kapitan kapal „Tankadère” hampir-hampir tiada mendapat hadiah doea ratoes pond banjaknja.

Mengelilingi Doenia Dalam 80 Hari

Bab Jang Kedoea Poeloeh Satoe

Peri meriwajatkan kapitan kapal „Tankadère” hampir-hampir tiada mendapat hadiah doea ratoes pond banjaknja. 

Bahwa sesoenggojehnja amat mengoeatirkanlah pelajaran jang djaoehnja delapan ratoes mijl itoe dengan kapal jang besarnja doea poeloeh ton, apalagi dalam moesim jang koerang baik poela. Laoetan Tjina itoe besar gelombangnja, lagi angin topanpoen bertioeplah, lebih-lebih pada waktoe moesim koerang baik, jang kira-kira dalam boelan November.

Bagi jang empoenja kapal akan lebih beroentoenglah ia berlajar ke Jokohama, karena bajarannja dihitoeng menoeroet hari. Akan tetapi pelajaran itoe tiada dilakoekan, karena lebih-lebih lagi mengoeatirkan; berlajar ke Sanghai sahadja soedah boléh dika­takan terpaksa. Tetapi John Bunsby jakin atas kekentjangan kapalnja jang boléh diharapnja akan melandjoetkan pelajarannja dengan selamat.

Beberapa djam sedjak moelaï berangkat, maka kapal „Tan­kadère” tiada mendapat alangan soeatoe apapoen dalam teloek Hongkong, meski bagaimana djoega angin bertioep.

Ketika kapal sampai dilaoetan besar, maka kata Phileas Fogg kepada John Bunsby : „Djoeroemoedi, saja rasa ta’ perloe lagi kami minta kepadamoe, akan membawa kami setjepat-tjepatnja ketempat jang kami kehendaki, boekan?”

Maka djawab John Bunsby : „Toean pertjaja sahadja kepada saja. Lajar-lajar ta’ koerang, kita boléh memakai sebanjak-banjaknja.” Kemoedian kata Fogg : „Baiklah!”

Maka Phileas Fogg melihat kelaoet jang besar-besar gelom­bangnja itoe, sambil tegak berdiri sebagai seorang matros. Aouda jang doedoek diboeritan kapal, merasa doekatjita karena melihat gelombang besar-besar jang selaloe memoekoel kapalnja.

Maka kelihatanlah lajar ditioep angin sekoeat-koeatnja, dan kapalpoen seolah-olah terbanglah.

Maka haripoen malamlah, dan kelihatanlah boelan masih ketjil, jang tiada berapa lamanja lenjaplah dari pemandangan. Awan­-awan datanglah dari timoer menoetoep lapgit sebahagian besar.

Djoeroemoedi menjediakan lentéra-lentéra, jang biasa dipakai akan memberi tanda-tanda kepada kapal lain dilaoetan jang amat ramai dilajari itoe, lebih-lebih dekai pantai lentéra-lentéra itoe ta’ bola diloepakan.

Atjap kali terdjadi kapal-kapal berlanggar; maka apabila kapal „Tankadère” jang sekian tjepatnja berlanggar dengan kapal besar, nistjaja hantjoerlah kapal jang ketjil itoe.

Maka Fix pergilah kehaloean kapal. Akan tetapi ia tiada men­dekati Fogg, karena ia tahoe bahwa Fogg seorang pendiam. Lagi poela Fix ta’ soeka bertjakap-tjakap dengan dia, karena ia ingat akan kedjadian kemoedian hari. Maka Fix pertjaja, ta’ akan lama tinggal di Jokohama, melainkan dengan selekas-lekasnja akan berlajar teroes ke San-Francisco, karena ditanah Amérika jang amat loeas itoe si chianat akan boléh melenjapkan diri dengan selamatnja. Mémang bagoes `akal si pendjahat tjerdik itoe.

