Azab dan Sengsara: Persahabatan dan Perkauman

novel merari siregar azab-dan sengsara

novel merari siregar azab-dan sengsara

Bab 2: Tali Persahabatan dan Perkauman

Sekarang baiklah kita tinggalkan rumah kecil tempat kediaman ibu dan anaknya itu; kita biarkan mereka tidur dengan senangnya, karena tidur yang nyenyak itu amat berguna kepada mereka, untuk menguatkan badannya menanggung kemiskinan yang akan datang waktu besok atau lusa. Marilah kita berjalan melalui jalan besar yang menuju ke luar kota Sipirok, yang menuju ke sebelah utara. Kalau sekiranya waktu itu siang dan hari baik, tentu dapatlah kita melihat arah tujuan kita.

Tetapi tak mengapa, kita takkan sesat, sebab jalan itu tak banyak simpang-siurnya, lagi telah dikenal benar-benar. Tengoklah ke muka! Apakah yang tampak?

Kiri-kanan jalan besar itu terbentang sawah yang luas, lebih baik dikatakan jalan itu terentang di tengah-tengah sawah yang luas. Padi yang sedang hendak berbuah itu hijau daunnya, sehingga lapangan yang luas itu seolah-olah ditutup dengan beledu hijau yang lebar. Kira- kira satu setengah pal dari Sipirok, nampaklah di tengah-tengah sawah yang subur itu puncak-puncak pohon nyiur dan kayu-kayuan, antaranya kelihatanlah rumah-rumah yang beratap ijuk. Makin dekat makin nyatalah, bahwa tempat itu sebuah kampung, dan itulah tempat lahir dan tinggal Aminu’ddin, seorang anak muda yang baru berumur delapan belas tahun. Anak muda itu anak kepala kampung yang memerintahkan kampung A itu.

Nama kampung itu, hanya huruf awalnya saja yang dituliskan di sini, sebab kuranglah baik rasanya, kalau disebutkan nama yang secukupnya.

Ayah Aminu’ddin bolehlah dikatakan seorang kepala kampung yang terkenal di antero luhak Sipirok. Harta bendanya amatlah banyaknya, dan kerbau lembunya pun cukup di Padang Lawas[1], apalagi sawahnya berlungguk-lungguk[2], sehingga harga padi yang dijualnya tiap-tiap tahun beratus-ratus rupiah, mana lagi hasil kebun kopi belum terhitung. Adapun kekayaannya yang sederhana itu tiada sekali diperolehnya, asalnya peninggalan orang tuanya juga; akan tetapi sebab rajinnya berusaha, maka hartanya itu pun makin lama makin bertambah-tambah.

Kekayaan yang sederhana itu, pangkat kepala kampung itu, ditambahi pula budi yang baik, itulah sebabnya orang itu terkenal di luhak Sipirok dan anak buahnya, yakni penduduk dusun A itu pun menyegani dia.

Dua puluh tahun ia sudah memegang pangkat peninggalan bapak dan neneknya itu. Dalam waktu yang sekian lama itulah ia hidup bersama-sama dengan istrinya, hidup beruntung sebagaimana orang yang lain. Sebagaimana orang lain? O, bukan, karena tiadalah semua orang mendapat rezeki yang sebaik itu. Akan tetapi apakah sebabnya mereka itu tiada bersenang hati? Perkawinan mereka itu terikat dengan kecintaan yang bersih dan teguh, apalagi ada juga pertaliannya, yaitu mereka itu orang berkaum juga. Si laki mengasihi istrinya sejak dari mula gadisnya sampai ia sudah kawin, dan sampai pada waktu sekarang. Bagaimana pula ia tiada mencintai istrinya itu, karena perempuan itu amat baik budinya, dan barang tingkahlakunya pun adalah setuju dengan si suami. Romannya yang sederhana dan tabiatnya yang lemah-lembut itu, cukuplah sudah kekuatannya akan mengikat hati suaminya, akan menarik pikiran si laki kepada istrinya. Amatlah pandainya ia menghiburkan hati suaminya, bila dalam kedukaan, dan dalam segala kesusahan ia menolong suaminya, dengan akal dan bicara, karena ia tahu benar, bahwa seharusnyalah perempuan itu menyenangkan suaminya. Ia patut tertawa, kalau si laki marah, supaya kening yang berkerut menjadi licin; oleh sebab senyum simpul si perempuan yang manis itu dan perkataannya yang lemah-lembut, itu pun hati si laki yang panas itu menjadi dingin dan tawar. Bila perempuan mempunyai tabiat yang serupa itu, dapatlah ia memerintahkan suaminya, boleh dikatakan suaminya itu ada di bawah kuasa jari kelingkingnya.

