sebatang soengai dan berhentilah disitoe, kira-kira lima poeloeh langkah djaoehnja dari tempat pembakaran majat radja itoe. Dari djaoeh tampaklah toeboeh perempoean jang pingsan itoe diletakkan dekat majat radja diatas pantjaka.

Seorang ‘oelama membawa soeloeh mendekati tempat pembakaran itoe, laloe ditoentoennjalah tamboenan kajoe jang berminjak itoe, maka dengan sekedjap mata apipoen menjala sebesar-besarnja.

Pada waktoe itoe djenderal Cromarty dan orang Parsi itoepoen memegang Phileas Fogg bersama-sama jang bermaksoed dengan beraninja hendak menjerang api akan mereboet perempoean jang dikoerbankan itoe.

Dengan sekoeat-koeatnja Phileas Fogg melepaskan dirinja dari tangan kedoea orang jang memegangnja itoe, tetapi pada waktoe itoe djoega terlihatlah oléh meréka ketiganja soeatoe kedjadian jang ‘adjaib diatas tempat pembakaran itoe. Sekalian orang terperandjatlah sambil berteriak melihat keadaan itoe. Sekalian pengiring radja itoepoen merebahkan dirilah ketanah seperti orang jang ketakoetan dan héran lakoenja.

Maka tampaklah kepada seseorang, bahwa majat radja itoe berbangkit roepanja! Terlihat djoega radja memeloek isterinja jang pingsan itoe, kemoedian diangkatnja dan dibawanja keloear dari tempat pembakaran itoe. Sebentar antaranja lenjaplah radja dan perempoean itoe dari pada api jang menjala dan asapnja itoe.

Fakir-fakir, pendjaga-pendjaga dan ‘oelama-‘oelama sekaliannja amatlah takoetnja melihat keadaan jang ‘adjaib itoe, maka meréka ta’ berani mengangkat moeka dari tanah dan memandang lebih lama akan kedjadian itoe. Jang mengangkat toeboeh perempoean itoe amat besar tenaganja dan seolah-olah ta’ berasa berat pada tangannja akan orang jang diangkatnja itoe. Fogg dengan djenderal Francispoen diam sambil berdiri. Pawang gadjah menoendoekkan kepalanja sebab amat hérannja dan takoetnja.

Radja jang hidoep lagi itoe menoedjoe ketempat Fogg dan Cromarty, seraja katanja: „Ajoeh toean-toean, lekas berdjalan!”

Adapoen sesoenggoehnja boekan majat radja jang hidoep poela, akan tetapi Passepartoutlah jang naik keatas pembakaran dan mereboet djiwa perempoean itoe dari bahaja maoet.

Dengan sekedjap mata Phileas Fogg dan teman-temannja lenjaplah masoek kedalam hoetan, sehingga meréka tergopoh-gopoh mengendaraï gadjahnja dan lari sekoeat-koeatnja. Kemoedian terdengarlah teriak orang sebagai tanda bahasa kelakoean keempat orang itoe telah diketahoei oléh pengiring-pengiring majat radja, dan sesa’at itoe djoega tibalah seboetir peloeroe menemboes topi Phileas Fogg. Akan majat radja itoe masih djoega terletak diatas pantjaka dan ‘oelama-‘oelama itoepoen mengertilah, bahwa perempoean jang hendak dikoerbankan itoe dilarikan oléh beberapa orang penjamoen. Meréka dan pendjaga-pendjaga mengedjarlah keempat orang penjamoen itoe dan ditémbakinja dengan senapang dan panah, tetapi gadjah itoe lari dengan amat kentjang dan sebentar antaranja lenjaplah penjamoen-penjamoen itoe dari mata orang banjak itoe.

←Bab XII                                                                      Bab XIV→
Iklan

Satu pemikiran pada “Oentoeng itoe bahagian orang jang gagah berani adanja.

  1. Ping balik: Mengelilingi Dunia Dalam 80 Hari | Aneka Berita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s