„Seorang pendjahat biasa tentoelah pergi dari negeri Inggeris ke Amérika dengan mengambil djalan ‘oemoem jang terpéndék, tetapi Phileas Fogg tiada demikian halnja, ia datang ke Amérika mengelilingi tiga perempat doenia, dengan maksoed akan mem­perdajakan polisi, kemoedian di Amérika ia hidoep senang dengan wang banjak jang ditjoerinja itoe. Apatah jang haroes dilakoekan oléh Fix, apabila ia sampai di Amérika? Hendak dilepaskan sahadjakah Fogg itoe? Sekali-kali tiada! Fix ta’ kan bertjerai sedjaripoen dengan Fogg, apabila beloem diterimanja soerat pe­rintah akan menangkap si chianat itoe. Fix merasa beroentoeng, karena Passepartout telah terpisah dari pada toeannja. Ia pertjaja bahasa boedak itoe tiada akan mentjahari toeannja lagi, setelah ia mendengar riwajat Fix tentang maksoed jang sebe­narnja, jaïtoe senantiasa mengikoet perdjalanan Fogg.

Phileas Fogg kerap kali memikirkan hal Passepartout jang hilang dengan `adjaib itoe. Kesoedahannja terpikir oléhnja, boléh djadi oléh karena sesoeatoe hal jang beloem diketahoei, Passepartout telah menoempang kapal „Carnatic” dengan tiada memberi tahoe kepada toeannja. Demikian djoega pikiran njonja Aouda jang sangat sajang kepada boedak jang soetji hati lagi banjak djasa kepadanja itoe. Kedoeanja berharap boléh berdjoempa poela dengan Passepartout di Jokohama; kalau boedak itoe soenggoeh telah sampai disana, moedahlah akan mentjaharinja.

Kira-kira djam poekoel sepoeloeh, angin moelaï bertioep. Barang­kali lebih baik apabila lajar digoeloengkan, akan tetapi setelah djoeroemoedi melihat beberapa lamanja arah kelangit, maka dibiarkannja sahadja lajar-lajar sebagaimana adanja. Segala hal dan peratoeran dalam kapal „Tankandère” itoe didjalankan dengan baik dan moedah dioebah pada waktoe perloenja.

Tengah malam Fogg dan Aouda masoek kedalam koeroeng. Fix telah mendahoeloei meréka itoe, tidoer terlentang diatas seboeah bangkoe. Akan tetapi djoeroemoedi dengan anak boeahnja siboek bekerdja semalam-malaman itoe.

Pada keésokan harinja, tanggal 8 November, waktoe matahari terbit, kapal „Tankadère” telah berlajar seratoes mijl djaoehnja.

Maka loglijn (perkakas akan mengetahoei kentjang perdjalanan kapal) dilémparkan sebentar-sebentar kelaoet, maka diketahoeilah kentjang perdjalanan waktoe itoe antara delapan dan sembilan mijl. Kapal „Tankadère” itoe lajarnja besar-besar djoega; sebab angin menioep lajar-lajar terlaloe koeat, perdjalanan kapal itoe bertambah kentjangnja. Apabila arah angin ta’ beroebah, boléhlah diharap meréka akan sampai pada waktoe jang dikehendaki.

Pada hari itoe kapal „Tankadère” djalannja ta’ djaoeh dari pantai, sedang air laoetpoen seolah-olah mengalir menolong perdjalanannja. Lain dari pada itoe angin datangnja djoega dari darat, dan airpoen ta’ deras mengalirnja, itoelah soeatoe keoentoengan bagi seboeah kapal ketjil sebagai „Tankadére” itoe, karena kapal-kapal ketjil kebanjakan amat terganggoe oléh gelombang jang besar-besar.

Petangnja berhentilah angin jang membélok arah kebarat daja. Kapitan kapal menjoeroeh membabar seboeah lajar ditengah kapal, tetapi doea djam antaranja, lajar itoe ditoeroenkanlah poela, karena sekonjong-konjong anginpoen bertioep lagi.

Fogg dan Aouda beroentoenglah tiada maboek laoet, kedoeanja merasa énak makan beskoeit kapal dan makanan lain-lain jang disimpan.

Fix diadjak djoega makan bersama-sama, iapoen menoeroet permintaan kedoea orang itoe, karena pada pikirannja manoe­siapoen ta’ berbéda dengan kapal: kapal mengambil moeatan, orangpoen haroes makan; akan tetapi sebenarnja ia merasa koerang soeka mengaboelkan permintaan itoe. Berlajar dengan belandja si chianat, ikoet makan-makan si doerhaka, itoelah amat hina rasanja. Tetapi ia terpaksalah toeroet makan; meski ta’ banjak, iapoen makan djoegalah!

