Azab dan Sengsara: Laki-Istri dan Anak-Beranak

Azab dan SengsaraBab 4: Laki-Istri dan Anak-Beranak

Sebelum kisah persahabatan Aminu’ddin dengan Mariamin diteruskan, baiklah kita kembali dahulu sebentar kepada kematian Sutan Baringin dan bagaimana jalannya kehidupan orang anakberanak itu jatuh melarat, sebagai tersebut pada awal cerita ini.

Orang tua Sutan Baringin masuk golongan orang yang kaya di antara penduduk Sipirok. Hanya ia sendirilah anak orang tuanya yang laki-laki. Sebagai acap kali kejadian akan tabiat anak tunggal itu, adalah amat manja dan nakal pada waktu ia masih anakanak, karena barang apa kesukaannya selamanya dituruti orang tuanya. Meskipun ia salah atau kelakuannya tiada baik, jaranglah ia dimarahi orang tuanya, apalagi kena pukul jangan dikata lagi. Kalau bapaknya marah kepadanya karena nakalnya, ibunya pun datang menarik dia dari hadapan bapaknya, seraya berkata, “Salah sedikit sudah mau dihantam; kelakuan bapak apakah demikian kepada anaknya? Tiadakah engkau tahu, ia hanya sendiri saja yang laki-laki?”

Tohir, demikianlah nama anak itu pada waktu kecilnya, makin lama makin besarlah. Akan tetapi tiadalah ia anak yang baik dan penurut kepada orang tuanya. Sehari-hari ia menjadi pokok pertengkaran di antara ayah dan ibunya dan ia pun tiada mendapat didikan yang baik, karena ibunya selalu memanjakan dia dan suatu pun tiada dapat si bapak berusaha akan memimpin anaknya itu, supaya menjadi orang yang baik di belakang hari. Ia amat bersusah hati karena semua pekerjaannya percuma dan anaknya semakin nakal dan bengis kelakuannya. Yang menyebabkan itu semua tiada lain dari sebab perbuatan istrinya. Kadang-kadang ia marah kepada ibu si Tohir serta katanya, “Jangan dibiarkan anak kita itu sebagai anak yang tiada mempunyai orang tua, yang memberi pengajaran yang baik bagi dia.” “Apakah maksud perkataanmu itu? sahut si ibu, yang tiada mengerti ujud perkataan suaminya itu. “Maksudku begini: Kalau si Tohir salah harus dimarahi, kalau perlu, jangan segan memakai pemukul.” “Perkataan apakah itu? Anak hanya satu, kausamakan lagi dengan anak yang telah besar. Bukankah ia masih kecil? Kalau sudah besar tentu ia tahu, mana yang salah, dan ia pun sudah tentu takkan mau lagi berbuat yang salah itu.”

“Ia masih kecil, saya tahu juga,” sahut si bapak. “Akan tetapi kalau tiada ia beroleh teguran akan kesalahannya yang sekarang, nanti lamalama, bila ia sudah besar, tak tahu lagi ia perbuatannya yang salah; karena pada waktu kecilnya ia berbuat demikian, dan tiada dimarahi orang tuanya. Lagi pula harus kauingat, manusia itu lahir ke dunia membawa tabiat yang baik dan buruk. Dua-dua mesti ada, akan tetapi selama orang itu masih anak-anak belum nyata benar; tetapi kalau diperhatikan nyata juga. Adapun tabiat atau sifat yang tiada baik, yang ada pada anak itu, sama halnya dengan benalu. Pada mulanya kecil, akan tetapi selamanya bertambah-tambah rimbunnya dan akarnya pun makin panjang. Bagaimana kesudahannya? Kayu tempat benalu itu tumbuh, makin lama makin kurus dan merana, dan kesudahannya binasa oleh benalu itu. Demikianlah halnya dengan tabiat yang buruk, yang ada tersimpan dalam hati seorang anak. Selama anak itu kecil tak tahu ia tabiatnya itu buruk; itu karena pikirannya masih terlalu muda akan membedakan yang baik dan yang jahat. Anak itu makin besar dan tabiat yang buruk itu makin menjalar dalam hatinya. Betapa kejadiannya kelak? Anak itu tiada menjadi manusia yang baik, sebaliknya ia jadi orang yang jahat; semua sifat yang baik telah musnah dimakan akar benalu tadi, yang membinasakan hati dan jiwa anak itu, dan … ia pun rusak binasalah.

Kalau dipikir panjang, siapakah yang salah? Tentu orang tuanya. Bukankah seharusnya bagi orang tua memelihara anaknya? Bukanlah badannya saja yang harus dijaga, akan tetapi jiwa anak itu pun harus dipelihara, ya, lebih lagi dari badannya. Kalau nampak benalu itu, haruslah dipotong dan akar-akarnya dicabut sama sekali, supaya kayu itu subur tumbuhnya. Inilah pekerjaan dan kewajiban orang tua kepada anaknya, karena kalau anak itu binasa hidupnya di belakang hari dan jiwanya jadi makanan api neraka, tentu si ibu dan si bapaklah mendapat hukuman yang berat pada hari kemudian, karena barang yang dikurniakan Allah itu disia-siakannya.”

“Jadi maksudmu, kita harus berlaku keras kepada si Tohir, bukan?” jawab si ibu. “Amat pandai engkau berkata-kata; kaubawa ke sana, kauumpamakan ke mari, tapi kesudahannya memberi nasihat, yang tiada mungkin di hati ibu, yang mengasihi anaknya sebagai darahnya, ya, lebih lagi dari dirinya.”

“Engkau jangan sebebal itu,” ujar suaminya dengan suara agak keras, karena ia agak kesal, oleh sebab perbuatan istrinya itu. “Aku pakai kiasan, supaya engkau mengerti benar-benar. Bukankah kautahu, anak itu boleh diumpamakan dengan kayu? Waktu kecil kayu itu mudah dibengkokkan; kalau sudah besar tak dapat lagi: kalau dibengkokkan sekuat-kuatmu ia akan patah.”

“Ya, tahulah aku di bengkok-bengkokmu itu,” sahut si ibu merengus, “akan tetapi perkataanmu itu takkan didengar oleh ibu yang kasih kepada buah hatinya. Perempuan yang memandang anaknya sebagai barang yang menyusahkan kehidupannya, maulah barangkali menurut nasihatmu itu.”

“Lebih baik engkau diam, kaulah yang membinasakan budak itu, sesal yang tiada berkeputusanlah hasil perbuatanmu bersitegang urat leher itu,” kata suaminya dengan suara besar, karena ia tak dapat lagi menahan marahnya.

“Tahulah aku kasih bapak kepada anak,” sahut si ibu. “Diam! Lebih baik engkau menutup mulutmu, perempuan ce….! Astaga, hampir aku berdosa, lebih baiklah aku pergi,” kata suaminya dalam hatinya. Ia pun meninggalkan istrinya yang membawa anaknya ke dunia ini, akan tetapi bukan si ibu yang memelihara hati dan jiwa manusia yang dilahirkannya itu.