Dua tahun mereka itu bergaul, maka si istri pun melahirkan buah perkawinan mereka itu, yakni seorang anak laki-laki, itulah dia Aminu’ddin. Tali perhubungan antara kedua laki-istri pun makin kuat, sehingga seorang mencintai yang lain sebagai dirinya sendiri. Kalau si ibu menyusukan buah hatinya itu di atas tempat tidur, si bapak pun tiada dapat menahan sukacitanya. Ia memeluk istrinya, seraya berkata, “Ah, sungguh saya merasa beruntung karena anak kita ini sebagai matahari yang menyinari perkawinan kita dengan cahaya kegirangan. Bukankah benar perkataanku itu, Anggi?”

“Perasaan laki-laki sudah demikian, karena kelahiran anaknya. Betapa pula lagi besarnya kegirangan hati si ibu, yang menanggung rupa-rupa penanggungan, waktu melahirkan anaknya, yang menjadi buah hati dan tangkai kalbunya?” sahut si istri dengan senyum yang manis, seraya memandang muka suaminya dengan pandang yang tetap. Cahaya mata si ibu yang cemerlang itu menembus hati si laki; cahaya mata itu memancar dan masuk ke hatinya, masuk ke jantungnya, sehingga api hasrat dan kasihnya akan istrinya itu bernyala-nyala. Ia mendekap dan memeluk istrinya; sekali ini lebih kuat, sambil tangannya gemetar sedikit.

“Awas, anak kita! Tiadakah engkau sabar lagi? Tunggu sebentar ia tertidur, biar dahulu ia kuletakkan,” sahut si ibu, seraya menidurkan buah hatinya itu.

“Bukan main cantikmu kupandang ini, aku amat beruntung dipertemukan Tuhan dengan engkau,” kata suaminya seraya ia berdiri, meninggalkan tempat tidur istrinya itu, dengan muka yang berseri-seri, menunjukkan kesenangan hatinya.

Setelah Aminu’ddin berumur delapan tahun, maka ia pun disuruh oleh orang tuanya bersekolah. Dalam kelasnya, ialah anak yang termuda sekali, kebanyakan sudah berumur sembilan atau sepuluh tahun, karena pada masa itu orang tua tiada suka menyuruh anaknya yang masih kecil ke sekolah, lainlah halnya dengan sekarang. Meskipun ia yang terlebih kecil di antara kawan-kawannya, akan tetapi ia amat rajin belajar, baik di sekolah atau di rumah, sehingga gurunya amat menyayangi dia. Bila gurunya berkata-kata atau menerangkan sesuatu apa, matanya tiada lepas dari muka guru itu. Segala keterangan guru itu ditangkapnya dengan daun telinganya, serta diperhatikannya benar-benar, bolehlah dikatakan, sepatah kata pun tiada yang tak dikenalnya. Jadi tiadalah heran lagi, kalau ia menjadi murid kesayangan gurunya. Dari kelas satu sampai kelas tiga, ia masuk anak yang terpandai di kelasnya. Meskipun demikian tiadalah pernah ia menyombongkan diri, sebagai tabiat yang nampak pada kebanyakan orang muda-muda. Hatinya rendah dan menilik segala cakap dan lakunya, nampak benar-benar, bahwa ia tiada mempunyai hati yang meninggi. Ia disukai oleh kawan-kawannya, seorang pun tiada yang menaruh cemburu kepadanya, lagi pula tak ada jalan bagi temannya akan membencinya. Di luar dan di dalam sekolah ia selalu menolong mereka, asal dapat olehnya. Ia dimarahi sekali-sekali oleh gurunya, kadang-kadang sampai mendapat hukuman, tetapi bukanlah karena nakal atau jahatnya, hanyalah karena menolong temannya, waktu berhitung. Sudah tentu guru gusar oleh karena itu, dan Aminu’ddin menahan juga dalam hatinya, akan tetapi kadang-kadang ia tiada dapat menahan hati dan nafsunya, yakni nafsu yang selalu hendak memberi pertolongan kepada kawannya. Meskipun guru menghukumnya, karena kesalahan itu, tiadalah bertukar hati gurunya melihatnya, tiadalah pernah gurunya membencinya ataupun memarahinya dengan kata yang kasar-kasar, karena tahulah gurunya itu, bahwa budak itu berperasaan yang halus sebagai perempuan, dan mempunyai kekerasan hati sebagai laki-laki yang sebenarnya. Semuanya itu dapat dilihat pada matanya yang tajam, yang terletak di bawah bulu kening yang hitam, melengkung sebagai busur terpasang.

Waktu ia duduk di kelas tiga, genaplah usianya sepuluh tahun. Lepas dari sekolah, ia pun membantu bapaknya bekerja di sawah atau di kebun. Jaranglah ia diam atau bermain-main saja, karena ia dapat juga mencari pekerjaannya dan bapaknya pun membiasakan dia sebagai orang tani yang patut. Si ibu yang melihat kelakuan suaminya kepada anaknya, acap kali berkata, “Janganlah kakanda terlalu keras kepada anak kita itu! Umurnya belum berapa dan tulangnya belum kuat, tetapi kakanda selalu menyuruh dia bekerja. Jangan kakanda samakan kekuatannya dengan kekuatan kakanda. Bukan adinda melarang dia bekerja, akan tetapi jangan terlampau keras; selagi ia kecil, jangan ia dipaksa; dia dibawa ke sawah, hanya sekadar membiasakan saja, supaya tahu ia berusaha di belakang hari.”

