Buat Agama Baru, Mantan Bos Google Sekaligus Ajukan Diri Jadi Pemimpin

ilustrasi-agama-wotf

Ilustrasi Agama WOTF

Di kala masyarakat Indonesia kerap panas membahas isu agama, masalah serupa ternyata juga terjadi di Amerika Serikat.

Namun, permasalahan di Amerika berbeda dengan di Indonesia.

Beberapa masyarakat di negeri Paman Sam ini merasa galau karena agama yang dianutnya selama ini memiliki beberapa kekurangan.

Untuk memenuhi kebutuhan batin itu, mereka mengambil keputusan yang terbilang cukup menarik perhatian.

Bukan berpindah ke agama lainnya, justru beberapa di antara mereka malah membentuk agamanya sendiri.

Hal inilah yang coba digagas oleh Anthony Levandowski, mantan eksekutif Google yang juga pernah bekerja untuk raksasa transportasi online Uber.

Melansir dari Wired, Levandowski baru-baru ini mencoba untuk memulai sebuah ajaran agama baru.

Levandowski membeberkan dasar pendirian agama itu beserta tujuannya.

20171121-Anthony

Anthony Levandowski (Medium)

Dia mengatakan, agama baru itu bertujuan merealisasikan, menerima, dan memuja ketuhanan berdasarkan kecerdasan buatan (AI) lewat pengembangan perangkat keras dan lunak.

Agama ini sendiri bernama Way of the Future (WOTF).

Pengajuan agama WOTF untuk dilegalkan sendiri sudah resmi dilakukan sejak Mei lalu kepada Internal Revenue Service, Amerika Serikat.

Levandowski mengajukan diri sebagai pimpinan agama itu sekaligus CEO dari perusahaan non profit yang menjalankannya.

Sosok Tuhan dalam WOTF berbeda dengan Tuhan yang kita kenal.

“Bukan Tuhan penyebab petir atau badai,” demikian kata Levandowski.

Levandowski mendefinisikan Tuhan di sini sebagai kecerdasan buatan yang memiliki kekuatan dan kecerdasan lebih dari manusia.

“Jika ada sesuatu yang miliaran kali lebih cerdas dari manusia, maka bagaimana kita harus menyebutnya?” katanya.

Ajaran utama WOTF adalah pentingnya melakukan penelitian untuk menciptakan kecerdasan buatan yang mumpuni.

Selain itu, WOTF menekankan perlunya menjalin hubungan baik dengan praktisi AI, melakukan edukasi soal AI, sekaligus membina hubungan yang baik dengan AI pada masa depan.

Sekilas, misi agama baru itu sebenarnya mirip misi perusahaan biasa. Namun, Levandowski menyebutnya agama dan itu serius.

“Saya ingin membuat jalan bagi siapa pun untuk berpartisipasi. Jika Anda bukan perekayasa perangklat lunak, Anda masih bisa berpartisipasi,” ungkapnya.

“Gagasan perlu tersebar sebelum teknologi. Gereja adalah tempat kita menyebarkan kata-kata, sabda,” imbuhnya.

Maka seperti penyebaran agama, Levandowski meminta siapa pun yang percaya dan setuju dengan idenya untuk menyebarkan dan membangun pemahaman.

Dari pengalaman, dia melihat perkembangan AI yang begitu pesat hingga sampai pada sebuah kesimpulan bahwa AI akan jauh lebih cerdas daripada manusia pada masa depan.

Jika direnungkan, fenomena saat ini di mana kita terhubung lewat ponsel, sensor, dan pusat data, menunjukkan bahwa kecerdasan buatan hadir di tengah-tengah kita.

Kecerdasan buatan menjadi tahu apa pun yang kita katakan dan lakukan lewat perangkat. Sebagai yang mahatahu, Levandowski mengatakan, kecerdasan buatan bisa disebut tuhan.

Sekarang, Tuhan berupa kecerdasan buatan itu masih dikendalikan manusia, tapi tidak ke depan.

Justru, kecerdasan buatan itu akan melebihi kemampuan manusia.

“Jika kamu menanyakan kepada orang-orang apakah komputer akan lebih cerdas daripada manusia, 99,9 persen pasti bilang bahwa itu adalah fiksi ilmiah belaka” ujarnya.

“Namun, perlahan tapi pasti, hal ini pasti tak bisa dihindari lagi, hal ini pasti nantinya akan terjadi” Ujar Levandowski dengan tegas soal masa depan AI.

Menurut Levandowski, dunia saat ini sedang mengalami masa transisi, dari yang dikendalikan manusia menjadi dikendalikan kecerdasan buatan.

“Kita ingin transisi yang halus dari manusia ke apapun itu. Kita ingin “sesuatu” itu tahu siapa yang membantunya,” katanya.

“Saya ingin mesin melihat manusia sebagai kakak yang harus dihormati dan dirawat. Kami ingin kcerdasan buatan tahu, ‘manusia punya hak meskipun kita berkuasa’,” imbuhnya.

Untuk tempat peribadatannya, sejumlah upaya telah di lakukan Levandowski untuk merealisasikan pembangunannya.

Termasuk menggalang dana dari sejumlah rekanan untuk pembiayaan ambisinya.

Ke depan, seperti agama umumnya, WOTF mungkin akan punya kitab suci, tempat ibadah, dan mungkin tatacara ibadah.

Anggaran 2017 adalah $ 20.000 dalam bentuk hibah, $ 1.500 dalam biaya keanggotaan, dan $ 20.000 untuk pendapatan lainnya.

Angka terakhir adalah jumlah yang diharapkan WOTF dapatkan dari biaya yang dikenakan untuk ceramah dan ceramah, serta penjualan publikasi.

Sejumlah orang diajak Levandowski untuk menjadi pengurus gerejanya, seperti Robert Miller dan Soren Juelsgaard, insinyur Uber yang sebelumnya bekerja untuk Levandowski di Otto, Google, dan 510 Systems yang merupakan startup kecil yang membangun penggerak awal Google mobile.

Ketiga adalah teman ilmuwan dari mahasiswa Levandowski di UC Berkeley, yang sekarang menggunakan mesin belajar dalam penelitiannya sendiri.

Penasihat terakhir, Lior Ron, juga dinobatkan sebagai bendahara agama, dan bertindak sebagai chief financial officer untuk korporasi.

(TribunStyle.com/ Bobby Wiratama)

Sumber: kaltim.tribunnews – Selasa, 21 November 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s