Demikianlah halnya didikan yang diperoleh Sutan Baringin pada waktu kecilnya. Setelah ia besar, benarlah sebagai perkataan bapaknya. Ia tiada menjadi orang yang berkelakuan baik dan patut. Hormatnya kepada orang tuanya pun kuranglah daripada yang biasa. Setelah bapaknya meninggal dunia, tinggallah ia dengan ibunya dan seorang saudaranya perempuan yang masih kecil. Sekarang timbullah pikiran dalam hati ibunya hendak memperistrikan anaknya itu. Meskipun si Tohir*) menjadi anak muda, tetapi apa-apa keperluan orang yang berumah tangga, belum diketahuinya. Ibunya berpikir, “Siapa tahu usia manusia ini. Kalau anakku bagaimana-bagaimana di belakang hari dan ia belum diperistrikan, sudah tentu hilanglah nama bapak dan neneknya dari atas dunia ini.” Itulah sebabnya, maka ibunya lekas mengambil anak dara untuk jadi istri anaknya itu. Lagi pula kalau anaknya itu sudah kawin, tentu hatinya lekas tua dan perangainya berubah menjadi baik. Pikiran yang serupa itu acap kali didapati pada setengah penduduk kampung, yang kurang mengindahkan hal perkawinan yang serupa itu di belakang hari. Mereka itu memandang perkawinan itu suatu kebiasaan, yakni kalau anaknya yang perempuan sudah genap umurnya harus dijodohkan. Demikian pula jadinya pada anak laki-laki. Haruslah ia lekas dikawinkan, karena keaibanlah di mata orang banyak, kalau orang tua terlambat memperistrikan anaknya. “) Si Tohir, yaitu Sutan Baringin. Menurut kebiasaan orang Batak yang mendiami Tapian na Uli, adalah dua nama yang dipakai masing-masing laki-laki. Satu nama yang diberikan pada waktu mudanya, artinya sebelum ia kawin. Sesudah kawin, orang itu pun mempunyai nama yang kedua. Inilah yang disebutkan gelar. Demikianlah juga si bapak yang dalam cerita ini; waktu anak-anak ia dipanggil si Tohir, dan Sutan Baringin gelarnya, sesudah beristri.

Perkawinan memang suatu adat dan kebiasaan yang harus dilakukan tiap-tiap manusia, bila sudah sampai waktunya. Tuhan yang menjadikan segala yang ada, itulah yang mengaturkan yang demikian bagi kita yang mendiami bumi ini, karena la pun menjadikan seorang laki-laki dan seorang perempuan Adam dan Siti Hawa dan kedua manusia itu disuruhnya hidup bersama-sama, tolong-menolong, berkasih-kasihan sama sendirinya. Maka adat yang telah diaturkan itulah yang kita turut. Tapi menurut sebaiknya haruslah kita pikir lebih panjang, adakah perkawinan itu akan membawa kesenangan dan keuntungan bagi laki-laki dan perempuan kedua belah pihak. Dan tali pengikat perkawinan itu haruslah hendaknya kuat benar, supaya jangan acap kali kejadian perceraian atau talak, karena inilah suatu hal yang merusakkan kesempurnaan dan kesenangan orang yang berlaki istri. Cobalah kita kenangkan, betapa sedihnya hati melihat seorang laki-laki, yang menceraikan bininya yang sedang mengandung, yang dikurniakan Tuhan, karena ia memberkati perkawinan yang diaturkannya di antara hambanya. Kalau anak yang dikandung itu nanti lahir ke dunia, wah, betapakah pedihnya perasaan hati si ibu melihat anaknya itu. “Aduhai, Anakku, tangkai kalbuku,” katanya, seraya memandang anaknya yang terletak di pangkuannya, dengan air matanya berjatuhan, “amatlah malangnya bundamu dan anakku pun lahir ke dunia dengan tiada mendengar suara bapakmu, karena ia membuangkan ibu dan engkau. Kalau sekiranya bapakmu menaruh sayang kepadamu, meskipun ia membenci ibumu, tentu tiada ia akan membuangkan aku, karena engkau masih dalam kandunganku. Tetapi sekarang kita berdua tiadalah berguna oleh bapakmu, apa boleh buat karena sudah demikian takdir pada kita.”

Tiadalah sedikit perempuan yang melarat, disebabkan nasib yang serupa itu, kadang-kadang tiada ia segan memutuskan nyawanya, asal bercerai daripada anaknya, karena tiadalah ia dapat melihat anaknya mati tak mati, hidup tak hidup, oleh sebab tiada dapat pemeliharaan yang sepatutnya. Ya, apa boleh buat, sedang badan si ibu masih kurus dan mukanya pun pucat, karena baru melahirkan anaknya itu; apalah dayanya akan mencari makanannya dan keperluan anaknya itu. Daripada melihat keadaan anaknya yang serupa itu, lebih baiklah membunuh diri, karena maut sajalah yang dapat melepaskan dia daripada untungnya yang celaka itu.

Itulah kesudahan perkawinan yang tiada terikat dengan tali percintaan. Sebagai sebuah contoh betapa kemelaratannya perkawinan yang tiada kukuh itu, ada tertera di bawah ini: Seorang perempuan janda pekerjaannya menjadi koki dalam rumah seorang Eropa di Jakarta. Perempuan itu ada mempunyai seorang anak pekerjaannya menjadi penjaga anak tuannya yang masih kecil. Setelah si anak berusia lima belas tahun, datanglah seorang muda meminta dia akan jadi bininya. Si ibu pun menyampaikan permintaan orang itu kepada anaknya itu.

“Apakah sebabnya ibuku mempunyai pikiran yang serupa itu,” sahut anak dara itu, “orang muda itu tak kukenal, ibuku pun tidak mengetahui adatnya; saya masih anak-anak, apakah salahnya kita lebih lama lagi bersama-sama? Apakah yang ibuku susahkan; kalau ibu tiada kuat bekerja lagi, biarlah saya sendiri makan gaji; barang pendapatanku itu cukuplah rasanya kita makan berdua.”

“Jadi maksudmu tak akan bersuami? Itu tiada patut di mata dan di hati orang,” kata ibunya.

“Bukan maksud saya akan menyimpang dari adat itu. Akan tetapi sebagai kata saya tadi, orang muda itu tiada kukenal; maklumlah ibuku, kota ini amat ramai. Lagi pula saya belum dewasa benar,” jawab anak itu.

Akan tetapi sebagai kebiasaannya, orang tua itu beroleh maksudnya juga, karena si anak tiada berani mempertahankan dirinya. Meskipun ia telah melihat dahulu kemelaratan, yang akan menimpa dirinya, tiadalah sampai hatinya menolak dengan keras maksud orang tuanya, yang kadang-kadang mempergunakan ancaman kepadanya.

Demikianlah anak dara itu kawin juga dengan laki-laki yang tak dikenalnya itu. Pekerjaan suaminya itu tak diketahuinya dengan sebenarnya, hanya menurut cerita orang, ia ada seorang mandur. Di mana? Mandur apa? Itu tak diketahuinya.

Dua bulan sudah kawin, meninggallah ibunya. Ia mati itu tentu bersenang hati, karena ia sempat melihat anaknya sudah bersuami, yang memelihara dan menyayangi anaknya yang seorang itu, lebih daripada orang tuanya. Akan tetapi tiadalah dipikirkannya. Betapakah nasib anaknya dalam tangan menantunya itu, bila dia tiada lagi? Ada juga barang dan uang peninggalan mandiang si ibu, meskipun tiada banyak, tapi cukuplah untuk orang kebanyakan. Setahun lamanya anak perempuan itu hidup dengan suaminya barulah ia tahu benar, suaminya itu orang pemboros benar. Nafsu bekerja tak ada padanya, kesukaannya hanya menyenang-nyenangkan diri saja. Sudah tentu sekalian uang peninggalan mentuanya itu habis dan barang-barang diangkut ke rumah gadai. Pencarian istrinya itu pun, karena ia masih tetap juga bekerja di rumah tuannya, tiada tinggal, tandas sama sekali, sebagai hujan jatuh ke pasir. Uang habis, barang sudah tersimpan di gudang rumah gadai, si suami hilang lenyap, pergi entah ke mana. Siapakah dapat mencari dia, di kota yang seluas dan sebesar itu? Kalau ia lari ke Bandung, Semarang, Medan, biar setahun pun dicari, tak akan berhasil. Lagi pula siapakah yang menyusul dia, polisi? Tentu tidak. la tiada membunuh orang atau membongkar rumah.