“Janganlah adinda kuatir, bukanlah kakanda memaksa dia, akan tetapi anak kita itu amat gemarnya bekerja, tiadalah ubahnya dengan kakanda, semasa kecilku. Bukankah baik itu, anak mencontoh tabiat bapaknya? Masakan kakanda tiada menjaga Aminu’ddin, buah hati dan cahaya mata kakanda itu,” sahut si suami dengan suara melembutkan hati istrinya.

“Adinda pun tahu juga, anak kita itu kakanda cintai, sebagaimana adinda mencintai dia,” kata si istrinya, tetapi suaranya sudah berkurang kerasnya, oleh sebab bujukan suaminya.

“Tidak benar, ibu lebih menyayangi anaknya daripada bapak,” sahut suaminya itu, seraya tersenyum-senyum.

Percakapan yang serupa itu biasa terjadi waktu malam, sesudah Aminu’ddin tidur dalam kamarnya, pada sebelah kanan serambi muka, di muka kamar tidur orang tuanya.

“Sudahkah tertidur Aminu’ddin?” tanya suaminya, setelah sejurus panjang lamanya ia termenung.

“Adinda rasa sudah,” sahut istrinya. “Tadi sesudah makan, ia terus pergi ke kamarnya, karena ia sudah payah benar bekerja sehari ini.” “Bekerja katamu? Sehari ini kakanda tak ada melihatnya.”

“Ia menolong mencangkul sawah mak Mariamin. Hari ini ia libur sekolah karena hari besar. Karena itu ia pergi tadi pagi ke Sipirok. Petang inilah baru ia pulang. Tentu ia sudah letih,” kata istrinya. “Menolong Mariamin?” kata suaminya perlahan-lahan, karena adalah yang dipikirkannya. “Ehm, ehm, baik benar hati anak kita itu kepada ibu Mariamin. Apakah maknanya itu?”

“Apalah maknanya? Tak ada … hanya ia merasa rapat hatinya kepada mamaknya. Bukankah mereka itu kaum kita juga? Adinda amat setuju dan memuji perbuatan anak kita itu. Sungguhpun ia muda, tetapi telah tua pikirannya, ia telah mempunyai perasaan kepada mereka yang dalam kemiskinan itu. Tiadalah sebagai kakanda! Bukankah mendiang Sutan Baringin saudara kandungku, ipar kandung kakanda dan mamak Aminu’ddin? Apakah sebabnya kakanda tidak melihat-lihat sawah mereka itu, sejak sepeninggal saudaraku? Tiadakah kakanda menaruh perasaan iba? Udin mempunyai kasihan, itulah sebabnya ia menolong mamaknya.” Mendengar itu suaminya tinggal diam, dia tiada marah mendapat umpatan itu.

“Apakah maksud perkataan adinda, melihat-lihat sawah mereka itu?”

“Kakanda tiada tahu maksud adinda? Melihat-lihat sawah mereka itu, artinya menolong mereka itu mengerjakan sawah, karena kalau sawah mereka itu tiada dicangkul dan ditanami, apalah yang akan dimakan mereka itu bertiga beranak? Sekarang orang sudah hampir menanam padi, akan tetapi sawah mereka belum habis dicangkul. Tiadakah kakanda menaruh kasihan kepada anak dan istri saudaraku itu?” tanya istrinya.

Suaminya termenung, ia teringat hal iparnya, Sutan Baringin, pada waktu hidupnya.

Sutan Baringin seorang yang terbilang hartawan lagi bangsawan seantero penduduk Sipirok. Akan tetapi karena ia sangat suka beperkara, maka harta yang banyak itu habis, sawah dan kerbau terjual, akan penutup ongkos-ongkos perkara, akhir-akhirnya… jatuh miskin, sedang yang dicarinya dalam perkara itu tiada seberapa, bila dibandingkan dengan kerugiannya. Seorang asisten residen yang sudah lama memerintah di Padangsidempuan, ibu negeri Sipirok, berkata di hadapan orang banyak, “Kalau ada perselisihan kamu di kampung tentang sawah atau harta benda peninggalan orang tuamu atau hal yang lain, lebih baiklah kamu putuskan saja perselisihan itu dengan jalan damai. Sekali-kali jangan terburu-buru membawa perselisihan itu ke hadapan pengadilan, supaya jangan menjadi perkara. Jangan, jangan, nanti kamu menyesal di belakang hari. Ingatlah nasihatku ini! Siapa yang menang perkara menjadi bara, dan yang kalah menjadi abu.” Berapa kali Sutan Baringin dilarang istrinya, supaya berhenti dari pada beperkara, tetapi tiada juga diindahkannya.

