Kisah Jenderal M Jusuf Rahasiakan Makam Kahar Muzakkar

20160112-kahar-muzakkar

Abdul Kahar Muzakkar atau Abdul Qahhar Mudzakkar lahir 24 Maret 1921 di desa Lanipa, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Ayahnya bernama Malinrang. Semasa kecil Kahar sangat gemar bermain perang-perangan dan dikenal pandai bermain domino, karena itu ia dijuluki dengan sebutan “La Domeng” dari bahasa Bugis yang artinya: tukang main domino.

Setelah tamat sekolah rakyat pada 1938, Kahar dikirim orangtuanya melanjutkan sekolah ke Solo dan masuk Sekolah Kweekschool (Mualimin) Muhammadiyah. Namun, Kahar tak berhasil menamatkan sekolahnya di Solo. Setelah memperistri Siti Walinah, seorang gadis Solo, ia kembali ke kampung halamannya pada tahun 1941.

Di Luwu, Kahar sempat bekerja di sebuah instansi Jepang, Nippon Dahopo. Tapi, sikap antifeodalisme dan antipenjajahan Kahar terlalu kental. Akibatnya, ia tak hanya dibenci Jepang, Kahar pun tak disukai Kerajaan Luwu. Kahar difitnah. Ia dituduh mencuri. Kerajaan pun menghukumnya dengan hukum adat: diusir dari Luwu.

Maka, untuk kedua kalinya, pada Mei 1943, Kahar meninggalkan kampung halamannya, balik ke Solo. Beberapa lama, Kahar kemudian menceraikan Siti Walinah, lalu mempersunting noni Belanda bernama Corry van Stenus yang berasal dari keluarga yang cukup terkemuka. Ayahnya seorang indo-Belanda, Adnan Bernard van Stenus. Sedangkan ibunya, Supinah, berasal dari Solo. Diceritakan Kahar beberapa kali menikah dan secara keseluruhan, tercatat memiliki sembilan istri, dan 15 anak.

Setelah proklamasi 17 Agustus 1945, ia memutuskan hijrah ke Jakarta. Di Ibu Kota, Kahar mendirikan Gerakan Pemuda Indonesia Sulawesi, yang kemudian menjadi Kebaktian Rakjat Indonesia Sulawesi. Di Jakarta pula Kahar membuktikan keberaniannya. Pada rapat raksasa di Ikada, 19 September 1945, ia ikut mengawal Soekarno. Kabarnya, Presiden Sukarno tidak merasa tenang jika tidak ada Kahar Muzakkar.

Sejak saat itulah karir militer Kahar mulai terlihat. Konon, beberapa kali Kahar terlibat perang melawan tentara Jepang, termasuk ikut menyelamatkan Bung Karno dan Bung Hatta dari bayonet-bayonet pasukan Jepang ketika mengepung kedua proklamator itu.

Pada Desember 1945, Kahar membebaskan 800 tahanan di Nusakambangan, dan membentuknya menjadi laskar andalan di bawah Badan Penyelidik Khusus, badan intelijen di bawah pimpinan Kolonel Zulkifli Lubis. Kahar juga mengikuti berbagai pertempuran penting untuk mempertahankan kemerdekaan. Tak mengherankan, karier Kahar di Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) makin menanjak.

Kahar juga pernah dipercaya menjadi Komandan Persiapan Tentara Republik Indonesia-Sulawesi. Ia pun manjadi orang Bugis-Makassar pertama yang berpangkat letnan kolonel (letkol). Tapi, perjalanan karier Kahar ternyata tidak selamanya mulus. Ketika pasukan di luar Jawa direorganisasi menjadi satu brigade, Kahar tak ditunjuk sebagai pemimpin.

Yang ditunjuk adalah Letkol J.F. Warouw. Sedangkan Kahar hanya dipilih sebagai wakil komandan. Pada 1952, setelah berhasil menumpas pemberontakan Andi Aziz di Sulawesi Selatan, Kahar menuntut Kesatoean Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS), yang terdiri dari 10 batalyon, secara otomatis dimasukkan ke dalam APRI dan menjadi Brigade Hasanuddin dibawah kepemimpinannya.

Tapi, Kolonel Kawilarang, Panglima Wirabuana saat itu, menolak. Kekecewaan Kahar pun memuncak. Ia meletakkan pangkat letkolnya di depan Kawilarang. Dari rentetan kegagalan itu membuat Kahar merasa gagal mengembalikan siri pesse (harga diri)-nya sebagai orang Bugis-Makassar. Pada saat dilantik sebagai Pejabat Wakil Panglima Tentara dan Tetorium VII, Kahar Muzakkar beserta para pengikutnya melarikan diri ke hutan dengan membawa persenjataan lengkap.