Perempuan yang malang itu tiada mempunyai ibu dan bapak lagi, tinggallah seorang diri, dengan tiada mempunyai uang sepeser dan barang sepotong juga, lain daripada pakaian yang lekat di badannya. Sekarang ia tinggal di kampung, dalam sebuah rumah bambu, sebuah pondok, karena dua minggu yang lewat ia sudah berhenti bekerja di rumah tuannya. Sebab ia tiada kuat lagi, karena percampurannya dengan suaminya diberkati Tuhan dan hampirlah genap bulannya anak itu dalam kandungannya. Tuannya perlu memakai pembantu, tentu perempuan itu harus dilepaskan, akan mengambil orang lain. Dengan menyerahkan nasibnya kepada Allah, perempuan yang sedang mengandung itu, diam di kampung, dalam sebuah pondok kecil, karena itu sewanya yang murah. Tenang dan sabar si ibu yang belum berumur tujuh belas tahun itu, memikirkan untungnya, sebab ia menunggununggu kelahiran anaknya. “Kalau anakku ini lahir dengan selamat, barangkali ia membawa perubahan dalam kehidupanku. Sudah tentu bapaknya bergirang hati melihat tetesan darahnya iVu. Bila ia berbesar hati, karena kelahiran anak kami ini, sudah tentu terbitlah kecintaan dalam hatinya, kecintaan kepada anak dan istri, karena akulah yang melahirkan kesukaan hatinya itu. Aku pun dapatlah mencari pekerjaan dan suamiku pun tentu berubah kelakuannya, karena ia sekarang memikirkan keselamatan kami. Anak-beranak hidup bercinta-cintaan, dan di mana cinta dan sayang itu, di situlah damai dan kesenangan,” demikianlah pikiran dan harapan perempuan yang sedang hamil itu. Betul amat sakit penanggungannya dalam pondok bambu yang berlantaikan: tanah itu, akan tetapi harapannya itulah yang membagi dia kekuatan akan memikul kemiskinan yang pahit itu. Dan apalah gunanya dia terlampau bersusah hati, cincin, ikat pinggang, kalau perlu baju dan sarung, masih ada yang akan digadaikan akan pembeli beras untuk dimakan. Lagi pun yang ditunggu-tunggu, tak akan lama lagi, yakni kelahiran anaknya itu. Bukankah anaknya itu nanti sebagaimana harapannya yang akan membawa sinar kesukaan dan mengusir awan kedukaan, sebagai kabut yang lenyap oleh sinar matahari pagi? Dua hari lagi sebelum ia melahirkan, itulah kiranya waktu suaminya meninggalkan dia. la tinggal seorang diri, tiada mempunyai kaum atau kenalan. Aduh, betapakah sedihnya hal sebagai ini bagi perempuan itu! Betapa penanggungan pikiran dan badannya pada waktu ia hamil itu, pada waktu ia nanti melahirkan anak, anak yang diterimanya dari suaminya, anak yang akan diserahkan kepada suaminya. Ah, sungguh amat sedih! Kesedihan itu rasanya tak dapat dituliskan dengan pena, karena sudah lebih daripada yang patut.

Hari yang dinantikan si ibu pun tibalah, anak yang dikandungnya itu lahirlah dengan selamat. Tiga minggu lamanya dapatlah ia turun dan bekerja sedikit, sekadar mencuci dan menanak nasi yang akan dimakannya. Syukurlah dalam waktu yang sekian lama itu, orang yang berdekatan dengan dia, menaruh kasihan kepadanya. Adapun anak yang lahir itu, seorang anak laki-laki. Amatlah bersih dan bagus, gemuk dan subur tubuhnya. Tak salah ibunya bergirang hati, sebagai ibu yang lain setelah anaknya lahir.

Bukankah penanggungan perempuan yang sedang melahirkan itu, penanggungan manusia yang sesakit-sakitnya di atas dunia ini? Akan tetapi bagaimanapun sakitnya penanggungan itu, demikianlah besarnya kegirangan hati si ibu itu, setelah ia melihat anaknya itu. Adakah lagi barang yang kita peroleh di bawah langit ini, yang lebih menghiburkan hati si ibu itu daripada kelahiran seorang anaknya? Anak sudah lahir, harapan si ibu pun telah terbang semuanya. Benarlah anaknya itu membawa perubahan, tetapi perubahan yang buruk juga. Langit itu makin tebal ditutupi awan; kabut semakin gelap, sehingga matahari pun tiada lagi memancarkan cahayanya. Demikianlah kehidupan perempuan yang malang itu. Dahulunya kurang percayanya, suaminya itu benar-benar meninggalkannya, sekarang barulah ia tahu, karena genaplah sudah umur anaknya itu sebulan, suatu pun tiada ia mendengar kabar suaminya itu. Apakah daya si ibu itu sekarang? Barang yang akan dijual tak ada lagi. Hendak bekerja, tiada kuat, karena badan kurus dan tiada bertenaga. Bukankah banyak dirasa dan ditanggung si ibu, waktu anaknya lahir? Jadi tiadalah mengherankan, kalau si ibu yang tiada dapat pemeliharaan yang baik dan makanan yang cukup, menjadi kurus dan pucat. Kadang-kadang menjadi bahaya bagi jiwanya.

Ibu yang muda itu pun sampailah kemelaratannya. Bagaimanakah ia hendak mencari pekerjaan, kalau badan kurus dan sakit-sakit? Betapakah tiada demikian, karena sejak ia melahirkan anak, tiadalah memakan makanan yang menguatkan badan. Syukurlah ia tiada mati kelaparan, sebab masih ada orang yang membagi nasi kepadanya, karena iba hatinya melihat. Memberi yang lebih dari itu, takkan mungkin, karena yang berdekatan rumah dengan dia itu pun orang miskin pula. Betul perempuan yang melarat itu tahu, bahwa sisa-sisa makanan dari meja tuannya kadang-kadang dapat dimakannya, waktu ia bekerja, akan tetapi sekarang tentu tiada berguna lagi ia mengharapkan semuanya itu. Apakah pertaliannya sekarang dengan tuannya yang dahulu? Bukankah ia sudah lepas, dan orang lain yang menggantikannya? Boleh jadi dalam kemelaratan yang sangat itu, timbul kadangkadang pikiran yang demikian, “Aku mati kelaparan, tetapi orang yang kaya makan berlebih- lebihan.”

Akan tetapi sudahlah demikian halnya, manusia itu mempunyai nasib bermacam-macam, dan bumi itu penuh dengan rupa-rupa tamasya dan kejadian.