Ia kalah di pengadilan yang rendah, pergi lagi ke pengadilan yang lebih tinggi, yaitu di Padang. Kalah di sana, minta banding lagi ke pengadilan tinggi di Jakarta. Itu semua karena ia mendengar hasutan orang yang hendak mencelakakan dia, karena orang itu hendak mencari upah daripadanya. Upah menulis surat, upah mengarang rekes, upah ini, upah itu, karena orang itu manusia yang… entah, masuk manusia apa manusia semacam itu. Di negeri kecil orang menamai mereka itu pokrol bambu. Lagak dan cakapnya sebagai orang yang pandai, yang ahli dalam ilmu hakim, akan tetapi pengetahuannya tiada suatu apa, ibarat gendang, kalau dipalu, keras suaranya, dibelah, tak ada isinya. Kemalanganlah yang menimpa barang siapa yang pcrcaya kepada orang yang macam itu.

Kalau ada perselisihan, selesaikanlah dengan jalan damai, panggil orang tua-tua sekampung, mereka itu nanti memutuskannya dengan baik. Kerugian tiada berapa, pikiran tiada susah dan kita kembali hidup damai. Inilah untung yang teramat besar di dunia dan akhirat. Perhatikanlah, hai saudara-saudaraku!

Sutan Baringin menutup telinganya, tiada hendak mendengarkan kata istrinya, meskipun beberapa kali perempuan yang baik itu mengingatkan suaminya. Segala bujuk dan nasihat, yang diucapkan istrinya, sia-sia saja, sebagai batu jatuh ke lubuk. Si suami menurut nasihat pokrol bambu juga.

Istri yang baik itu tiada putus as-a. Ia mengumpulkan kaum keluarganya; Ayah Aminu’ddin, kepala kampung A, pun turutlah. Maksud ibu yang mulia itu: perkataannya sendiri ditolak suaminya; kalau semua kaumnya bersama-sama memberi petuah yang baik, barangkali suaminya ada segan melaluinya.

Akan tetapi apakah kesudahannya? Sekalian ikhtiar istrinya itu siasia. Suaminya tinggal menegangkan urat lehernya. Pengajaran setan manusia yang berlidah petah itu sudah masuk benar ke hatinya, dan matanya pun tak melihat lagi, bagaimana kesudahan perbuatannya itu di belakang hari. Akan mengerasi dan memaksa suaminya itu tak berani perempuan yang berhati lemah-lembut itu, karena amatlah hormatnya kepada suaminya itu. Memberi ingat suami pun tiada berani lagi ia, sejak Sutan Baringin membentak dia dengan perkataan, “Diam kau; perempuan tiada patut mencampuri perkara laki-laki; dapur sajalah bagianmu!”

“Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna, Angkang,” jawab istrinya perlahan-lahan; takut ia kalau-kalau darah suaminya itu naik. Akan tetapi ia mengucapkan perkataan itu.dengan suara yang sedih dan air mata berhamburan, karena terasalah olehnya, kemelaratan yang akan menimpa mereka anakberanak kelak.

“Kakanda, ingatlah perkataan adinda! Tiadakah kakanda menaruh kasihan kepada anak kita yang dua orang ini?”

“Diam! Perempuan apakah engkau?” sahut suaminya dengan muka yang merah, seraya ia berdiri; lalu pergi ke luar.

Si ibu memandang anaknya yang menyusu di pangkuannya, sedang air matanya bercucuran ke atas kepala anak yang hendak tertidur itu. Hatinya hancur sebagai kaca terempas ke batu, memikirkan nasib mereka itu di belakang hari.

“Menangiskah Ibuku?” tanya Mariamin, yang baru datang dari sawah, lalu ia memeluk dan mencium kedua belah pipi ibunya yang dicintainya itu.

“Wahai … biji mataku, bagaimanakah nasibmu di belakang hari,” kata ibunya mengeluh, lalu ia berdiri akan menidurkan anak yang disusukannya itu ke bilik tempat tidurnya.

Siapakah lawan Sutan Baringin dalam perkara itu?

Sebagaimana diceritakan di atas Sutan Baringin itu beripar dengan ayah Aminu’ddin, yang tinggalnya tiada berapa jauh dari Sipirok. Jalannya mereka itu bertali, yakni ibu Aminu’ddin adik kandung Sutan Baringin. Jadi Aminu’ddin memanggil Sutan Baringin tulang (artinya mamak) dan kepada ibu Mariamin nantulang (artinya ina tulang = istri mamak). Menurut adat orang di negeri itu (Batak) seharusnyalah bagi Aminu’ddin menyebut Mariamin adik (anggi bahasa Batak) dan perkawinan antara anak muda yang serupa itu amat disukai orang tua kedua belah pihak. “Tali perkauman bertambah kuat,” kata orang di kampungkampung. Barangkali perkawinan yang serupa itu, tiada biasa di tempat lain. “Lain padang lain belalang, lain tanah lain lembaganya,” kata peribahasa.