Setelah selesai makan, maka Fix berpikir: seharoesnjalah ia baik bertjakap-tjakap sekadarnja dengan Fogg, laloe katanja : „Toean . . . . . .” Hampir-hampir perkataan „toean” itoe ta’ maoe keloear dari moeloetnja; seorang pendjahat ta’ haroes diseboet „toean”, lagi poela seorang pentjoeri jang diharapnja lekas akan boléh ditangkap.

„. . . . . . .Boedi toean amat baik, karena mengadjak saja menoempang dalam kapal ini. Akan tetapi meski bekalkoe tiada sebanjak bekal toean, sajapoen hendak ikoet djoega sedikit . . . . . .”

Beloem habis Fix berkata itoe, Foggpoen menjamboeng, oedjarnja: „Hal itoe ta’ oesah kita tjakapkan, toean Fix.”

Maka djawab Fix: „Tiada, toean, saja mohon dengan sangat, soeka apalah kiranja toean mengabarkan hárganja . . . . . . . . . .”

Maka dengan tetap dan seolah-olah ta’ boléh menjangkal lagi, Fogg mendjawab: „Tidak, toean, itoe semoeanja telah masoek belandja bagi pelajarankoe jang soedah tentoe.”

Fix laloe pergi; hampir-hampir poetoeslah napasnja, kemoedian berdirilah ia, laloe bersandar dipagar besi sebelah boeritan kapal, poera-poera melihat air laoet; sepandjang hari Fix ta’ berkata sepatahpoen.

Perdjalanan kapal amat kentjangnja, John Bunsbypoen besarlah harapan akan sampai barang apa maksoednja. Atjap kali ia ber­kata kepada Fogg, bahasa ia harap akan boléh sampai di Sanghai dalam waktoe jang dikehendakinja. Fogg mendjawab, bahwa ia sangat mengharap itoe djoega. Sekalian anak boeah kapal „Tan­kadère” mempergoenakan tenaganja seboléh-boléhnja. Hadiah jang didjandjikan oléh Fogg itoe amat keras membangoenkan nafsoe bekerdja anak kapal itoe. Tali-temali semoea ta’ ada jang kendoer, ta’ ada seboeahpoen lajar jang terlipat, kemoedi dioesahakan benar-benar.

Ketika matahari terbenam, maka oléh John Bunsby dilihatlah dengan perkakas, berapa djaoehnja meréka telah berlajar, ter­dapatlah doea ratoes doeapoeloeh mijl dari pelaboehan Hongkong; maka Phileas Fogg besarlah pengharapannja tiada akan léwat masa sampai di Jokohama. Djadi alangan jang terdapat pertama kali itoe, semendjak ia meninggalkan London, moedah-moedahan tiada akan mendatangkan keroegian soeatoe djoeapoen bagi perdjalanannja.

Pada keésokan harinja sampailah kapal „Tankadère” keselat To-Kien, jaïtoe jang diantara poelau Formosa dan pantai tanah Tjina. Disitoe laoet amat besar gelombangnja, maka kapal „Tan­kadère” selaloe dipoekoel oléh gelombang. Kapal amat soesahlah madjoe. Gelombang jang memoekoeli toeboeh kapal itoe merintangi pelajaran benar, maka orangpoen hampir-hampir ta’ boléh tinggal didék.

Waktoe fadjar, anginpoen bertioep poela. Dilangit kelihatan oléh anak kapal, bahasa angin topan akan segera datang; demi­kian djoega barometer[1] menoendjoekkan hawa akan berganti ; perkakas itoe ta’ tetap djaroemnja, air ra’sa didalamnja senantiasa naik toeroen sahadja. Dari djaoeh dilihat orang gelombang ber­goeloeng-goeloeng amat pandjangnja, jang menandakan angin riboet akan datang. Pada petang kelamarin matahari terbenam mérah toea warnanja, dan laoetpoen berkilat-kilatlah kelihatannja.

Djoeroemoedi selaloe memandang arah kelangit jang memberi tanda ta’ baik itoe, seraja bersoengoet-soengoet. Tatkala ia ber­diri dekat penoempang-penoempangnja, ia berkata : „Soekakah toean-toean dan njonja mendengar kabar jang koerang baik?”

Kata Fogg: „Tjeritakanlah semoeanja.”