Semua ada ukurannya. Jikalau tabung itu diisi terlampau penuh, sudah tentu ia rebah dan isinya tertumpah sama sekali. Si ibu sakit dan kurus, air susu pun tentu jadi kurang, kelak anak dan ibu sama-sama melarat. Inilah yang akan dihindarkan perempuan itu. Ibu amat cinta kepada anaknya dan kecintaan ibu itu acap kali menjadikan orang lupa akan dirinya; ia mengurbankan badan dan nyawanya untuk keselamatan anaknya. “Aku binasa tiada mengapa, asal anakku ini selamat,” pikir ibu yang malang itu. la pun memberikan anaknya itu kepada seorang kaya. Orang itu sudah lama menyuruhkan orang meminta anaknya itu, karena ia tiada beranak. Lagi amatlah inginnya melihat anak yang bagus dan gemuk itu. Uang pembelinya pun tiada dipedulikannya, seberapa akan diminta oleh ibu anak itu, sebegitu dibayarnya. Bukankah sebenarnya dunia ini penuh dengan kejadian? Orang kaya itu bercintakan anak, akan tetapi istrinya tiada melahirkan anak. Kelahiran anak menyusahkan ibu sebagai tersebut dalam cerita ini, akan tetapi perkawinannya dengan suaminya diberkati Allah yang mahatinggi. Bukanlah hal itu mengherankan hati? Akan tetapi demikianlah rupanya keadaan dunia ini.

“Berapa ratus rupiah kauminta?” tanya orang kaya itu kepada ibu anak yang mengantarkan buah hatinya itu.

“Aku tiada ingin beroleh uang, Tuan,” sahut perempuan itu perlahan-lahan. “Sebabnya aku serahkan anakku ini ke tangan tuan, tuan maklum juga, bukan sebab memandang uang, hanyalah keselamatan anakku ini di belakang hari ….”

Di sini terpaksa perempuan itu terdiam, lidahnya tiada berdaya meneruskan percakapannya, hanya air matanya saja yang mengalir di pipi yang pucat dan cekung itu, menunjukkan kepada orang yang melihat dia, betapa beratnya perasaan si ibu bercerai dengan anaknya. “Ya, ya, jangan susah, jangan susah hati,” sahut orang kaya itu, sambil menggoyang kursinya. Ia pun membuka pundi-pundinya lalu mengeluarkan uang kertas beberapa helai, lalu katanya, “Pulanglah, bawalah uang ini akan belanjamu!”

“Tunggu dahulu, Tuan,” jawab perempuan itu, seraya memberikan anaknya yang lagi tidur nyenyak, tiada tahu akan dirinya, bahwa sejak dari waktu itu tiada akan merasa air susu ibunya lagi, kepangkuan istri orang kaya itu.

“Uang tuan itu tak dapat kuterima, sebab tiada berguna bagiku; bahkan uang itu sebagai racun bagiku. Uang yang tuan berikan akan harga anakku itu akan kubelanjakan, sekali-kali tidak, karena tiadalah sampai hati kuberbuat yang demikian itu, yaitu hidup dengan harga badan dan nyawa anakku. Bukankah aku seolah-olah memakan daging dan meminum darahnya, jika aku menerima uang itu? Tak usah Tuan! Hanya permintaanku yang dua pasal ini, yang kuharap tuan lakukan dua laki-istri. Pertama: tuan peliharakanlah anakku yang malang ini sebagai anak tuan sendiri. Kedua, kalau ia nanti sudah besar dan bila ia bertanyakan orang tuanya, berkata benarlah tuan, sebab tuan pun tahu juga halku. Jangan tuan lupa menyebutkan, apa sebabnya ia kuserahkan ke tangan tuan. Itu pun kalau ia bertanyakan orang tuanya, kalau tiada, tuan rahasiakan sajalah. Kalau ia nanti hendak mencariku, tuan larang, sebab tiada gunanya, sudah tentu aku takkan didapatnya lagi; rasanya matahari yang akan terbit besok pagi, sinarnya takkan kulihat. Inilah tanda peringatanku untuk dia,” ujar perempuan itu sambil memberikan perhiasan rantai lehernya. Di tengah-tengah perhiasan yang bundar itu ada gambarnya yang berpinggirkan emas.

Orang kaya itu pun menerima tanda peringatan itu, lalu dimasukkannya ke kantungnya. Setelah itu ia pun berkata, “Uangmu ini hendak kusimpan, dan apabila berguna bagimu, beri kabar kepadaku, nanti kukirim ke tempat tinggalmu.”

Perempuan itu tiada menjawab, matanya tiada lepas daripada anaknya, yang tidur dengan nyenyaknya di atas pangkuan istri orang kaya itu.

Tengoklah, bagaimana si ibu itu bercerai dengan anaknya, anak yang dilahirkannya dalam penanggungan yang tiada terderitakan itu. Matanya tiada kering oleh air mata. Dengan tersedu-sedu ia memegang kedua belah tangan anaknya itu dengan perlahan, supaya ia jangan terbangun dari tidurnya.

“Selamat … selamat tinggal … cahaya mataku, buah hati ibumu ….! Di dunia kita bercerai … di akhirat kita bertemu.” Lebih panjang tiada dapat ibu muda itu berkata lagi. Kepalanya ditundukkannya, dipeluknya budak itu, serta diciumnya berulangulang, yaitu cium yang penghabisan sekali.

“Selamat tinggal anakku yang amat kucintai!” berseru si ibu sekali lagi, lalu ia pun berjalan ke luar rumah itu. Sekali lagi ia menengok ke belakang, akan melihat kesayangannya itu. Itulah pandang yang penghabisan.

Demikianlah kesudahannya cerita yang sedih ini. Bagaimanakah kesudahan si ibu dan si anak itu?

Kesudahannya tiadalah diketahui. Tetapi dari perkataannya, “Esok hari takkan kulihat lagi cahaya matahari naik,” menyatakan, bahwa ia tak ada di dunia lagi. Bagaimana kematiannya, sudah tentu sungguh sedih dan ngeri! Tapi apa boleh buat, karena orang yang pendek akalnya, kalau hidupnya sudah terlampau melarat, tiada ia memandang nyawanya lagi. “Daripada hidup serupa ini, lebih baik mati membuang diri.” Begitulah kebiasaan keputusan pikiran orang, yang menanggung serupa itu.

Nyatalah sekarang betapa berbahayanya perkawinan yang dipaksakan itu, yang tiada disertai cinta kasih keduanya.

Maka jadi kewajibanlah bagi tiap-tiap orang yang tahu akan membuang adat itu dan kebiasaan yang mendatangkan kecelakaan kepada manusia itu. Bukankah perkawinan yang lekas-lekas itu membinasakan perempuan? la dikawinkan oleh orang tuanya dengan orang yang tiada disukainya. Apa sebabnya ia tiada suka kepada orang itu? Sudah tentu karena ia tiada mengenalnya. Perkawinan yang serupa itu kerap kali disudahi kengerian. Sungguh benar! Yang tersebut di atas ini; hanyalah sekedar keterangan saja. Kalau diceritakan sekalian apa yang dilihat tentang kemelaratan orang yang kawin, yang tiada dikukuhkan oleh suka, sayang dan cinta, tentu buku ini penuh dengan kisah sedih-sedih. Tengoklah sekeliling kita, tidak kurang yang sebagai itu. Kalau kita bertempat tinggal di negeri besar-besar sebagai Jakarta, Bandung, Semarang, Medan dan lain-lain tentulah akan terlihat dengan mudahnya kemelaratan manusia disebabkan talak. Berapa puluh, berapa ratus perempuan yang berkeliaran pada waktu malam, ya, juga pada siang hari, melakukan pekerjaan yang tiada senonoh. Mereka itu tiada menghargakan kehormatannya lagi; agama tiada diindahkannya dan kalau dapat, undang-undang pun hendak dilanggarnya.

Akan kemelaratan dan kecelakaan yang ditimbulkan perempuan yang serupa itu, tiadalah akan diuraikan di sini, melainkan semua orang telah memakluminya, betapa hina dan buruknya pekerjaannya itu, karena bukanlah agama saja yang melarang, tetapi adat pun mengutuknya. Sekarang tentu ada orang yang akan bertanya: Apakah sebabnya, maka perempuan-perempuan itu tiada memandang kehinaan, tiada takut akan Tuhan dan agama? Karena kalau mereka itu masih mengindahkan sekalian yang tersebut, tentu mereka tiada akan berlaku sehina itu.