Sutan Baringin ialah seorang yang berharta; sawah-sawahnya yang lebar itu mendatangkan keuntungan yang banyak kepadanya. Tiadalah ia payah dan susah membajak dan menanami tanahnya yang subur itu; habis tahun ia menerima untung yang bersih, yaitu sebagian dari padi hasil sawahnya, yang diusahakan orang lain; biasanya dua perlima bagian yang punya sawah. Sejak orang tuanya meninggal dunia dan ia telah beristri, ia hidup dalam kesenangan, atau lebih baik dikatakan dalam kekayaan, karena tiada selamanya orang kaya bersenang hati. Anaknya dua orang; yang sulung perempuan berumur enam tahun, dan yang bungsu laki-laki yang masih menyusu. Anak perempuannya itu bernama Mariamin dan ringkasan namanya Riam. Anak itu seorang anak yang elok parasnya. Akan tetapi kecantikan rupanya itu belumlah nampak dengan terangnya, karena ia masih kecil, ibarat bunga yang belum kembang. Jadi kecantikannya itu belum ke luar, masih tersembunyi dipalut oleh tajuk bunga yang kuncup itu. Tapi sungguhpun demikian, barang siapa yang melihat anak itu, tentu ia mengaku, kecantikan Mariamin bertambah lagi, dan romannya pun makin elok, yakni bila bunga yang kuncup itu sudah kembang dan sekalian bagian-bagiannya yang tertutup itu nampak dengan nyatanya, pendeknya bila anak gadis itu besar dan ia mencapai potongan badannya yang secukupnya. Lihatlah warna kulitnya yang jernih dan bersih itu, putih kuning sebagai kulit langsat! Matanya yang berkilat-kilat serta dengan terang itu, menunjukkan kepada kita, bahwa anak itu mempunyai tabiat pengasih. Pada bibirnya yang tipis dan merah itu selamanya terbayang senyum yang manis. Jika ia berkata-kata atau tertawa- tawa, tampaklah giginya yang putih dan halus, berkilat–kilat sebagai mutiara. Kalau diamat-amati roman anak dara itu, tampaklah di mata, air mukanya yang hening dan jernih, suci dan bersih, sebagai seri gunung waktu matahari akan terbenam adanya. Pendeknya makin lama mata memandang dia, makin heran hati melihat kecantikan parasnya, barangkali timbul lagi pikiran mengatakan, “Tak benarlah budak ini anak manusia, barangkali keturunan bidadari jua, yang menjelma ke dunia ini.”

Setelah Mariamin berumur tujuh tahun, ia pun diserahkan orang tuanya ke sekolah. Meskipun ibu-bapaknya orang kampung saja, tahu jugalah mereka itu, bahwa anak-anak perempuan pun harus juga di sekolahkan. Ia harus tahu membaca dan menulis, mengira dan berhitung, sebagaimana teman-temannya anak lakilaki. Bukan maksudnya supaya kepintarannya yang menyamai laki-laki, tetapi sepatutnyalah ia mempunyai badan yang segar dan pikiran yang tajam dan cerdas. Akan memperoleh semua yang amat berguna itu, tentu anak-anak itu jangan dipaksa saja tinggal di rumah, akan tetapi haruslah ia diserahkan ke sekolah, akan belajar kepandaian yang berguna baginya pada hari kemudian akan membukakan pikirannya, supaya ia kelak menjadi ibu yang cakap dan pintar, lebih-lebih dalam hal memelihara rumah tangganya. Tambahan pula sekolah itu bukan tempat mencari ilmu saja, tetapi adat lembaga dan kesopanan pun diajarkan juga kepada anakanak, yang berfaedah baginya di hari besarnya. Bukankah anak-anak itu, manusia yang nanti menggantikan orang tuanya mendiami bumi ini?

Mariamin anak yang cantik itu, duduk sekarang di kelas dua dan Aminu’ddin di kelas empat. Kalau murid-murid sudah ke luar, kedua budak itu sama-sama pulang ke rumahnya, yang kirakira sepal jauhnya dari rumah sekolah. Akan tetapi Aminu’ddin harus berjalan kaki lagi ke kampungnya, yaitu tengah dua pal jauhnya dari Sipirok. Waktu pukul tujuh pagi Mariamin sudah sedia di hadapan rumahnya menantikan Aminu’ddin, supaya mereka itu sama-sama pergi ke sekolah. Masingmasing menyukai temannya dan amatlah karibnya persahabatan kedua anak itu. Itu tiada mengherankan, karena seorang memandang yang lain sebagai dirinya, sebab mereka itu berkarib, yakni emak yang seorang bersaudara seibu-sebapak dengan ayah yang lain. Oleh sebab itu adalah perasaan mereka itu sebagai bersaudara kandung. Lagi pula bagaimana rapatnya orang berkaum, dapatlah dilihat di antara orang-orang kampung. Amatlah jauh perbedaannya dengan orang hidup di pesisir atau negeri ramai, yang hanya berkaum di mulut, sebagai biasa dikatakan orang.