„Ketahoeilah, sekalian kita akan dilanggar angin topan,” Fogg bertanja: „Dari oetara atau dari selatankah ?”

„Dari selatan. Lihatlah itoe, angin riboet bertioep.”

„Kalau datangnja dari selatan, ta’ mengapa; itoelah arah angin jang baik.”

Kata kapitan kapal poela : „O, toean mengerti hal itoe, ta’ oesah saja mengatakan pandjang lébar lagi.”

Maka ta’ lama lagi njatalah seperti pikiran John Bunsby. Djika sekiranja masa taboennja beloem léwat, maka menoeroet pendapatan seorang ahli hawa jang masjhoer, topan jang akan datang itoe lenjaplah berkilatan seperti tjahaja air mantjoer jang disinari oléh api; tetapi didalam boelan November angin riboet itoe sangatlah mengoeatirkan.

Kapitan kapal beroesaha mendjaga keselamatan pelajarannja. Disoeroeh toeroenkannja segala lajar dan disoeroehnja koempoel­kan diatas dék ; djendéla-djendéla semoeanja ditoetoep. Setitik airpoen ta’ boléh masoek dalam roeang kapal. Hanja seboeah lajarlah jang dibiarkan, soepaja kapal senantiasa mendapat angin. Kemoedian orangpoen bernanti hendak mengetahoei apa jang akan kedjadian.

John Bunsby memberi nasihat kepada penoempangnja, soepaja tinggal dalam koeroeng sahadja, akan tetapi bilik jang sempit itoe ta’ boléh menjenangkan hati oentoek tinggal lama, karena hampir-hampir hawa sedjoek ta’ dapat masoek kedalamnja, sedang penoempang-penoempangpoen didalamnja senantiasa berlénggang kekanan dan kekiri. Sebab itoe seorangpoen dari pada ketiga penoempang itoe ta’ ada jang soeka meninggalkan dék.

Kira-kira djam poekoel delapan toeroenlah hoedjan lebat dengan angin riboet. Maka dengan seboeah lajar jang ketjil itoe, kapal Tankadèrepoen terangkatlah sebagai kapoek oléh angin, jang ta’ terhingga besarnja. Maka kekentjangan angin itoe lebih empat kali ganda perdjalanan locomotief jang tertjepat.

Demikianlah kapal itoe segenap hari ditioep oléh angin dan didorong gelombang besar keoetara; maka moedjoerlah kedoea matjam penjorong kapal itoe sama kentjangnja. Atjap kali gelombang besar-besar itoe hampir-hampir menimpa dan meneng­gelamkan kapal itoe, akan tetapi oléh karena kapitan John Bunsby mengemoedikan kapalnja hati-hati, maka selamatlah kapal „Tankadère” adanja. Penoempang-penoempang kerap kali seolah­-olah mandi air laoet, karena gelombang jang masoek kedalam kapal, akan tetapi serangan jang sematjam itoe disamboet oléh meréka senantiasa dengan sabar.

Fix mengeloehlah melihat keadaan jang terdjadi itoe, akan tetapi Aouda tetaplah gagah berani, selamanja ia masih boléh memandangkan matanja jang élok itoe kepada Phileas Fogg; kesabaran Fogg jang kekal selama-lamanja itoelah jang boléh membesarkan hati Aouda dimana-mana djoega dan pada waktoe ada terdjadi apapoen. Apabila dipikirkan benar-benar, seolah‑olah diketahoeilah oléh Fogg dari moela-moelanja, bahasa ia dalam perdjalanannja akan mendapat rintangan jang sematjam itoe.

Hingga pada waktoe itoe perdjalanan kapal Tankadère itoe senantiasa keoetara; akan tetapi pada petang harinja beroebahlah arah angin, maka bertioeplah angin dari timoer laoet. Maka oléh karena itoe, sisi kapal sangatlah terpoekoel oléh gelombang, sehingga amat olénglah kapal itoe ; maka dari kekerasan gelombang memoekoeli toeboeh kapal, takoetlah orang, kalau-kalau kapal djadi petjah, apabila ta’ tahoe berapa koeatnja bahagian­-bahagian kapal „Tankadère” itoe.