Sebabnya memang ada; karena perempuan-perempuan yang sedemikian itu, bukannya lahir ke dunia, supaya menjadi orang yang serupa itu.

Dengan ringkas dapat dijawab pertanyaan itu. Kebanyakan disebabkan talak. Sesudah ia diceraikan oleh lakinya, tentu keadaannya semakin buruk. Badan sudah bertambah tua, tiada berada, kaum kerabat pun tak ada atau jauh tempatnya. Hendak kawin sekali lagi tak mungkin, karena rupa sudah berkurang eloknya. Jadi apa kesudahannya? Disebabkan hati susah, dipaksa kemiskinan, ia pun lupa akan Tuhan, lalu menjadi perempuan …. Ada pula setengahnya kawin dua tiga kali lagi, tetapi karena selalu diceraikan si laki-laki yang tiada berperasaan itu, ia pun ingkar dan tiada lagi mempedulikan malu dan aib. Dalam hal ini kesalahan itu tak dapat dijatuhkan kepada perempuanperempuan yang malang itu, tetapi semata-mata laki-lakilah yang bersalah besar. Oleh sebab perbuatan laki-laki itulah, maka perempuan sesamanya makhluk Allah itu, gugur ke lubang kemelaratan, sehingga badan dan jiwanya rusak binasa.

Allah subhanahu wa taala menjadikan laki-laki dan perempuan dan mempersatukan mereka itu dengan maksud, supaya mereka itu berkasih-kasihan; si perempuan menyenangkan hati suaminya dan si suami menghiburkan hati istrinya. Maka seharusnyalah mereka itu sehidup-semati, artinya; sengsara sama ditanggung, kesenangan sama dirasa. Itulah kewajiban orang yang berlaki-istri. Maka perkawinan yang serupa itu adalah membawa bahagia kepadanya. Sebab itu seharusnya janganlah dilupakan akan ujudnya perkawinan yang diaturkan Tuhan itu. Janganlah ada lagi kita, yang memandang dia, sebagai perkara kecil dan mempergunakan aturan yang suci itu akan keperluan sendiri, sehingga kesudahannya pihak perempuan banyak yang jatuh terjerumus ke dalam ngarai, yang penuh dengan azab dan sengsara yang tiada berkesudahan!

Sudah jauh kita meninggalkan pokok cerita ini, disebabkan paparan tentang ibu Sutan Baringin yang mengawinkan anaknya itu dengan lekas-lekas. Akan meneruskan cerita ini, baiklah diceritakan dahulu kisah kehidupannya dan hal perkawinannya dengan istrinya itu. Adapun anak dara yang dijodohkan ibunya itu, adalah seorang perempuan yang mempunyai kelakuan yang baik. Seberang tingkahlakunya sedikit pun tiada dapat dicela. Tertib dan sikapnya pun adalah menunjukkan kebangsawanannya, artinya setia dan penyabar. Keadaan itu tampak pada air mukanya yang jernih dan pada matanya yang bercahaya. Bila dilihat pakaian dan perhiasan dirinya, tahulah kita, bahwa ia seorang perempuan yang tiada menyukai pakaian yang berlebihlebihan, karena sekalian barang yang terlekat pada badannya, adalah menunjukkan, ia orang perendah dan gemar kepada kesederhanaan. Akan tetapi meskipun ia memakai dengan sederhana, adalah rupa dan romannya bertambah cantik, karena kecantikannya itu mengalahkan keelokan pakaiannya itu. Tiadalah sebagai kebanyakan perempuan, yakni perhiasan lebih bagus daripada badan yang dihiasi; kesudahannya yang dihiasi itu bertambah buruk atau kebagusannya makin kurang, oleh sebab dialahkan barang yang menghiasi tubuhnya itu. Adapun tabiat dan adat perempuan itu berlawanan dengan fiil Sutan Baringin. Ia penyabar dan tutur bahasanya lemah-lembut; suaminya orang yang suka marah-marah dan perkataannya pun tiada berapa menyenangkan hati orang yang mendengarkan. Perempuan itu pengiba, peramah serta tahu menghormati orang; akan Sutan Baringin adalah sebaliknya: bengis, angkuh dan hatinya amat tinggi, tiada tahu ia akan hormat kepada orang lain. Tentang kebaikan perempuan itu dan keburukan perangai yang laki-laki itu akan terlihat lagi kelak di belakang hari. Akan tetapi sekarang pun sudah diketahui juga akan tabiat orang itu, masing-masing jauhlah daripada bunyi pantun ini: Jeruju dengan durinya, di tepi jalan orang berlari. Setuju dengan istrinya, seperti bulan dengan matahari. Karena itu dapatlah dimaklumi, bahwa percampuran yang demikian itu kurang kekalnya; dan nikmatnya pun tentu hilang. Meskipun Sutan Baringin kurang menyayangi istrinya itu, cinta yang sebenar-benarnya tiadalah terkandung di dadanya terhadap kepada Nuria adalah pada pemandangan orang luar, perkawinan mereka itu tiada kurang suatu apa. Nuria seorang perempuan sejati, selamanya mengusahakan dirinya akan menutup barang sesuatu apa yang kurang antara kedua mereka itu, serta menerbitkan kecintaan di dalam hati suaminya. Tahulah ia rupanya, apa-apa kewajiban perempuan kepada suaminya. Oleh sebab itu tiadalah ia jemu dan bosan mengambil hati suaminya itu dengan sepenuh-penuh hati. Seorang pun tiada mengetahui hal itu, hanya ia sendirilah yang tahu, karena dirasanya benar-benar; acap kali ia bertanya dalam hatinya, “Apakah sebabnya hati dan pikiranku kurang terikat kepada suamiku? Kalau ia dalam perjalanan, kuranglah rinduku kepadanya. Kadang-kadang adalah aku melupakan dia. Pada waktu mudaku, aku pernah menanggung rindu kepada orang yang acap kali datang bertandang*) ke rumahku. Ini aku sudah kawin dengan dia dan kami sudah sekian lama bersama-sama. Tetapi sungguhpun demikian, tiadalah berapa cintaku kepadanya. Ia, suamiku, kurang kucintai; orang muda pertandangku**) kurindui. Sudah tentu aku berdosa kepada suamiku. Akan tetapi apakah sebabnya itu, karena bukan kusengaja. Tiadalah kusengaja dahulu menaruh rindu kepada orang muda itu; karena persahabatan kami timbul dari pergaulan. Di belakang hari persahabatan itu makin dalam di hati kami, sehingga di antara kami berdua tumbuh percintaan. Tumbuh percintaan? Memang, karena bukan kulihat dia sebagai pohon kayu tumbuh, tetapi kurasa; terasa benar-benar dalam hatiku: Makin lama makin besar cinta itu, sebagai tanam-tanaman. Lama-lama berurat dan berakar, sehingga aku menaruh rindu dendam kepadanya. Dia pun demikian juga. Meskipun pada mulanya aku sembunyikan perasaan itu, tapi pada suatu ketika, sedang kami duduk berdua saja, ia berkata, “Nuria, selama ini perasaanku kurahasiakan. Sekarang aku tiada dapat menahan dia lagi, dan terpaksalah aku mengatakannya: Aku cinta kepadamu. Sekarang haraplah aku, Nuria berkata benar, adakah Nuria menaruh sedikit perasaan kepada diriku ini.” Mendengar itu, air mukaku berubah, seraya jawabku, “Perasaanku kepada tuan tiada sedikit, tuanlah yang menjadi buah angan-anganku.”