Lain daripada itu ada lagi tali lain yang mengikat hati kedua anak itu, yaitu: sifat dan tabiat mereka yang bersamaan. Seperti yang sudah diceritakan, Mariamin bertabiat pengiba, Aminu’ddin pun demikian juga, hanya saja tiada sama jangkanya. Mariamin seorang anak perempuan, sudah tentu lebih pengiba dari Aminu ddin, seorang anak laki-laki. Karena menilik kebiasaannya adalah perempuan itu lebih halus perasaannya, sedang laki-laki itu lebih keras hatinya. Umpamanya seorang perempuan tiada akan menolak suaminya, yang meminta ampun akan kesalahannya, meskipun bagaimana sekali besarnya dosa laki-laki itu kepada istrinya. Penanggungan perempuan yang sakit, aniaya suaminya yang bengis, dilupakannya, bila ia melihat suaminya meminta ampun di hadapannya. Kadang-kadang dengan air mata yang berhamburan, sebab kesedihan hatinya bercampur dengan sukacitanya, karena kecintaan suaminya kepadanya telah hidup kembali, maka ia mendekap dan memeluk suaminya, seraya berkata, “Syukurlah. Mudahmudahan Allah mengampuni dosa kita.”

Akan tetapi tiada jarang kejadian seorang laki-laki memandang istri yang bersalah kepadanya, sebagai musuh besar, meskipun perempuan itu berlutut dan membasahi kaki suaminya dengan air matanya akan meminta ampun atas kesalahan yang diperbuatnya dalam pikiran yang sesat itu. Kerap kali laki-laki itu menerjang kepala istrinya dengan kakinya yang basah oleh air mata itu, seraya berkata dengan mata yang merah, “Nyah engkau, perempuan celaka?”

Aminu’ddin anak yang bijaksana, adat dan kelakuannya baik dan halus budi bahasanya. Oleh sebab itu Mariamin pun amatlah suka bercampur dengan dia dan ia amat suka mendengar cerita-cerita Aminu’ddin, yang diceritakannya, bila mereka itu tengah berjalan pulang atau pergi ke sekolah atau ketika mereka itu bersama-sama di sawah, karena sawah orang tua mereka itu berwawasan. Aminu’ddin pun gemar juga mengajak angginya itu berkata-kata, karena amatlah setuju ia akan tertib dan budi anak gadis yang kecil itu. Mariamin pun menghormati dan menyayangi dia dengan sebenar-benarnya. Kalau hari hujan tiadalah ia membiarkan Aminu’ddin pulang ke rumahnya; ia selalu berkata, “Singgahlah angkang dahulu, menantikan hujan ini teduh, lagi nasi pun sudah sedia untuk kita, karena mak tahu juga, angkang tak dapat pulang ke kampung dalam hujan begini.” “Ah, biarlah saya terus, hujan tiada berapa, kalau saya berhenti, tentu saya pulang sendiri; eloklah ramai-ramai dengan kawan-kawan,” sahut Aminu’ddin.

Akan tetapi angginya itu bukan anak yang mudah kalah bercakap. Dengan segera ia memegang tangan Aminu’ddin, seraya berkata, “Ah, tak baik begitu, nanti angkang sakit sebagai dahulu, karena ditimpa hujan, bukankah orang tua kita yang susah? Saya kawani nanti pulang, kalau angkang tak suka berjalan sendiri.”

Sudan tentu Aminu’ddin tak dapat menolak ajakan adiknya itu, karena mamaknya sudah memanggil namanya dari dalam rumah. Percakapan mereka itu telah kedengaran oleh Sutan Baringin; sebab itulah ia ke luar mengajak kemanakannya itu masuk ke dalam dan Aminu’ddin sudah tentu segan melewati rumah mamaknya itu. Demikianlah halnya, maka ia beberapa kali bercampur gaul dengan Mariamin. Dari sekolah, waktu pulang ke A, di sawah, di situlah mereka itu bersama-sama, tiada ubahnya sebagai orang yang kakakberadik. Karena menilik umur pun adalah demikian rupanya, karena sekarang genaplah umur Mariamin delapan dan Aminu’ddin sebelas tahun.

Pada suatu petang, sedang mereka di sawah, Mariamin menyiangi padinya, supaya padi itu subur tumbuhnya, Aminu’ddin pun memanggil dari watas sawah mereka itu, “Riam, marilah kita pulang ke kampung, nanti kita dihambat hujan.”