Ketika matahari terbenam, maka bertambah kentjanglah angin riboet. Maka John Bunsby merasa chawatirlah dalam hatinja melihat langit amat gelapnja, dan anginpoen bertambah besar. Ia berpikir: „Ta’ lebih baikkah mentjahari perlindoengan,” maká iapoen bermoepakat dengan anak boeahnja.

Setelah meréka itoe selesai bermoepakat, maka John Bunsby bertemoelah dengan Fogg, seraja katanja: „Moepakatkah toean, apabila kita mentjahari perlindoengan dalam soeatoe pelaboeban jang lebih dekat?”

Djawab Fogg: „Saja rasapoen perloe djoega.”

Kata djoeroemoedi poela : „Benarkah demikiann pikiran toean, dipelaboehan manakah kita haroes singgah?”

Djawab Fogg: „Saja hanja tahoe seboeah pelaboehan sahadja.”

„Pelaboehan mana?”

„Pelaboehan Shanghai.”

Beberapa sa’at lamanja John Bunsby tiada djoega mengerti benar, apa maksoed Fogg dengan perkataannja itoe, dan apa sebabnja Fogg tetap berkehendak sedemikian itoe, laloe katanja: „Benar seperti perkataan toean, kami akan teroes ke Sanghai.”

Maka kapal „Tankadère” poen laloe teroes melandjoetkan pelajarannja keoetara.

Sesoenggoehnja malam itoe amat berbahaja. Tetapi amat héran, kapal ketjil itoe tiada mendapat tjelaka (tenggelam). Hingga doea kali kapal itoe dilémparkan gelombang besar-besar; hanja oléh karena kekoeatan pagar besilah maka ta’ ada barang sesoeatoe djoeapoen dikapal jang djatoeh kelaoet. Aouda merasa sakit seloeroeh badannja, tetapi tiadalah ia mengeloeh. Beberapa kali Fogg berlari-lari menolong Aouda, soepaja djangan dilanggar ombak.

Maka mataharipoen terbitlah. Boenji topan jang amat mena­koetkan itoe masih djoega kedengaran. Akan tetapi arah anginpoen beroebahlah kebarat daja. Itoelah angin baik, maka kapal „Tankadère”poen berlajarlah sekentjang-kentjangnja menjerang ombak jang besar-besar itoe, jang seolah-olah bertoemboek satoe dengan jang lain, disebabkan karena peroebahan arah angin itoe. Maka dari sebab itoe kapalpoen sangatlah terbanting-banting, sehingga akan hantjoerlah kapal itoe, djikalau koerang koeatnja.

Sebentar-sebentar kelihatanlah pantai tanah Tjina, apabila langit terang; akan tetapi sebentar lagi lenjaplah pantai itoe, karena tertoetoep oléh awan jang amat tebalnja, sedang perahoe atau kapal seboeahpoen ta’ tampak dimata. Hanja kapal Tankadèrelah jang boléh berlajar dalam waktoe jang amat berbahaja itoe.

Pada petangnja boléhlah dilihat, bahwa angin itoe akan boléh mendjadi koerang; pada waktoe matahari terbenam, timboellah pengharapan orang, bahasa angin itoe akan berhenti.

Oléh karena hébatnja angin itoe beremboes, maka tiada lama antaranja berhentilah topan itoe. Penoempang-penoempang jang merasa amat lelah, boléhlah menjenangkan diri dan makan sedikit-sedikit. Malam hari berhentilah poela angin itoe. Kapitan Bunsby menjoeroeh babarkan beberapa boeah lajar; oléh karena itoe maka ladjoenja kapal Tankadèrepoen bertambahlah kentjangnja. Ésok harinja pada tanggal 11, maka John Bunsby melihat pantai, laloe dikatakannja, bahasa Sanghai ta’ ada seratoes mijl lagi djaoehnja.

Seratoes mijl! bagaimana boléh sampai pada tempat jang sekian djaoehnja dalam satoe hari? Pada hari itoe djoega malamnja, Fogg haroeslah sampai di Sanghai, soepaja boléh menoempang kapal jang hendak pergi ke Jokohama. Apabila tiada diganggoe angin riboet, barangkali kapal „Tankadère” itoe ta’ ada tiga poeloeh mijl lagi djaoehnja dari Sanghai.

Anginpoen redalah dan gelombangpoen berhentilah. Lajar­poen dibabarkanlah, dan berlajarlah kapal Tankadère dengan ladjoenja.