Sejak itu makin kukuh persahabatan kami, sehingga orang berkata, bahwa dialah yang akan menjadi jodohku di belakang hari. Sayang! Orang tuaku tiada setuju. Kalau jadi, sudah tentu aku dapat mengecap kenikmatan orang berlaki-istri itu, sebagaimana kukenang-kenangkan pada waktu hari mudaku. Akan tetapi cita-cita itu sudah lenyap, sebagai kabut ditiup angin. Yang lain, yang tiada disangkasangkakan, itulah yang terletak di hadapanku sekarang. Sungguh amat menyusahkan hati, sedang badanku masih muda. Inilah dia waktu yang pertama dalam perkawinanku, sudah pula begini halnya, betapa pula di belakang hari. Tapi suatu pun tiada faedahnya aku berkata-kata demikian, karena perkawinan sudah lalu, tiadalah dapat diundurkan lagi; orang berumah [1] “Martandang” bahasa Batak; dalam bahasa Melayu “bertandang”. Adapun arti semata perkataan “martandang” itu, ialah mengunjungi orang, dengan maksud hendak bercakap-cakap. Martandang itu dipakai biasanya kepada orang muda-muda, karena dalam adat orang Batak bebaslah orang muda laki-laki datang martandang (mengunjungi) perempuan-perempuan muda. Maka pada waktu itulah mereka mendapat waktu yang baik akan berkenal-kenalan. Adat ini memudahkan bagi laki-laki akan mencari anak dari yang disetujuinya menjadi istrinya.

itu tiada sebagai berdayung, kalau ada barang yang mengalang biduk dapat dikelokkan. Baiklah aku sabar, dan siapa tahu nanti, barangkali jerih payahku berbuah. Dan kuusahakanlah diriku untuk suamiku, karena dialah yang mempunyai aku, dialah yang menjadi tuan dan rajaku.”

Sebenarnyalah perkataan Nuria itu, maksudnya itu pun amat suci, tetapi amatlah susah diperolehnya. Bagaimanakah ia dapat mencintai suaminya dengan sepenuh-penuh hatinya, jika yang dicintai tiada menaruh cinta kepadanya? Sudah tentu tangan kita sebelah kiri tiada dapat bertepuk, kalau tangan kanan tiada turut. “Berumah itu tiada sebagai berdayung, yakni kalau biduk tertumbuk, boleh dikelokkan,” katanya tadi.

Akan meluaskan pemandangan dan akan mengetahui sedikit adat lembaga orang di tanah Batak, baiklah diterangkan arti kalimat itu. Kalimat itu sebenarnya peribahasa orang Batak, dan adalah kira-kira begini salinannya dalam bahasa Indonesia. Dari peribahasa itu tahulah kita, bahwa perkawinan di sana amat kukuhnya. Perkara talak satu, dua, tiga, amatlah jarangnya kejadian. Kehinaan besar dipadang orang kalau seorang laki-laki menceraikan bininya. Perempuan yang meminta talak itu pun tiada berharga di mata orang; kawin kedua kalinya amat susah bagi dia, karena orang berkata dalam hatinya: “Perempuan itu tiada baik, ia tak setia kepada suaminya. Sudah tentu orang tiada mau mengambil dia akan istri. Sepanjang adat pun amatlah beratnya hukuman orang yang menceraikan kawan sehidupnya itu.”

Hal itu menunjukkan juga, bagaimana kuat perkawinan orang Batak yang sejati. Lebih lima belas tahun saya tinggal di kampung kelahiranku, yang tiada berapa jauh dari Sipirok, tempat cerita ini terjadi; tiadalah lebih dari dua kali saja, yang kulihat dan kuketahui orang yang cerai. Sungguh amat jarang, bukan? Di negeri Medan hal cerai-mencerai itu adalah seperti kejadian sehari-hari, sedang kawinmengawinkan itu tiada ubahnya di mata mereka sebagai kebiasaan. Di sana dengan mudah seorang laki-laki mengusir istrinya dan perempuan yang meminta talak kepada lakinya tiada kurang. Demikianlah banyaknya yang nampak seharihari. Jadi nyatalah bagi kita, bahwa perkawinan orang di negeri ramai itu kuranglah kukuhnya, bila dibandingkan dengan negeri kecil-kecil, meskipun penduduknya, belum maju, sebagai sebutsebutan orang pada zaman ini. Maka barang di mana perkawinan itu kukuh, di situlah langkah serong jarang kejadian. Akan tetapi sayang, karena orang-orang yang diam di kampung pun sekarang mulai mempermudah-mudahkan perkawinan itu. Apakah gerangan yang menyebabkan ini? Sebab orang kampung yang diam di tanah hulu-huluan juga sudah menurut kemajuan orang kotakah?

Sebabnya dikatakan demikian, karena pada waktu ini makin acap kalilah terdengar perceraian itu. Yang tersebut ini di daerah negeri Sipirok. Karena dalam waktu empat tahun, selama saya meninggalkan negeriku, lebihlah banyak terdengar orang yang menceraikan kawan sehidupnya, bila dibandingkan dengan waktu lima belas tahun, waktu saya masih tinggal di kampung. Bila kupandang hal perubahan yang buruk itu pada lingkungan bangsaku, amatlah menyedihkan hati. Hatiku sedih, karena, saya mencintai tanah airku. Maka barang siapa mencintai tanah airnya itu, sudah tentu bangsanya yang mendiami tanah itu, disayanginya juga. Kalau ada suatu penyakit atau kecelakaan yang akan atau sudah menimpa bangsanya, sudah tentu ia mencari daya-upaya akan menolong bangsanya, karena itulah suatu tanda yang menunjukkan cinta tanah air.

Kesentosaan dan kenikmatan perkawinan di antara bangsaku terancam oleh pengaruh talak, dan hal itu amat memilukan hatiku. Apakah yang menyebabkan itu? Kemajuan yang salahkah atau karena dunia sudah tua? Sebabnya yang pasti, belumlah kuketahui benar-benar, tapi sungguh pun demikian saya mengusahakan diriku akan menolong bangsaku itu.

Tiap-tiap orang bekerja menurut kekuatan dan kepandaiannya; saya pun menolong bangsaku dengan hal yang demikian itu juga, sebab dengan menulis buku inilah suatu jalan yang mudah bagiku menunjukkan jasaku kepadanya. Cerita ini adalah suatu kumpulan apaapa yang sudah kejadian, dengan maksud, supaya dibaca bangsaku. Dan saya percaya, yang pembacaan ini membawa kebajikan. Oleh sebab itu baca dan perhatikanlah. Moga-moga dia membawa bahagia bagi lingkungan bangsaku yang miskin. Ya, sebenarnyalah bangsaku miskin; karena tiada menaruh ilmu yang tinggi, sedang pembacaan masih amat sedikit sekali.

Kita kembali kepada Sutan Baringin dengan istrinya si Nuria. Sudah sepuluh tahun lamanya mereka bersama-sama. Dalam waktu yang sekian lama itu tiadalah seberapa yang kejadian di antara mereka itu anak-beranak. Ibunya masih hidup lagi dan istri nya telah melahirkan dua orang anak. Yang sulung perempuan, bernama Mariamin, dan yang bungsu laki-laki, baru berumur tiga bulan. Akan tetapi janganlah disangkakan, mereka itu hidup dalam kesenangan. Betul bila dilihat dari luar, tak boleh tidak orang akan berkata, “Orang beruntung benarlah yang mendiami rumah ini.”