“Saya tengah menyudahkan bengkalai yang tak habis semalam, biarlah kuhabiskan dahulu pekerjaan ini, supaya hatiku senang. Lagi pula matahari belum ruyup benar; tunggulah sebentar,” kata Mariamin, lalu ia meneruskan pekerjaannya itu dengan rajinnya. “Ayo, marilah kita pulang, Riam! Pekerjaan itu boleh disudahkan besok,” sahut Aminu’ddin, seraya menghampiri tempat adiknya bekerja itu. “Tengoklah matahari tak nampak lagi, karena telah disaputi awan yang hitam. Baiklah kita pulang ke rumah, sebentar lagi hujan akan turun dengan lebatnya, lagi amat panasnya sehari ini, sehingga kepalaku serasa dipanggang.”

“Lama lagi hujan akan turun, barangkali nanti malam. Bagaimanapun lekasnya, saya sempat lagi menyiapkan pekerjaanku yang terbengkalai ini, tak banyak lagi,” jawab Mariamin. Dan dengan suara yang ramah ia berkata pula, “Barangkali angkang bosan menunggu saya, eloklah angkang pergi duduk-duduk ke pondok itu!” Aminu’ddin berdiri juga, tiada tentu pikirannya. Akan tetapi sebab sahabatnya itu hendak menyudahkan pekerjaan juga, terpaksalah ia menurutkan kesukaan Mariamin itu. la pun menyingsingkan lengan bajunya, lalu masuk ke sawah tempat adiknya bekerja itu, karena ia mengerti apa maksud perkataan Mariamin yang akhir itu, lagi pula selalu ia bersuka hati menolong temannya itu pada sebarang hal; barangkali karena ibanya atau kasihnya. Ia pun berkata seraya menghampiri anak perempuan itu, “Sebenarnya saya sudah letih, Riam, tengoklah beratnya pekerjaan itu, tetapi ….”

“Saya pun tahu juga, angkang sudah payah; itulah sebabnya angkang kusuruh pergi berhenti ke pondok itu,” kata Mariamin dengan lekas mendahului perkataan Aminu’ddin. “Tetapi kalau laki-laki biasa juga letih oleh pekerjaan, bagaimanakah perempuan, manusia yang lebih lemah, yang tiada mempunyai daya dan kekuatan sebagai lakilaki?” Aminu’ddin terdiam sebentar, ia tiada meneruskan perkataannya. Dengan rajinnya ia terus menyiangi sawah itu bersaina-sama dengan adiknya itu. Sejurus panjang lamanya maka ia pun berkata, “Riam, rupanya kau memandang laki-laki itu manusia yang tinggi dari perempuan?”

“Memang,” sahut Mariamin dengan segera, “kalau saya lakilaki, tentu saya kuat bekerja sebagai angkang; saya bersenang hati, karena pada hari mudaku boleh aku kelak pergi ke sana-sini, pergi ke negeri orang merantau ke Deli akan mencari pekerjaan. Lainlah halnya dengan kami perempuan. Perempuan harus tinggal di rumah, tiada boleh acap kali ke luar-luar, kalau badan sudah besar.”

Percakapan kedua orang anak itu berhenti. Mariamin berdiam, karena hatinya kepada pekerjaan itu saja; Aminu’ddin berdiam pula, akan tetapi adalah juga yang dipikir-pikirkannya. Bagaimana anganangan yang memenuhi hatinya, hanya dia saja yang tahu.

Langit pun makin lama makin gelap ditutupi awan yang tebal. Hari yang terang itu pun menjadi kelam sebagai waktu matahari terbenam. Guruh pun berbunyilah perlahan-lahan, jauh kedengarannya, antara ada dengan tiada suaranya, akan tetapi makin lama makin keras. Semuanya itu memberi tahu kepada mereka, sebentar lagi awan yang tebal itu hendak kembali kepada asalnya dan hujan yang lebat akan turun menyirami bumi yang kering.

Kedua anak itu terus juga bekerja; oleh sebab asyiknya, tiadalah mereka tahu, bahwa hari yang baik itu sudah bertukar adanya. “Sekarang barulah senang hatiku, sawahku sudah habis disiangi dan padi itu pun tentu tumbuh dengan suburnya,” kata Mariamin seraya berdiri di atas pematang sawahnya. Dengan muka yang riang, sebagaimana kebiasaannya ia bertanya pula kepada Aminu’ddin, “Sudah tentu angkang penat benar? Sekarang baiklah kita pulang ke rumah.” “Pulang ke rumah?” sahut Aminu’ddin mengulangi perkataan sahabatnya, seraya ia memandang ke kanan dan ke kiri, yakni ke tempat yang jauh akan melihat puncak-puncak gunung yang mengelilingi dataran tinggi Sipirok itu. Ditengoknya ke barat, Sibualbuali sudah hampir hilang dipalut awan. Matanya ditujukannya ke timur, Sipipisan pun sudah hilang puncaknya yang bagus itu; bentuknya sebagai bentuk ranggah ayam jantan, yang berdiri dengan gagahnya.