Petangnja kapal „Tankadère” ta’ ada empat poeloeh lima mijl lagi djaoehnja dari Sanghai. Apabila kapal itoe sampai dipela­boehan Sanghai dalam enam djam, maka boléhlah Fogg menoempang dikapal jang hendak berlajar ke Jokohama.

Dalam kapal „Tankadère” orang sangat chawatir. Bagaimana djoega soesahnja dan besar alangannja, Fogg hendak djoega sampai ditempat jang ditoedjoeinja dalam waktoe jang ditentoekan. Lain dari pada Phileas Fogg sekalian orang ta’ sabar. Kapai jang seketjil itoe haroeslah berdjalan sembilan mijl rata-rata dalam sedjam, akan tetapi anginpoen makin lama makin koerang. Sebentar-sebentar bertioeplah angin jang ta’ tetap dari pantai. Setelah angin itoe tedoeh, laoetpoen tenanglah, ta’ berombak sedikit djoega lagi.

Akan tetapi meski bagaimana djoega keadaannja, karena lajar­-lajar kapal „Tankadère” jang tipis-tipis dan tinggi-tinggi tempatnja dibabarkan itoe, masih boléh dapat angin sepenoeh-penoehnja, lagi poela oléh pertolongan aliran air laoet; djam poekoel enam kapal „Tankadère” itoepoen ta’ ada sepoeloeh mijl lagi djaoehnja dari koeala soengai Sanghai; dari kota Sanghai masih djaoeh lagi, karena kota itoe letaknja ada doea belas mijl dari koeala.

Djam poekoel toedjoeh maka kapal adalah kira-kira tiga mijl lagi djaoehnja dari Sanghai. Maka mengoempatlah John Bunsby kepada dirinja sendiri. Hadiah jang telah didjandjikan Fogg itoe ta’ dapat diharapnja lagi. Ia memandang kepada Fogg seolah­-olah ada barang sesoeatoe jang hendak ditanjakannja. Fogg tetap sabar hatinja, meski banjak hal jang mengoeatirkan hatinja ; ia akan kalah dalam pertaroehannja dan kehilangan segala harta bendanja.

Apakah sebabnja? Pada waktoe itoe dilihat oranglah dari kapal „Tankadère” seboeah pipa kapal pandjang dan hitam warnanja berasap, tampak dari djaoeh diatas laoet. Itoelah kapal Amérika jang hendak ditoempangi oléh Phileas Fogg ke Jokohama jang baroe berangkat.

Bagaimana marahnja John Bunsby kepada dirinja sendiri atas segala hal jang telah merintangi perdjalanan kapalnja itoe, ta’ dapat diperikan. Ia bersoengoet-soengoet dan memaki-maki kepada dirinja sendiri, dan dihélakannja kemoedinja sekoeat-koeatnja, seolah-olah terkedjoet melihat teropong kapal Amérika itoe.

Phileas Fogg jang senantiasa sabar memberi nasihat kepada John Bunsby, katanja :

„Berilah tanda ketjelakaan !”

Maka dekat pagar besi kapal „Tankadère” adalah seboeah meriam peroenggoe, jang biasa dipakai akan memberi tanda-tanda waktoe gelap (berawan).

Meriam itoe laloe diisi obat penoeh-penoeh; waktoe djoe­roemoedi menaroeh soemboe meriam dalam loebangnja, berkata Fogg, oedjarnja: „Babarkanlah lajar tanda ketjelakaan.”

Lajar itoe laloe dibabarkan oranglah. Perboeatan itoe semoeanja akan memberi tanda, bahwa kapal „Tankadère” dalam kesoesahan; dengan tanda-tanda itoe diharap oranglah kapal Amérika akan berbélok menoedjoe kapal „Tankadère” itoe hendak memberi pertolongan.

Kemoedian kata Fogg lagi: „Pasanglah meriam !”

Maka dipasanglah meriam, boenjinja menggegar djaoeh-djaooh sekeliling kapal „Tankadère”.*

Iklan

Satu pemikiran pada “kapitan kapal „Tankadère” hampir-hampir tiada mendapat hadiah doea ratoes pond banjaknja.

  1. Ping balik: Mengelilingi Dunia Dalam 80 Hari | Aneka Berita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s