Rumahnya besar dan bagus, sawah dan ladangnya lebar, harta banyak, sedang bangsa pun cukup.*) Jika ditilik demikian, tiadalah suatu jua yang menyusahkan orang itu. Akan tetapi hal itu sekalian, tiada lebih daripada tirai yang menghambati pemandangan saja. Bila kita mengangkat tirai itu dan menengok ke dalam, niscaya tahulah kita, betapa mereka itu yang sebenarnya. Sutan Baringin anak yang terlalu amat manja waktu mudanya. Sudah besar, tiadalah berubah kelakuannya itu, ia tinggi hati, pemarah, pemalas serta pemboros. Sekalian kekayaannya itu hanya peninggalan bapaknya; jadi bukan yang dicarinya dengan keringatnya. Semua tabiatnya yang buruk itu dilihat oleh ibunya dengan hati kesal, karena takutlah ia, kalau-kalau anaknya itu jatuh miskin; oleh karena sekalian nasihatnya tiada diindahkan oleh Sutan Baringin. Sekarang barulah ia tahu kebenaran perkataan suaminya itu: waktu kecil kayu itu dapat dibungkukkan, jika sudah besar tak dapat lagi. Kalau si ibu itu lama hidup lagi, tentu -ia melihat betapa kesudahan hidup anaknya, yaitu rusak binasa dan amat melarat. Tapi syukurlah baginya, karena ia meninggalkan dunia, setahun lebih dahulu daripada kejadian yang akan diceritakan di sini. Sungguhpun demikian, amatlah ia menyesal, setelah dilihatnya, anaknya itu, bukan seorang bapak yang baik sebagai suaminya, ayah Sutan Baringin. Akan tetapi suatu pun tiada lagi faedahnya sesalnya itu, hanya memahitkan kehidupannya sampai pada saat yang penghabisan. Setelah ibu Sutan Baringin meninggal, amatlah masygul hati istrinya itu, karena tahulah ia benar-benar, bahwa suaminya itu tiada akan mengubah kelakuannya itu lagi. Lebih-lebih sekarang, tiadalah yang akan melarang atau memberi nasihat kepada dia; ibunya tiada lagi, dan hidupnya sudah tentu menjadi lepas-lelas, suatu pun tak ada lagi, yang mengalang-alangi kesukaannya. Apa yang ditakutkan mak Mariamin itu benarlah kejadian. Pada permulaan Sutan Baringin bertambah kerap kali meninggalkan rumah malam hari, karena ia pergi ke kedai nasi atau ke rumah kopi. Maka di sanalah ia selalu bercakapcakap dengan orangorang banyak; sudah tentu orang itu masuk golongan orang yang kurang baik. Kalau ia pergi itu belum makan, terpaksalah istrinya menunggu-nunggu dia. Ia terpaksa, bukan dipaksa orang, akan tetapi hatinyalah yang memaksa dia berbuat begitu. *) Sebagaimana sudah dikatakan pada permulaan cerita ini adalah ayah Sutan Baringin orang kaya dan golongan orang bangsawan, karena dia masih keturunan raja-raja di Sipirok, tapi sudah agak jauh. Tandanya ia bersuku Siregar, dan kebanyakan raja-raja di sana mempunyai suku Siregar. Jadi bolehlah dikatakan suku Siregar itu golongan bangsawan di daerah Sipirok, tetapi di tempat lain, lain pula. Umpama di Mandailing, Lubis, dan di Angkola, Harahap. Akan tetapi sebagai di mana-mana, adalah kebangsawanan itu sudah jauh kurang dipandang orang. Siapa yang pandai, kaya, serta berilmu, ialah yang lebih dari orang bangsawan.

“Seharusnyalah kami bersama-sama makan, karena kuranglah baiknya, kalau istri itu lebih dahulu makan daripada suaminya.” Demikianlah pikiran ibu yang setia itu. Kalau sudah berbunyi pukul delapan ia pun memberi makan anaknya yang dua orang itu, lalu ditidurkannya; kemudian pergilah ke kamar makan, di sanalah ia menantinanti kedatangan suaminya. Akan mengurangkan perasaan bosan, ia selalu mengerjakan pekerjaan yang ringan: menganyam tikar atau menjahit pakaian anaknya yang koyak, karena siang hari ia tiada sempat melakukan itu, oleh karena banyak urusannya. Maklumlah, suaminya itu tiada suka bekerja, oleh sebab itu terpaksalah ia jadi tahanan sekalian pekerjaan orang berumah tangga itu. Sungguh amat berat beban yang dipikul si ibu yang penyabar itu. Bila suaminya itu pulang, tiadalah pernah ia bermuka masam. Dengan suara yang lemah-lembut ia menanya Sutan Baringin, kalau-kalau ia hendak makan. Jikalau mereka itu bersama-sama, ia pun selalu menghiburkan hati suaminya dengan rupa-rupa jalan, misalnya dengan menceritakan ini dan itu atau apa yang kejadian. Kadang-kadang ia bertanyakan rupa-rupa hal kepada dia, dengan maksud, suaminya itu suka bercakap-cakap dengan dia. Rumah dan pekarangan selalu bersih nampaknya dan letaknya sekalian perkakas rumah rapi dan beraturan. Dan meskipun ia tiada menghiasi dirinya atau memakai pakaian yang mahal-mahal, tiadalah kurang kecantikan parasnya. Sebaliknya, kebaya dan sarung yang sederhana itu seolah-olah menambah kebagusannya. Lagi pun sebagaimana rapinya bekerja, begitulah hati-hatinya memeliharakan dirinya. Kalau dilihat air mukanya, suatu pun tiada pertukaran, yang diubahkan kelahiran anaknya yang dua itu; seri dan cahaya romannya sebagai pada waktu mudanya juga. Benarlah Sutan Baringin amat beruntung sekali beroleh kawan sehidup yang serupa itu, akan tetapi sebagai sudah kita lihat, tiadalah ia mengetahui untungnya itu, atau lebih terang, kalau dikatakan: tiadalah ia menghargakan dia. Amat besarnya bahagia laki-laki itu, bila ia beroleh perempuan yang baik dan setia. Akan tetapi sudahlah menjadi tabiat oleh manusia, yakni jikalau barang itu sudah hilang, barulah diketahui harganya. Seorang sahabat yang karib itu kurang karib terasa selagi dalam bergaul. Tetapi sesudah bercerai, tahulah bahwa ia amat perlu bagi kita. Harga kesehatan badan itu pun baru diketahui orang, kalau ia di dalam berpenyakit. Demikianlah halnya dengan Sutan Baringin. Tiadalah ia mencintai istrinya, sungguhpun si ibu itu mengusahakan dirinya untuk dia. Kalau ia menaruh kasih dan sayang tentulah ia berlaku manis kepada istrinya itu, sebagai istrinya kepada dia. Akan segala budi bahasa si ibu yang ramah-tamah itu, tiadalah menerbitkan suatu apa dalam hatinya. Ia tiada menaruh perasaan kepada tutur yang manis, bahasa yang rendah dan perbuatan yang baik, karena anak yang manja waktu mudanya itu, orang pembengis juga di belakang hari. Manusia yang serupa itu amat buruknya dan akan hal itu diketahui Nuria benar-benar. Itulah kadangkadang yang menjadi awan kedukaan bagi dia. Kerap kali kalau hari sudah jauh malam, sedang ia sendiri tinggal di rumah bersama-sama dengan anaknya yang sedang tidur itu, dipandang anaknya itu dengan hati yang sedih. Perasaannya lain, karena terasa olehnya dalam hatinya, bahwa tali yang mengikat perkawinan mereka itu makin rapuh. Daripada pihak suaminya tak ada yang diharapkan. Kekuatannya harnpir-hampir habis. Sepuluh tahunlah sudah ia berusaha itu, suatu pun tiada hasilnya. Bukanlah ia bosan, tetapi khawatir, kalau-kalau ia kehabisan tenaga dan …, kesudahannya perkawinannya putus dan dia serta anaknya melarat. Tangannya gemetar, peluhnya ke luar, disebabkan pikiran yang serupa itu. Dengan tiada disengajanya, ia pun memeluk anaknya itu, diciumnya dengan cinta yang sepenuhpenuhnya, sambil air matanya bercucuran, laksana mutiara yang gugur dari karangannya.