“Kita sudah dihambat oleh hujan. Lekas Riam, baiklah kita berlari ke pondok itu!” kata Aminu’ddin dengan lekas.

Suara hujan pun sudah kedengaran dan kilat yang diiringi guruh yang menderu-deru telah memenuhi lingkungan alam ini.

Pada sekejap itu turunlah hujan yang amat lebat, tiada ubahnya seperti air yang dicurahkan dari langit. Syukurlah budak itu keduanya sudah sampai pada pondok yang kecil itu.

Waktu itu belum lewat pukul empat, tetapi kalau dilihat udara yang kelam itu, adalah seperti senja rupanya. Akan sekadar memanaskan badan, karena angin amat kencangnya itu yang menambah kedinginan tubuh mereka itu, Mariamin pun menghidupkan api. Dengan sabar kedua anak yang karib itu duduk berdiang menantikan hujan reda. Selama mereka duduk, sudah beberapa kali Mariamin memandang muka kakaknya itu, karena heranlah hatinya melihat Aminu’ddin duduk berdiam diri saja dan matanya memandang nyala api yang memanaskan hawa berkeliling tempat itu. Sekalipun matanya menghadap kepada api, tetapi kelihatan pikirannya dalam kebimbangan. Apa yang dikenangkannya tiadalah diketahui Mariamin, meskipun sudah beberapa kali ia melihat muka sahabatnya itu dan mencoba-coba mengira-ngira apa yang tergores dalam hati anak muda itu.

“Apakah sebabnya angkang termenung? Adakah yang angkang pikirkan?” ujar Mariamin serta meletakkan tangannya yang halus itu perlahan-lahan ke atas bahu Aminu’ddin. Aminu’ddin terkejut, barang kali oleh sebab ia terganggu sedang berpikir-pikir itu. Dengan tiada berkata suatu apa, ia memandang kepada Mariamin. Rupanya ia tiada mendengar pertanyaan temannya itu. “Jangan marah sebab saya mengejutkan angkang. Tapi apakah sebabnya angkang berdiam saja? Adakah yang disusahkan? Katakanlah supaya kuketahui!” ujar Mariamin pula, sambil duduk dekat anak muda itu.

“Ah, tidak apa-apa Riam,” sahut Aminu’ddin dengan pendek: “Mana boleh tidak, janganlah Udin menyimpan-nyimpannya, atau barangkali angkang menaruh rahasia kepadaku,” kata Mariamin pula, seraya memandang mata Aminu’ddin, seolah-olah ia hendak masuk menyelam ke dalam hati anak muda itu, supaya ia dapat mengetahui sebabnya ia duduk termenung. Keinginannya bertambah-tambah, akan tetapi Aminu’ddin tinggal diam saja.

“Katakanlah supaya kudengar,” ujar Mariamin lagi dengan muka yang tiada sabar, akan tetapi dengan suara yang ramah juga. “Tidak apa-apa, Riam,” sahut anak muda itu, “hanya perasaanku tidak tentu, lain benar daripada yang biasa.”

“Lain bagaimana? Sakitkah angkang?” tanya Mariamin dengan herannya.

“Sakit tidak. Tapi buluku seram dan hatiku berdebar, tak tahu aku artinya itu. Barangkali mara bahaya yang akan datang, siapa tahu. Tapi janganlah engkau cemas, Allah memeliharakan hamba-Nya,” kata Aminu’ddin menghiburkan Mariamin, karena dilihatnya muka anak perempuan itu bertukar menjadi pucat, karena hatinya merasa takut. Sejurus lamanya mereka itu berdiam diri, hujan makin lebat, menderu-deru bunyinya dan kilat pun sabung-menyabung dituruti halilintar yang seolah-olah membelah bumi bunyinya. Angin pun berhembuslah dengan kencangnya, serta berdengung-dengung. Bunyi hujan, angin dan guruh itu amat mendahsyatkan hati keduanya yang berlindung di pondok kecil, di tengah-tengah sawah yang luas itu. “Bahaya apakah yang akan datang?” tanya anak gadis yang kecil itu dalam hatinya, sedang kemasygulannya pun bertambah-tambahlah.

Catatan

  1. Padang Lawas yaitu nama suatu luhak di Keresidenan Tapanuli. Padang Lawas artinya padang yang luas; pekerjaan orang penduduk negeri itu terutama beternak kerbau dan lembu, karena padang yang lebar itu amat bagus tempat memelihara kerbau dan lembu. Adapun hewan yang dipelihara di situ, kebanyakan kepunyaan orang negeri luaran.
  2. Belungguk-lungguk; selungguk artinya setumpuk sawah, yang luasnya ± 1 km2.

Oleh Merari Siregar

←Bab 1                                                                                                                  Bab 3→

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s