Pada 3 Agustus 1953, Kahar dan KGSS-nya menyatakan bergabung dengan gerakan DI/TII Kartosoewirjo. Belakangan, pada 1962, Kahar membentuk Republik Persatuan Islam Indonesia (RPII), yang terpisah dari DI/TII Kartosoewirjo. Saat Kahar membentuk kesatuan militer, masyarakat Sulsel ramai-ramai bergabung, seperti Andi Sose (pemilik Universitas 45 Makassar) Andi Selle, dan Makatang Dg Sibali.

Setidaknya ada beberapa sebab praktis yang ikut mendorong pemberontakan DI/TII yang secara bersamaan terjadi di tiga propinsi, Aceh, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Pertama berkaitan dengan rasionalisasi tentara. Banyak tentara dan laskar rakyat yang ikut berjuang dalam perang revolusi tidak dapat diakomodasi sebagai tentara reguler. Kedua, pemberontakan ini juga merupakan ekspresi kekecewaan terhadap hubungan pemerintahan Sukarno yang ketika itu dianggap sangat dekat dengan kubu komunis.

Karena pergerakannya dinilai sudah separatis dan bertentangan dengan negara RI, TNI kemudian diperintahkan untuk menumpas pemberontakan KaharMuzakkar di Sulawesi Selatan ini. Sebelumnya beberapa kali ajakan damai diajukan oleh petinggi Sulawesi Selatan misalnya A. Sose akan tetapi Kahar beserta pengikutnya tidak menyetujuinya.

Akhir kisah, pada tanggal 3 Februari 1965 di wilayah hutan Lasolo, Sulawesi Tenggara, melalui Operasi Tumpas, Kahar Muzakkar dinyatakan tertembak mati dalam pertempuran antara pasukan TNI satuan Siliwangi 330 dari Jawa Barat yang merupakan regu Umar Sumarna. Konon, dalam penyergapan itu, tiga peluru terlontar dari moncong senjata Thomson milik Koptu Ili Sadeli menembus dada Kahar hingga tewas tepat pukul 06.05 WIB.

Di ransel kecil korban ditemukan beberapa dokumen DI/TII, yang menunjukkan bahwa jenazah itu adalah Kahar Muzakkar. Toh, keberhasilan regu Umar Sumarna, dan Ili Sadeli, tak lantas mengakhiri sejarah Kahar Muzakkar. Kontroversi mengenai kematian Kahar justru muncul setelah penembakan ini. Selama puluhan tahun, banyak masyarakat Sulsel meyakini bahwa yang tertembak malam itu bukanlah Kahar Muzakkar. Kahar yang asli, menurut mereka, telah lenyap menyembunyikan diri.

Berbeda dengan apa yang diceritakan oleh istri Kahar, Corry. Wanita itu membaca kabar kematian Kahar dari ribuan pamflet yang disebarkan dari helikopter. Corry pun turun gunung, dan berusaha mengejar jenazah Kahar yang dibawa ke Pakoe. Tapi, M. Jusuf –yang bertanggung jawab atas jenazah Kahar– melarang Corry melihat jenazah suaminya yang kala itu telah diterbangkan ke Makassar.

Setibanya di Makassar, M. Jusuf memanggil dua anak Kahar, Abdullah Ashal dan Farida, yang ditemani suaminya, Andi Semangat, untuk melihat jenazah Kahar di Rumah Sakit Palemonia, Makassar. Berdasarkan cerita anak-anaknya itulah, Corry yakin bahwa jenazah itu adalah Kahar Muzakkar. Sebab, ada bekas eksem di kaki, leher, serta cambangnya.

Ketidakjelasan di mana jenazah Kahar Muzakkar dikuburkan juga menambah kecurigaan bahwa Kahar tak benar-benar mati. Hasan Kamal Muzakkar, 52 tahun, anak sulung Kahar dari istrinya, Corry van Stenus, mewakili keluarganya pernah datang pada M. Jusuf untuk meminta keterangan tentang makam ayahnya. Tapi, Jusuf menolak memberitahu.

Jenderal M. Jusuf beralasan, apabila letak kuburan Kahar diketahui masyarakat, makamnya akan disembah dan dikeramatkan. Itu syirik. Membisunya M. Jusuf soal makam Kahar ini menyebabkan lahirnya mitos di tengah masyarakat dengan banyak versi tentang di mana sebenarnya letak makam Kahar.

Salah satu versi menyebutkan, berdasarkan sumber intelijen di TNI Angkatan Darat, ketika jenazah dibawa ke Jakarta, sebenarnya ada dua peti jenazah. Satu dibuang ke laut, satu peti lainnya dibawa lagi ke Makassar dan dimakamkan di taman makam pahlawan Panaikang Makassar. Ini menyebabkan sebuah kuburan tak bernama di sebelah kiri gerbang taman makam pahlawan tersebut dianggap sebagai kuburan Kahar Muzakkar. Namun versi lain menyebutkan, jenazahnya dikuburkan di Kilometer 1 jalan raya Kendari. Manakah yang benar? Wallahu’allam bissawab!
Sumber: makassartoday.com – DBS

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s