Malam itu amat dingin, karena angin amat kencang, bercampur hujan rintik-rintik. Sekali-sekali kilat menunjukkan sinarnya, seolaholah menerangi dewi malam yang memenuhi alam ini. Itu semua jadi alamat hujan akan turun dengan lebatnya, karena langit berwarna hitam dipalut awan yang tebal, sehingga cahaya bintang-bintang yang berjutajuta itu hilang lenyap semuanya.

Semalam-malaman itu Sutan Baringin tiada pulang, dan istrinya tidur penuh dengan kemasygulan. Akan tetapi apakah gunanya ia pulang, karena meskipun diketahuinya apa yang diderita istrinya itu, takkanlah ada berfaedah, karena sebagaimana telah dimaklumi, tiadalah suatu tempat dalam hatinya untuk istrinya; bagi anaknya pun susah ditentukan. Adalah pada pikirannya, perempuan itu diadakan Tuhan akan sekedar penyertai laki-laki saja. Apabila laki-laki itu merasa perlu akan bersama-sama dengan perempuan, di situlah waktunya bagi dia kawin. Kawin artinya si laki mengambil perempuan, sebab ia perlu kepadanya. Oleh sebab orang itu ada gunanya bagi dia, haruslah ia menyediakan belanja untuk istrinya. Itu sajalah kewajiban si laki kepada si istri. Tetapi perempuan itu harus menyerahkan badan dan hatinya kepada suaminya. Adalah kewajiban bagi dia mengusahakan dirinya untuk kesenangan lakinya, karena lakinya mengambil dia untuk kesenangannya. Ia harus menaruh cinta kepada lakinya, akan tetapi tiada perlu ia mendapat balasan cinta itu. Pendeknya tiada berwatas kewajiban perempuan itu. Demikianlah rukun yang diketahui dan yang patut pada timbangan Sutan Baringin. Yang lebih ganjil lagi: “Perempuan itu tiada menaruh jiwa; kalau ia sudah mati, habis hidupnya. Akan akhirat tiada berguna bagi dia”. Begitulah persangkaan Sutan Baringin.

Hujan yang lebat itu, suara guruh dan halilintar yang seperti hendak membelah bumi, semuanya didengar Nuria. Meskipun ia memejamkan matanya dan membulatkan pikirannya, tiadalah juga ia tertidur. Apabila pikirannya hampir-hampir hilang sebab hendak tertidur, tiba-tiba ia terbangun kembali, sebagai terperan-jat. Ia duduk sebentar, memikirkan sebabnya, tetapi tiadalah diketahuinya. Sesudah ia membetulkan selimut anaknya yang tidur dengan nyenyaknya itu, ia pun merebahkan dirinya pula, sambil mengeluh.

Sesudah tengah malam barulah ia tertidur dengan nyenyak, karena badannya telah lesu. Maka ia pun bermimpilah: “Sedang matahari baru ke luar dan memancarkan sinarnya, tiba-tiba diselimuti awan yang amat hitam serta dengan tebalnya, makin lama makin hilanglah matahari itu dan cahayanya pun tiada dapat lagi menerusi awan yang gelap itu. Puncak gunung tinggi-tinggi itu lenyaplah dari pemandangan mata, dan dataran tinggi Sipirok pun penuhlah oleh kabut. Perlahan-lahan kedengaran bunyi guruh yang mendayu-dayu; mula-mula jauh, kemudian makin dekat dan makin keras, sedang gunung Sibualbuali adalah asyik bekerja memuntahkan asap yang bergumpal-gumpal. Tanah pun gemetarlah oleh sebab digoyang gempa. Masing-masing orang berlari ke luar dengan terkejut, karena pada persangkaan orang adalah mara bahaya besar yang akan datang itu. la pun berlari ke luar seraya mendukung dan memangku anaknya kedua-duanya. Setelah sampai ke luar ia pun menengok ke belakang. Maka nampaklah olehnya tanah perumahan mereka itu mereiigkah. Dengan sekejap itu rumah dan pekarangan mereka jatuh ke dalam lubang yang terbuka itu. Ia terkejut serta menangis, karena suaminya, Sutan Baringin, masih di dalam rumah yang ditelan bumi itu. Maka tanah itu pun kembali tertutup dan rumah mereka terkubur dalam sekajap itu juga. Pada saat itu juga kedengaranlah suara yang amat gemuruh. Sibual-buali yang berapi itu meletus. Asap dan belerang yang cair mengalir membinasakan segala yang dilaluinya: kebun, sawah, kampung dan lain-lain. Sawah-ladang mereka pun telah binasa sama sekali, akan tetapi ia dan anaknya itu sempat lagi melarikan diri.”

Tiba-tiba ia terbangun dari tidurnya. Tiada berapa lama kedengaranlah olehnya bunyi ayam berkokok. Sejak itu tiadalah ia dapat tidur lagi. Hatinya gundah gulana, karena ia tiada mengerti akan takwil mimpinya itu. Setelah fajar menyingsing, ia pun berdirilah, lalu mengambil air sembahyang. Perempuan yang saleh itu pun menyerahkan dirinya kepada Tuhan. “Mimpiku ini sebagai tanda, yang memberitahukan apa yang akan datang atas diriku. Akan tetapi apa-apa yang akan datang itu, kepada-Mu-lah kuserahkan, ya, Allah yang pengasih dan penyayang.”

Setelah ia mengucapkan perkataan itu, maka ia pun sembahyang subuhlah. Sehabisnya menyembah Tuhan Yang Maha Akbar itu, hatinya merasa lebih senang. Mimpinya itu pun hampir hilang dari kenangkenangannya. Kemudian ia kembali ke tempat tidur, tempat anaknya yang tiada mengetahui kesusahan dunia itu ditidurkannya. Si ibu yang pengasih dan penyayang itu membetulkan selimut mereka itu. Sudah itu ia pun menundukkan kepalanya lalu mencium dahi si jantung hatinya itu berganti-ganti.

Matahari masih tersembunyi di balik dolok[2] Sipipisan yang permai itu; binatang-binatang yang mendiami rimba belantara masih tidur semuanya, akan tetapi ibu yang rajin dan setia itu, . telah sibuk di dapur menguruskan pekerjaan rumah tangga. Kalau diperhatikan mukanya, tahulah kita, betapa perubahan romannya, karena penanggungannya yang selama itu. Betul ia tiada merasa sakit atau mendapat luka di badan, akan tetapi penanggungan hati dan jiwa itu lebih berat dari yang lain-lain, sehingga badannya pun menderita juga olehnya. Demikianlah halnya dengan ibu itu, amatlah berubah roman mukanya, karena kejadian semalam itu.

Catatan

  1. Pertandang, yaitu laki-laki yang mengunjungi perempuan, ke rumah untuk berkenal-kenalan.
  2. Dolok = gunung

Oleh Merari Siregar

←Bab 3                                                                                                                  Bab 5→

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s